Rayyan sangat risih saat gadis yang mengejarnya mengaku sebagai sahabat masa kecilnya di taman kanak-kanak, oh my god mimpi buruk apalagi di kampus yang elit ini sampai-sampai bertemu dengan gadis yang tak jelas itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mommy ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15) MENEMUI SEA DI YOGYAKARTA
Rayyan menekan pedal rem mobilnya perlahan, memarkirkannya di depan sebuah komplek kontrakan sederhana di daerah Condongcatur, Yogyakarta. Pukul delapan malam, langit sudah mulai gelap dengan sedikit percikan hujan yang membuat jalanan licin. Dia melihat ke arah nomor rumah yang tertera di pesan teks—Kontrakan Cemara Blok B Nomor 12—dan menarik napas dalam-dalam sebelum turun dari mobil.
Setelah beberapa bulan tidak bertemu, akhirnya dia berhasil menemukan alamat tempat tinggal baru Sea. Rambutnya yang selalu rapi kini sedikit berantakan akibat perjalanan selama lima jam dari Malang, namun jas jasnya yang berwarna biru tua tetap terlihat rapi dan elegan. Tampilannya yang sudah dikenal sebagai ketua BEM Fakultas Hukum Universitas Brawijaya kini lebih matang dan tampan luar biasa—wajahnya yang biasanya tampak serius kini dipenuhi dengan campuran rasa harap dan ketakutan.
Dia berjalan menuju pintu kontrakan yang dikelilingi oleh tanaman hijau yang cukup terawat. Setiap langkahnya membawa kenangan tentang Sea—wanita cantik dengan senyum hangat yang pernah membuat hatinya berdebar kencang. Mereka masih secara resmi berpacaran, namun hubungan mereka sudah jauh berbeda dari dulu.
Saat dia akan mengetuk pintu, pelatuk sudah terbuka dari dalam. Sea berdiri di sana dengan piyama warna biru muda, rambut panjangnya yang biasanya diikat rapi kini terurai dan menutupi bahunya. Wajahnya yang selalu ceria kini tampak pucat dan lelah, namun tetap tidak menyembunyikan keindahannya.
Namun ekspresi wajahnya berubah drastis saat melihat Rayyan yang berdiri di depannya. Mata besarnya melebar dengan kejutan, kemudian berubah menjadi rasa marah yang jelas terlihat.
"Ngapain datang?" ucapnya dengan nada yang sangat ketus, bahkan tidak menyembunyikan rasa jijiknya saat melihat ketua BEM itu ada di depannya. Dia mencoba menutup pintu perlahan, namun Rayyan cepat menangkap pelatuknya agar tidak tertutup.
"Sea, tolong dengarkan aku dulu," ucap Rayyan dengan suara yang lembut namun penuh tekad. "Aku sudah mencari kamu selama berbulan-bulan. Aku harus bicara padamu."
"Sudah tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi, Rayyan," jawab Sea dengan tegas, mencoba melepaskan pelatuk dari genggaman Rayyan. "Kamu sudah punya Amara. Kamu harus pergi dari sini dan jangan menggangguku lagi."
Rayyan memasang wajahnya yang paling meyakinkan. "Aku tahu kamu marah padaku, dan kamu punya hak untuk itu. Tapi tolong, beri aku kesempatan untuk menjelaskan segalanya. Aku tidak bisa hidup dengan melihatmu pergi begitu saja."
Sea melihat sekeliling jalan kontrakan yang mulai sepi, takut jika tetangga melihat mereka berdua berseteru di depan pintu rumahnya. Akhirnya dia menghela napas dan membuka pintu lebih lebar. "Masuklah, tapi hanya sebentar saja. Aku tidak punya banyak waktu untuk kamu."
BAB 2: KENANGAN YANG TERBAKAR
Kontrakan Sea berukuran tidak terlalu besar namun cukup nyaman. Ruang tamu kecil yang dihiasi dengan beberapa tanaman hias dan foto-foto lama membuat suasana terasa hangat. Rayyan melihat sekeliling ruangan dan menemukan sebuah foto kecil di atas meja samping sofa—foto dirinya bersama Sea saat mereka masih berada di tahun pertama kuliah, tersenyum bahagia saat berada di pantai Kuta Malang.
"Jangan melihat-lihat sekeliling ruanganku," ucap Sea dengan nada yang masih dingin. Dia mengambil dua gelas air dan memberikan salah satunya pada Rayyan. "Jelaskan saja apa yang ingin kamu katakan dan pergi."
