NovelToon NovelToon
Gurial Tempest

Gurial Tempest

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Fantasi / Komedi
Popularitas:249
Nilai: 5
Nama Author: raffa zahran dio

Gurial Tempest

Di hari kelulusannya sebagai Knight Kerajaan Gurial Tempest, seorang wanita berusia 22 tahun akhirnya siap mengabdikan diri untuk melindungi tanah airnya.

Namun langit runtuh sebelum ia sempat memulai.

Sebuah meteor menghancurkan ibu kota. Dari balik kehancuran itu, pasukan misterius bernama Invader merebut kerajaan dalam sekejap. Di antara api dan puing-puing, sang Knight selamat—dan memikul satu tugas mustahil: menyelamatkan Little Princess serta Ratu Vexana.

Perjalanan yang seharusnya menjadi awal pengabdian berubah menjadi perjuangan mempertahankan harapan, mencari para Hero, dan menghadapi kebenaran tentang dunia yang tidak sesederhana hitam dan putih.

Dari kehancuran kerajaan, badai baru pun dimulai.

Inilah awal kisah Gurial Tempest.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon raffa zahran dio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27 : Ingin sekuat mereka.

Angin malam menyapu lorong sempit di wilayah dalam klan naga. Lentera-lentera merah bergoyang di atas kepala Xiaouman, talinya berderit pelan seperti tali gantungan tua. Bangunan batu hitam di kanan-kiri menjulang tinggi, menutup langit. Cahaya bulan hanya masuk sebagai garis tipis di sela atap.

Langkah Xiaouman berhenti.

Tap.

Ia berdiri di tengah persimpangan kecil yang dikelilingi rumah batu dan gudang kayu tua. Di depannya, jalan bercabang tiga. Di salah satu cabang itu… cahaya kehijauan samar berdenyut.

Dum… dum…

Seperti napas makhluk besar yang tertidur.

“Kau di sana…” bisiknya.

Tangannya mengepal perlahan.

Tiba-tiba—

KRAK.

Atap rumah di kiri runtuh sedikit. Bayangan hitam melompat turun.

Satu.

Lalu dua.

Lalu lima.

Lalu belasan.

Ninja klan naga muncul dari atap, gang, dan balik pintu. Mereka membentuk lingkaran, senjata pendek terangkat, mata merah redup menyala di balik topeng.

“Putri klan panda…” suara salah satu terdengar serak.

“Sendirian saja ke wilayah naga. Kau berani.”

Xiaouman mengangkat dagunya sedikit. Nafasnya keluar pelan lewat hidung.

“Menarik… aku justru berharap kalian datang.”

Ia membuka kedua tangannya. Sarung tangan bambu di pergelangan tangannya berderak.

“Kalian… penghalang jalanku.”

Salah satu ninja mengangkat tangan.

“Tangkap hidup-hidup!”

Puluhan tubuh bergerak serempak.

SWISH—

SWISH—

SWISH—

Pisau terbang lebih dulu.

Xiaouman menunduk, tubuhnya meluncur ke depan, lalu berputar rendah. Pisau meleset, menancap di dinding batu di belakangnya.

KLANG!

Ia menghentakkan kakinya ke tanah.

“Langkah Akar!”

Tanah di bawah kakinya retak halus. Tubuhnya melesat ke depan seperti batang bambu yang dilepaskan dari busur.

Dua ninja di depan mengayunkan pedang pendek.

Xiaouman memutar tubuhnya ke samping, bahu merendah, lalu—

DUK!

DUK!

Dua pukulan cepat menghantam dada mereka.

BAM!

BAM!

Mereka terlempar ke belakang, menghantam dinding rumah.

Xiaouman belum berhenti. Ia berputar di tempat, jubahnya berkibar lebar.

“Tari Bambu — Cabang Pertama!”

Tangannya bergerak seperti cambuk. Satu pukulan ke arah rahang, satu ke perut, satu ke tulang rusuk. Gerakannya berirama—cepat, rapat, nyaris tak terlihat jeda.

PAK!

DUK!

KRAK!

Tiga ninja jatuh bersamaan.

Ninja lain meloncat dari atap, menukik ke bawah seperti burung pemangsa.

Xiaouman mendongak.

Matanya menyempit.

Ia menjejak tanah.

“Ruas Kedua!”

Tubuhnya meluncur ke atas, satu tangan menghantam dagu ninja di udara.

DUAAK!

Tubuh ninja itu terpelanting ke samping, menabrak tiang lentera hingga patah.

Cahaya lentera jatuh, api menyala kecil di tanah.

Lingkaran ninja makin rapat.

Napas Xiaouman terdengar sedikit lebih berat.

Ia berdiri di tengah api kecil dan bayangan, wajahnya setengah terang, setengah gelap.

“…Ayah…”

Tangannya sedikit gemetar.

“Dulu… di tempat seperti ini…”

Kilatan ingatan lewat di matanya—

seorang pria bertubuh besar, berdiri di hadapannya di dojo bambu.

“Kalau kau berhenti karena lelah…

maka musuhmu tak akan berhenti karena kasihan.”

Xiaouman mengangkat kepalanya.

“…aku belum boleh berhenti.”

Ia membuka kedua lengannya lebar.

“Teknik Warisan Klan Panda—”

Para ninja menyerang serentak.

“Seribu Tunas Bambu!”

DUUUM!

Kedua telapak Xiaouman menghantam tanah.

Retakan menyebar seperti akar. Dari tanah, bayangan bambu hijau terang muncul sebagai aura, menjulang di sekeliling tubuhnya.

Tangannya bergerak.

Satu.

Dua.

Sepuluh.

Tiga puluh.

Pukulannya menyebar ke segala arah.

PAK!

PAK!

PAK!

PAK!

Setiap hantaman disertai bayangan batang bambu yang muncul sekejap lalu lenyap.

Ninja-ninja terlempar satu per satu, tubuh mereka terpental seperti terkena palu besar.

“UGH—!”

“GAAH—!”

“AARRG—!”

Namun jumlah mereka belum habis.

Dari belakang, rantai besi melilit kakinya.

Xiaouman tersentak.

“Gngh—!”

Ia hampir jatuh.

Satu ninja melompat tinggi, pisau terangkat.

Xiaouman mengangkat tangannya.

“Bambu Penopang!”

Aura hijau muncul membentuk lengkungan di bawah kakinya. Ia memantul ke atas, rantai terlepas.

Di udara, ia memutar tubuh.

“Ruas Ketiga!”

DUAK!

Tinju menghantam wajah ninja yang melompat tadi. Tubuh itu terlempar menabrak dinding.

Xiaouman mendarat dengan satu lutut.

