NovelToon NovelToon
Dari Pecundang Jadi Legenda

Dari Pecundang Jadi Legenda

Status: sedang berlangsung
Genre:Action
Popularitas:74.6k
Nilai: 5
Nama Author: waseng

Di dunia tempat kekuatan adalah hukum dan kelemahan adalah dosa, Qiu Liong hanyalah sampah sekte murid buangan dengan akar spiritual retak, bahan ejekan, dan simbol kegagalan.
Ia dihina, dipermalukan, bahkan dikhianati oleh orang yang paling ia percaya.
Namun takdir berputar ketika ia menemukan Inti Kekosongan Tanpa Batas, warisan kuno dari dewa yang telah musnah. Kekuatan itu bukan sekadar energi… melainkan kemampuan untuk menembus hukum langit, menelan takdir, dan menciptakan ulang realitas.
Dari seorang pecundang yang diinjak-injak, Qiu Liong bangkit.
Ia akan merobek langit. Menghancurkan para dewa. Dan memahat namanya sebagai legenda yang tak akan pernah pudar.
Karena ketika dunia menertawakannya…
ia diam-diam sedang belajar menjadi tak terbatas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon waseng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Aura yang Berbeda

Gerbang Sekte Awan Biru berdiri megah di bawah cahaya pagi.

Biasanya, setiap kali Qiu Liong melangkah melewatinya, ia akan menunduk. Tatapan para murid lain terasa seperti jarum-jarum kecil yang menusuk harga dirinya.

Hari ini

ia tetap berjalan seperti biasa.

Namun sesuatu terasa berbeda.

Dua murid yang ia selamatkan berjalan di belakangnya, masih lemah, namun hidup. Ketika penjaga gerbang melihat mereka, ekspresinya langsung berubah.

“Kalian… kembali?”

Kabar itu menyebar cepat.

Beberapa murid berkumpul, bisik-bisik mulai terdengar.

“Itu murid luar yang retak itu, kan?”

“Dia yang masuk ke Hutan Kabut?”

“Mustahil…”

Qiu Liong bisa merasakan tatapan-tatapan itu.

Namun kali ini, tatapan itu tidak menembusnya seperti dulu.

Ia hanya lewat.

Seperti angin yang menyentuh permukaan air yang tenang.

Salah satu murid yang dulu paling sering mengejeknya, Zhao Ming, melangkah mendekat. Wajahnya penuh ketidakpercayaan.

“Kau masuk sendirian?” tanyanya tajam.

Qiu Liong menatapnya.

Tatapan mereka bertemu.

Dan untuk sesaat

Zhao Ming terdiam.

Ada sesuatu di mata Qiu Liong yang membuatnya ragu melanjutkan.

Bukan amarah.

Bukan kesombongan.

Melainkan kedalaman yang sulit dijelaskan.

Seperti berdiri di tepi jurang yang tak terlihat dasarnya.

“Ya,” jawab Qiu Liong singkat.

Hanya satu kata.

Namun entah kenapa, Zhao Ming tidak lagi tertawa.

Tidak ada ejekan yang keluar.

Ia hanya mendengus pelan dan mundur setengah langkah.

Qiu Liong sendiri baru menyadari perubahan itu ketika melewati kerumunan.

Orang-orang memberi jarak.

Bukan karena hormat.

Bukan karena takut sepenuhnya.

Namun karena mereka merasakan sesuatu.

Aura.

Ia berhenti sejenak di halaman dalam sekte.

Memejamkan mata.

Ia tidak mengeluarkan kekuatan.

Tidak mengalirkan kehampaan.

Namun inti di dalam dirinya tetap ada.

Tenang.

Dalam.

Dan tanpa sadar, ia menyadari

kehadirannya kini berbeda.

“Tubuhmu mulai beradaptasi,” suara itu berbisik samar.

“Aura adalah bayangan dari kekuatan.”

“Aku tidak mencoba menakut-nakuti mereka,” balas Qiu Liong dalam hati.

“Kau tidak perlu mencoba.”

Ia membuka mata.

Beberapa murid masih memandangnya dengan ekspresi aneh.

Campuran rasa ingin tahu dan kewaspadaan.

Untuk pertama kalinya, ia melihat sesuatu yang jarang ia dapatkan

kehati-hatian.

Mereka tidak lagi memandangnya sebagai lelucon.

Namun juga belum sebagai ancaman.

Ia berjalan menuju Balai Pengobatan, menyerahkan dua murid yang ia selamatkan kepada tabib sekte.

Salah satu dari mereka, sebelum dibawa masuk, menggenggam pergelangan tangannya.

“Terima kasih…” bisiknya tulus.

Kata-kata sederhana itu membuat dada Qiu Liong terasa hangat.

Ia masih bisa merasakan kehangatan itu.

Berarti ia belum kehilangan semuanya.

Saat ia berbalik untuk pergi, sebuah suara lembut memanggilnya.

