Sinopsis: Penyesalan Sang Penguasa
Aku terbangun di masa mudaku yang miskin tepat setelah Seeula pergi selamanya dalam penyesalan. Berbekal memori masa depan, aku bertekad membangun kembali kekaisaran bisnisku dari titik nol. Bukan sekadar harta, tujuanku adalah menjadi pria paling layak untuk melindungi istri yang dulu kusia-siakan. Sebelum menjemput cintaku, aku harus memenangkan perang bisnis yang kejam dan menghancurkan para musuh lama. Perjalanan penebusan dosaku dimulai sekarang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khusus Game, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6: Guncangan di Lantai Dansa, serta Rahasia di Balik Jas
Hening adalah musik paling merdu bagi seorang pemenang yang baru saja menjatuhkan bom di tengah kerumunan. Aku menikmati setiap detik saat wajah-wajah sombong di depanku berubah menjadi kaku seperti patung lilin yang mulai meleleh. Madam Widowati yang biasanya memiliki jawaban untuk segala hal, kini hanya bisa mengatupkan bibirnya rapat-rapat sementara matanya membelalak tidak percaya.
"Tiga puluh persen?" Madam Widowati mengulang kata-kataku dengan nada suara yang melengking tinggi karena terkejut.
Aku mengangguk perlahan sambil menyesap segelas air mineral yang kuambil dari baki pelayan yang lewat. Aku sengaja tidak memilih sampanye karena aku butuh otak yang tetap dingin untuk mengawasi setiap pergerakan di ruangan ini. Bagiku, pesta ini bukan tempat untuk bersenang-senang, melainkan medan perang yang baru saja aku kuasai puncaknya.
"Itu mustahil! Saham perusahaan kami tidak diperjualbelikan secara bebas dalam jumlah sebesar itu!" sembur Darwin yang tiba-tiba muncul dari balik kerumunan dengan wajah yang masih terlihat sangat marah.
Aku menoleh ke arah Darwin dengan tatapan meremehkan yang sangat kentara. Aku tahu persis celah hukum yang aku gunakan untuk mendapatkan saham tersebut. Aku membeli surat utang perusahaan mereka yang gagal bayar dari tangan beberapa kreditur licik, lalu mengonversinya menjadi kepemilikan saham melalui skema yang sangat rumit namun legal.
"Dunia bisnis selalu penuh dengan hal-hal mustahil bagi orang yang kurang informasi, Darwin," tukasku dengan nada bicara yang sangat tenang.
Aku mengeluarkan sebuah dokumen kecil yang sudah dilegalisir dari saku jas dalamku dan memberikannya kepada asisten Madam Widowati yang berdiri terpaku. Aku melihat tangan asisten itu gemetar saat menerima kertas tersebut. Dalam sekejap, bisik-bisik di sekitar kami meledak menjadi kegaduhan kecil yang memenuhi aula mewah ini.
Namun, di tengah semua kekacauan itu, mataku hanya tertuju pada satu titik: Seeula. Dia menatapku dengan binar mata yang campur aduk antara rasa takut dan rasa kagum. Aku melihat jemarinya yang lentik sedikit meremas kain gaun putihnya. Aku ingin sekali melangkah maju dan membisikkan bahwa semua ini aku lakukan untuknya, tapi aku segera menahan dorongan itu.
"Siapa kau sebenarnya? Tidak mungkin pemuda seusiamu memiliki kekuatan finansial sebesar ini tanpa dukungan keluarga besar," tanya Madam Widowati dengan nada suara yang mulai sedikit melunak namun tetap penuh selidik.
Aku menyunggingkan senyum misterius yang tidak memberikan jawaban apa pun. Biarkan mereka menebak-nebak siapa sosok di balik layar yang mendukungku. Semakin sedikit mereka tahu tentang identitas asliku, semakin besar rasa takut yang akan mereka miliki terhadapku. Rahasia adalah senjata paling mematikan dalam perang ekonomi.
"Nama saya adalah Yansya. Itu saja yang perlu Anda ketahui untuk saat ini, Madam," jawabku sambil memperbaiki letak kancing jasku yang terasa sedikit ketat.
Aku memutuskan untuk tidak membuang waktu lebih lama dengan mereka. Aku berjalan mendekati Seeula, mengabaikan tatapan tajam dari ibu dan calon musuh bisnisku itu. Saat aku berdiri tepat di depannya, aku bisa melihat pantulan diriku di matanya yang bening. Dia terlihat sangat rapuh sekaligus sangat cantik di saat yang bersamaan.
"Bisa saya bicara berdua dengan putri Anda, Madam? Sebagai pemegang saham terbesar kedua, saya rasa saya punya hak untuk mengenal keluarga pemilik perusahaan lebih dekat," pintaku dengan nada perintah yang dibalut kesopanan.
