Dua rumah yang berdampingan, satu pagar yang memisahkan, dan ribuan rahasia yang terkunci rapat.
Bagi Ayrania Johan, Alano adalah gangguan terbesar dalam hidupnya. Sepupu angkat yang jahil, kapten basket yang gonta-ganti pacar seperti mengganti jersey, dan cowok yang hobi memanggilnya dengan sebutan konyol—"Ayang". Sebagai sekretaris OSIS yang teladan, Ayra hanya ingin masa SMA-nya tenang, tanpa drama, dan tanpa gangguan dari tingkah tidak terduga Alano.
Namun bagi Alano, Ayra adalah dunianya. Sejak hari pertama ia menginjakkan kaki di rumah keluarga Malik sepuluh tahun lalu sebagai anak angkat, hatinya sudah tertambat pada gadis kecil yang memberinya cokelat dan senyuman paling tulus. Status mereka sebagai "keluarga" adalah pelindung sekaligus penjara baginya. Alano memilih topeng playboy dan kejahilan demi menyembunyikan rasa cemburu yang membakar setiap kali cowok lain mendekati "Ay"-nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33
Angin sepoi-sepoi bertiup di taman belakang sekolah yang rindang. Ayra dan Sinta sedang duduk di bangku semen, menikmati waktu istirahat kedua sambil membedah daftar lagu untuk latihan dance besok. Namun, konsentrasi Ayra mulai terpecah. Sejak tadi, ia merasa ada sesuatu yang tidak beres dengan kulitnya.
"Ay, kamu denger nggak tadi aku bilang apa? Bagian transisi ke chorus itu—" Sinta menghentikan kalimatnya saat melihat Ayra yang mulai bergerak gelisah.
"Aduh, Sin... kok punggung aku gatel banget ya?" gumam Ayra. Tangannya mulai merayap ke belakang, mencoba menggaruk area di bawah tulang belikatnya yang tertutup seragam putih.
Awalnya hanya satu titik, tapi rasa gatal itu menyebar dengan cepat seperti api yang merambat di rumput kering. Ayra mulai menggaruk dengan lebih intens, wajahnya yang tadi tenang kini berubah menjadi kemerahan menahan rasa tidak nyaman.
"Gatel banget, Sin! Sumpah, panas juga!" seru Ayra, matanya mulai berkaca-kaca.
Panik di Bawah Pohon Kamboja
Sinta segera mendekat. "Mana? Coba aku liat dikit."
Sinta sedikit menarik bagian kerah belakang seragam Ayra. Matanya membelalak. "Ya ampun, Ay! Punggung kamu merah semua! Kayaknya kamu biduran deh, atau kena ulat bulu di pohon tadi?"
"Nggak tau, Sin. Tapi ini rasanya perih banget kalau digaruk, tapi kalau nggak digaruk gatelnya minta ampun!" Ayra mulai panik. Sebagai orang yang sangat menjaga kebersihan dan keteraturan, kondisi kulit yang tiba-tiba "rusak" seperti ini membuatnya stres.
Tangannya terus bergerak-gerak di punggung, mencoba meraih area yang sulit dijangkau. "Aduhh... Sin, tolongin... makin parah!"
Dari arah kantin, Alano sedang berjalan bersama Bima sambil membawa dua botol minuman. Matanya yang selalu terkalibrasi untuk menemukan keberadaan Ayra langsung menangkap keanehan di bangku taman. Ia melihat Ayra yang bergerak-gerak aneh dan Sinta yang tampak panik.
Alano langsung berlari kecil menghampiri mereka. "Kenapa? Ayra kenapa?"
"Lano! Pas banget kamu dateng! Ayra punggungnya gatel-gatel parah, kayaknya alergi!" seru Sinta.
Alano segera duduk di samping Ayra. Ia melihat raut wajah Ayra yang menahan tangis. "Mana yang gatel? Jangan digaruk pake kuku, Ay! Nanti luka."
"Tapi gatel banget, Lanooo!" rintih Ayra, tanpa sadar ia memanggil nama Alano dengan nada manja yang biasanya ia parodikan dari Siska. Kali ini, itu benar-benar murni karena rasa sakit.
Alano menahan kedua tangan Ayra agar berhenti menggaruk. "Sinta, lo ke UKS sekarang. Cari minyak kayu putih atau bedak salisil yang ada di lemari obat. Cepet!"
"Oke! Siap!" Sinta langsung berlari kencang menuju UKS.
