Hanemo wasakasa adalah seorang pria yang berumur 27 tahun ia mencari uang dengan menjadi musisi jalanan namun pada suatu hari ada kejadian yang membuatnya meninggal dan hidup kembali dia dunia yang mana dunia itu di punuhi sihir
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wakasa Kasa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 9
Tiba-tiba terdengar suara lolongan serigala yang sangat kencang. Tanah mulai bergetar, dan kabut tebal perlahan turun menyelimuti area sekitar. Tidak lama kemudian, sebuah bayangan hitam besar mendekat.
Semakin dekat, sosok itu semakin jelas.
Makhluk tersebut adalah Fenrir.
Fenrir dikenal sebagai makhluk legendaris berkepala satu, namun yang kini berdiri di hadapan Wakasa adalah Fenrir berkepala tiga.
“Apa kau yang membunuh serigala itu?” tanya Fenrir dengan suara menggema.
“E-em… benar. Aku yang membunuhnya,” jawab Wakasa sambil menatap kedua ketiga pasang mata Fenrir dengan tenang.
“Aku merasakan kekuatan yang sangat besar dalam dirimu. Bertarung lah denganku. Jika kau menang, aku akan menjadi makhluk panggilanmu.”
“Kalau aku kalah?”
“Kau tidak perlu melakukan apa pun. Aku akan langsung membunuhmu. Tapi aku yakin, dengan kekuatanmu, kau akan menjadi lawan yang menarik.”
“Bagaimana jika aku menolak?”
“Kau tidak bisa menolak. Sekarang kau berada di alamku. Kau hanya punya dua pilihan: mati dengan sukarela, atau bertarung denganku.”
Makhluk ini… dari auranya saja sudah terasa sangat kuat. Apalagi dia memiliki tiga kepala, dan setiap kepala memancarkan aura yang berbeda, pikir Wakasa.
“Baiklah… aku menerimanya.”
“Kalau begitu, ayo kita mulai,” ujar Fenrir.
“Sword Fire!”
Wakasa langsung maju, namun Fenrir menyerangnya lebih dulu dengan sihir api jarak jauh. Serangan itu dengan mudah dihindari.
Dalam sekejap, Wakasa ber teleportasi ke samping tubuh Fenrir.
“Sword Slash!”
Pedangnya menebas ke arah tubuh Fenrir, tetapi makhluk itu berhasil menghindar.
“Cepat juga dia…” gumam Wakasa.
Fenrir kemudian menggabungkan sihir api dan petir, membentuk sebuah bola sihir raksasa, lalu melemparkannya ke arah Wakasa.
“Heh… tidak semudah itu.”
“Ball of Darkness!”
“Ini sihir yang ku kembangkan sendiri.”
Dua bola sihir bertabrakan, menghasilkan dentuman yang sangat dahsyat. Namun di saat yang sama, Wakasa sudah berada di sisi lain Fenrir.
“Fire Chain!”
Dari dalam tanah, rantai api muncul dan langsung mengikat kaki Fenrir. Makhluk itu mencoba melepaskan diri, namun sudah terlambat.
“Seven Ball of Darkness!”
Tujuh bola kegelapan menghantam Fenrir secara langsung.
“Kekkai Seven Layer!”
Sebelum ledakan besar terjadi, Wakasa menciptakan penghalang pelindung.
Ledakan dahsyat mengguncang seluruh area. Fenrir terhempas dan tak sadarkan diri, dengan rantai api masih mengikat kakinya.
Wakasa mendekat.
“Kau sempat mengaktifkan kekkai, ya… tapi percuma. Kekkai milikmu tidak akan mampu menahan tujuh bola kegelapan sekaligus.”
“Meski begitu… kau harus menepati janjimu.”
Wakasa pun melakukan kontrak dengan Fenrir. Cahaya ungu terang menyelimuti mereka. Setelah kontrak selesai, sebuah simbol muncul di tangan Wakasa, dan Fenrir masuk ke dalam simbol tersebut.
Setelah pertarungan berakhir, Wakasa kembali ke tempat semula.
Ia kini bisa berkomunikasi dengan Fenrir dengan memasuki alam bawah sadarnya.
“Tanda ini… harus ku sembunyikan,” gumamnya sambil menatap tangannya.
Setelah itu, Wakasa mengumpulkan batu sihir milik para serigala. Saat hendak meninggalkan hutan, ia mendengar suara teriakan minta tolong.
Ia langsung ber teleportasi ke sumber suara.
Di sana, ia melihat dua gadis ras kucing yang sedang dikepung sekitar 50 Red Bear.
Bukankah itu Red Bear? Warnanya keren juga… pikir Wakasa.
“Sword.”
Dalam sekejap, Wakasa muncul di tengah-tengah para Red Bear.
Sing! Sing! Sing!
Kepala kelima puluh Red Bear itu terpenggal dalam hitungan detik.
Kedua gadis kucing itu terdiam, shock.
