NovelToon NovelToon
Mitsuki Di Dunia MHA (My Hero Academia)

Mitsuki Di Dunia MHA (My Hero Academia)

Status: sedang berlangsung
Genre:Murid Genius / Naruto / Dunia Lain / Persahabatan
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: I am Bot

Mitsuki mengerjapkan matanya yang berwarna kuning keemasan, menatap gumpalan awan yang bergeser lambat di atas gedung-gedung beton yang menjulang tinggi. Hal pertama yang ia sadari bukanah rasa sakit, melainkan keheningan Chakra. Di tempat ini, udara terasa kosong. Tidak ada getaran energi alam yang familiar, tidak ada jejak Chakra dari Boruto atau Sarada.

A/N : karena ini fanfic yang ku simpen sebelumnya, dan plotnya akan sama dan ada sedikit perubahaan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon I am Bot, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33 : Puncak Kekuatan

Bau antiseptik yang tajam menusuk indra penciuman Mitsuki saat ia melangkah menyusuri koridor Rumah Sakit Umum Musutafu. Lantai keramik putih yang dingin memantulkan cahaya lampu neon yang berkedip di atasnya, menciptakan suasana yang steril namun menyesakkan. Bagi sebagian besar orang, rumah sakit adalah tempat pemulihan, namun bagi para murid Kelas 1-A yang selamat dari tragedi kamp pelatihan, tempat ini terasa seperti penjara bagi rasa bersalah mereka.

Mitsuki berhenti di depan pintu kamar 415. Ia tidak segera masuk. Melalui celah kaca kecil di pintu, ia bisa melihat Izuku Midoriya yang terbaring dengan kedua lengan terbungkus perban tebal. Di sekeliling tempat tidur itu, berkumpul beberapa teman sekelas mereka: Shoto Todoroki yang berdiri kaku di dekat jendela, Eijiro Kirishima yang tampak gelisah, serta Momo Yaoyorozu yang menatap lantai dengan tatapan kosong.

Hening yang berat menyelimuti ruangan itu, hanya dipecahkan oleh suara mesin pemantau detak jantung yang berbunyi teratur sebuah pengingat bahwa meskipun mereka hidup, jiwa mereka sedang terluka.

"Kita tidak bisa hanya diam saja," suara Kirishima memecah keheningan. Nada bicaranya bergetar antara amarah dan keputusasaan. "Kacchan dibawa pergi di depan mata kita. Jika kita menunggu polisi atau pahlawan profesional, siapa yang bisa menjamin dia masih hidup saat mereka menemukannya?"

"Kirishima-kun, kau tahu apa yang dikatakan polisi," sahut Iida Tenya yang baru saja masuk ke ruangan. Wajahnya terlihat pucat, dan luka dari Hosu seolah-olah berdenyut kembali karena stres. "Melakukan penyelamatan sendiri tanpa lisensi adalah tindakan kriminal. Kita sudah merasakannya di Hosu. Kita tidak boleh mengulangi kesalahan yang sama."

Todoroki menoleh, matanya yang berbeda warna menatap Iida dengan tajam. "Hukum diciptakan untuk menjaga ketertiban, Iida. Tapi hukum tidak bisa mengembalikan nyawa teman kita. Aku sudah memutuskan. Aku akan pergi malam ini."

"Aku juga ikut!" seru Kirishima.

Mitsuki akhirnya membuka pintu dan melangkah masuk. Kehadirannya yang tanpa suara membuat semua orang tersentak.

"Kalian sedang merencanakan misi ekstraksi ilegal," ucap Mitsuki datar. Ia tidak menunjukkan ekspresi menghakimi, namun kata-katanya terasa seperti siraman air es pada api semangat Kirishima. "Secara taktis, itu adalah langkah yang sangat berisiko. Kalian tidak tahu lokasi markas mereka, kalian tidak tahu jumlah personel lawan, dan kalian belum memiliki rencana pelarian yang solid."

"Mitsuki! Kau juga melihatnya, kan?!" Kirishima maju satu langkah, tangannya terkepal. "Kau yang paling dekat saat Bakugo diculik! Kau memegang satu kelereng, tapi dia... dia menghilang ke dalam kabut! Apa kau tidak merasa ingin melakukan sesuatu?!"

Mitsuki menatap Kirishima dengan mata kuningnya yang jernih. "Aku merasa bahwa emosi sedang mengaburkan logika kalian. Tapi," Mitsuki melirik ke arah Momo Yaoyorozu, "aku juga tahu bahwa Yaoyorozu-san telah memasang perangkat pelacak pada salah satu Nomu sebelum mereka menghilang. Benar, kan?"

Seluruh ruangan terpaku. Momo sedikit tersentak, tangannya meremas ujung blusnya. "B-bagaimana kau tahu?"