Napasnya berat sekarang.

Dadanya naik-turun cepat.

Lingkaran ninja tersisa hanya setengah.

Namun mereka mengubah formasi. Empat orang maju sambil membentuk segi empat.

“Formasi Ular Naga!”

Pisau mereka bergerak cepat, seperti dinding besi.

Xiaouman berdiri perlahan.

Ekspresinya berubah.

Tidak lagi ragu.

Tidak lagi gemetar.

Matanya tajam.

“…kalau begitu…”

Ia menarik napas panjang.

“Seribu Tunas — Ruas Keempat.”

Ia maju satu langkah.

Lalu dua.

Setiap langkah disertai dentuman kecil di tanah.

DUM.

DUM.

Saat jarak tinggal satu meter—

“Bambu Menembus Langit!”

Ia melompat lurus ke atas, lalu menghantam turun dengan kedua tangan.

DUUUUUM!!

Gelombang hijau meledak ke depan.

Formasi ninja hancur. Tubuh mereka terpental ke segala arah, senjata terlepas, jatuh berserakan di batu jalan.

Hening.

Hanya suara api kecil dan napas Xiaouman.

Ia berdiri di tengah jalan penuh tubuh tergeletak.

Matanya beralih ke arah cahaya kehijauan di ujung lorong.

Bangunan gudang tua berdiri miring. Dari dalamnya, cahaya hijau berdenyut lebih kuat.

Dum… dum…

Xiaouman berjalan masuk.

Di tengah gudang, sebuah kristal hijau besar melayang. Di dalamnya, bayangan manusia terkurung, wajah mereka samar.

Tangannya mengepal.

“…jadi ini tugasmu, Ayah.”

Ia berdiri di depan kristal.

Menarik napas.

“Teknik Terakhir…”

Kedua tangannya bersinar hijau terang.

“Seribu Tunas Bambu — Pukulan Akar Dunia!”

Ia melangkah maju.

Menghentakkan satu kaki.

Mengayunkan kedua tinju ke depan.

DUUUOOOOM!!!

Kristal retak.

Retakan menyebar cepat.

KRRRRAAAAK—!!

Kristal pecah.

Cahaya hijau meledak, berubah menjadi ribuan titik cahaya kecil yang terbang keluar gudang, melesat ke langit dan rumah-rumah sekitar.

Beberapa pintu rumah terbuka.

Orang-orang jatuh berlutut, terengah, seolah baru bangun dari mimpi panjang.

Xiaouman berdiri di tengah pecahan kristal.

Tangannya gemetar.

Lututnya sedikit melemah.

“…Ayah…”

Ia menunduk.

“Aku… sudah melanjutkan tugasmu.”

Angin malam masuk lewat atap gudang yang bocor.

Cahaya lentera bergetar.

Di kejauhan, suara langkah ninja kembali terdengar samar.

Xiaouman mengangkat kepalanya.

Wajahnya lelah.

Namun matanya teguh.

“Kristal kedua… hancur.”

Ia melangkah keluar gudang, bersiap bergerak ke tujuan berikutnya.

Masih ada dua kristal lagi.

Dan warisan ayahnya…

belum selesai.

 

Di sisi lain wilayah klan naga, langit terbuka lebih lebar. Bangunan batu hitam berdiri berjajar seperti nisan raksasa, dan di tengahnya terdapat alun-alun kecil yang dikelilingi pilar-pilar naga retak. Cahaya bintang jatuh langsung ke tanah, memantul di genangan air hujan yang belum kering.

Hanabi berjalan tanpa suara di atas batu basah.

Pakaian kunoichi putih-hitamnya menyerap cahaya bulan, sementara ujung syalnya berkibar pelan tertiup angin malam. Dua kunai putih di tangannya berkilat dingin. Telinga kucingnya bergerak sedikit, menangkap setiap napas dan langkah di sekitarnya.

Di depan alun-alun, lebih dari dua puluh ninja klan naga berdiri membentuk barisan. Di tengah mereka, sebuah bangunan kuil kecil berdiri dengan pintu terbuka. Dari dalamnya memancar cahaya kebiruan pucat—denyut kristal ketiga.

Dum… dum…

Salah satu ninja melangkah maju. “Kau… anggota klan panda, ya?”

Nada suaranya meremehkan.

Ia menoleh ke kiri dan kanan, lalu tertawa pendek. “Hahaha… datang sendirian ke sini?”

Hanabi berhenti melangkah.

Ia mengangkat kedua kunainya perlahan.

“Sendiri…” ucapnya datar.

“Lebih dari cukup untuk menghabisi kalian semua.”

Matanya menyapu mereka satu per satu.

“Kalian tidak pantas berdiri di kota suci ini.”

Barisan ninja bergerak gelisah. Dari belakang mereka, seorang gadis ninja melangkah maju. Pakaian tempurnya biru gelap dengan corak ungu di bahu dan paha. Rambutnya diikat tinggi, dan dari punggungnya keluar asap tipis berwarna keunguan.

“Berani sekali mulutmu,” katanya dingin.

“Aku pemimpin unit ini. Dan perkataan seperti itu… cocok untuk orang yang akan mati.”

Hanabi tersenyum tipis.

Namun senyum itu tidak hangat.

Tidak ramah.

Tidak hidup.

Aura dingin mengalir keluar dari tubuhnya, membuat udara di sekitarnya terasa lebih berat.

“Mati?”

Ia memiringkan kepala sedikit.

“Apa itu?”

Ia mengangkat pandangan. “Aku hanya tahu satu hal…”

Kedua kunainya berputar di jarinya.

“…aku tidak pernah kalah dari ninja mana pun.”

Ia mengangkat tangan kanannya, telunjuk sejajar dengan bibirnya.

“Kalau begitu…”

Ia menarik napas pendek.

“Kabut Pagi.”

FWOOSH…

Kabut putih menyebar dari bawah kakinya, meluncur di atas tanah seperti air tumpah. Dalam dua detik, seluruh alun-alun tertutup kabut tebal. Pilar-pilar naga lenyap dari pandangan. Cahaya bintang teredam. Suara langkah menjadi terpantul aneh.

Pemimpin ninja mendengus. “Hanya ini?”

“Asap murahan untuk kabur?”

Langkah-langkah terdengar di sekeliling.

Lalu—

SHRRK.

Suara seperti kain disobek.

SPLASH.

Sesuatu jatuh ke tanah.

Jeritan pecah. “AAA—!!”

Pemimpin itu membelalak. “Ha?!”

Siluet seorang ninja roboh dalam kabut, tubuhnya masih berdiri sesaat sebelum jatuh terpisah dari kepala.

Suara Hanabi terdengar dari dalam kabut.

