Zhen Nuo editor di salah satu platform novel online. Secara tidak sengaja terjebak di dalam dunia novel yang penuh intrik pernikahan. Dengan semua kemampuannya ia berusaha merubah takdirnya sebagai pemeran pendukung. Yang akan terbunuh di bab kedua.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sri Wulandari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menenangkan hati
Selir Yu kembali memandangi langit-langit ruangan kamar. 'Plot twist apa lagi ini. baru juga memasuki bab awal. Semua kejutan dan masalah sudah tersedia rapi menunggu eksekusi.'
Pelayan Guyi melanjutkan setiap detail perjalanan hidup Nona pertama Yu tanpa ada yang terlewatkan.
Mendengar cerita itu, kurang lebihnya Selir Yu paham. Bagaimana wanita yang saat ini tubuhnya ia kuasi berinteraksi dengan semua orang di kediaman Yu. Dan berusaha membuat nama baiknya menjadi sangat buruk.
"Guyi, bawakan aku gaun milikmu." Selir Yu melihat kearah pelayannya.
"Baik."
Tanpa bertanya, Pelayan Guyi mengambil gaun yang di minta. Dia kembali dengan gaun berwarna biru muda yang jauh lebih sederhana. Namun masih bersih juga cukup rapi.
Wanita di atas tempat tidur bangun. "Terlalu membosankan di tempat ini. Kita pergi keluar."
"Selir Yu, racun yang ada di tubuh anda masih belum di netralkan. Lebih baik anda perbanyak istirahat." Pelayan Guyi berusaha menahan.
"Dengan semua masalah tanpa akhir. Tetap diam di kamar tanpa ada pergerakan. Justru akan membuat otak ku terus berpikiran negatif. Dan mengakibatkan kecemasan, tekanan batin. Pada akhirnya aku akan menjadi wanita transmigrasi yang gila. Karena tidak bisa menerima alur cerita yang penuh tekanan ini. Aaaa..." Selir Yu merenggangkan tubuhnya. "Justru dengan berjalan-jalan keluar. Merasakan udara segar dari segara penjuru arah. Akan lebih membuat ku optimis untuk memulai langkah selanjutnya."
"Anda benar," saut Pelayan Guyi setuju. Meski ada beberapa kata yang tidak ia pahami.
"Kalua begitu. Kita keluar malam ini. Biarkan Nuan Nuan tetap berjaga di dalam kamar sampai kita kembali," ujar Selir Yu.
Wanita itu mulai berganti gaun yang jauh lebih sederhana.
"Jangan lupa, membawa uang yang banyak." Dia berjalan menuju lemari yang ada di sebelah kiri. Mengambil sepuluh lembar uang senilai 100 tahil. "Uang sudah. Gaun sudah. Waktunya berangkat." Selir Yu menjadi sangat bersemangat.
Pelayan Nuan Nuan di minta masuk dan tetap berdiam di dalam kamar. Sedangkan Selir Yu dan Pelayannya Guyi telah pergi menuju pintu kecil di belakang kediaman.
Mereka berdua keluar melewati lubang anjing yang ada di bagian pojok bagian belakang tembok tertinggi.
"Ayo..."
Dengan cepat Selir Yu menarik pelayannya setelah berhasil keluar dari kediaman Yu. Mereka berlari menuju jalur besar dan membaur di antara ratusan orang yang tengah berlalu-lalang.
Wanita dengan gaun yang lebih sederhana itu berhenti di salah satu kedai kue. Kedua matanya berbinar menatap semua makanan lezat di depannya. "Bungkuskan, ini, ini dan ini." Dia menunjuk ke tiga kue. Kue bulan, kue persik dan kue salju.
"Nona, silakan." Bos kedai memberikan tiga bungkusan kue yang di minta.
"Guyi." Selir Yu melirik kearah pelayannya.
Pelayan Guyi mengangguk mengerti. Dia memberikan uang yang ia bawa.
Setelah mendapatkannya, Selir Yu berjalan santai menembus keramaian di jalur malam Ibu Kota. Tempat paling ramai yang selalu di datangi orang-orang dari luar kota.
"Wahhh... hahahah..."
Api menyembur kuat keatas di saat seseorang telah menahan cairan di mulutnya. Lalu di sembuhkan kearah kobaran api yang ada di ujung obor.
"Hahahah..."
"Hebat..."
Semua orang yang melihatnya berteriak gembira.
Hanya berjarak beberapa meter saja empat orang saling melempar gentong-gentong besar. Mereka melakukannya berulang kali tanpa rasa takut. Bahkan hal ini menarik minat penonton untuk melihat.
"Nona, kita tidak bisa pergi terlalu lama." Pelayan Guyi mencoba mengingatkan.
"Aku tahu." Tapi wanita itu justru berjalan semakin jauh dari kediaman Yu. Saat lelah dia duduk di pinggiran toko emas. Di depan toko emas terdapat beberapa kedai kecil yang berjejer.