Kini tinggal mereka berdua di pojok taman. Alano memutar posisi duduk Ayra agar membelakanginya. Ia menyadari Ayra sangat tidak nyaman.
"Tahan bentar ya, jangan digaruk. Kuku lo tajem, nanti infeksi," bisik Alano. Dengan sangat lembut, Alano menggunakan punggung tangannya untuk memberikan usapan ringan di atas kain seragam Ayra, mencoba memberikan efek dingin pada area yang panas.
"Lan... panas banget..." bisik Ayra, kepalanya tertunduk lesu di bahu Alano.
"Iya, gue tau. Sabar ya. Inget nggak waktu kecil lo pernah kena ulat bulu pas kita main di kebun belakang rumah Papa Johan? Lo nangis tiga jam, terus gue yang usapin pake daun sirih?" Alano mencoba mengajak Ayra bicara agar fokusnya teralih dari rasa gatal.
Ayra mengangguk lemah. "Waktu itu... kamu juga yang kena omel Mama karena ajak aku main ke semak-semak."
"Nah, inget kan? Gue udah berpengalaman ngurusin 'bayi gede' yang alergi kayak lo," goda Alano, meski matanya memancarkan kekhawatiran yang sangat dalam.
Sinta kembali dengan napas tersengal, membawa botol bedak dan minyak kayu putih. Alano segera mengambilnya.
"Ay, kita ke ruang OSIS aja yang sepi. Biar Sinta bisa bantu olesin di dalem," ajak Alano.
"Nggak mau... jauh... gatel banget sekarang!" Ayra sudah benar-benar kehilangan logikanya karena rasa gatal yang luar biasa.
Alano menghela napas. Ia menatap sekeliling taman yang syukurnya sedang sepi. Ia melepas jaket basketnya dan memberikannya pada Sinta. "Sin, tutupin dari arah sana. Gue mau usapin bedak ini di punggungnya lewat celah baju, dikit aja biar adem."
Dengan penuh kehati-hatian dan rasa hormat, Alano menuangkan bedak ke telapak tangannya. Ia meminta Ayra sedikit membungkuk. Lewat celah kerah belakang yang dilonggarkan Sinta, Alano menepuk-nepukkan bedak dingin itu ke punggung Ayra yang memerah hebat.
Sentuhan bedak itu seketika memberikan rasa dingin yang sangat melegakan. Ayra menghela napas panjang, tubuhnya yang tadi tegang mulai rileks.
"Enak... dingin..." gumam Ayra.
"Udah nggak sesakit tadi?" tanya Alano lembut.
"Udah mendingan. Makasih ya, Lan... makasih Sin," ucap Ayra pelan.
Setelah merasa agak tenang, Alano membantu Ayra merapikan seragamnya kembali. Ia berdiri di depan Ayra, menatapnya dengan intens.
"Tadi pagi lo makan apa? Coba inget-inget," tanya Alano seperti seorang dokter.
Ayra berpikir sejenak. "Tadi... aku nyicipin bekelnya Maya. Ada udang gorengnya dikit. Aku pikir nggak apa-apa..."
"Ay! Lo kan tau lo alergi udang kalau lagi capek! Lo itu abis latihan dance semalem, imun lo lagi turun," omel Alano, namun tangannya tetap merapikan rambut Ayra yang berantakan. "Lain kali jangan bandel. Kalau lo kenapa-napa, yang repot bukan cuma OSIS, tapi jantung gue juga mau copot liat lo nangis gitu."
Ayra menunduk, merasa bersalah sekaligus terharu. "Maaf..."
Alano tersenyum, lalu ia memakaikan jaket basketnya ke bahu Ayra. "Pake ini. Biar punggung lo nggak kena angin langsung, terus biar orang nggak liat seragam lo yang kena bedak putih-putih di belakang. Pulang sekolah kita ke dokter."
"Nggak usah ke dokter, Lan—"
"Nggak ada bantahan, Ibu Sekretaris. Ini perintah dari Kapten Basket," tegas Alano.
Sore itu, Ayra berjalan kembali ke kelas dengan jaket basket Alano yang kebesaran menyelimuti tubuhnya. Rasa gatalnya memang sudah berkurang, namun debaran di dadanya justru semakin kencang. Ia menyadari satu hal: sekuat dan setegas apa pun ia di depan orang lain, ia selalu punya "rumah" untuk mengadu saat ia merasa lemah. Dan rumah itu, beraroma parfum maskulin dan selalu punya bedak dingin di saat yang tepat.