Tenang. Dingin. Dekat.

“Ada kata-kata terakhir kalian?”

“Sebelum aku mulai mengeksekusi.”

Pemimpin itu menggertakkan gigi. “Jangan sombong, gadis kucing!”

Ia mengangkat tangannya. “Formasi asap! Tutupi seluruh area!”

Asap ungu menyembur dari tubuhnya, menyebar seperti kabut beracun, bercampur dengan kabut putih Hanabi. Dua warna bertabrakan di udara.

Hanabi melangkah maju.

Langkahnya nyaris tak berbunyi.

Telinganya bergerak.

Napas.

Denyut jantung.

Gesekan kain.

Ia mencondongkan tubuh.

“Langkah Salju.”

Tubuhnya melesat rendah, meluncur di tanah. Dalam kabut, bayangannya hanya garis putih samar.

Seorang ninja muncul di depannya.

SWISH!

Pisau mengayun.

Hanabi memutar tubuhnya ke samping, rambut putihnya berputar di udara.

CLINK!

Kunai kanan menangkis. Kunai kiri menusuk.

TUK.

Satu tusukan tepat di tenggorokan.

Ninja itu jatuh tanpa suara.

Hanabi tidak berhenti.

Ia melompat ke atas pilar yang tak terlihat jelas, memantul di dinding, lalu berputar di udara.

“Bayangan Bambu — Irisan Kedua.”

SHRRK!

SHRRK!

Dua kepala jatuh hampir bersamaan.

Darah menetes, tapi kabut menelan semuanya.

Pemimpin itu berputar di tempat. “Jangan terpencar! Dengarkan suara langkahnya!”

Namun suara justru datang dari berbagai arah.

“Di kiri—!”

“Tidak—di belakang—!”

Hanabi meluncur di antara mereka seperti garis cahaya.

Satu lompatan.

Satu tebasan.

Satu tubuh jatuh.

Tidak ada gerakan sia-sia.

Tidak ada ayunan berlebih.

Setiap tusukan berhenti tepat di titik vital.

Dalam kabut, hanya terlihat kilatan mata biru.

Kilatan.

Hilang.

Kilatan lagi.

Pemimpin itu mengayunkan tangannya.

“Gelombang Asap Ungu!”

Asap pekat meledak ke segala arah.

Hanabi meloncat mundur, tubuhnya berputar di udara, lalu menjejak dinding kuil.

Asap ungu berdesis di tanah tempat ia tadi berdiri.

“Beracun…” gumamnya.

Ia mengangkat kunainya.

“Baiklah.”

“Kabut Pagi — Tahap Kedua.”

Kabut putih berdenyut. Udara di sekelilingnya mendingin drastis.

Kabut berubah lebih tebal, lebih halus, seperti salju menggantung di udara.

Pemimpin itu menatap sekeliling. “Mana kau—?!”

Suara Hanabi muncul tepat di belakangnya.

“Di sini.”

Pemimpin itu berputar dan melepaskan pisau.

Hanabi melompat mundur, satu tangan menahan di tanah, tubuhnya berputar seperti roda.

CLANG!

Pisau meleset.

Ia menjejak tanah.

“Langkah Angin.”

Tubuhnya melesat ke samping, lalu maju.

“Serangan Salju — Potong Urat.”

Kunainya menebas lengan pemimpin itu.

SHRAK!

“UGH—!”

Asap ungu meledak liar.

Pemimpin itu mundur terhuyung.

Namun Hanabi lebih cepat.

Ia muncul di depan, lalu di atas, lalu di samping.

“Teknik Klan Panda…”

“Bayangan Seribu Daun.”

Tiga gerakan cepat.

Satu ke bahu.

Satu ke pinggang.

Satu ke tenggorokan.

Pemimpin itu terhenti.

Asap ungu menghilang.

Tubuhnya jatuh perlahan ke lutut, lalu roboh ke tanah.

Kabut putih mulai menipis.

Alun-alun kembali terlihat.

Dua puluh lebih ninja tergeletak di tanah.

Sunyi.

Hanabi berdiri di tengahnya.

Matanya menyala biru terang di balik sisa kabut.

Ia menoleh ke arah kuil kecil.

Masuk ke dalam.

Di sana, kristal ketiga melayang—biru pucat, berdenyut lemah.

Dum… dum…

Hanabi berdiri di depannya.

“Kau bukan seharusnya ada di sini.”

Ia mengangkat kunai.

“Teknik Pemutus.”

Satu lemparan lurus.

CRACK.

Kristal pecah.

Cahaya biru menyebar seperti embun pagi.

Bayangan manusia di dalamnya menghilang menjadi titik-titik cahaya yang melesat keluar kuil.

Hanabi berdiri diam.

Kabut menghilang sepenuhnya.

Angin malam bertiup, menyapu darah dari batu.

“Kristal ketiga… selesai.”

Ia mengangkat pandangannya ke arah langit.

Masih ada satu kristal lagi.

Dan perburuan…

belum selesai.

 

Para warga klan naga berlarian menuju gerbang perbatasan.

Beberapa masih terhuyung, memegang dada mereka seakan baru saja terbangun dari mimpi buruk yang terlalu panjang. Mata mereka merah, napas tersengal, tubuh gemetar karena jiwa yang kembali ke raga belum sepenuhnya stabil.

“Ke… ke klan panda…!”

“Cepat… sebelum ninja kembali…!”

Di sisi perbatasan, murid-murid dojo klan panda langsung bergerak.

“Yang luka ke kiri!”

“Air! Bawa air!”

“Jangan panik! Kalian aman sekarang!”

Tangan-tangan cekatan membaringkan para warga, membalut luka, memberi minum, dan menenangkan mereka. Tangisan bercampur dengan napas lega. Kota yang tadinya sunyi kini dipenuhi suara hidup—suara manusia yang kembali.

Namun jauh di dalam wilayah klan naga…

Di atas singgasana hitam yang dikelilingi tengkorak naga dan manusia, Orochi duduk bersandar.

Api hijau samar menyala di rongga matanya.

“…jadi mereka berhasil.”

Ia menggerakkan jarinya perlahan, tulang-tulang di sekeliling singgasana berderak.

“Gadis knight itu…”

Nada suaranya berat, seperti gesekan batu.

“Pedangnya… mirip dengan senjata orang yang mengalahkanku dulu…”

Ia berdiri.

KRAK.

Sebuah tengkorak hancur di bawah kakinya.

“Namun… itu tidak penting.”

Tubuhnya yang setengah transparan berdenyut cahaya ungu gelap.

“Sedikit lagi… aku akan bangkit sepenuhnya.”

Ia menatap langit-langit istana yang runtuh.

