Di dunia tempat kekuatan adalah hukum dan kelemahan adalah dosa, Qiu Liong hanyalah sampah sekte murid buangan dengan akar spiritual retak, bahan ejekan, dan simbol kegagalan.
Ia dihina, dipermalukan, bahkan dikhianati oleh orang yang paling ia percaya.
Namun takdir berputar ketika ia menemukan Inti Kekosongan Tanpa Batas, warisan kuno dari dewa yang telah musnah. Kekuatan itu bukan sekadar energi… melainkan kemampuan untuk menembus hukum langit, menelan takdir, dan menciptakan ulang realitas.
Dari seorang pecundang yang diinjak-injak, Qiu Liong bangkit.
Ia akan merobek langit. Menghancurkan para dewa. Dan memahat namanya sebagai legenda yang tak akan pernah pudar.
Karena ketika dunia menertawakannya…
ia diam-diam sedang belajar menjadi tak terbatas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon waseng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aura yang Berbeda
Gerbang Sekte Awan Biru berdiri megah di bawah cahaya pagi.
Biasanya, setiap kali Qiu Liong melangkah melewatinya, ia akan menunduk. Tatapan para murid lain terasa seperti jarum-jarum kecil yang menusuk harga dirinya.
Hari ini
ia tetap berjalan seperti biasa.
Namun sesuatu terasa berbeda.
Dua murid yang ia selamatkan berjalan di belakangnya, masih lemah, namun hidup. Ketika penjaga gerbang melihat mereka, ekspresinya langsung berubah.
“Kalian… kembali?”
Kabar itu menyebar cepat.
Beberapa murid berkumpul, bisik-bisik mulai terdengar.
“Itu murid luar yang retak itu, kan?”
“Dia yang masuk ke Hutan Kabut?”
“Mustahil…”
Qiu Liong bisa merasakan tatapan-tatapan itu.
Namun kali ini, tatapan itu tidak menembusnya seperti dulu.
Ia hanya lewat.
Seperti angin yang menyentuh permukaan air yang tenang.
Salah satu murid yang dulu paling sering mengejeknya, Zhao Ming, melangkah mendekat. Wajahnya penuh ketidakpercayaan.
“Kau masuk sendirian?” tanyanya tajam.
Qiu Liong menatapnya.
Tatapan mereka bertemu.
Dan untuk sesaat
Zhao Ming terdiam.
Ada sesuatu di mata Qiu Liong yang membuatnya ragu melanjutkan.
Bukan amarah.
Bukan kesombongan.
Melainkan kedalaman yang sulit dijelaskan.
Seperti berdiri di tepi jurang yang tak terlihat dasarnya.
“Ya,” jawab Qiu Liong singkat.
Hanya satu kata.
Namun entah kenapa, Zhao Ming tidak lagi tertawa.
Tidak ada ejekan yang keluar.
Ia hanya mendengus pelan dan mundur setengah langkah.
Qiu Liong sendiri baru menyadari perubahan itu ketika melewati kerumunan.
Orang-orang memberi jarak.
Bukan karena hormat.
Bukan karena takut sepenuhnya.
Namun karena mereka merasakan sesuatu.
Aura.
Ia berhenti sejenak di halaman dalam sekte.
Memejamkan mata.
Ia tidak mengeluarkan kekuatan.
Tidak mengalirkan kehampaan.
Namun inti di dalam dirinya tetap ada.
Tenang.
Dalam.
Dan tanpa sadar, ia menyadari
kehadirannya kini berbeda.
“Tubuhmu mulai beradaptasi,” suara itu berbisik samar.
“Aura adalah bayangan dari kekuatan.”
“Aku tidak mencoba menakut-nakuti mereka,” balas Qiu Liong dalam hati.
“Kau tidak perlu mencoba.”
Ia membuka mata.
Beberapa murid masih memandangnya dengan ekspresi aneh.
Campuran rasa ingin tahu dan kewaspadaan.
Untuk pertama kalinya, ia melihat sesuatu yang jarang ia dapatkan
kehati-hatian.
Mereka tidak lagi memandangnya sebagai lelucon.
Namun juga belum sebagai ancaman.
Ia berjalan menuju Balai Pengobatan, menyerahkan dua murid yang ia selamatkan kepada tabib sekte.
Salah satu dari mereka, sebelum dibawa masuk, menggenggam pergelangan tangannya.
“Terima kasih…” bisiknya tulus.
Kata-kata sederhana itu membuat dada Qiu Liong terasa hangat.
Ia masih bisa merasakan kehangatan itu.
Berarti ia belum kehilangan semuanya.
Saat ia berbalik untuk pergi, sebuah suara lembut memanggilnya.
“Qiu Liong.”
Ia mengenali suara itu.
Mei Lanyue.
Ia berdiri beberapa langkah darinya, pakaian putihnya bergerak pelan tertiup angin pagi. Wajahnya tetap tenang seperti biasanya.
Namun matanya
lebih tajam.
“Ada yang berbeda darimu,” katanya langsung.
Bukan tuduhan.
Bukan pujian.
Pernyataan.
Qiu Liong menatapnya balik.
Untuk sesaat, ia merasa inti di dalam dadanya berdenyut lebih jelas.
“Apa maksudmu?” tanyanya.
“Auramu,” jawab Mei Lanyue pelan. “Ia… sunyi. Tapi menekan.”
Kata-kata itu membuat udara di sekitar mereka terasa lebih berat.
Qiu Liong tersenyum tipis.
“Barangkali aku hanya berhenti takut.”
Mei Lanyue tidak tersenyum.
Namun ia tidak menyangkal.
Tatapan mereka bertahan beberapa detik lebih lama dari biasanya.
Dan di dalam keheningan itu, Qiu Liong menyadari sesuatu
perubahannya bukan hanya tentang kekuatan.
Bukan hanya tentang tidak lagi dihina.
Ia telah melangkah ke jalur yang berbeda.
Dan orang-orang mulai merasakannya.
Aura yang berbeda itu bukan sekadar tekanan.
Ia adalah pertanda.
Bahwa pecundang yang dulu mereka kenal
perlahan
sedang menghilang.
jangan bikin kecewa ya🙏💪