"Kamu aman di sini, Aura. Dunia luar itu jahat, hanya saya yang tidak akan pernah menyakitimu."
Kalimat itu adalah mantra sekaligus kutukan bagi Aura. Di usia 21 tahun, Arfan seharusnya menjadi pelindung, tapi baginya, Arfan adalah bayangan yang menelan kebebasannya. Setiap langkah Aura diawasi, setiap napasnya harus berizin.
Aura terjebak di antara dua pilihan, mencintai pria yang rela mati demi menjaganya, atau membenci pria yang perlahan membunuh jiwanya dalam sangkar emas bernama kasih sayang.
Ketika rahasia di balik sikap posesif Arfan mulai terkuak, sanggupkah Aura melarikan diri? Atau justru ia akan selamanya terkunci dalam Penjara Cinta yang ia bangun sendiri?
"Sebab bagiku, kehilanganmu adalah satu-satunya dosa yang tidak bisa kumaafkan." — Arfan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Patriciaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18 - Saya Mencintaimu Aura
Langkah kaki Aura terhenti tepat di depan deretan kursi tunggu yang kosong dan dingin. Ia tidak sanggup lagi melangkah menuju ruang rawat. Tubuhnya mendadak lemas, seolah seluruh tenaganya tersedot habis setelah kejadian tadi. Dengan napas yang masih tersengal, ia terduduk lunglai, menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi yang keras.
Aura termenung. Ia menatap telapak tangannya sendiri yang tadi digunakan untuk menampar Arfan. Tangannya masih terasa kebas dan sedikit bergetar.
"Bagaimana bisa..." bisiknya lirih pada kesunyian koridor. "Bagaimana bisa ada orang segila itu?"
Pikiran Aura berkecamuk. Ia teringat tatapan Arfan saat ia tampar tadi, tatapan yang bukannya marah, malah terlihat seperti, memuja? Aura bergidik ngeri. Di dunianya, cinta itu seharusnya melindungi dan menenangkan, tapi apa yang dilakukan Arfan terasa seperti penjara yang kasat mata.
Arfan bicara soal agama, soal mahram, soal menjaga kesucian, tapi tindakannya justru meneror mental Aura. Bagi Aura, Arfan bukan lagi sosok kakak kelas yang sholeh atau calon menantu idaman budanya. Di mata Aura sekarang, Arfan adalah labirin yang menyesatkan, semakin Aura mencoba keluar, semakin Arfan menariknya masuk ke dalam kegilaan yang dia sebut sebagai kasih sayang.
"Dia bukan mencintaiku," gumam Aura sambil memeluk dirinya sendiri, mencoba mengusir rasa dingin yang merayap di kulitnya. "Dia terobsesi pada versinya sendiri tentang aku."
Air mata Aura akhirnya jatuh satu per satu. Ia merasa sangat sendirian di tengah lorong rumah sakit itu.
Aura masih termenung di kursi tunggu, pikirannya melayang pada Bima. Ia teringat bagaimana kakaknya itu selalu meledak-ledak setiap kali nama Arfan disebut. Dulu, Aura pikir Bima hanya terlalu protektif dan emosional, tapi sekarang ia sadar, insting Bima tidak pernah salah.
"Maafin Aura, Kak," bisiknya pilu. Rasa sesal itu menghantam dadanya dengan telak. Ia menyesali setiap detik pertemanannya dengan Arfan, menyesali sikapnya yang dulu sering membela Arfan di depan Bima. Ternyata, orang yang ia anggap baik itu adalah sebuah ancaman besar yang tersembunyi.
Drrtt... drrtt...
Ponsel di saku Aura bergetar tanpa henti. Dengan tangan gemetar, ia mengeluarkannya. Layarnya dipenuhi rentetan notifikasi pesan dari Arfan.
Kak Arfan: Ra, maafkan Saya. Saya bersumpah tidak akan pergi dari hidupmu.
Kak Arfan: Saya mencintaimu lebih dari siapapun di dunia ini, Aura.
Kak Arfan: Hanya saya yang bisa menjagamu. Saya akan segera menikahimu, agar tidak ada lagi jarak di antara kita.
Aura membaca pesan-pesan itu dengan napas yang memburu. Bukannya merasa tersanjung, setiap kata menikah dan mencintaimu dari Arfan justru terasa seperti ancaman mati baginya. Setiap kalimat itu adalah bukti nyata kegilaan Arfan yang tidak sehat.
Tanpa ragu lagi, jempol Aura bergerak cepat di atas layar. Dengan perasaan campur aduk antara takut dan jijik, ia menekan profil Arfan, menggulir layar ke bawah, dan menekan tombol Blokir.
Satu tekanan jari, dan semua pesan mengerikan itu pun terhenti. Aura menarik napas panjang, mencoba membuang sesak di dadanya. Namun, ia tahu betul, memblokir nomor ponsel adalah hal yang muda, tapi memblokir Arfan dari kehidupannya yang nyata tidak akan semudah itu. Arfan seperti bayangan, semakin Aura mencoba lari, semakin dekat bayangan itu mengikutinya.