“Dan kota ini…”

“Akan kurebut.”

“Akan kujadikan tahta baruku.”

 

Di luar wilayah kuil ketiga…

Chika dan Princes berlari menyusuri jalan batu yang basah oleh embun malam. Napas Princes terdengar ngos-ngosan, tongkat baseballnya hampir terseret di tanah.

“Hanabi… Hanabi pasti di sini…” gumam Chika sambil melihat ke kanan-kiri.

Mereka sampai di area pemukiman dekat kuil.

Beberapa rumah sudah kosong. Pintu terbuka. Barang-barang berserakan. Namun di antara reruntuhan itu, satu sosok putih berdiri membungkuk, membantu seorang ibu mengikat kain di punggung anaknya.

“Ambil yang penting saja,” ucap Hanabi datar.

“Jangan kembali sebelum matahari terbit.”

Ibu itu menunduk berkali-kali.

“Terima kasih… terima kasih…”

Saat mereka pergi, Princes langsung melambaikan tangan.

“Hanabi!!”

Hanabi menoleh.

“Oh…”

“Kalian berdua.”

Chika mendekat.

“Kristalnya?”

Hanabi menyarungkan kunainya.

“Sudah pecah.”

Nada suaranya ringan.

“Sangat mudah.”

Ia melirik Chika.

“Wahai pahlawan.”

Chika menggaruk pipinya.

“Hehe… jangan bilang begitu…”

Namun senyumnya memudar saat ia melihat sekeliling.

“Tapi… Xiaouman belum kelihatan.”

Hanabi berhenti bergerak.

Tatapannya berubah dingin.

“…Xiaouman.”

Chika merasa ada sesuatu yang salah.

“Eh… ada apa?”

Hanabi melangkah satu langkah ke depan, punggungnya lurus.

“Bocah itu…”

“Sejak awal aku tahu, dia tak akan mampu menyelamatkan ayahnya sendiri.”

Princes terkejut.

“Hanabi…”

Namun Hanabi tidak berhenti.

“Dia malas.”

“Suka tidur.”

“Bertindak gegabah.”

Ia memandang ke arah istana Orochi di kejauhan.

“Aku mengawasinya saat dia diam-diam mengumpulkan informasi tentang kebangkitan Orochi.”

Chika dan Princes saling pandang.

“Kalian tahu kenapa dia hampir selalu ketahuan?”

Mereka menggeleng.

“Karena dia sombong.”

“Karena dia merasa kekuatan suci klan panda sudah cukup.”

Nada Hanabi menajam.

“Dia tidak mau berlatih dengan ayahnya.”

“Kesombongan itulah yang membuat guruku… gugur.”

Suara langkah terdengar pelan dari belakang.

“Maaf…”

Xiaouman berdiri di sana. Pakaiannya penuh debu, napasnya berat. Tangannya sedikit gemetar.

“Ternyata… kau masih membenciku.”

Hanabi berputar cepat.

KLIK.

Kunainya sudah berada di leher Xiaouman.

“Kau benar.”

Suaranya datar, tapi dingin.

“Dan kau memang pantas dibenci.”

Chika dan Princes refleks maju.

Namun Hanabi melirik mereka.

Sekilas saja.

Tapi cukup membuat mereka berhenti.

“Apa kau tahu arti bersyukur, Xiaouman?”

Hanabi menurunkan sedikit kunainya.

“Kau anak dari guruku.”

“Orang yang dulu menjadi pahlawanku.”

Ia menghela napas pendek.

“Dulu… saat Orochi masih hidup…”

“Kaden dan ayahmu selalu berdiri di depan.”

“Dan aku…”

“Aku murid pertama yang membantu mereka.”

Chika membelalak.

“Eh… tunggu… berarti… umurmu—”

“Mulutmu wajah bodoh.”

Hanabi melirik tajam.

“Mau kusumbat dengan kunai?”

“E-eh, nggak, nggak!”

Hanabi kembali ke Xiaouman.

“Kau mewarisi kekuatan suci.”

“Tapi kau tidak menempa dirimu.”

Nada suaranya menusuk.

“Putri klan panda berbicara gemetar di hadapanku?”

“Layakkah kau disebut pahlawan?”

Xiaouman mengepalkan tangan.

“Aku… aku hanya—”

Hanabi memotong.

“Aku tahu tentang Hero Sword.”

“Itu senjata Kaden.”

“Diciptakan untuk memberantas kejahatan.”

“Dan kau…”

“Yang dipilih olehnya…”

Ia menyipitkan mata.

“Aku mulai meragukan takdir pedang itu.”

Sunyi.

Angin malam lewat di antara bangunan kosong.

“Ayahmu mengorbankan hidupnya untuk menjadi lebih kuat.”

“Dan kau?”

“Kau bermain-main dengan kekuatan itu.”

Xiaouman mengangkat wajahnya.

“Aku akan melanjutkan usaha ayah.”

“Dengan caraku sendiri.”

Hanabi tertawa kecil.

Tanpa humor.

“Caramu?”

“Keturunan gagal.”

Xiaouman menatapnya, matanya berkaca-kaca tapi tegas.

“Aku akan membuktikannya.”

“Sudah terlambat.”

Hanabi berbalik.

“Kalau benar kau ingin membuktikan…”

“Hadapi Orochi.”

“Dan jangan mati.”

Ia melangkah pergi.

“Dan pahlawan.”

Chika tersentak.

“I-iya!”

Hanabi menoleh sedikit.

“Kekuatanmu sudah setara Kaden di masa lalu.”

“Jadi berkembanglah.”

Lalu,

“…jangan gagal seperti gadis panda itu.”

“Dia pasti bisa!” teriak Princes.

“Xiaouman kuat!!”

Namun Hanabi sudah menghilang ke dalam bayangan.

Hanya angin malam yang tersisa.

Xiaouman berdiri kaku.

Tangannya gemetar.

Chika perlahan mendekat.

“Xiaouman…”

Ia menunduk.

“Aku… harus membuktikannya.”

Di kejauhan…

bayangan istana Orochi menjulang gelap.

Dan takdir mulai bergerak.

Mereka bertiga berjalan menyusuri jalan utama menuju kastil Orochi.

Bangunan-bangunan batu di kiri-kanan tampak seperti tulang belulang kota yang sudah lama mati. Lentera-lentera padam, hanya cahaya bulan yang memantul di genangan air di jalan, membuat bayangan mereka terdistorsi seperti sosok-sosok lain yang berjalan beriringan.

Xiaouman berhenti sejenak, menatap siluet kastil yang menjulang di kejauhan. Menara-menara hitamnya tampak seperti taring raksasa yang menelan langit.

