NovelToon NovelToon
Perjodohan Di Bawah Bayangan Mafia

Perjodohan Di Bawah Bayangan Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / CEO / Tamat
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: hairil

SEASON 1 ; BAB ; 41 TAMAT

SINOPSIS SEASON 2

Tujuh tahun telah berlalu sejak perayaan ulang tahun ke-5 Yayasan Aulia & Hidayat. Kedamaian dan kesuksesan telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan Putri dan Rizky. PT Adinata Berkah Lestari kini menjadi raksasa bisnis yang dihormati secara global, dan yayasan mereka telah menumbuhkan ribuan anak menjadi generasi yang tangguh. Rara kini berusia 19 tahun dan sedang menempuh pendidikan tinggi di bidang kedokteran, sementara Arka (11 tahun) dan Bara (9 tahun) tumbuh menjadi anak-anak yang cerdas dan penuh kasih.

Namun, kedamaian yang rapuh itu mulai retak ketika serangkaian insiden misterius terjadi. Mulai dari sabotase kecil di operasi perusahaan, ancaman anonim terhadap yayasan, hingga hilangnya beberapa dokumen penting hukum. Putri, dengan naluri hukum dan kehati-hatiannya, mulai menyadari bahwa ada kekuatan yang tidak terlihat sedang bergerak di balik layar—kekuatan yang tidak ingin melihat keluarga Adinata terus

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hairil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 17: TAWARAN DARI MUSUH

 

Malam itu, langit tertutup awan gelap, seolah turut merasakan beban yang dipikul Putri. Jam menunjukkan pukul tujuh lewat seperempat malam saat Putri duduk di dalam taksi yang disewanya secara anonim—dia sengaja tidak menggunakan mobil keluarga atau meminta Nina mengantarnya, takut jejaknya terlacak. Dia mengenakan pakaian gelap dan syal yang menutupi sebagian wajahnya, jantungnya berdegup kencang seiring dengan semakin dekatnya mereka ke alamat yang diberikan Pak Darmawan.

Alamat itu menuju sebuah rumah tua di pinggiran kota, area yang sepi dan jarang dilalui orang. Bangunan itu tampak angker, dengan taman yang tidak terawat dan cat dinding yang mulai mengelupas. Namun, dari luar, Putri bisa melihat ada beberapa mobil mewah diparkir di halaman, menunjukkan bahwa rumah ini mungkin tidak sekosong yang terlihat.

"Tolong berhenti di sini, Pak," kata Putri pada sopir taksi, menyerahkan uangnya tanpa meminta kembalian. "Saya tidak akan lama."

Putri turun dan berdiri di depan gerbang besi yang berkarat. Dia menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan dirinya. Dia tahu ini sangat berbahaya. Pak Darmawan adalah orang yang licik, anggota dewan mafia yang punya dendam pada Pak Hidayat dan tahu rahasia tentang orang tuanya. Tapi Putri tidak punya pilihan. Jika dia tidak datang, Pak Darmawan akan memberitahu Rizky dan Pak Hidayat tentang pertemuannya dengan Bang Rio, dan semua rencananya akan hancur sebelum sempat membuahkan hasil.

Dengan langkah tegas, Putri mendorong gerbang yang berderit keras. Dia berjalan menyusuri jalan setapak menuju pintu utama. Sebelum dia sempat mengetuk, pintu itu terbuka dengan sendirinya. Seorang pria berbadan tegap dengan wajah datar berdiri di ambang pintu, menatap Putri tanpa ekspresi.

"Nyonya Putri Aulia, silakan masuk. Tuan Darmawan sudah menunggu," ucap pria itu datar, lalu menyingkir memberi jalan.

Putri melangkah masuk dengan hati-hati, matanya memperhatikan sekeliling. Ruang tamu di dalamnya luas namun suram, perabotannya kuno tapi terlihat mahal. Aroma tembakau dan dupa tua memenuhi udara. Di ujung ruangan, di balik meja kerja besar dari kayu jati, duduk Pak Darmawan. Dia mengenakan kemeja batik hitam, menyandingkan kakinya, sambil memutar-mutar gelas berisi minuman berwarna kecokelatan di tangannya. Tatapannya tajam dan licik, seperti seekor ular yang sedang mengincar mangsanya.

Pria berbadan tegap itu menutup pintu dan meninggalkan mereka berdua, membuat suasana menjadi semakin mencekam.

"Duduklah, Putri," ucap Pak Darmawan, suaranya berat dan serak. Dia tidak menatap Putri, melainkan tetap menatap gelasnya. "Jangan tegang begitu. Aku tidak akan memakanmu. Setidaknya, belum sekarang."