Madam Widowati tampak ingin menolak, tapi dia sadar bahwa menyinggung perasaanku sekarang bisa berakibat fatal bagi posisi perusahaannya yang sedang goyah. Dia memberikan anggukan kecil yang sangat terpaksa kepada Seeula. Aku memberikan isyarat kepada Seeula untuk mengikutiku menuju balkon gedung yang lebih sepi.
Kami berdiri di sana dengan jarak yang cukup lebar. Aku melihat Seeula yang terus menundukkan kepalanya, tidak berani menatap langsung ke arahku. Aku merasa dadaku sedikit sesak karena rasa rindu yang harus kupendam sedalam mungkin agar dia tidak curiga.
"Kenapa kau membantuku kemarin? Dan kenapa sekarang kau muncul sebagai orang kaya yang sangat asing?" tanya Seeula dengan suara yang terdengar sedikit bergetar.
Aku bersandar pada pagar balkon, menatap lampu-lampu kota yang berkelap-kelip di kejauhan. Aku memikirkan jawaban yang paling masuk akal tanpa harus membocorkan bahwa aku adalah suaminya dari masa depan yang ingin menebus dosa.
"Mari kita sebut ini sebagai investasi jangka panjang, Seeula. Aku melihat sesuatu yang berharga dalam dirimu yang tidak dilihat oleh orang lain, bahkan oleh ibumu sendiri," jawabku dengan nada bicara yang subjektif dan penuh makna.
Seeula akhirnya mendongakkan kepalanya, menatapku dengan kerutan di dahinya yang sangat manis. Dia tampak berusaha mencari kejujuran di mataku. Aku mempertahankan ekspresi wajahku agar tetap terlihat profesional namun memiliki sedikit kehangatan yang tersembunyi.
"Investasi? Aku bukan barang dagangan," protes Seeula dengan nada yang mulai berani.
Aku tertawa kecil mendengar keberaniannya yang belum berubah sejak dulu. Sifat keras kepalanya itulah yang selalu membuatku jatuh cinta padanya setiap hari. Aku mengambil satu langkah lebih dekat, membuat dia sedikit tersentak mundur karena aura dominanku yang cukup kuat.
"Tentu saja kau bukan barang. Kau adalah permata yang sedang dikelilingi oleh serigala. Dan aku di sini untuk memastikan tidak ada satu pun serigala yang berani menyentuhmu, termasuk Darwin," bisikku tepat di dekat telinganya.
Seeula terdiam seribu bahasa, wajahnya sedikit merona karena jarak kami yang sangat dekat. Namun, momen indah itu segera terputus saat suara pintu balkon yang terbuka dengan keras mengejutkan kami berdua. Darwin berdiri di sana dengan napas terengah-engah dan wajah yang sangat gelap.
"Yansya! Aku baru saja mendapat kabar bahwa semua aset pribadiku sedang dibekukan oleh bank atas permintaan investor misterius! Apakah itu perbuatanmu?" teriak Darwin dengan suara yang penuh dengan keputusasaan.
Aku memutar tubuhku perlahan, memberikan senyum kemenangan yang paling lebar. Aku memang sudah memerintahkan Rian untuk menyerang rekening pribadi Darwin menggunakan data penggelapan pajak yang berhasil kami retas tadi sore.
"Itu baru permulaan, Darwin. Aku harap kau punya cukup uang tunai di sakumu untuk membayar parkir malam ini," ejekku dengan nada bicara yang sangat puas.
Darwin menerjang ke arahku dengan tangan terkepal, namun aku dengan mudah menghindarinya dan membuatnya tersungkur di lantai balkon yang keras. Aku menatapnya dari atas dengan pandangan dingin. Seeula menjerit kecil melihat kejadian itu, namun dia tidak berusaha menolong Darwin sama sekali.
Aku menarik napas panjang, merasa bahwa langkahku sudah berada di jalur yang benar. Aku akan menghancurkan semua orang yang pernah menyakiti Seeula di masa lalu, satu demi satu. Namun, saat aku hendak meninggalkan balkon, Seeula menarik ujung jasku dengan lembut, membuat langkahku terhenti seketika.
"Yansya, tunggu! Kau belum memberitahuku apa tujuan akhirmu yang sebenarnya!" seru Seeula dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
Aku terdiam sejenak, membelakanginya agar dia tidak melihat kepedihan di wajahku. Aku tahu jawaban yang sebenarnya, tapi duniaku saat ini terlalu berbahaya untuk dia masuki sekarang.
"Tujuan akhirku adalah membuatmu menjadi wanita paling bahagia di dunia ini, bahkan jika kau harus membenciku untuk mencapainya," janjiku dalam hati tanpa mengucapkannya secara lisan.
Aku melepaskan pegangannya dengan sangat perlahan dan melangkah pergi menuju kerumunan pesta, meninggalkan Seeula yang berdiri sendirian dengan seribu pertanyaan di kepalanya. Aku tahu, mulai malam ini, perang yang sesungguhnya baru saja dimulai.