“…Hanabi,” gumamnya pelan.

“Aku akan menunjukkan kepadamu… bahwa aku tidak akan mengecewakanmu lagi.”

Chika menoleh sambil berjalan mundur sedikit.

“Tentu saja! Aku yakin kamu bisa kok. Kalau kamu jatuh, ya kita angkat bareng-bareng.”

Princes mengangkat tongkat baseballnya tinggi-tinggi.

“Iya! Kita kan sudah janji! Bersama-sama sampai semuanya selesai!”

Langkah mereka terhenti mendadak.

Di depan jalan menuju kastil, Hanabi berdiri sendirian.

Di hadapannya… ratusan ninja mayat hidup memenuhi jalan seperti gelombang hitam. Mata mereka kosong, tubuh mereka membusuk setengah, namun tetap bergerak dengan cepat, senjata terangkat seolah masih hidup.

Salah satu zombie melompat.

Hanabi melangkah maju satu langkah.

Satu langkah saja.

SHRRK—!

Suara tebasan nyaris tak terdengar.

Namun pada saat berikutnya—

puluhan kepala jatuh bersamaan ke tanah.

DUG-DUG-DUG.

Tubuh-tubuh itu masih berdiri sesaat… lalu rubuh serempak seperti ladang padi yang disabit.

Chika membelalak.

“H-Hanabi… kekuatannya ngawur banget…”

Princes menepuk-nepuk dadanya.

“Wah… copot semua…”

Xiaouman menatap punggung Hanabi.

Di dalam dadanya, ada suara lain yang berbisik.

Hanabi… sekuat ini…

Kenapa takdir Hero kelima bukan untukmu…

Kenapa harus aku…

Tanpa menoleh, Hanabi berkata dingin,

“Majulah.”

Ia kembali melangkah, kunainya berputar di jari.

“Aku akan mengurus jalan di belakang kalian.”

Dari sisi kanan dan kiri, puluhan ninja klan panda melompat turun dari atap dan tembok.

“Lady Xiaouman!”

“Berjuanglah!”

“Kami di sini!”

Sorak itu menghantam dada Xiaouman seperti pukulan.

Ia mengatupkan giginya.

“…Terima kasih.”

Tiba-tiba—

BOOOOM—!!

Langit berpendar ungu.

Sebuah meteor cahaya jatuh menghantam tengah kota.

Tanah bergetar. Bangunan runtuh. Debu dan pecahan batu beterbangan.

Dari kawah yang tercipta… ribuan ninja mayat hidup bangkit sekaligus, seperti semut keluar dari sarang yang dihancurkan.

Hanabi menoleh untuk pertama kalinya.

“…Apa itu.”

Xiaouman terbelalak.

“Ini… sama seperti yang menyerang dojo kemarin…”

“Sial… jumlahnya terlalu banyak!”

Chika melangkah maju, mengangkat pedang Lumina.

“Kalau begitu… kita habisi dulu yang ini.”

Hanabi mengangguk singkat.

“Baik.”

Mereka bergerak serentak.

 

Jalan utama kota berubah menjadi medan perang.

Ninja mayat hidup menyerbu dari segala arah.

“GRAAA—!”

Chika berlari ke depan, menarik Princes ke belakangnya.

“Lindungi diri!”

Ia memutar pedang Lumina. Cahaya biru berdenyut di sepanjang bilahnya.

“Teknik Kesatria — Step of Thunder!”

Kakinya menghentak tanah.

DOK!

Tubuhnya melesat seperti kilat rendah, menembus celah di antara dua zombie, lalu berputar.

“Lumina Arc!”

SHRAAAK—!

Satu tebasan melintang mengeluarkan busur petir biru yang memenggal lima kepala sekaligus.

Mayat-mayat itu rubuh, namun dari belakang, lebih banyak muncul.

Xiaouman melompat ke sisi kanan.

“Kepalkan Bambu — Seribu Pukulan!”

Ia menghentakkan tangan ke tanah.

DUG!

Dari permukaan batu, bayangan bambu raksasa muncul, menghantam zombie di depannya seperti palu alam.

Hanabi bergerak seperti bayangan putih, muncul dan menghilang di antara kabut debu. Setiap kemunculannya diiringi jatuhnya kepala.

Namun jumlah musuh tidak berkurang.

Justru… bertambah.

Princes berdiri di belakang Chika, tubuhnya mulai gemetar.

“Mereka… mereka nggak habis-habis…”

Chika menoleh sekilas.

“Princes! Tetap di dekatku!”

Ia mengubah bentuk pedangnya.

Cahaya biru memanjang, melengkung.

“Mode jarak jauh… Lumina Bow!”

Ia meloncat ke atas puing bangunan.

“Volt Scatter!”

TZAAAAK!

Puluhan anak panah listrik jatuh seperti hujan pendek, menembus barisan zombie, meledak di tanah dan membuat mereka terlempar ke udara.

Chika mendarat sambil berguling.

Tiba-tiba tiga zombie melompat bersamaan.

Chika memutar tubuhnya ke samping.

“Spark Roll!”

Ia berputar di tanah, menyapu kaki mereka dengan perisai.

DUG!

Ketiganya jatuh, dan satu tebasan pendek mengakhiri mereka.

Namun dari kawah meteor, cahaya ungu kembali berdenyut.

Lebih banyak lagi bangkit.

Hanabi berhenti sejenak, berdiri di tengah tumpukan tubuh.

“…Kenapa mereka terus bertambah.”

Xiaouman mulai terengah, pukulannya melambat.

“Chika… kalau begini… kita bisa terkuras…”

Princes memeluk tongkatnya erat-erat.

“A-aku… aku takut…”

Chika berdiri di depan mereka, napasnya berat, tapi matanya tetap menyala biru.

“Tenang… selama aku berdiri di sini… mereka nggak akan lewat.”

Ia mengangkat pedangnya lagi.

Namun untuk pertama kalinya…

jumlah musuh benar-benar menekan mereka.

Langit kota dipenuhi debu, suara jeritan zombie, dan dentingan senjata.

Dan di tengah kota klan naga,

empat sosok berdiri melawan gelombang kematian—

tanpa tahu…

bahwa ini baru awal dari sesuatu yang jauh lebih besar.

Tiba-tiba—

WOOOOOM—!!

Langit di atas kota klan naga terbelah oleh cahaya sonik biru muda yang meluncur lurus dari udara ke tanah, seperti tombak cahaya raksasa. Hantamannya menghantam barisan ninja mayat hidup di depan Chika dan Xiaouman.

DUUUUUMM!!