Putri berjalan mendekat, namun tidak langsung duduk. Dia berdiri beberapa meter dari meja itu, menjaga jarak aman. "Aku sudah datang, Pak Darmawan. Apa yang ingin Bapak bicarakan? Dan bagaimana Bapak tahu aku bertemu dengan Bang Rio?"

Pak Darmawan tertawa kecil, suara tawanya terdengar tidak menyenangkan. Baru kemudian dia mengangkat wajahnya dan menatap Putri. "Aku tahu banyak hal, Putri. Di kota ini, tidak ada yang bisa luput dari mataku. Aku punya mata dan telinga di mana-mana, bahkan di lingkungan terdekat Hidayat sekalipun. Rio... dia pikir dia pintar bergerak diam-diam. Tapi dia lupa bahwa aku sudah mengenalnya lebih lama dari dia mengenal bosnya."

Dia menunjuk kursi di hadapannya. "Duduk. Kita punya banyak waktu."

Putri akhirnya duduk di ujung kursi, punggungnya tegak, tangannya digenggam erat di pangkuannya. "Apa maksud Bapak mengirim pesan itu? Apa yang Bapak inginkan dariku?"

Pak Darmawan meletakkan gelasnya di atas meja, lalu mencondongkan tubuhnya ke depan, menyatukan kedua jarinya di bawah dagu. "Aku ingin menawarkan kerja sama, Putri. Kita punya musuh yang sama: Hidayat."

Putri menahan napas. Jadi ini yang dia maksud. Sesuai dengan rencana cerita yang dia duga, Pak Darmawan ingin menggunakan dia untuk menjatuhkan Pak Hidayat.

"Aku tidak mengerti," jawab Putri pura-pura bingung. "Pak Hidayat adalah ayah mertuaku. Kenapa aku harus memusuhinya?"

Pak Darmawan tersenyum miring, senyum yang penuh arti. "Jangan bermain bodoh denganku, Putri Aulia. Aku tahu siapa kamu. Aku tahu siapa orang tuamu. Dan aku tahu apa yang Hidayat lakukan pada mereka bertahun-tahun yang lalu."

Darah Putri berdesir. Dia menatap Pak Darmawan lekat-lekat, mencoba mencari kebohongan di mata pria itu, tapi yang dia lihat hanyalah kepastian yang dingin.

"Bapak... Bapak tahu?" bisik Putri, suaranya bergetar.

"Aku tahu segalanya," lanjut Pak Darmawan pelan. "Aku dan Hidayat dulu adalah sahabat baik, rekan bisnis yang setia. Kami membangun kerajaan ini bersama-sama. Tapi ambisinya tak pernah terpuaskan. Dia ingin segalanya miliknya sendiri. Termasuk bisnis kayu milik orang tuamu. Dia datang padaku, meminta bantuanku untuk menyingkirkan orang tuamu agar dia bisa mengambil alih aset mereka dengan mudah."

Putri merasakan dunia berputar. Jadi Pak Darmawan terlibat? Dia juga bagian dari pembunuhan itu? Rasa marah dan benci mulai memuncak di dadanya, tapi dia memaksakan dirinya untuk tetap tenang. Dia harus mendengar semuanya.

"Tapi Bapak melakukannya?" tanya Putri pelan, matanya menatap tajam ke arah Pak Darmawan.

"Aku menolak pada awalnya," jawab Pak Darmawan, seolah bisa membaca pikiran Putri. "Tapi Hidayat mengancamku. Dia bilang jika aku tidak membantunya, dia akan menuduhku terlibat dan menghancurkanku juga. Saat itu, aku punya keluarga kecil yang harus dilindungi. Aku terpaksa membantunya, tapi hanya dalam hal administrasi dan memutar uang. Aku tidak ada di sana saat... kejadian itu terjadi. Aku tidak menumpahkan darah, Putri. Tapi aku tetap merasa bersalah karena membiarkannya terjadi."

Dia menatap Putri dengan tatapan yang seolah penuh penyesalan, tapi Putri tahu lebih baik daripada mempercayainya begitu saja. Orang sepertinya Pak Darmawan pandai bersandiwara.

"Selama bertahun-tahun, Hidayat semakin sombong dan kejam. Dia mengkhianatiku berkali-kali, mengambil bagian keuntunganku, mencoba menyingkirkanku perlahan-lahan," lanjut Pak Darmawan, suaranya mulai terdengar penuh amarah. "Aku sudah muak. Aku ingin dia jatuh. Aku ingin dia membayar atas semua kejahatannya, termasuk atas kematian orang tuamu."

