"Kau benar-benar anak tidak tahu diuntung! Bisa-bisanya kau mengandung anak yang tak jelas siapa ayah biologisnya. Sejak saat ini kau bukan lagi bagian dari keluarga ini! Pergilah dari kehidupan kami!"
Liana Adelia, harus menelan kepahitan saat diusir oleh keluarganya sendiri. Ia tak menyangka kecerobohannya satu malam bisa mendatangkan petaka bagi dirinya sendiri. Tak ingin aibnya diketahui oleh masyarakat luas, pihak keluarga dengan tega langsung mengusirnya.
Bagaimana kehidupan Liana setelah terusir dari rumah? Mungkinkah dia masih bisa bertahan hidup dengan segala kekurangannya?
Yuk simak kisahnya hanya tersedia di Noveltoon.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ika Dw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35. Kalian Harus Menikah
"Reynan, kau benar-benar bodoh! Sudah menghamili anak orang dan tak bertanggungjawab. Untungnya nona ini tidak menikah dengan orang lain. Dia sudah membesarkan anakmu. Jika dia menikah dengan orang lain tentu anakmu akan lebih dekat dengan ayah tirinya. Di mana hati nuranimu huh?! Disuruh nikah dari dulu nggak pernah mau! Sekarang dengar kabar kamu udah punya anak tanpa bertanggungjawab. Siapa yang kau tiru seperti itu hum?" Leni sang ibu geram dan menjewer telinganya. "Pokoknya aku nggak mau tahu, secepatnya kamu nikahi ibu dari cucuku ini. Mama nggak mau dengar alasan apapun, cepat daftarkan pernikahan kalian, jangan membuat malu keluarga!"
Tanpa meminta persetujuan dari Liana wanita itu sudah memberikan keputusan yang dianggapnya benar. Ia cukup malu, sebagai orang terhormat disegani banyak orang tapi tak bisa mendidik anaknya dengan baik. Mumpung kabar itu belum didengar oleh banyak orang ia berkeinginan untuk segera menikahkan mereka.
"Ma, Mama sabar dulu lah, jangan tergesa-gesa gitu! Aku tak masalah kalaupun harus nikah sekarang juga, yang menjadi permasalahannya dia selalu menolak, tak mau menikah denganku, parahnya lagi dia melarangku untuk mengakui si kembar sebagai anakku. Sampai sekarang anak-anakku nggak mengenaliku sebagai ayahnya, ma! Apa Mama pikir aku nggak tersiksa karena ulahnya?!"
Leni menoleh ke arah belakang kemudi di mana Liana tengah duduk dengan wajah menunduk. Bukannya ia berniat untuk terlalu ikut campur, tapi ia ingin mengupayakan agar cucunya mendapatkan kehidupan yang lebih baik.
"Benarkah seperti itu nona ~~
"Liana, namanya Liana," sahut Reynan dengan menatapnya lewat spion.
Liana seketika mendongak dengan raut wajah cemas. "Saya belum siap Tante."
"Belum siap gimana maksudnya nona Liana? Apakah putraku tak pernah bersikap baik padamu? Apa dia cacat hingga kamu tidak ingin menikah dengannya? Atau putraku kurang kaya dan kamu berpikir kalau dia tidak bisa mencukupi kebutuhanmu?"
Dengan cepat Liana melambaikan tangannya. "Ti—tidak! Bukan seperti itu maksudnya, Tante. Pak Reynan sangatlah baik pada saya, dia juga berpenampilan rapi, tidak ada cela sedikitpun, tapi rasanya saya tidak pantas berada di sisinya. Saya hanya wanita miskin yang tidak diketahui asal-usulnya. Bagaimana mungkin saya bisa masuk di kehidupannya? Keluarga Tante adalah keluarga terpandang, jadi rasanya tidaklah ~~
"Tidak ada yang tidak mungkin jika Tuhan sudah mengaturnya, nona. Bertemu denganmu membuatku ingin menjadikanmu sebagai menantuku. Tanpa kusadari ternyata kamu adalah ibu dari cucuku. Semua itu sudah diatur oleh sang maha pencipta, dan kita tidak bisa menolak takdir yang sudah ditentukannya."
Di situ Liana diam dengan wajah kembali menunduk. Bukan hanya Reynan saja yang menginginkan pernikahan itu, tapi orang tuanya juga mendesaknya agar menerima lamaran putranya. Haruskah ia terima lamaran itu? Tapi bagaimana jika di kemudian hari Reynan berubah sikap dan mencampakkannya? Ia cukup traumanya dengan kehidupan di masa lalunya.
"Sekarang coba kamu pikir baik-baik. Kamu merawat dua anak sekaligus tanpa memiliki suami. Mungkinkah kamu mampu? Apa kamu nggak merasa kesulitan? Di sini aku hanya memberimu nasehat, bukan berarti tengah merendahkanmu. Coba kalau kamu memiliki suami, tentu hidupmu dan hidup anakmu ada yang menanggung. Tidakkah bebanmu akan sedikit berkurang?"
Reynan tersenyum smirk merasa puas dibantu oleh ibunya. Ia tak menyangka ibunya bakalan respect pada gadis itu. Kalau saja tahu ibunya tidak mengutamakan kasta, mungkin sejak mengetahui si kembar adalah anak kandungnya ia berikan penjelasan mengenai gadis itu.