Gelombang kejut menyapu jalan utama. Debu, pecahan batu, dan kabut putih membumbung tinggi, menelan seluruh barisan musuh dalam satu dentuman panjang yang menggetarkan dada.

Chika refleks menutup wajah dengan perisainya.

“Eh—eh—eh!! Jangan bilang… belum selesai malah ada bos tambahan?!”

Princes bersembunyi di balik punggung Chika.

“Aku nggak mau kalau datang yang lebih gede lagi…”

Kabut perlahan menipis.

Dari tengah kawah kecil bekas hantaman itu, sebuah siluet besar berdiri tegak.

Tubuh mekanis berlapis baja biru perak, bahunya lebar, matanya menyala kuning. Di tangan kanannya, sebuah pedang laser biru-kuning berkilau, berdenyut seperti jantung energi. Di sisi kiri dan kanannya melayang dua drone bulat, masing-masing memancarkan laras cahaya kecil yang sudah mulai berputar.

“……” “Unit 99… aktif kembali.”

Chika membelalak.

“MK.99?!”

Princes melompat kecil.

“Robot itu hidup lagi!!”

MK.99 mengangkat pedang lasernya.

“Unit 99… siap… Mode penghancur.”

Dua drone di sisinya berputar cepat.

“Target: pasukan tak hidup.”

Sinar biru dan kuning meledak dari drone.

TZAAAAAK—!!

FZZZZRRRT—!!

Dua garis cahaya menyapu barisan depan zombie ninja. Tubuh-tubuh itu terpotong rapi, lalu meledak menjadi abu hitam.

Chika berlari mendekat bersama Princes dan Xiaouman.

“MK.99!!”

Robot itu menoleh sedikit.

“Identifikasi… Knight Chika… Princes… Xiaouman… terkonfirmasi.”

“Bersiaplah.”

Namun saat mereka maju—

Tanah di tengah barisan mayat hidup mendadak menggelembung.

GLRRK—

SPLAAASH!!

Dari bawah tanah, bilah darah gelap menyembul seperti tombak hidup, menusuk zombie ninja dari perut hingga kepala, mengangkat mereka ke udara seperti boneka.

Kabut merah kehitaman menyebar.

Dari tengahnya, sesosok wanita melangkah keluar.

Sayap kelelawar terbentang lebar, mata merahnya menyala. Rambut hitamnya melayang tertiup angin energi. Di tangannya, sebuah payung merah tua dengan bilah tersembunyi di ujungnya berkilau oleh darah.

“Hai, Chika… Princes… dan calon Hero kelima.”

Chika tersentak.

“Selena!!”

Princes menunjuk dengan mata berbinar.

“Itu dia, Xiaouman! Hero pertama dari takdir Hero Sword! Selena, si vampir yang berubah jadi pahlawan!”

Xiaouman menelan ludah.

“…Aura ini… jauh di atasku…”

Selena memutar payungnya sekali.

“Tenang saja. Yang mati hari ini… bukan kalian.”

Tiba-tiba—

“HEI, GORILAAAA!! I’M COMIIIING!!”

Suara itu menggema dari atas.

Dari udara, seorang gadis berambut cokelat meluncur turun sambil memegang senjata api futuristik raksasa berwarna cokelat metalik. Di badan senjata itu tertanam bola sihir kuning yang berdenyut seperti inti reaktor.

Ia mendarat dengan satu lutut.

“Wah! Banyak zombie, ya!”

Ia mengangkat senjatanya.

“Plasma Burst—”

BOOOOOSH!!

Sebuah proyektil plasma hologram kuning melesat, membelah barisan zombie seperti pisau panas menembus mentega. Jalan utama kota langsung terbuka oleh garis kehancuran bercahaya.

Tak lama kemudian, suara berat lain terdengar.

FSSSHHHH—

Seorang gadis berambut perak mendarat di sisi Beatrix.

Ia membawa pedang raksasa biru, dengan bilah panjang dan tebal, penuh ukiran rune api. Di punggungnya, pedang cadangan menempel seperti sayap mekanik, laras-laras kecil tersusun di sisinya seperti sisik naga. Pada gagang pedangnya, sebuah pendorong roket biru menyala pelan.

Ia menarik napas panjang.

Dadanya naik turun perlahan.

“Mode Booster… ON.”

Gagang pedangnya menyala terang.

FSSSSHHHH—!!

Ia mengayunkan pedang.

“Dragon Breaker: Rocket Cleave!”

Puluhan roket kecil keluar dari sisi pedang, mengikuti arah tebasannya.

BOOM—BOOM—BOOM!!

Barisan depan zombie ninja lenyap dalam ledakan beruntun.

Marianne menyeringai.

“Hehe… gimana, Beatrix?”

Beatrix menoleh sambil mengisi ulang senjatanya.

“Cukup kuat… buat dipanggil gorila.”

Chika berjalan mendekat bersama Princes dan Xiaouman.

“Wah! Marianne! Beatrix!”

Beatrix mengacungkan senjatanya.

“Hai, Gorila. Aku datang bantu. Dan… halo Hero kelima.”

Marianne tersenyum cerah.

“Aku Marianne, Hero kedua. Senang akhirnya ketemu calon Hero kelima.”

Xiaouman mengepalkan tangannya.

“A… aku Xiaouman. Kalian… Hero-nya Chika ya. Kalian luar biasa kuat…”

Ia mengangkat wajahnya, matanya bergetar antara takut dan tekad.

“Tapi… aku akan buktikan kalau aku pantas berdiri di sisi kalian.”

Di sekitar mereka, mayat hidup masih terus bangkit dari kawah ungu di tengah kota.

Hanabi berdiri agak jauh, menatap fenomena itu dengan mata menyipit.

“…Sumbernya… belum dihancurkan.”

Selena membuka payungnya sedikit.

“Kalau begitu… kita buat jalan.”

Chika mengangkat pedang Lumina, cahaya biru menyala lebih terang.

“Baik. Tim Hero… maju.”

Di tengah kota klan naga yang runtuh,

Knight, vampir, mesin, penembak plasma, pendekar roket, dan calon Hero kelima

bersatu melawan gelombang kematian—

sementara di kejauhan, kastil Orochi berdiri,

seolah menertawakan mereka dari balik kegelapan.

Dari balik asap pertempuran dan cahaya ledakan, tanah di sisi barat kota tiba-tiba bergetar berat.

DUM…

DUM…

DUM…

Langkah kaki besar menghantam jalan batu, membuat pecahan ubin meloncat seperti kerikil.

Sesosok pria raksasa muncul dari balik reruntuhan rumah. Tubuhnya tinggi dan lebar, bahunya seperti dinding. Kedua lengannya terbalut sarung tangan baja raksasa, penuh paku dan jalur mekanik yang menyala merah redup setiap kali ia mengepalkan tangan.