"Aku melihatmu saat di hutan," jawab Mitsuki. "Satu-satunya alasan kau tidak memberitahu polisi tentang ini adalah karena kau juga sedang mengalami pergolakan batin antara mematuhi aturan sekolah atau menyelamatkan temanmu."

Momo merasakan jantungnya berdegup kencang. Di dalam sakunya, ia merasakan perangkat penerima sinyal itu seolah-olah membakar kulitnya. Sebagai wakil ketua kelas, ia dibesarkan untuk selalu mematuhi struktur dan etika. Namun, setiap kali ia menutup mata, ia melihat wajah Bakugo yang menghilang ke dalam kegelapan.

Ia melihat ke arah Mitsuki. Remaja pucat itu selalu tampak berdiri di luar lingkaran emosi mereka, seolah-olah ia bukan bagian dari kekacauan ini. Namun, saat ini, ia menyadari bahwa Mitsuki tidak sedang mencoba menghentikan mereka. Ia sedang menunggu.

"Sinyalnya mengarah ke Distrik Kamino," bisik Momo akhirnya. Suaranya kecil namun tegas. "Aku... aku bisa membuat alat pelacak yang lebih akurat. Tapi jika aku memberikannya pada kalian, aku juga akan ikut. Aku harus memastikan kalian tidak melakukan sesuatu yang akan menghancurkan masa depan kalian sebagai pahlawan."

Mitsuki berjalan mendekati jendela, membelakangi teman-temannya. Ia melihat matahari yang mulai tenggelam, mewarnai langit dengan warna merah darah yang sama dengan api Dabi.

"Misi ini bukan tentang bertarung," ucap Mitsuki. "Jika tujuan kalian adalah mengalahkan League of Villains, kalian akan mati dalam sepuluh detik. Tapi jika tujuan kalian adalah 'penyelamatan tanpa kontak', itu mungkin dilakukan."

Izuku yang sejak tadi diam, akhirnya bersuara dengan nada serak. "Penyelamatan tanpa kontak?"

"Ya," Mitsuki berbalik. "Kalian harus menyamar. Jangan gunakan kostum pahlawan. Jangan gunakan nama asli. Dan yang paling penting, jangan lepaskan Quirk kalian kecuali dalam keadaan darurat untuk melarikan diri. Kita akan masuk ke Kamino sebagai warga sipil, memantau dari kejauhan, dan menunggu celah untuk menarik Bakugo-kun keluar dari zona bahaya."

"Kita?" Todoroki menyipitkan mata. "Jadi kau ikut, Mitsuki?"

"Ayahku ingin aku mengamati evolusi dari situasi ini," jawab Mitsuki, menggunakan alasan 'Ayah' untuk menutupi niat pribadinya yang mulai peduli. "Dan aku tidak ingin melihat Matahari-ku tenggelam dalam penyesalan karena membiarkan temannya diculik tanpa melakukan apa-apa."

Iida Tenya maju ke tengah ruangan, tangannya gemetar karena amarah yang tertahan. "Aku melarang kalian! Ini gila! Kalian hanya akan menambah beban bagi para pahlawan profesional yang sekarang sedang merencanakan penyerbuan resmi!"

Plak!

Todoroki menepis tangan Iida yang mencoba menunjuk mereka. "Kau tidak punya hak untuk melarang kami, Iida. Kau sendiri yang pergi ke Hosu demi dendam pribadi. Kami pergi ke Kamino demi masa depan seorang teman."

Situasi memuncak, namun Mitsuki melangkah di antara keduanya. Ia meletakkan tangannya di dada Iida. "Iida-kun, kau adalah rem bagi kelas ini. Dan itu bagus. Kami butuh kau untuk ikut agar kami tidak melampaui batas yang bisa kami tanggung. Ikutlah bersama kami bukan untuk bertarung, tapi untuk menjaga agar kami tetap menjadi pahlawan."

Iida terdiam. Air mata mulai mengalir di balik kacamata tebalnya. Ia menyadari bahwa ia tidak bisa menghentikan badai ini, satu-satunya hal yang bisa ia lakukan adalah berada di tengahnya untuk memastikan teman-temannya tidak tenggelam.

Malam itu, lima orang murid UA Izuku, Todoroki, Kirishima, Momo, dan Mitsuki (bersama Iida yang akhirnya ikut dengan syarat ketat) tiba di Distrik Kamino. Tempat ini adalah kebalikan dari asrama mereka yang tenang. Cahaya neon berwarna-warni, layar iklan raksasa yang berisik, dan kerumunan orang yang tak peduli pada sekitar menciptakan perisai yang sempurna bagi mereka.

Mereka mengenakan pakaian yang sangat berbeda dari biasanya.

Kirishima dan Izuku mengenakan gaya anak berandalan dengan wig dan kacamata hitam.

Todoroki mengenakan wig pirang dan pakaian gaya mod.

