NovelToon NovelToon
Ayahku Ada Main Dengan Temanku

Ayahku Ada Main Dengan Temanku

Status: sedang berlangsung
Genre:Pelakor / Pelakor jahat / Poligami / Selingkuh / Cinta Terlarang / PSK
Popularitas:56
Nilai: 5
Nama Author: S. Sage

Alana, pewaris tunggal imperium properti, menemukan fakta bahwa sahabat yang ia biayai kuliahnya, Siska, adalah wanita simpanan ayahnya sendiri. Apa yang dimulai sebagai drama perselingkuhan berkembang menjadi perang dingin perebutan warisan, rahasia korporasi, dan manipulasi psikologis di mana Alana harus menghancurkan dua orang yang paling ia cintai untuk bertahan hidup.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10: Jebakan yang Indah

Layar ponsel itu masih menyala, menampilkan foto buram sebuah ruko kumuh di Tanah Abang dengan cat tembok yang mengelupas dan plang nama miring bertuliskan 'PT. Cipta Karya Semesta'. Di sebelahnya, ada dokumen legal yang menyatakan Siska Damayanti sebagai Direktur Utama.

Alana duduk di tepi ranjangnya, menatap layar itu sampai matanya terasa perih. Sinar matahari pagi menembus tirai tipis kamarnya, namun udara di dalam penthouse ini terasa sedingin kamar mayat. Semalam, setelah lolos dari kejaran penjaga ruko itu, adrenalin membuatnya tidak bisa tidur. Namun pagi ini, yang tersisa hanyalah kejelasan yang menakutkan.

Siska bukan sekadar selingkuhan. Dia adalah tameng.

Ayahnya, Hendra Wardhana, bukan orang bodoh. Dia adalah hiu yang sudah kenyang makan asam garam dunia bisnis properti Jakarta yang kotor. Mengapa seorang Hendra menaruh aset likuid dan aliran dana gelap di bawah nama seorang gadis berusia dua puluh tiga tahun yang baru lulus kuliah? Jawabannya sederhana: Liabilitas. Jika sewaktu-waktu KPK atau dirjen pajak mengendus busuknya uang itu, Hendra akan bersih. Siska-lah yang akan membusuk di penjara.

"Bodoh," desis Alana pelan. Ia tidak tahu kata itu ditujukan untuk siapa. Untuk Siska yang silau harta, atau untuk dirinya sendiri yang sempat merasa kasihan.

Suara bor listrik mendadak menderu dari ruang tengah, membuat lantai kamar Alana bergetar. Renovasi. Siska benar-benar merombak interior penthouse ini sesuai seleranya. Alana bangkit, menyambar handuk, dan berjalan keluar. Di ruang tengah, tiga tukang sedang membongkar panel kayu ek asli yang dulu dipilih ibunya. Debu beterbangan di udara.

"Mbak Alana," sapa salah satu tukang dengan canggung.

Alana hanya mengangguk, menahan napas agar tidak terbatuk oleh debu—atau oleh rasa muak. Di meja konsol dekat pintu masuk, tergeletak katalog furnitur impor dengan catatan tempel berwarna merah muda. Tulisan tangan Siska. *'Ganti sofa kulit ini. Terlalu kuno.'*

Alana menyentuh tulisan itu. Dulu, tulisan tangan yang sama sering mengisi buku catatan kuliah Alana saat ia malas mencatat. Dulu, tulisan itu adalah simbol persahabatan. Sekarang, itu adalah tanda invasi.

Ia mengambil ponselnya, mengetik pesan untuk Siska. Jempolnya melayang sesaat di atas layar, ragu. Apakah ia harus membiarkan Siska hancur dimakan ambisinya sendiri? Atau, demi sisa-sisa kenangan masa kecil mereka, ia harus memberi peringatan?

*Sis, bisa ketemu jam makan siang? Di Cafe Olivier. Aku mau bicara soal Papa.* sent.

Balasan masuk lima menit kemudian. Singkat, padat, tanpa emoji yang biasa Siska gunakan dulu.

*Oke. Tapi cuma 45 menit. Aku ada meeting dengan vendor interior jam 1.*

***

Grand Indonesia di jam makan siang adalah parade manusia yang ingin terlihat sukses. Wanita-wanita dengan blazer pas badan, pria-pria dengan kemeja licin dan jam tangan besar, serta aroma parfum mahal yang bercampur dengan bau kopi yang diseduh terlalu panas.

Alana duduk di sudut Cafe Olivier, sengaja memilih meja yang agak tersembunyi. Ia memesan *Earl Grey tea* hangat, membiarkan uapnya menenangkan sarafnya yang tegang. Ia mengenakan kemeja putih sederhana dan celana bahan hitam—pakaian 'anak magang' yang ia pakai untuk menyamar di kehidupan sehari-harinya sekarang.

Siska datang sepuluh menit terlambat.