Dia membeli satu bungkus manisan. Dan mulai mengobrol riang dengan penjualnya.
"Apa Nona orang luar kota?" Tanya penjual itu.
"Tidak. Tapi aku jarang sekali keluar rumah. Kedua orangtuaku selalu melarangku keluyuran," saut Selir Yu. "Bibi, apa di kota ini ada gosip yang seru? Aku terlalu lama berada di kediaman. Sehingga tidak terlalu paham tentang masalah yang ada di luar."
Penjual manisan langsung mendekat. Dia bahkan menarik kursi kecilnya. "Nona bertanya kepada orang yang tepat. Tidak ada yang tidak aku ketahui di kota ini." Semakin mendekat. "Beberapa waktu lalu, di Ibu Kota di gemparkan kabar yang keluar dari kediaman Liang."
Selir Yu mendengarkan dengan seksama.
"Nyonya utama di temukan tengah berhubungan badan dengan seorang pelayan pria. Tuan besar Liang marah besar. Dia memenggal kepala pelayan pria itu. Dan Nyonya utama sendiri di hukum rajam. Dia meninggal empat hari setelah di lempari batu tanpa henti." Penjual manisan itu melanjutkan ceritanya.
"Empat hari yang lalu aku juga mendengar kabar dari kediaman yang ada di ujung sana. Putri kedua mereka kawin lari hingga sekarang tidak bisa di temukan."
"Wanita tua di ujung kota telah melahirkan empat anak laki-laki. Tapi semua putranya meninggal dalam semalam. Setelah hari itu wanita tua itu menjadi gila. Dan melompat kesumur setelahnya."
Semakin lama, cerita menjadi semakin seru.
Beberapa penjual yang ada di sana mulai ikut mendengarkan. Bahkan penjual yang tengah melayani pembeli juga ikut mendengarkan. Ada beberapa pembeli yang penasaran, alhasil ikut duduk mendengarkan cerita.
Bibi penjual manisan semakin memelankan suaranya.
Yang artinya cerita akan lebih terpercaya.
Semua orang mendekat.
"Beberapa waktu lalu, aku mendengar kabar dari istana. Aku harap kalian tidak akan menceritakannya kepada orang lain." Semua orang mengangguk. "Keluarga ku mengenal salah satu prajurit pengawal Kekaisaran. Katanya dia pernah melihat Kaisar berduaan dengan seorang pria muda. Mereka diam di kamar cukup lama. Bahkan suara-suara aneh juga terdengar."
Selir Yu semakin penasaran. "Suara aneh apa?"
"Desahan yang terus terdengar selama hampir dua jam."
"Haaa..." Semua orang menatap penuh keterkejutan. Tapi juga bersemangat mendengarkan cerita.
"Ada kabar lain juga yang aku dengar dari saudara suamiku. Dia salah satu pejabat di istana." Seorang wanita muda menimpali. "Kabarnya Kaisar." Menahan perasaan malunya. "Kejantanannya tidak bisa berdiri. Tidak bisa melakukan hubungan bersama wanita."
"Hhaaaaw...."
Semua orang kambali terkejut.
"Wahhh... Ini cerita eksklusif yang menegangkan." Selir Yu masih mendengarkan.
"Makanya ada beberapa selir yang tertangkap karena berselingkuh. Bisa saja itu karena Yang Mulia tidak bisa berhubungan badan dengan seorang wanita." Seseorang menimpali lagi.
Pelayan Guyi menyenggol beberapa kali lengan Selir Yu.
Di saat sadar wanita itu langsung berkata. "Apa tidak masalah kita bergosip tentang Yang Mulia?" Menyentuh lehernya. Selir Yu memberikan isyarat kepada semua orang agar segara mengakhiri pembicaraan yang semakin tidak terkendali.
"Ahhhhhmmmm..." Berdeham. Semua orang bangkit. Ada yang duduk di tangga kecil di depan toko. Ada juga yang berjongkok.
Mereka langsung bubar melakukan pekerjaan masing-masing.
Tapi Selir Yu masih mencerna semua cerita yang ia dapatkan. "Aku masih membutuhkan asupan cerita lain. Tentang semua hal yang ada di sini. Agar aku bisa lebih waspada dan berhati-hati."
"Selir Yu, kebanyakan cerita pasti sudah di oleh dan tidak benar seratus persen."
"Aku tahu. Tapi setidaknya ada bahan untuk bergosip." Senyuman Selir Yu semakin sumringah. "Guyi, kita lanjutkan perjalanan."
"Selir Yu, kita harus kembali."
Selir Yu berjalan kembali menebus keramaian. Dia menghentikan langkahnya. Di saat melihat adik keduanya terlihat masuk di salah satu kedai teh bertingkat dua. "Yu Jian!"
mungkin sebenarnya selir Yu ingin melindungi adiknya makanya dia melarang ayahnya mengirim adiknya ke istana krn selir Yu tahu bagaimana sulit dan bahaya nya tinggal di istana