"Tuh, dengerin orang tua kalau lagi ngomong. Kamu sih, selalu menganggap dirimu paling hebat. Tidak ada wanita yang tidak membutuhkan laki-laki. Semua wanita membutuhkan pasangan hidup. Kalau kamu beranggapan masih mampu menghidupi anak-anak tanpa ayahnya itu salah, mungkin sekarang kamu masih mampu karena kebutuhan mereka tidak begitu banyak, tapi kalau mereka sudah beranjak besar, apa sekiranya gaji bulananmu cukup buat mencukupi kebutuhan mereka?"
Liana menarik nafas. Rasanya ingin sekali memberikan hadiah bogeman pada bos sekaligus ayah dari anaknya. Senang sekali rupanya mendapatkan pembelaan dari ibunya. Di situ dia tak menjawab, percuma saja, mereka tidak akan pernah mau mengerti apa yang tengah dipikirkannya.
"Kita sudah sampai di sekolah. Aku harus cepat menemui anak-anak."
Liana buru-buru ingin segera keluar dari dalam mobil. Berlama-lama dengan bos dan juga ibunya membuatnya tak nyaman.
"Tunggulah sebentar, kita cari tempat parkir dulu. Jangan buru-buru, kita bisa temui mereka barengan."
"Iya benar apa yang dikatakan oleh Reynan nona Liana. Sebaiknya kita temui mereka bersama-sama."
Kembali Liana diam. Ia hanya bisa mengumpat dalam hati. Seharusnya ia tak perlu laporan mengenai pertengkaran anak-anaknya, karena dengan begitu ia tak akan berurusan dengan keluarga Pratama.
Sampai di parkiran Reynan mengajak Liana keluar, di situ Leni tak ingin tertinggal, buru-buru dia membuka pintunya.
"Rey, jangan tinggalin Mama dong! Mama juga ingin ketemu sama anak-anakmu. Sekalian Mama ingin kenalkan dengan mereka."
Liana memutar bola matanya. Enak sekali setelah bertahun-tahun berjuang sendirian membesarkan anak-anaknya kini ada orang lain yang mengakuinya sebagai anak bahkan cucu. Memang Reynan bukan orang lain bagi si kembar, tapi dia tidak pernah ikut berperan dalam mengurusnya.
"Mendingan Mama tunggu di mobil aja, nggak usah ikut masuk. Nanti kalau si kembar nanya tentang Mama, kami harus jawab apa? Mereka nggak mungkin percaya meskipun Mama berusaha keras untuk memberikan penjelasan mengenai siapa mama bagi mereka. Biar aku sama Liana aja yang masuk. Aku janji setelah ini akan mengenalkan mereka sama Mama."
Leni berdecak jengkel. Menurutnya ini kesempatan baik untuk menemui kedua cucunya. "Ck, Reynan! Berhenti menghalangiku buat ketemu mereka. Aku ingin bertemu dengan cucuku! Aku ingin melihat kondisinya."
"Iya ma, tapi kan nanti aku juga baw mereka pulang. Mama tunggu di sini dulu lah!"
Dengan cepat Leni menolak. "Tidak mau! Aku harus ikut. Aku tidak akan menunda-nunda waktuku untuk memberikan penjelasan mengenai siapa aku Rey, aku sudah tidak sabar lagi ingin memeluk cucuku. Tolong jangan halangi aku buat ketemu sama mereka!"
Tak ingin terjadi perdebatan di tempat umum akhirnya Liana menengahi perselisihan mereka. Ia cukup malu, tujuannya datang ke sekolah berniat untuk mendamaikan anak-anaknya bukan malah membawa keributan yang hanya akan memperkeruh keadaan.
"Sudahlah Pak, biarkan saja Tante ikut bersama kita. Jangan membuat kegaduhan di sini. Ingatlah, tujuan kita datang ke sini untuk mendamaikan anak-anak.
Reynan memutuskan untuk mengikuti saran Liana. Memang benar apa yang dikatakan oleh Liana, tidak seharusnya ia membuat kegaduhan di tempat umum apalagi di sekolah anaknya. Mungkin memang sudah waktunya mereka bertemu dan saling mengenal.
"Yaudah, ayo kita temui mereka sekarang!"
Leni tersenyum senang begitu percaya diri berjalan mengikuti Reynan dan juga Liana menuju ruang guru. Di sana sudah ada beberapa guru dan juga orang tua murid lain yang ingin melakukan pembelaan terhadap anaknya.
"Nah, ini Bu Liana datang. Syukurlah anda datang bu, maaf sudah mengganggu waktu kerja anda. Tadi kami panik dan langsung menghubungi wali murid guna mendamaikan mereka."
"Sebenarnya ini masalahnya apa Bu? Kok lagi-lagi anak-anak berantem?" tanya Liana dengan mengambil kursi plastik duduk di depan kepala sekolah.
"Kami sendiri tidak begitu tahu permasalahan mereka Bu, mereka pun nggak mau jawab ketika ditanya. Coba ibu tanya baik-baik pada yang bersangkutan. Siapa tahu saja mereka mau jawab."
Liana menoleh ke arah si kembar yang duduk di pojokan ditemani oleh wali kelas mereka. Liana beranjak dan menemuinya.
"Ya ampun Kenzo! Ini kenapa mukamu sampai lebam gini? Memangnya apa yang sudah terjadi?" tanya Liana terkejut dan berjongkok di depan putranya.
"Anu mom, tadi Abang berantem sama Tora. Mereka saling pukul, Tora sih bikin Abang marah, dia ngatain kami anak haram."