“Qiu Liong.”

Ia mengenali suara itu.

Mei Lanyue.

Ia berdiri beberapa langkah darinya, pakaian putihnya bergerak pelan tertiup angin pagi. Wajahnya tetap tenang seperti biasanya.

Namun matanya

lebih tajam.

“Ada yang berbeda darimu,” katanya langsung.

Bukan tuduhan.

Bukan pujian.

Pernyataan.

Qiu Liong menatapnya balik.

Untuk sesaat, ia merasa inti di dalam dadanya berdenyut lebih jelas.

“Apa maksudmu?” tanyanya.

“Auramu,” jawab Mei Lanyue pelan. “Ia… sunyi. Tapi menekan.”

Kata-kata itu membuat udara di sekitar mereka terasa lebih berat.

Qiu Liong tersenyum tipis.

“Barangkali aku hanya berhenti takut.”

Mei Lanyue tidak tersenyum.

Namun ia tidak menyangkal.

Tatapan mereka bertahan beberapa detik lebih lama dari biasanya.

Dan di dalam keheningan itu, Qiu Liong menyadari sesuatu

perubahannya bukan hanya tentang kekuatan.

Bukan hanya tentang tidak lagi dihina.

Ia telah melangkah ke jalur yang berbeda.

Dan orang-orang mulai merasakannya.

Aura yang berbeda itu bukan sekadar tekanan.

Ia adalah pertanda.

Bahwa pecundang yang dulu mereka kenal

perlahan

sedang menghilang.

1
Pur Purnomo
akhirnya akoooh membaca dengan menghilangkan kata "NAMUN dan MELAINKAN", hasilnya lumayan lebih mengalir alur ceritanya 😉🙏
Pur Purnomo
BUKAN karena itu...BUKAN berarti cerita sudah selesai...NAMUN mari kita lanjutkan 😉💪
Pur Purnomo
sepertinya, pendekar kita tdk cocok menjadi jagoan, terlalu banyak memikirkan moralitas dan kemanusiaan, akibatnya menjadi lemah,... mungkin maksudnya, menjadi jagoan boleh, tp membunuh lawan harus lihat situasi dan kondisi,..yg dilakukan jagoan kita malah menjadi polemik diri yg tdk berujung...
Pur Purnomo
yg saya bingung, knp pendekar kita ini selalu bertahan mlulu ya?...sudah terdesak, atau terluka, baru membaca ritme permainan lawan...alhasil menjadi pendekar ambigu, kebingungan, gk PeDe...akhirnya jadi ragu2, jagoan kita ini sebenarnya hebat gk sih?...🙏
Pur Purnomo
sebenarnya apa yg menjadi beban ketakutan qiu liong?...Kalo inti kekosongan tdk berguna dan malah menjadi beban...knp tdk diabaikan sj ya?...kesannya menjadi masalah yg tidak ada habisnya, sibuk mikirin yg gk perlu thor...🙏...tp lanjuuutkan thorrr 💪
Pur Purnomo
Iya...ini gaya bahasanya author penekanan kiasan, jadi kayak puisi.
bukan, melainkan, namun, tapi...spt itu ya...jadi agaknya narasi ceritanya kurang mengalir dgn bebas 🙏
Dadan Hana Kusnendar
lanjut
Suratno Gurdi Gen3 Gurdi
tambah diikuti ceritanya tambah tdk jelas kemana mana ga punya tujuan😄
Tjajta Suhendar
ini bukan cerita.silat , ini drama kasih sayang , konyol . skip.
🔵༄⍟Mᷤbᷡah_Atta࿐ 🇮🇩
Awal cerita sudah bagus 👍 Harapan ku novel ini sampai Tamat dan Sukses.
Anna
membaca lama lama jadi pekok
Anna
terlalu banyak penjelasan dan penjabaran dan ulang ulang
Mbah Haryo
novel ini sperti cerita du dunia sekuler..dg sgala pertarungan moralitasnya...
bukan sperti cerita fantasi dunia persilatan...hhhh
Mbah Haryo
moralitas & idealisme buta....
yg tidak melihat simana dunia dia hidup..
hanya membuat orang menjadi bodoh..

didunia anjing makan anjing...
maka siapapun hrs siap mnjadi anjing...haaakak...
Mbah Haryo
narasinya masih sama sj dr awal sampai capter ini...hhhh
Mbah Haryo
masih sj dg narasi yg sama...bukan ini bukan itu tapi anu...
terus sj bgitu..wekekkekek.
jd boring dah ach...
Mbah Haryo
jagoanya mumet terlalu banyak masalah yg gak perlu...hhh
Mbah Haryo
baru kali ini ada pendekar yg banyak pikiran..bwakkakakk
Mbah Haryo
dapat inti kekosongan..tp malah tiada guna..hadeuewh...
Mbah Haryo
terooss aj..bukan ini tapi itu..bukan anu tapi panu...
gitu terus diakhir cpt..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!