"Jadi Bapak ingin aku membantumu menjatuhkan Pak Hidayat?" tanya Putri langsung.

"Tepat sekali," jawab Pak Darmawan. "Kamu punya akses ke dalam rumahnya, ke dokumen-dokumennya, ke kehidupannya. Kamu adalah mata-mata terbaik yang bisa aku miliki. Dan aku tahu kamu sudah mulai bergerak. Masalah di pelabuhan kemarin... itu ulahmu, kan? Dan Rio membantumu menutupinya. Aku tidak tahu apa tujuan Rio, tapi aku tahu kamu punya nyali."

Dia merogoh laci mejanya, lalu mengeluarkan sebuah map tebal dan meletakkannya di atas meja, mendorongnya ke arah Putri.

"Di dalam ini ada bukti-bukti yang aku kumpulkan selama bertahun-tahun tentang kejahatan Hidayat. Catatan keuangan, daftar orang yang dia suap, rekaman percakapan—semuanya. Ini bisa membantumu memperkuat tumpukan buktimu. Sebagai gantinya, aku ingin kamu memberiku informasi terbaru tentang gerak-gerik Hidayat, memberiku akses ke dokumen-dokumen penting yang mungkin kamu temukan, dan memberitahuku rencana-rencananya sebelum dia eksekusi."

Putri menatap map itu. Ini adalah tawaran yang menggiurkan. Dengan bukti ini, dia bisa lebih cepat menjatuhkan Pak Hidayat. Tapi dia juga tahu harga yang harus dibayar. Bekerja sama dengan Pak Darmawan sama saja dengan masuk ke mulut harimau. Dia tahu pria ini tidak akan ragu membuangnya setelah tujuannya tercapai.

"Kenapa Bapak memberiku ini?" tanya Putri waspada. "Kenapa tidak Bapak gunakan sendiri untuk melaporkannya ke polisi?"

"Karena polisi di kota ini banyak yang masih di bawah kendali Hidayat," jawab Pak Darmawan dingin. "Dan jika aku yang melakukannya, dia sudah siap dengan rencana cadangan untuk melawanku. Tapi jika kamu yang melakukannya, dengan bukti dari kedua sisi—dari kamu dan dari aku—dia tidak akan punya jalan keluar. Lagipula, kamu punya alasan pribadi yang kuat. Pengadilan akan lebih bersimpati pada anak korban pembunuhan daripada pada mantan rekan bisnis yang merasa dikhianati."

Putri diam, memikirkan segala kemungkinan. Ini adalah jebakan, tapi ini juga kesempatan. Dia bisa menggunakan Pak Darmawan untuk mendapatkan apa yang dia inginkan, lalu membiarkan dia dan Pak Hidayat saling menghancurkan satu sama lain. Itu rencana yang berisiko, tapi Putri tidak punya banyak pilihan.

"Apa jaminanmu kalau aku membantumu, Bapak tidak akan berkhianat padaku nanti?" tanya Putri tajam.

Pak Darmawan tertawa lagi. "Di dunia ini tidak ada jaminan, Putri. Hanya ada kesepakatan. Tapi aku bisa berjanji padamu: selama kamu berguna bagiku dan selama kita memiliki tujuan yang sama, kamu aman. Dan setelah Hidayat jatuh, aku akan membiarkanmu dan adikmu hidup tenang. Aku bahkan bisa memastikan kamu mendapatkan kembali hak warismu atas bisnis orang tuamu."

Dia menatap mata Putri dalam-dalam. "Tapi ingat, Putri. Jika kamu mengkhianatiku, atau jika kamu membocorkan rencana ini pada siapa pun—termasuk pada Rizky atau Rio—aku akan memastikan kamu menyesal seumur hidup. Aku akan memberitahu Hidayat segalanya, dan kamu tahu apa yang akan dia lakukan pada pengkhianat."

Ancaman itu tersirat jelas. Putri mengangguk perlahan. "Aku mengerti. Tapi aku juga punya syarat."

Pak Darmawan mengangkat alisnya. "Katakan."

"Pertama, Bapak harus memberiku semua informasi yang Bapak miliki tentang kematian orang tuaku. Detailnya, siapa yang terlibat, semuanya," kata Putri tegas. "Kedua, Bapak tidak boleh melibatkan Rara dalam hal apa pun. Adikku tidak boleh terluka atau terancam. Ketiga, jika kita berhasil menjatuhkan Pak Hidayat, Bapak harus bersaksi di pengadilan dan mengakui peranmu sendiri, serta menyerahkan semua bukti yang sah secara hukum. Aku tidak ingin ini hanya menjadi pertarungan antar mafia. Aku ingin keadilan yang sesungguhnya."