Rayyan duduk di sofa dengan hati-hati, seperti takut akan merusak sesuatu. Dia menatap Sea dengan mata yang penuh rasa sakit. "Aku tahu kamu sudah tahu tentang perjanjianku dengan keluarga Amara. Tapi itu bukan karena aku mencintainya, Sea. Aku tidak punya pilihan lain."
"Pilihan?" tanya Sea dengan nada menyindir. "Kamu selalu bilang itu tentang pilihan, Rayyan. Padahal kamu hanya memilih yang mudah dan menguntungkan bagi karirmu dan keluarga kamu. Padahal kita sudah berjanji akan selalu bersama, bukan?"
Rayyan mengangguk perlahan, matanya mulai merah karena menahan air mata. "Kita memang pernah berjanji, dan aku tidak pernah melupakannya. Tapi ayahku sakit parah, Sea. Dia punya masalah dengan perusahaan keluarga yang hampir bangkrut. Keluarga Amara menawarkan bantuan finansial yang besar dengan syarat aku menikahi Amara."
"Jadi aku hanya menjadi pilihan kedua? Hanya menjadi bahan pelarianmu saat kamu bosan dengan kehidupanmu yang sudah diatur itu?" tanya Sea dengan suara yang mulai merenggut. Air mata sudah mulai menetes di pipinya, namun dia berusaha tetap kuat. "Aku mundur saja daripada jadi seperti itu, Rayyan. Aku tidak bisa menjadi wanita kedua dalam hidupmu. Aku tidak mau hanya menjadi pelarianmu semata."
"Tidak pernah seperti itu, Sea!" teriak Rayyan dengan emosi yang terpendam. Dia berdiri dan mendekati Sea dengan langkah cepat. "Kamu adalah satu-satunya yang aku cintai. Selama ini aku mencoba mencari cara untuk menyelesaikan semua masalah ini tanpa harus kehilanganmu. Aku sudah bekerja keras untuk memperbaiki kondisi perusahaan keluarga aku, dan sekarang situasinya sudah mulai membaik."
Sea menarik diri sedikit menjauh dari Rayyan. "Sudah terlambat, Rayyan. Aku sudah memutuskan untuk melanjutkan hidupku tanpa kamu. Aku sudah diterima sebagai asisten dosen di fakultasku dan mulai merencanakan masa depanku sendiri. Aku tidak ingin lagi terjebak dalam hubungan yang tidak jelas seperti ini."
Rayyan merasa hatinya seperti sedang diperas. Dia melihat wajah Sea yang sudah mulai berbeda—lebih kuat dan mandiri dari dulu. Dia tahu bahwa dia telah membuat kesalahan besar dengan menyembunyikan segalanya dari Sea dan membiarkan situasi berkembang seperti ini.
"Aku sudah membatalkan perjanjian dengan keluarga Amara," ucap Rayyan dengan suara yang lembut namun tegas. "Aku memilih kamu, Sea. Aku rela kehilangan segalanya daripada kehilanganmu."
Sea terdiam sejenak mendengarnya. Matanya menunjukkan campuran rasa harap dan ketakutan. "Apa kamu benar-benar melakukan itu? Atau ini hanya omong kosong lagi seperti dulu?"
"Aku benar-benar melakukannya," jawab Rayyan dengan penuh keyakinan. Dia mengambil sebuah amplop dari dalam kantong jasnya dan memberikannya pada Sea. "Di dalamnya ada surat resmi pembatalan pertunangan dari keluarga Amara, serta dokumen yang menunjukkan bahwa perusahaan keluarga aku sudah mulai stabil kembali. Aku tidak perlu bantuan mereka lagi."
Sea menerima amplop dengan hati-hati dan membukanya dengan teliti. Ia membaca setiap kata dengan cermat, dan ekspresi wajahnya mulai berubah dari rasa tidak percaya menjadi rasa lega yang dalam. Namun segera setelah itu, rasa takut kembali muncul.
"Apa jika ayahmu tidak menyetujuinya?" tanya Sea dengan suara yang sedikit bergetar. "Apa jika dia sakit lagi karena keputusmu ini?"
"Ayahku sudah mengerti, Sea," jawab Rayyan dengan lembut menepuk bahunya. "Aku sudah menjelaskan padanya bahwa cinta itu tidak bisa dibeli atau diperjualbelikan. Dia akhirnya mengerti dan bahkan menyuruh aku untuk mencari kamu dan meminta maaf padamu."