Penampilannya mencolok. Ia mengenakan terusan sutra berwarna *emerald green* yang terlalu formal untuk siang hari, dipadukan dengan tas tangan berlogo *LV* besar yang masih terlihat kaku kulitnya—jelas barang baru. Sepatu hak tingginya berbunyi *tak-tak-tak* nyaring saat menghampiri meja, menarik perhatian beberapa pengunjung lain.

"Macet banget," keluh Siska tanpa basa-basi, langsung duduk dan meletakkan tasnya di kursi sebelah seolah tas itu adalah tamu kehormatan. Ia tidak menatap mata Alana, sibuk membenarkan tatanan rambutnya di kamera depan ponsel.

"Makasih sudah mau datang, Sis," kata Alana pelan, memasang wajah letih. Strategi terbaik saat ini adalah terlihat kalah.

Siska akhirnya menurunkan ponselnya. Tatapannya meneliti penampilan Alana dari atas ke bawah dengan senyum tipis yang merendahkan. "Kamu kelihatan... kucel, Al. Kenapa? Kartu kredit masih diblokir Mas Hendra?"

Mas Hendra. Panggilan itu meluncur begitu saja dari bibir Siska di tempat umum, tanpa rasa malu sedikit pun.

"Papa lagi keras banget sama aku," jawab Alana, jarinya mengetuk pinggiran cangkir. "Aku cuma bingung. Papa bilang perusahaan lagi efisiensi, makanya uang bulananku dipotong habis. Tapi aku lihat kamu..." Alana menggantung kalimatnya, matanya melirik tas *LV* di kursi sebelah.

Siska tertawa kecil, tawa yang terdengar seperti denting uang receh. Ia memanggil pelayan dan memesan *Iced Latte* dengan susu almond—pesanan yang dulu dianggapnya pretensius.

"Ini beda pos anggaran, Alana," jelas Siska dengan nada menggurui, seolah sedang menjelaskan matematika pada anak TK. "Aku kerja. Aku bantu Mas Hendra ngurus proyek-proyek penting. Wajar kalau aku dapat bonus. Kamu kan cuma... ya, kuliahmu sudah selesai, harusnya kamu mandiri."

"Proyek apa, Sis?" tanya Alana, mencoba terdengar polos. "Setahuku Wardhana Group lagi nggak ada proyek besar baru."

Pelayan datang mengantarkan minuman Siska. Siska mengaduk minumannya pelan, menikmati momen dominasinya. "Banyak hal yang kamu nggak tahu soal bisnis Papamu, Al. Dunia properti itu luas. Ada akuisisi lahan, ada pengembangan aset sekunder..." Siska menyebutkan istilah-istilah bisnis yang terdengar hafalan, tanpa benar-benar memahami isinya.

"Termasuk PT. Cipta Karya Semesta?" potong Alana.

Gerakan tangan Siska yang sedang mengaduk sedotan terhenti seketika. Matanya menyipit, waspada. "Kamu tahu dari mana nama itu?"

"Aku dengar Papa telepon," bohong Alana lancar. Jantungnya berdegup kencang, tapi wajahnya tetap datar. "Dia bilang Direktur Utamanya hebat. Masih muda tapi berani pegang tanggung jawab besar."

Ketegangan di bahu Siska mencair, berganti dengan kebanggaan yang naif. Ia membusungkan dada, menegakkan punggungnya. "Oh, itu. Iya, Mas Hendra percayain perusahaan baru itu ke aku. Itu anak perusahaan khusus untuk... inovasi material bangunan."

Alana hampir tersedak ludahnya sendiri. *Inovasi material bangunan?* Ruko di Tanah Abang itu isinya hanya tumpukan uang tunai dan brankas, bukan semen atau keramik.

"Sis," Alana memajukan tubuhnya, merendahkan suara. Ini adalah satu-satunya kesempatan ia memberikan jalan keluar bagi mantan sahabatnya itu. "Kamu tahu kan, secara hukum, Direktur Utama itu bertanggung jawab penuh kalau ada masalah legal? Kalau perusahaan itu... menyalahi aturan pajak, atau ada aliran dana yang nggak wajar, kamu yang akan dicari polisi. Bukan pemilik saham. Bukan Papa."

Siska terdiam sejenak. Namun bukannya takut, wajahnya justru memerah karena marah. Ia meletakkan gelasnya dengan keras ke meja.

"Maksud kamu apa ngomong begitu?" desis Siska. Suaranya tajam. "Kamu mau nakut-nakutin aku? Kamu pikir aku bodoh?"

"Aku cuma mau kamu hati-hati. Papa itu pebisnis, Sis. Dia selalu punya rencana cadangan. Jangan sampai kamu jadi korban kalau ada apa-apa."

"Korban?" Siska tertawa sinis, suaranya menarik perhatian meja sebelah lagi. "Alana, Alana... kamu itu menyedihkan. Kamu nggak terima kan kalau sekarang Papamu lebih percaya sama aku daripada sama anak kandungnya sendiri? Kamu iri karena aku punya posisi, punya uang, dan punya... perhatian dia."

