Di kantor, dia adalah Arash, CEO dingin yang tak tersentuh. Aku hanyalah Raisa, staf administrasi yang bahkan tak berani menatap matanya. Namun di balik pintu apartemen mewah itu, kami adalah suami istri yang terikat sumpah di atas kertas.
Kami berbagi atap, tapi tidak berbagi rasa. Kami berbagi meja makan, tapi hanya keheningan yang tersaji. Aturannya sederhana: Jangan ada yang tahu, jangan ada yang jatuh cinta, dan jangan pernah melewati batas kamar masing-masing.
Tapi bagaimana jika rahasia ini mulai mencekikku? Saat dia menatapku dengan kebencian di depan orang lain, namun memelukku dengan keraguan saat malam tiba. Apakah ini pernikahan untuk menyelamatkan masa depan, atau sekadar penjara yang kubangun sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pembagian Wilayah Kekuasaan
Saat sudah sampai di rumah, pintu kamar utama yang terbuat dari kayu oak solid itu terbuka dengan bunyi klik yang berat, seolah mengunci dunia luar dari jangkauan Raisa. Begitu masuk, Raisa langsung disambut oleh aroma sandalwood yang kental—aroma Arash. Kamar itu sangat luas, dengan desain minimalis maskulin yang didominasi warna abu-abu gelap dan pencahayaan temaram yang dramatis.
Raisa berdiri kaku di dekat meja rias, meremas tali tasnya. Matanya tertuju pada satu-satunya pintu kaca buram di sudut ruangan: kamar mandi. Tubuhnya terasa lengket oleh keringat dingin dan sisa air hujan tadi pagi, namun bayangan harus masuk ke ruang paling pribadi Arash membuatnya merasa seperti penyusup.
Arash meletakkan kunci mobil di atas nakas, lalu mulai melepas jam tangan kronografnya dengan gerakan santai. Ia melirik Raisa melalui pantulan cermin besar di hadapannya.
"Jika kau berencana berdiri di sana sampai pagi menjadi patung pajangan, silakan. Tapi itu akan membuatmu terlihat semakin mengenaskan," sindir Arash sembari melempar jam tangannya ke kotak beludru.
"Aku ... aku ingin mandi," suara Raisa mencicit, nyaris tenggelam dalam keheningan kamar.
Arash berbalik, menyandarkan pinggulnya pada meja kerja yang rapi. Ia melipat tangan di dada, menatap Raisa dari ujung kaki hingga kepala. "Gunakan kamar mandi itu. Dan jangan khawatir, aku tidak punya hobi mengintip wanita yang tampak seperti tikus kehujanan. Mandilah dengan cepat sebelum aku berubah pikiran dan membuangmu ke kolam renang di bawah."
Raisa tidak menjawab. Ia segera mengambil tas kecil berisi perlengkapan mandinya—yang entah sejak kapan sudah dipindahkan oleh pelayan Arash ke kamar itu—dan menghilang di balik pintu kaca. Di dalam, ia mandi dengan gerakan terburu-buru, jantungnya berdebar kencang setiap kali mendengar suara langkah kaki Arash di luar.
Tiga puluh menit kemudian, Raisa keluar dengan mengenakan piyama panjang berbahan katun yang sangat tertutup. Rambutnya yang masih lembap ia bungkus dengan handuk. Begitu pintu terbuka, ia mendapati Arash sudah berganti pakaian dengan kaos hitam polos dan celana pendek kain. Pria itu sedang menyandarkan punggungnya di kepala ranjang king size yang luas, menatap layar tabletnya.
Sadar dengan kehadiran Raisa, Arash pun berdecak kesal karena Raisa yang masih saja mengenakan piyama panjang tertutup miliknya yang sudah lusuh. Selusin piyama yang lebih terbuka dan lebih seksi sudah disiapkan Arash untuk dikenakan Raisa, tetapi Raisa nakal tidak mau mengenakannya.
"Aku sudah bilang, buang saja semua piyama tertutup lusuh itu! Aku sudah menyiapkan selusin piyama seksi yang paling baru untukmu," kritik Arash dengan pandangan yang sinis.
"Hentikan kegilaanmu itu, Arash! Bersyukurlah, karena aku mau tidur satu ranjang denganmu!" bantah Raisa sambil mendengus kesal.
"Harusnya aku yang mengatakan itu padamu," sanggah Arash yang lebih dominan daripada Raisa.
Raisa menatap sofa panjang di dekat jendela. "Aku akan tidur di sofa," ujarnya tegas, mulai berjalan menuju sofa tersebut.
"Jangan bodoh," suara Arash yang dingin menghentikan langkah Raisa. Ia tidak mendongak dari tabletnya. "Sofa itu tidak didesain untuk menopang tulang punggungmu yang rapuh itu. Jika besok kau bangun dengan leher kaku dan tidak bisa mempresentasikan laporanmu dengan tegak, Kakek akan mengira aku menyiksamu."