“Oi… kalian ribut banget,” katanya dengan suara berat, seperti batu digeser.

“Kalau ada yang mau dihancurkan… harusnya panggil aku dulu.”

Chika menoleh, matanya melebar.

“Marvin?!”

Marvin mengangkat satu tangan bajanya dan meninju udara.

BOOM!

Gelombang tekanan meledak, menghantam barisan zombie ninja di depannya hingga terpelanting seperti daun kering.

“Hero keempat… hadir,” gumam Xiaouman pelan, tertegun melihat satu pukulan itu meratakan satu baris musuh.

Namun belum sempat semua bernapas lega—

Tanah di sisi lain kota retak.

CRAAACK…

Dari celah itu, muncul akar hitam kemerahan yang merayap cepat seperti ular raksasa. Akar-akar itu saling melilit, lalu menjulang membentuk batang pohon dengan daun besar berwarna ungu gelap. Di cabangnya, buah-buah bulat menggantung, berdenyut pelan seperti jantung.

Seorang gadis berambut cokelat dengan pakaian pelayan berdiri di depan pohon itu, tangannya terangkat seolah menenangkan makhluk hidup raksasa itu.

“Tenang… tenang… jangan marah dulu,” katanya lembut.

Chika membeku.

“V… Vivi?!”

Vivi tersenyum—senyum yang sama seperti saat ia menyajikan teh hangat di penginapan Havenload.

Buah pertama jatuh ke tanah.

PLUK.

Buah itu retak.

Dari dalamnya… keluar seorang gadis yang wajahnya sama persis dengan Vivi, dengan senyum identik.

Lalu buah kedua jatuh.

Dan ketiga.

Dan keempat.

Dalam beberapa detik, di sekitar Vivi berdiri belasan kloning Vivi, semuanya tersenyum dengan ekspresi yang sama, seperti cermin hidup.

“Labose Tree,” ucap Vivi pelan.

“Buatanku sendiri.”

Para kloning itu melangkah maju serempak, lalu menyebar ke barisan zombie ninja. Begitu disentuh, tubuh zombie itu langsung terbungkus akar tipis dan hancur menjadi lumpur hitam.

Selena melirik ke arah Marvin.

“Marvin.”

Marvin menoleh.

“Apa?”

Selena mendekat tanpa ragu. Tangannya menyentuh pergelangan Marvin.

“Aku pinjam darahmu.”

Marvin mengangkat alis.

“…Kalau itu bisa bikin kamu lebih kuat, ambil saja.”

Selena menggigit ujung jari Marvin. Darah merah gelap mengalir sedikit. Matanya Selena langsung menyala lebih terang.

“Terima kasih.”

Sayapnya mengepak.

“Blood Ascend: Iron Vein Mode.”

Bilah darah muncul lebih tebal, lebih padat, memotong zombie ninja dengan satu ayunan tajam.

Vivi menoleh ke arah Chika dan Princes. Senyumnya tetap sama—tenang, lembut, tak berubah.

“Aku akan menjaga kalian tetap hidup,” katanya sederhana.

“Itu tugasku… sebagai penjaga penginapan kalian.”

Princes berkedip.

“Dia ngomongnya kayak mau bikin teh…”

Xiaouman menatap Marvin, Selena, Vivi, Marianne, Beatrix… lalu Chika.

“Ini… calon rekan-rekanku…”

Tangannya sedikit gemetar.

“Hero… sebanyak ini…”

Di sisi lain, Hanabi berdiri kaku.

Matanya menyipit saat melihat Vivi dan kloning-kloningnya.

“Dia…”

Hanabi mengangkat kunai dan menunjuk lurus ke arah Vivi.

“Kau…”

Vivi menoleh, masih tersenyum.

“Ah. Lama tak bertemu, Hanabi.”

Nada suaranya ramah. Terlalu ramah.

Hanabi menggertakkan gigi.

“Senyumanmu itu… dari dulu tak pernah berubah.”

Ia melangkah satu langkah ke depan, aura dingin menyebar di sekelilingnya.

“Di kota ini dulu… semuanya runtuh… orang-orang mati… dan kau masih bisa tersenyum seperti itu.”

Vivi memiringkan kepala sedikit.

“Kalau aku berhenti tersenyum…”

“…siapa yang akan mengingat bahwa masih ada hari esok?”

Hanabi terdiam sesaat.

Jarinyanya menegang di gagang kunai.

“…Aku tetap tidak menyukaimu.”

“Tidak apa-apa,” jawab Vivi lembut.

“Aku akan tetap menjaga mereka.”

Chika melihat ke arah barisan zombie yang masih bermunculan dari kawah ungu.

“Kelihatannya… pesta Hero kita sudah lengkap.”

Marvin mengepalkan kedua sarung tangan bajanya.

“Bagus. Aku sudah ingin memukul sesuatu yang lebih keras.”

Selena membuka payungnya sedikit.

“Target berikutnya jelas.”

Beatrix mengisi ulang senjatanya.

“Kawah itu.”

Marianne mengangkat pedang roketnya.

“Hancurkan sumbernya.”

Xiaouman menarik napas dalam-dalam.

Di depan para Hero yang telah menempa dunia dengan darah dan api…

ia berdiri sebagai yang paling muda.

Namun matanya kini tidak lagi ragu.

“…Aku tidak akan tertinggal.”

Di tengah kota klan naga yang runtuh,

di bawah bayang-bayang kastil Orochi,

enam Hero dan satu calon Hero kelima

bersiap menabrak jantung wabah itu sendiri—

sementara di belakang mereka,

pohon Labose berdiri…

menggugurkan buah-buah kehidupan palsu

dengan senyum yang tak pernah padam.

Kabut perang belum sempat turun ketika ribuan mayat hidup ninja kembali bangkit dari kawah ungu di tengah kota. Tubuh-tubuh mereka bergerak kaku, mata kosong menyala redup, senjata berkarat terangkat serempak. Suara langkah mereka menyatu menjadi gemuruh rendah—seperti hujan batu di atap kuil.

Chika menggeser kakinya, perisai emas terangkat.

“Jumlahnya… nggak manusiawi.”

Marvin mengangkat kedua sarung tangan bajanya. Plat logam di lengannya berderit.

“Bagus. Aku lagi pengin olahraga.”

Beatrix memutar senjata futuristiknya, bola sihir kuning di badan senjata berdenyut.

“Jangan rebut semua, Gorila.”

Marianne menyalakan pendorong roket di gagang pedangnya.

FSSSH—

Api biru muda menyala seperti napas naga.

Selena membuka payung merahnya. Bilah darah tipis berputar di sekelilingnya.