"Ini bukan soal iri, Siska. Ini soal penjara."

"Cukup!" Siska berdiri, menyambar tas mewahnya. "Mas Hendra nggak akan pernah biarin aku kenapa-napa. Dia cinta sama aku. Dia butuh aku. Kamu nggak tahu apa-apa soal hubungan kami. Kami *partner*."

Siska menatap Alana dengan tatapan yang sepenuhnya asing. Tidak ada lagi jejak gadis sederhana yang dulu sering meminjam catatannya. Yang berdiri di hadapan Alana sekarang adalah monster kecil yang diciptakan oleh uang dan janji manis Hendra Wardhana.

"Asal kamu tahu," lanjut Siska, mencondongkan wajahnya mendekat ke Alana, "Mas Hendra lagi urus surat-surat. Sebentar lagi, bukan cuma kantor yang aku pegang. Posisi nyonyanya juga bakal ganti."

Siska tersenyum penuh kemenangan, lalu berbalik dan melangkah pergi tanpa menoleh lagi. Suara hak sepatunya menjauh, meninggalkan Alana yang terpaku di kursinya.

Alana tidak mengejar. Ia tidak menangis. Ia hanya menatap punggung Siska yang menghilang di balik pintu kaca kafe. Perlahan, ia meraih cangkir tehnya yang sudah dingin dan menyesapnya.

Rasanya pahit. Tapi rasa pahit itu menyadarkannya.

Siska bukan korban. Siska adalah pelaku yang sukarela. Keserakahan telah membutakan akal sehatnya. Peringatan Alana tadi adalah sisa terakhir dari hati nuraninya, dan Siska baru saja meludahinya.

"Baiklah," gumam Alana pada dirinya sendiri. Ia mengeluarkan ponsel, membuka aplikasi catatan di mana ia menyusun kronologi kejahatan ayahnya. Ia menambahkan satu baris baru di bawah nama Siska.

*Status: Komplisit. Tidak bisa diselamatkan. Gunakan sebagai saksi kunci saat kapal karam.*

Alana membayar tagihan—menggunakan uang tunai terakhir dari hasil penjualan tas ibunya—dan berjalan keluar dari kafe. Matahari Jakarta bersinar terik, membakar kulit, tapi Alana tidak merasakannya. Pikirannya sudah melesat jauh ke depan, menyusun skenario. Jika Siska merasa aman dengan menjadi tameng Hendra, maka Alana akan memastikan tameng itu hancur berkeping-keping bersama pemegangnya.

Ia kembali ke penthouse satu jam kemudian. Suara bor sudah berhenti, berganti dengan suara ketukan palu. Hendra berdiri di tengah ruang tamu, memegang segelas *scotch*, mengawasi para tukang bekerja. Ia menoleh saat Alana masuk, tatapannya datar dan tidak berminat.

"Dari mana kamu?" tanya Hendra dingin.

"Cari udara segar, Pa. Di sini berdebu," jawab Alana tenang. Ia tidak lagi menunduk takut seperti minggu lalu. Ia menatap mata ayahnya lurus-lurus.

"Jangan keluyuran. Uang jajan kamu nggak akan Papa tambah sebelum kamu sadar diri dan berhenti jadi anak manja," cemooh Hendra, lalu kembali memunggungi putrinya, lebih tertarik pada warna cat tembok baru daripada keberadaan anak tunggalnya.

Alana tersenyum tipis di belakang punggung ayahnya. Senyum yang tidak mencapai mata.

"Iya, Pa," jawabnya patuh. "Aku akan belajar mandiri. Papa nggak perlu khawatir."

Alana berjalan masuk ke kamarnya, menutup pintu, dan menguncinya. Ia membuka laci meja riasnya, mengeluarkan anting plastik murahan milik Siska yang ia temukan di mobil waktu itu. Ia meletakkan anting itu di samping foto dokumen perusahaan cangkang di ponselnya.

Bukti perselingkuhan dan bukti kejahatan korporasi. Dua senjata yang berbeda, tapi jika diledakkan bersamaan, daya rusaknya akan total.

Ulang tahun Alana tinggal dua minggu lagi. Tradisi keluarga Wardhana selalu merayakan ulang tahun dengan pesta makan malam mewah di rumah. Itu akan menjadi panggung yang sempurna. Bukan untuk merayakan bertambahnya usia, tapi untuk memulai perang.

Alana menatap pantulan dirinya di cermin. Wajahnya masih sama, tapi sorot matanya telah berubah. Gadis naif yang menangis karena ayahnya selingkuh sudah mati di Cafe Olivier tadi. Yang tersisa sekarang adalah seorang putri yang siap membakar kerajaan ayahnya sendiri demi membersihkan puing-puingnya nanti.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!