Suasana di koridor itu mendadak jadi jauh lebih mencekam. Aura baru saja menghela napas lega setelah memblokir nomor Arfan, namun belum sempat ia memasukkan ponselnya kembali ke saku, layar itu menyala lagi.
Drrtt.
Satu pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal. Aura ragu sejenak, namun rasa penasarannya lebih besar. Dengan tangan gemetar, ia membuka pesan itu.
Nomor Tidak Dikenal: Saya mencintaimu, Aura. Sangat mencintaimu. Kamu tidak bisa menjauh dariku hanya dengan satu tombol blokir.
Jantung Aura serasa berhenti berdetak. Napasnya tercekat di tenggorokan. Bagaimana bisa? Baru hitungan detik ia memblokir nomor Arfan, pria itu sudah muncul lagi dengan cara yang lain. Rasanya seperti sedang diawasi dari kegelapan, seolah Arfan ada di suatu tempat yang sangat dekat, sedang memperhatikannya gemetar ketakutan di kursi tunggu itu.
Pesan-pesan berikutnya masuk bertubi-tubi tanpa henti.
Nomor Tidak Dikenal: Saya mencintaimu.
Nomor Tidak Dikenal: Saya mencintaimu, Aura.
Nomor Tidak Dikenal: Jangan pernah mencoba lari.
Setiap kata mencintaimu yang muncul di layar itu tidak lagi terasa seperti ungkapan kasih sayang, melainkan seperti jeratan tali yang semakin kencang melilit lehernya. Aura merasa mual. Ruangan yang luas itu tiba-tiba terasa sempit dan menghimpit.
Dengan gerakan panik dan air mata yang mulai merembes keluar, Aura menekan tombol power ponselnya lama-lama. Begitu layar itu menggelap dan benar-benar mati, ia langsung mendekap ponsel itu di dadanya, meringkuk di kursi sambil terisak pelan.
Ia ketakutan setengah mati. Dunianya kini terasa tidak aman lagi. Bahkan di dalam genggamannya sendiri pun, Arfan masih bisa menyentuhnya dengan kata-kata yang mengerikan itu.
Pintu kamar rawat berderit pelan. Bima melangkah keluar dengan wajah yang sudah lebih tenang, namun langkahnya langsung terhenti saat melihat sosok yang meringkuk di kursi tunggu. Matanya membelalak. Di sana, Aura duduk dengan bahu yang bergetar hebat, memeluk ponselnya yang sudah mati seolah benda itu adalah bom yang siap meledak.
"Aura?" suara Bima menggelegar di koridor sepi, sarat akan kekhawatiran.
Bima segera berlari kecil dan berlutut di depan adiknya. Ia memegang kedua bahu Aura, mencoba mencari mata adiknya yang disembunyikan di balik tundukan kepala. "Ra, kamu kenapa? Ada apa? Siapa yang berani buat kamu nangis begini?"
Aura tersentak. Ia buru-buru menghapus air matanya dengan punggung tangan, mencoba mengatur napas agar suaranya tidak terdengar pecah. Ia tahu, kalau ia jujur tentang Arfan yang menerornya dan fakta bahwa pria itu ada di rumah sakit ini, Bima pasti akan mengamuk dan melakukan hal nekat yang bisa membahayakan dirinya sendiri.
Aura mendongak, memaksakan sebuah senyum tipis yang terlihat sangat getir.
"Enggak apa-apa, Kak," ucap Aura bohong, suaranya masih sedikit serak. "Aura... Aura cuma tiba-tiba kangen Ayah. Tadi abis ngobrol sama Bunda soal Ayah, rasanya jadi sedih banget pas keluar sendirian begini."
Bima terdiam, matanya menyipit selidik. Ia menatap lekat-lekat mata adiknya yang sembab, mencari celah kebohongan di sana. Namun, Aura adalah pembohong yang hebat jika itu menyangkut ketenangan kakaknya.
"Beneran cuma karena kangen Ayah?" tanya Bima dengan nada yang melunak, meski tangannya masih mengepal kuat.
Aura mengangguk cepat, tangannya menyembunyikan ponsel yang sudah mati ke dalam saku dalam-dalam. "Iya, Kak. Maafin Aura ya udah bikin Kakak panik. Aura cuma butuh waktu sebentar buat tenang."
Bima menghela napas panjang, ia menarik Aura ke dalam pelukannya dan mengusap punggung adiknya dengan lembut. "Lain kali jangan sendirian kalau lagi sedih. Ada Kakak di sini, Ra."
Aura membalas pelukan Bima erat-erat, memejamkan matanya rapat. Di dalam dekapan hangat kakaknya, Aura merasa sedikit aman, namun di kepalanya, kata-kata Saya mencintaimu dari nomor tak dikenal itu masih terus terngiang, seperti kutukan yang tidak bisa ia hapus.
Bersambung.....
Next chapter ya jangan lupa like dan komen🫶🏻.
Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!
Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..
Ditunggu ya, kak..
Terima kasih..
🥰🥰🥰