Arlan menatap gedung Megantara dengan map biru di tangan. {Sanggupkah semut sepertiku menang?} Tiba-tiba, layar biru muncul: [Status: Pengangguran Berbahaya]. "Tahu diri, Arlan. Kasta rendah dilarang bermimpi," cibir Tegar. Tapi Arlan tak peduli karena sistem mulai membongkar busuknya korporasi. Demi ibu yang masih menjahit di desa, ia akan merangkak dari nol hingga menjadi penguasa kasta tertinggi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khusus Game, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 16
Arlan mencoba menggerakkan tangannya, namun ia segera menyadari bahwa pergelangan tangannya terikat kuat pada kaki kursi besi. Ia mengerjapkan mata beberapa kali hingga bayangan di depannya mulai terfokus. Ia berada di sebuah ruangan luas dengan dinding kaca yang memperlihatkan pemandangan kota dari ketinggian.
[Peringatan: Pemulihan Kesadaran 100%] [Status: Subjek berada dalam koordinat Gedung Pratama Holdings] [Catatan: Denyut jantung stabil, tekanan darah meningkat akibat stres.]
"Kamu sudah bangun, Arlan?"
Suara itu terdengar sangat akrab di telinga Arlan. Ia menoleh ke arah sumber suara dan mendapati Pak Pratama sedang duduk di balik meja kerja kayu jati yang sangat besar. Pria tua itu sedang menyesap teh dari cangkir porselen putih yang terlihat sangat mahal.
"Kenapa Bapak membawa saya ke sini dengan cara seperti ini?" tanya Arlan dengan suara yang masih parau.
"Aku hanya ingin memastikan asetku tetap aman, Arlan. Kamu terlalu berharga untuk dibiarkan berjalan sendirian di desa setelah ledakan itu," jawab Pak Pratama sambil meletakkan cangkirnya dengan sangat pelan.
"Aset? Saya bukan milik siapa-siapa, Pak," sahut Arlan sambil mencoba menarik ikatannya.
"Di dunia ini, setiap orang adalah milik seseorang yang lebih kuat, Arlan. Kamu hanya belum menyadarinya," ucap Pak Pratama dengan nada suara yang tetap tenang.
Tiba-tiba pintu ruangan itu terbuka. Arlan menahan napas saat melihat siapa yang melangkah masuk. Siska berjalan mendekat dengan wajah yang tetap tenang, tanpa ada sisa-sisa air mata seperti saat di lokasi kebakaran tadi.
"Pak Pratama, laporan audit jalur selatan sudah selesai diproses," kata Siska sambil menyerahkan sebuah tablet kepada pria tua itu.
Arlan menatap Siska dengan tatapan yang sangat tajam. "Jadi benar? Pesan singkat itu benar kalau Mbak Siska adalah informan Pak Pratama?"
Siska menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Arlan. Wajahnya tidak menunjukkan rasa bersalah sedikit pun.
"Aku menjalankan tugasku, Arlan. Tugasku adalah mengawasi setiap potensi yang muncul di Megantara Group, dan kamu adalah potensi terbesar tahun ini," jawab Siska dengan nada suara yang sangat profesional.
"Mbak Siska membohongi saya sejak hari pertama? Tentang map cokelat itu, tentang bantuan di HRD?" tanya Arlan dengan perasaan yang sangat hancur.
"Bantuan itu nyata, Arlan. Tapi tujuan akhirnya memang untuk membawamu ke titik ini. Titik di mana Arlan Corp menjadi bagian dari ekosistem Pratama Holdings," sahut Siska sambil melipat tangannya di dada.
[Misi Rahasia: Analisis Kejujuran Siska] [Status: Terdeteksi konflik emosional pada subjek Siska sebesar 40%] [Saran: Siska mungkin menyembunyikan agenda pribadinya dari Pak Pratama.]
"Jangan menyalahkannya, Arlan. Siska adalah asisten terbaik yang pernah aku miliki. Tanpa bantuannya, kamu mungkin sudah mati di tangan Wirawan sejak minggu lalu," potong Pak Pratama sambil memutar layar tabletnya ke arah Arlan.
"Lalu apa rencana Bapak sekarang? Membunuh saya setelah mendapatkan semua data enkripsi itu?" tanya Arlan sambil menatap mata Pak Pratama dengan berani.
"Tentu tidak. Aku ingin kamu tetap memimpin Arlan Corp, tapi di bawah kendaliku secara mutlak. Sebagai imbalannya, ibumu di desa akan mendapatkan rumah mewah dan pengawalan terbaik seumur hidupnya," tawar Pak Pratama dengan senyum yang penuh tipu daya.
"Saya tidak butuh rumah mewah hasil dari pengkhianatan, Pak," jawab Arlan dengan nada yang sangat tegas.