“Formasi. Jangan biarkan mereka mengepung.”

Hanabi berdiri di depan Vivi, kunai putih terangkat, mata biru menyipit tajam.

“Kalau mereka lewat aku… berarti aku sudah mati.”

Vivi tersenyum lembut. Pohon Labose di belakangnya menggugurkan buah. Kloning-kloning Vivi melangkah maju, membentuk barisan pendukung.

Lalu—

Princes tiba-tiba melayang ke udara. Rambutnya terangkat oleh angin energi biru muda. Dari punggungnya, muncul rantai cahaya—tipis, transparan, berkilau seperti kaca cair.

“Chika!” serunya.

“Pegang kuat!”

Rantai pertama melesat.

TZING—!

Ujungnya menyentuh dada Chika. Tidak melukai—melainkan menyalurkan arus hangat yang mengalir ke seluruh tubuhnya. Cahaya biru muda menyelimuti zirahnya.

Rantai kedua menusuk MK.99.

Rantai ketiga menyentuh Selena.

Keempat ke Marianne.

Kelima ke Beatrix.

Keenam ke Marvin.

Ketujuh ke Hanabi.

Kedelapan ke Vivi.

Semua terhubung ke Princes di udara seperti bintang pusat dengan delapan garis cahaya.

“Mode… Resonansi Tim!” teriak Princes, suaranya bergetar tapi tegas.

MK.99 mengangkat pedang lasernya.

“Unit 99… menerima suplai energi eksternal. Overdrive: aktif.”

Pedang biru-kuningnya memanjang, cahaya bergetar.

Chika merasakan jantungnya berdetak lebih cepat.

“…Aku terasa… ringan.”

Marvin tertawa berat.

“Tenagaku… dobel.”

Selena mengepakkan sayapnya. Bilah darah menebal, berubah lebih padat.

“Menarik.”

Beatrix mengangkat senjatanya.

“Baik. Kita mulai.”

Marianne mengayunkan pedang ke depan.

“Mode Booster: Dragon Rush!”

FSSSHHH—!

Ia melesat seperti peluru. Tebasannya membelah barisan depan zombie ninja.

“Dragon Cleave!”

BOOOM—!

Ledakan api dan pecahan batu menyebar. Puluhan mayat hidup terlempar ke udara.

Beatrix berdiri dengan kaki terbuka, bahu kokoh.

“Plasma Holo—Sun Splitter!”

Senjatanya menembakkan bilah cahaya kuning raksasa yang memotong lurus ke depan.

ZZZAAASH—!

Barisan zombie ninja terbelah dua seperti kain.

Marvin menghentakkan kaki.

“Titan Knuckle!”

Ia memukul tanah.

DUM—!

Gelombang kejut merambat. Puluhan mayat hidup terangkat dari tanah, terpental seperti boneka.

Selena melompat di antara mereka.

“Blood Art: Crimson Guillotine.”

Bilah darah berputar seperti lingkaran.

SHRRRK—!

Tubuh-tubuh zombie terpotong bersih, jatuh sebelum sempat mendekat.

Hanabi bergerak tanpa suara.

“Kabut Pagi: Silent Step.”

Kabut putih menyebar. Di dalamnya, cahaya mata biru Hanabi menyala.

Satu kilat gerakan—

kepala-kepala mayat hidup jatuh satu per satu, seolah diputus benang.

Vivi mengangkat tangan.

“Labose Bloom.”

Akar hitam menyembur dari tanah, melilit kaki zombie ninja dan menghancurkannya. Kloning-kloning Vivi maju, menahan barisan belakang.

MK.99 melangkah ke depan.

“Mode penghancur: Laser Sweep.”

Dua drone di sisi kirinya memutar laras.

ZZZRRRRT—!

Sinar biru dan kuning menyapu lurus, membersihkan satu koridor penuh.

Chika menarik Lumina Bow. Anak panah listrik terbentuk banyak.

“Hujan Petir Lumina: Volt Cascade!”

TZAAAK—!

Puluhan panah jatuh seperti hujan. Ledakan kecil beruntun menghancurkan kerumunan zombie ninja.

Princes di udara memejamkan mata, berkeringat.

“Lebih kuat… lebih kuat lagi!”

Rantai cahaya berdenyut.

Chika melompat, memutar tubuh di udara.

“Lumina Spiral Break!”

Ia menukik, pedang berubah dari busur ke bentuk pedang. Tebasan spiral menghantam tanah.

DOOOM—!

Lingkaran petir menyebar, membersihkan area di sekelilingnya.

Namun—

Dari kawah ungu, mayat hidup baru terus keluar. Jumlahnya tidak berkurang.

Beatrix melirik.

“Kenapa mereka nggak habis-habis?!”

Marianne menahan napas.

“Sumbernya belum hancur!”

Selena mengangkat payungnya, menatap lubang itu.

“Ada sesuatu di bawah sana…”

Princes gemetar di udara.

“Aku… masih bisa menyalurkan… tapi… lama-lama…”

Chika menoleh ke atas.

“Princes! Turun sedikit! Jangan sampai pingsan!”

Princes menggeleng.

“Belum… belum sekarang!”

Marvin berdiri di depan, tubuh penuh goresan.

“Kalau begitu… kita buka jalan ke sumbernya!”

Hanabi muncul di sisi Chika.

“Aku akan bersihkan sisi kiri.”

Vivi mengangkat tangan.

“Klon akan melindungi belakang.”

MK.99 mengunci target.

“Jalur menuju kawah: ditentukan.”

Chika mengangkat pedang.

“Semua! Dorong ke tengah!”

Mereka bergerak serempak.

Marianne membuka jalan dengan Dragon Rush.

Beatrix menembak Sun Splitter kedua.

Marvin menghancurkan tanah dengan Titan Knuckle.

Selena melindungi sisi dengan Crimson Guillotine.

Hanabi mengeksekusi yang lolos.

Vivi menahan barisan belakang.

MK.99 menyapu dengan laser.

Chika melompat di antara mereka, menebas dan menembak.

Princes di udara, rantai cahaya tetap terhubung.

Namun saat mereka hampir mencapai kawah—

Mayat hidup bertambah lebih cepat.

Chika terengah.

“Ini… nggak normal…”

Princes menutup mata kuat-kuat.

“Ada… sesuatu yang memanggil mereka…”

Di tengah cahaya serangan dan kabut perang,

di bawah langit kota klan naga yang runtuh,

tujuh Hero dan satu anak kecil yang melayang

terus bertarung melawan arus kematian

yang seolah tak punya ujung—

sementara di balik kawah ungu itu,

sesuatu…

sedang menunggu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!