Pak Darmawan menatap Putri sejenak, seolah menilai seberapa serius gadis ini. Kemudian, dia tersenyum, kali ini terlihat lebih menghargai. "Kau benar-benar cucu dari kakekmu, dan anak dari orang tuamu. Tegas dan cerdas. Baiklah, aku setuju dengan syaratmu."

Dia mengambil pena dan kertas, lalu menuliskan sesuatu. "Nanti aku akan kirimkan detail tentang orang tuamu lewat cara yang aman. Dan tenang saja soal adikmu, selama kau bermain sesuai aturan, dia tidak akan apa-apa."

Putri mengambil map tebal itu dari atas meja. Rasanya berat, bukan hanya karena isinya, tapi karena beban tanggung jawab yang ada di dalamnya.

"Bagaimana kita akan berkomunikasi?" tanya Putri.

"Aku akan menghubungimu lewat nomor yang tidak dikenal, seperti ini," jawab Pak Darmawan. "Jangan pernah menghubungiku lewat telepon biasa. Jika ada hal mendesak, kau bisa meninggalkan tanda di pohon beringin tua di taman kota tua—ikatkan selempa kain merah di dahan terendah, dan aku akan tahu kau perlu bertemu. Sekarang, pergilah. Jangan biarkan siapa pun melihatmu keluar dari sini."

Putri berdiri, menyimpan map itu erat-erat di dalam tasnya. "Satu hal lagi, Pak Darmawan. Kenapa Bapak mencurigaiku sejak awal? Kenapa Bapak tahu aku yang melaporkan pengiriman di pelabuhan?"

Pak Darmawan tersenyum misterius. "Karena aku tahu siapa yang ada di balik layar, Putri. Dan karena aku tahu bahwa di balik wajah manis dan sopan itu, tersimpan api dendam yang besar. Pergilah sekarang."

Putri tidak menunggu lagi. Dia berbalik dan berjalan cepat menuju pintu keluar. Pria berbadan tegap itu membukakan pintu untuknya, dan dia segera berjalan keluar menuju jalan utama, mencari taksi lagi untuk pulang.

Sepanjang perjalanan pulang, Putri merasa kepalanya pening. Dia baru saja membuat kesepakatan dengan iblis. Dia bekerja sama dengan orang yang setidaknya tahu dan membiarkan pembunuhan orang tuanya terjadi. Tapi ini satu-satunya cara untuk mendapatkan keadilan. Dia memegang map itu di dadanya, merasa seolah memegang nyawa orang tuanya dan masa depannya sendiri.

Saat mobil taksi mendekati kediaman Adinata, Putri menyuruhnya berhenti sedikit jauh dari rumah. Dia turun dan berjalan sisa jalan itu dengan kaki, memastikan tidak ada yang melihat atau mencurigai sesuatu. Malam sudah semakin larut, dan rumah itu tampak sunyi dan gelap, kecuali lampu di teras yang menyala redup.

Putri membuka pintu utama dengan perlahan, berusaha tidak mengeluarkan suara. Dia melangkah masuk, berniat langsung naik ke kamarnya dan menyembunyikan map itu serta flashdisk pemberian Bang Rio di tempat yang paling aman.

Namun, saat dia melewati ruang tamu, sebuah suara membuatnya membeku di tempat.

"Kamu dari mana saja, Putri? Sudah larut malam sekali."

Putri menahan napas. Dia perlahan menoleh. Di sofa ruang tamu, dalam kegelapan yang hanya diterangi sedikit cahaya dari lampu luar, duduk sesosok tubuh yang dikenalnya dengan baik.

Rizky.

Suaminya itu tidak tidur. Dia menunggunya.

 

[PERTANYAAN UNTUK PEMBACA]: Putri baru saja kembali dari pertemuan rahasia dan berbahaya dengan Pak Darmawan, membawa serta map berisi bukti penting namun juga terikat dalam kesepakatan yang berisiko. Namun, saat tiba di rumah, dia menemukan Rizky sedang menunggunya di ruang tamu yang gelap. Jika kamu jadi Putri, alibi apa yang akan kamu gunakan kali ini untuk menjelaskan keberadaanmu yang larut malam dan map yang kamu bawa? Apakah kamu bisa membohongi Rizky lagi, atau kebenaran akan mulai terungkap?

1
Iril
semoga suka
Iril
halo KK mohon atas dukungannya saya penulis pemula
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!