Momo mengenakan gaun yang sangat mencolok hingga ia merasa malu sendiri.

Mitsuki mengenakan hoodie hitam besar dengan tudung yang menutupi wajahnya, serta masker kain yang menyembunyikan kulit pucatnya.

"Sinyalnya ada di gedung ini," bisik Momo sambil menunjuk sebuah gudang tua yang tampak tidak dihuni di pinggiran distrik.

Mereka bersembunyi di balik dinding gang yang gelap. Mitsuki menggunakan teknik sensorik energinya. Ia menutup matanya, membiarkan kesadarannya merambat melalui aspal dan pipa-pipa gedung.

"Ada banyak orang di dalam," bisik Mitsuki. "Tapi auranya... aneh. Ada energi yang sangat besar, sangat gelap, yang belum pernah aku rasakan sebelumnya. Itu bukan Shigaraki. Itu adalah sesuatu yang jauh lebih kuno."

Tiba-tiba, dari kejauhan, suara ledakan sonic terdengar membelah langit malam.

BOOM!

Garis cahaya emas melesat di atas kepala mereka. All Might telah tiba bersama tim pahlawan profesional lainnya. Penyerbuan resmi telah dimulai.

"Semuanya, tetap di posisi!" perintah Iida pelan. "Lihat situasinya!"

Dari tempat persembunyian mereka, mereka melihat dinding gudang itu hancur seketika oleh pukulan All Might. Pahlawan nomor satu itu masuk bersama Kamui Woods dan Edgeshot. Segalanya tampak berjalan lancar. Penjahat-penjahat kelas teri berhasil dilumpuhkan dalam hitungan detik.

Namun, Mitsuki merasakan bulu kuduknya berdiri. "Sesuatu yang salah sedang terjadi. Energi gelap itu... dia sedang bergerak."

Detik berikutnya, dari balik reruntuhan gudang, cairan hitam pekat mulai keluar dari mulut para penjahat yang sudah tertangkap, menarik mereka ke dalam dimensi lain. Dan di saat yang sama, Nomu-nomu mulai bermunculan secara massal dari dalam bayangan, mengepung para pahlawan profesional.

"Itu... teknik transportasi yang berbeda dari Kurogiri!" seru Izuku.

Mitsuki menoleh ke arah sebuah area konstruksi kosong yang berada beberapa blok dari gudang tersebut. Di sana, energi kegelapan itu memuncak. Sebuah sosok berpakaian jas rapi, dengan wajah yang ditutupi oleh masker hitam besar, melayang turun dari kegelapan malam.

"Jadi pahlawan nomor satu sudah datang untuk menjemput muridnya?" suara pria itu terdengar sangat tenang, namun membawa beban yang bisa meretakkan beton.

"Semuanya, jangan bergerak," bisik Mitsuki, tangannya menahan bahu Izuku yang mulai gemetar hebat. "Jangan bernapas terlalu keras. Jika dia menyadari kehadiran kita... kita semua akan mati sebelum sempat berkedip."

Untuk pertama kalinya sejak ia tiba di dunia ini, Mitsuki menyadari bahwa All Might bukanlah puncak kekuatan di dunia ini. Di hadapan All For One, seluruh pelatihan mereka terasa seperti permainan anak-anak. Pertempuran antara Simbol Perdamaian dan Simbol Kejahatan baru saja dimulai, dan para murid Kelas 1-A kini berada tepat di tengah pusaran maut tersebut.

1
N—LUVV
setiap penjelasan penuh dengan hal hal ilmiah atau berhubungan dengan bidang perhitungan
N—LUVV
cerita Mitsuki yang berkeliling ke semesta anime !! bukan dunia my hero academia
N—LUVV: semangat kak..
total 3 replies
Lyonetta
udh di revisi juga cuxmay lah
Lyonetta
diupdateny lama bgt si (alan)
Lyonetta
sedang revisi/Frown//Frown/, bab 57 akan ada penjelasan
(⁠ノ⁠◕⁠ヮ⁠◕⁠)⁠ノ⁠*⁠.⁠✧
extra chapternya Thor gw mau liat reaksi Orochimaru sama masa depan mereka seperti apa !!
(⁠ノ⁠◕⁠ヮ⁠◕⁠)⁠ノ⁠*⁠.⁠✧
aku like kok
Derai
mitsuki sepertinya terlalu op untuk dunia bnha 😅
Lyonetta: yupp, mangkanya aku masukin mitsuki/Casual//Casual/
total 1 replies
Derai
Oooh, kayaknya seru. Biasanya aku ngehindarin baca fanfic indo krn entah mengapa cringe. Tapi ini kayaknya enggak deh.
Udah gitu nggak ada typo yang mendistraksi. Kereen
Lyonetta: aku juga pas nulis agak krinj juga sih soalnya mitsuki tipikal filosofi nyeleneh untuk sifatnya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!