"Pikirkan baik-baik, Arlan. Kekayaan itu manis, tapi hanya bagi mereka yang tahu cara bermain di bawah aturan yang ada," ucap Pak Pratama sambil berdiri dari kursinya.
Pak Pratama berjalan mendekati Arlan dan membungkuk sedikit untuk menatap mata pemuda itu secara langsung.
"Aku akan memberimu waktu satu malam untuk berpikir di ruangan ini. Siska akan menemanimu untuk memastikan kamu tidak melakukan hal-hal bodoh," kata Pak Pratama sebelum melangkah keluar dari ruangan itu.
Kini hanya tersisa Arlan dan Siska di dalam ruangan yang sangat luas itu. Suasana mendadak menjadi sangat sunyi, hanya terdengar suara dengung pendingin ruangan yang bekerja dengan maksimal.
"Mbak Siska senang melihat saya seperti ini?" tanya Arlan sambil memalingkan wajahnya ke arah jendela.
Siska tidak menjawab. Ia justru melangkah mendekati kursi Arlan dan berlutut di depannya. Tangannya bergerak cepat ke arah ikatan di pergelangan tangan Arlan.
"Mbak mau apa?" tanya Arlan dengan nada curiga.
"Diamlah, Arlan. CCTV di ruangan ini tidak memiliki sensor suara, tapi mereka bisa melihat gerakan kita," bisik Siska dengan suara yang sangat rendah.
Arlan terkejut saat merasakan ikatan di tangannya mulai melonggar. Siska ternyata tidak melepaskannya sepenuhnya, namun ia menyisipkan sebuah benda kecil yang tajam di antara ikatan tersebut.
"Pak Pratama tidak tahu kalau aku juga memiliki kunci cadangan untuk server Arlan Corp yang kamu buat itu," kata Siska sambil menatap mata Arlan dengan tatapan yang penuh arti.
"Kenapa Mbak membantu saya sekarang setelah semua yang Mbak lakukan?" tanya Arlan dengan suara yang sangat pelan.
"Karena Pak Pratama juga yang membunuh ayahku sepuluh tahun lalu dengan cara yang sama seperti yang ia lakukan pada Wirawan hari ini," jawab Siska dengan nada yang sangat dingin dan penuh dendam.
Arlan tertegun mendengar pengakuan tersebut. Ternyata Siska selama ini sedang melakukan permainan ganda yang jauh lebih berbahaya daripada apa yang Arlan bayangkan.
"Jadi Mbak sedang membalas dendam?" tanya Arlan.
"Kita berdua sedang melakukan hal yang sama, Arlan. Membangun kekayaan untuk menghancurkan mereka yang merasa bisa membeli nyawa kita," ucap Siska sambil berdiri kembali tepat saat terdengar suara langkah kaki di luar pintu.
[Misi Diperbarui: Aliansi Tersembunyi] [Hadiah: Akses ke Rekening Rahasia Pratama Holdings] [Status: Siska dikategorikan sebagai 'Partner Strategis Berisiko Tinggi']
"Besok pagi, saat kamu diminta menandatangani kontrak itu, lakukanlah. Tapi pastikan jarimu menyentuh sensor biometrik dengan pola yang sudah kita sepakati di kantor Mitra Desa dulu," bisik Siska sebelum melangkah menjauh menuju sofa di pojok ruangan.
Arlan menyandarkan kepalanya ke kursi besi itu. Ia merasa dunianya baru saja berubah menjadi papan catur yang jauh lebih besar dan lebih rumit. Rasa sakit di lehernya masih terasa, namun tekad di dalam hatinya kini menyala lebih terang.
"Aku akan menghancurkan gunung ini dari dalamnya," gumam Arlan dalam hati.
Malam itu, Arlan menatap lampu-lampu kota dari lantai lima puluh. Ia tidak lagi merasa seperti semut, tapi ia mulai merasa seperti badai yang sedang mengumpulkan kekuatan di balik awan yang gelap. Namun, tepat saat ia mulai merasa tenang, sebuah pesan sistem muncul dengan warna hitam pekat yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
[Peringatan Kematian: Terdeteksi racun saraf yang bekerja lambat di dalam teh yang Bapak Pratama berikan kepada Anda tadi.] [Waktu Tersisa: 12 Jam]
Arlan merasakan jantungnya mendadak berdegup kencang. Ia menoleh ke arah cangkir teh yang masih tersisa di meja Pak Pratama. Pria tua itu ternyata benar-benar tidak ingin membiarkan Arlan hidup lebih lama setelah mendapatkan apa yang diinginkannya.
"Siska... aku butuh bantuanmu sekarang juga," desis Arlan sambil menahan rasa mual yang tiba-tiba menyerang perutnya.