NovelToon NovelToon
Selamat, Dan Selamat Tinggal

Selamat, Dan Selamat Tinggal

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Diam-Diam Cinta / Cintapertama
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Awanbulan

Rian telah menunggu jawaban atas cintanya selama dua bulan, hanya untuk disambut kabar bahwa Sari, teman masa kecil yang sangat ia cintai, telah resmi berpacaran dengan orang lain.
Alih-alih merasa bersalah,
Sari justru meminta jawaban cinta Rian "ditunda" agar hubungan mereka tetap nyaman.
Di saat itulah, Rian menyadari bahwa selama ini ia bukan orang spesial, melainkan hanya alat kenyamanan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Awanbulan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

35

Sudut Pandang Rian

​"Jam pelajaran selesai! Semuanya bubar!"

​Mendengar instruksi guru, aku segera berkemas. Sari mendekatiku, tapi hari ini dia relatif lebih tenang dari biasanya. Aku hanya bisa membatin, apakah sekolah ini sengaja mengumpulkan guru-guru dengan kepribadian aneh? Sembari meratapi nasib guru-guruku, aku merasa lesu karena harus ke ruang OSIS. Membayangkan waktu santai di rumah berkurang gara-gara rapat pesta penyambutan ini benar-benar membuatku menyesal.

​"Kalau begitu, ayo kita pergi."

​"Hah!?" aku terlonjak kaget.

​Andi muncul di belakangku tanpa suara. Sari juga tampak terkejut melihat kehadirannya.

​"Bukankah seharusnya kamu ke rapat OSIS hari ini?" tanya Andi padaku.

​Aku yakin dia ingin menanyakan sesuatu, tapi otak Sari yang kacau sepertinya tidak akan mampu memproses hal sejauh itu. Dia malah menatap kami berdua dengan bingung.

​"...Eh? Andi, kamu duduk di sebelah Rian? Aku tidak tahu itu," gumam Sari.

​Aku hanya diam. Sebagai pacarnya, seharusnya Andi lebih tahu, tapi aku tidak mau ikut campur.

​"Apa kamu datang untuk menjemput Rian?" tanya Sari dengan ekspresi yang tiba-tiba berubah muram.

​"Ya, begitulah. Kami membantu di OSIS bersama-sama," jawab Andi santai.

​Sari menatapku dengan tatapan protes, seolah bertanya kenapa aku diam saja. Aku mengabaikannya. Sejak pagi aku sudah bersikap dingin padanya, tapi dia masih punya nyali untuk terus bicara padaku. Sifatnya yang tidak tahu diri itu benar-benar membuatku muak. Aku bahkan sempat berpikir lebih baik dia menghilang saja.

​"Tapi, Andi... kamu tidak perlu menjemput Rian, kan?" cetus Sari tiba-tiba.

​"Hah?" Aku dan Andi bersuara serentak.

​Apa-apaan dia? Memutuskan sesuatu seenak jidatnya sendiri. Rasa muakku meledak.

​"Kenapa kamu yang memutuskan hal itu sendiri?" tanyaku dingin.

​"...Ah, akhirnya kamu bicara padaku! Aku sangat bahagia," Sari malah tersenyum, benar-benar tidak peka situasi.

​"Dasar wanita pemulung."

​"Apa?! Kamu keterlaluan, Rian! Sampai kapan kamu mau marah? Kamu bersikap dingin padaku pasti karena punya kakak perempuan yang menyebalkan seperti dia, kan?"

​Darahku mendidih. "Lain kali, kalau kamu berani menjelek-jelekkan kakakku lagi, aku benar-benar akan membunuhmu, mengerti?"

​Sari terpaku. Wajahnya pucat pasi. Dia mungkin belum pernah mendengar kata-kata sekasar itu dariku.

​"Wanita sepertimu tidak akan pernah mengerti betapa hebatnya dia. Andi, ayo pergi."

​Andi bergumam pelan meminta maaf karena sudah datang di waktu yang salah, tapi Sari tidak mendengarnya. Dia masih berdiri di sana dalam keadaan syok yang luar biasa. Aku dan Andi segera meninggalkan kelas.

​Sambil menyusuri lorong, aku menanggapi gumaman Andi tadi. "Jangan dipikirkan, Andi."

​"Terima kasih, Rian... kamu memang baik."

​"Begitukah?" jawabku datar.

​"Oh... kamu ingat tempat ini?" tanya Andi sambil berhenti. "Di sinilah kita pertama kali bicara."

​Aku mengamati lorong itu. "Ini cuma lorong, kan?"

​"Benar-benar kenangan yang luar biasa..." ucap Andi dengan tatapan yang sedikit menyeramkan. Aku mencoba tidak memikirkan detailnya karena itu mulai terasa menakutkan.

​"Andi, ini permintaan egois, tapi tolong... pegang erat Sari. Jangan biarkan dia lepas kendali."

​"...Aku akan berusaha sebaik mungkin," jawabnya kurang yakin.

​Aku hanya bisa berharap semuanya baik-baik saja, meskipun sifat egois Sari adalah bom waktu. "Dan satu hal lagi. Bisa berhenti kirim email aneh soal pinjam uang itu?"

​"Aku benar-benar minta maaf soal itu," sahutnya cepat.

​Saat kami tiba di ruang OSIS, semua sudah berkumpul. Tina, Laras, Yara, dan ternyata Kak Rina juga sudah ada di sana. Aku heran dia bisa datang tepat waktu. Mungkin Tina benar-benar hebat bisa "menjinakkan" kakakku yang liar itu.

​"Rian... duduklah di sebelahku sekarang," perintah Kak Rina.

​Aku duduk di sebelah kanannya, Andi di kiriku. Di depanku ada Tina, Yara, dan Laras.

​"Rian, kamu baru saja bicara dengan Laras, kan? Dia anak yang baik. Kamu beruntung dikelilingi junior hebat seperti Naya dan Laras," ucap Kak Rina tiba-tiba, seolah sedang memberi laporan.

​"Laporan jenis apa itu?" tanyaku heran.

​"Terima kasih banyak, Kak Rina!" sahut Laras dengan riang.

​Suasana di meja terasa aneh. Laras sangat bersemangat, sementara Tina tampak bad mood. Aku tidak menyadari kalau Tina sedang cemburu melihat kedekatan Kak Rina dengan para junior.

​Dan dengan begitu, rapat OSIS yang penuh ketegangan tersembunyi ini resmi dimulai.

1
Awanbulan
bintang 5
Zanahhan226
‎Halo, Kak..

‎Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!

‎Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
‎Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..

‎Ditunggu ya, kak..
‎Terima kasih..
‎🥰🥰🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!