“Kalian berdua tidak apa-apa?” tanya Wakasa.
“I-iya… kami baik-baik saja.”
"Syukurlah, namaku wakasa“
“Aku Diana.”
“Aku Starla.”
“Salam kenal, Diana-san, Starla-san.”
“Ngomong-ngomong, kenapa kalian bisa dikepung Red Bear sebanyak itu?” tanya Wakasa sambil menatap bangkai monster yang berserakan di sekeliling mereka.
Starla menghela napas pelan sebelum menjawab. “Kami sebenarnya petualang peringkat B. Kami mendapat misi untuk mengalahkan tiga Red Bear saja. Awalnya semuanya berjalan normal, tapi saat kami mulai melacak jejak mereka, tiba-tiba Red Bear itu muncul dari segala arah, seolah-olah sudah menunggu kami.”
Diana mengangguk pelan. “Kami benar-benar tidak menyangka jumlahnya sebanyak itu. Kalau kamu tidak datang… mungkin kami sudah—”
Ia menghentikan ucapannya, jelas masih trauma.
“Oh, jadi begitu,” ucap Wakasa santai. “Tapi sekarang kalian sudah baik-baik saja. Kalau begitu, aku pergi dulu.”
Baru saja Wakasa berbalik, Starla memanggilnya. “Tunggu sebentar. Bukankah seharusnya kamu mengambil batu sihir dari Red Bear itu?”
Wakasa menoleh dengan ekspresi heran. “Eh? Bukannya itu milik kalian? Kenapa aku yang harus mengambilnya?”
“Kami tidak mengalahkan mereka,” jawab Starla jujur. “Kamulah yang mengalahkan semuanya. Jadi batu sihir itu milikmu.”
“Heeh? Serius?” Wakasa menggaruk pipinya. “Kalau begitu…”
Dalam sekejap, Wakasa bergerak cepat.
Sat! Set! Sat! Set!
Dengan gerakan tangan yang nyaris tak terlihat, batu-batu sihir dari tubuh Red Bear langsung terkumpul rapi.
“Ini untuk kalian,” kata Wakasa sambil tersenyum. “Kalian juga berhak mendapatkannya.”
“Serius?!” Starla terkejut saat menghitung batu sihir di tangannya. “Kami masing-masing dapat sepuluh! Ini terlalu banyak!”
“Hehe,” Diana terkikik kecil, jelas senang tapi juga tidak enak hati.
“Tidak apa-apa,” jawab Wakasa santai. “Anggap saja kalian sedang mendapat berkah.”
Ucapan itu, ditambah senyum lembut Wakasa, membuat Diana dan Starla tersipu. Pipi mereka memerah tanpa sadar.
“Terima kasih banyak,” ucap mereka hampir bersamaan.
“Sama-sama.”
Setelah itu, Wakasa berpamitan. “Kalau begitu, aku pergi dulu.”
“Tunggu!” Starla kembali memanggil. “Apa kamu akan pergi ke ibu kota kerajaan?”
“Em, iya. Aku memang berniat ke sana,” jawab Wakasa.
“Kalau begitu… bolehkah kami ikut bersamamu?” tanya Starla sedikit ragu. “Kebetulan rumah kami juga ada di ibu kota.”
Wakasa terdiam sejenak.
Kalau mereka ikut, aku tidak bisa memakai sihir teleport… tapi mengingat hutan ini cukup berbahaya, mungkin lebih aman bersama, pikirnya.
“Baiklah,” katanya akhirnya. “Ayo pergi bersama.”
“Waaah, terima kasih!” seru Starla senang.
“Terima kasih banyak, Wakasa-kun,” tambah Diana dengan senyum cerah.
Mereka bertiga pun berjalan bersama menuju ibu kota kerajaan.
Di tengah perjalanan, Diana bertanya, “Wakasa-kun, misi apa yang kamu selesaikan sampai berada di hutan ini?”
“Oh, aku mendapat misi untuk membunuh lima belas Wolfdenki,” jawab Wakasa santai.
“Lima belas?! Sendirian?!” Starla menatapnya tak percaya. “Hebat banget kamu.”
“Aku sebenarnya ingin mengambil misi peringkat A,” lanjut Wakasa, “tapi peringkat ku masih C, jadi belum bisa.”
“Peringkat C?!” Starla dan Diana berseru bersamaan.
“Meskipun peringkat C, kamu bisa mengalahkan lima puluh Red Bear sendirian, lalu lima belas Wolfdenki, dan bahkan menggunakan sihir tingkat kerajaan seperti Magic Hole,” kata Diana serius. “Sulit dipercaya kamu masih peringkat C.”
“Iya ya… hahaha,” Wakasa tertawa ringan.
Tak lama kemudian, gerbang besar ibu kota kerajaan mulai terlihat di kejauhan. Tanpa mereka sadari, perjalanan ini akan menjadi awal dari perubahan besar dalam hidup mereka bertiga.