"Tapi kita tidak bisa tidur di ranjang yang sama, Arash!" bantah Raisa, suaranya sedikit meninggi karena gugup.
Arash akhirnya meletakkan tabletnya. Ia menatap Raisa dengan pandangan yang sulit diartikan—campuran antara otoritas dan rasa jengah. "Tempat tidur ini lebarnya dua meter lebih. Aku tidak akan menyentuhmu meski kau memohon sekalipun. Sekarang, duduk. Kita perlu menetapkan 'wilayah kekuasaan'."
Dengan perasaan sangat canggung, Raisa mendekat dan duduk di tepi ranjang, menjaga jarak setidaknya satu meter dari Arash. Mereka duduk bersebelahan, namun atmosfer di antara mereka terasa seperti dipisahkan oleh jurang yang dalam. Arash mengambil bantal panjang—bolster—dan meletakkannya tepat di tengah-tengah kasur sebagai pembatas.
"Ini garis batasnya," tunjuk Arash dengan jari panjangnya. "Satu inci pun kau melewati bantal ini, aku tidak akan segan-segan menendangmu keluar. Jangan salahkan jika aku sampai terlihat kasar di depanmu."
Raisa mendengus, mencoba menyembunyikan rasa takutnya dengan keberanian semu. "Aku justru yang khawatir kau akan melanggarnya. Lihatlah, betapa wajahmu mencerminkan kepribadianmu yang buruk!"
Arash mengabaikan komentar itu. Ia memutar tubuhnya sedikit, menatap Raisa dengan ekspresi yang berubah menjadi sangat serius. Lampu tidur yang kuning keemasan membuat bayangan rahang tegasnya terlihat semakin tajam.
"Mengingat mulai malam ini kita berbagi kamar, ada aturan tambahan yang harus kau patuhi dengan mutlak. Tidak ada tawar-menawar," Arash memulai, suaranya kembali ke nada profesional yang mencekam.
Raisa menoleh, menanti ucapan Arash yang sedang terlihat menyusun kata-katanya.
"Pertama," Arash mengacungkan satu jari. "Dilarang masuk ke kamar masing-masing di apartemen ini kecuali jika ada tamu atau Kakek datang. Kamar utama ini adalah benteng sandiwara kita. Jika pintu ini tertutup, kau hanya boleh berada di sini jika aku mengizinkan, atau saat malam tiba untuk tidur."
"Kedua," lanjutnya tanpa jeda. "Di kantor, kau dilarang makan bersamaku atau staf level manajerial lainnya tanpa undangan resmi. Jangan pernah muncul di kafetaria saat jam makan siang bersamaku. Aku tidak ingin ada rumor tentang sekretaris yang 'merayu' bosnya."
Raisa menggigit bibirnya, merasa terhina namun sadar ia tak punya kekuatan untuk melawan.
"Dan yang paling penting, ketiga," Arash mendekatkan wajahnya, membuat Raisa refleks menarik kepalanya ke belakang. "Dilarang menyapa atau menunjukkan keakraban di depan umum. Jika kita berpapasan di lobi atau di depan lift, kau harus menunduk dan bersikap seolah aku adalah orang asing yang paling tidak kau kenal di dunia ini. Jangan pernah, sekali pun, mencoba mencari perhatianku saat ada orang lain melihat."
Raisa menatap mata Arash, mencari sedikit saja kelembutan di sana, namun yang ia temukan hanyalah dinding es yang kokoh. "Kau benar-benar ingin menghapus keberadaanku sebagai manusia di kantormu, ya?"
"Aku sedang melindungi investasiku, Raisa," balas Arash sarkas, ia kembali berbaring dan menarik selimut hingga sebatas dada. "Dunia ini kejam. Jika mereka tahu kau adalah titik lemahku—atau setidaknya, alat yang kugunakan untuk mendapatkan warisan—mereka akan menghancurkanmu untuk menjatuhkanku. Dan aku tidak mau investasiku rusak sebelum waktunya."
Arash mematikan lampu di sisinya, membuat setengah kamar itu gelap gulita. "Tidur. Besok pagi jam enam kau harus sudah siap. Dan pastikan handuk basahmu tidak berada di atas kasur, atau aku akan membakarnya."
Raisa menarik selimutnya sendiri, membelakangi Arash dan meringkuk di sisi ranjangnya yang sempit. Keheningan malam itu terasa mencekam, hanya terdengar suara napas teratur Arash dan detak jantung Raisa yang masih belum stabil. Di atas ranjang mewah ini, di balik aturan-aturan yang menjerat lehernya, Raisa menyadari bahwa pernikahan ini bukan sekadar sandiwara, melainkan sebuah peperangan yang harus ia jalani setiap detiknya.
Ia memejamkan mata, memikirkan utang ayahnya, wajah kakek Arash yang menuntut, dan pria di sebelahnya yang memberikan cokelat hangat namun mengeluarkan kata-kata yang membekukan hati.
***