NovelToon NovelToon
Istri Yang Tak Dicintai

Istri Yang Tak Dicintai

Status: sedang berlangsung
Genre:Pelakor jahat
Popularitas:724
Nilai: 5
Nama Author: Mentari_Senja

Tiga kali menikah. dua kali dikhianati. Dua kali hancur berkeping-keping.
Nayara Salsabila tidak pernah menyangka bahwa mimpi indah tentang rumah tangga bahagia akan berubah menjadi mimpi buruk berkepanjangan. Gilang, suami pertamanya yang tampan dan kaya, berselingkuh saat ia hamil dan menjadi ayah yang tidak peduli.

Bima, cinta masa SMA-nya, berubah jadi penjudi brutal yang melakukan KDRT hingga meninggalkan luka fisik dan trauma mendalam.
Karena trauma yang ia alamai, kini Nayara di diagnosa penderita Anxiety Disorder, Nayara memutuskan tidak akan menikah lagi. Hingga takdir mempertemukannya dengan Reyhan—seorang kurir sederhana yang juga imam masjid. Tidak tampan. Tidak kaya. Tapi tulus.

Ketika mantan-mantannya datang dengan penyesalan, Nayara sudah berdiri di puncak kebahagiaan bersama lelaki yang mengajarkannya arti cinta sejati.

Kisah tentang air mata yang berubah jadi mutiara. Tentang sabar yang mengalahkan segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Semakin Jauh

Dua bulan berlalu sejak Aldi lahir. Dua bulan yang terasa seperti dua tahun buat Nayara.

Tubuhnya udah pulih sih. Jahitan udah sembuh walau masih ada bekasnya. Perut udah mulai kempes dikit walau belum balik seperti dulu. Tapi yang belum sembuh itu hatinya. Hatinya makin hari makin hancur.

Gilang? Dia makin jarang pulang. Kalau dulu masih pulang tiap hari walau malem banget, sekarang bisa dua tiga hari baru pulang. Alasannya selalu sama. Dinas keluar kota. Rapat penting. Proyek besar.

Tapi Nayara tau. Dia tau Gilang bohong. Karena setiap Gilang pulang, bau parfum Sandra masih nempel di bajunya. Bau manis yang bikin perut Nayara mual.

Pagi ini Nayara bangun jam lima. Bukan karena sengaja bangun pagi. Tapi karena Aldi nangis minta nyusu. Udah jadi rutinitas. Aldi bangun tiap tiga jam sekali. Siang malem sama aja. Jadi Nayara praktis tidak pernah tidur nyenyak lagi sejak melahirkan.

Nayara angkat Aldi dari box dengan mata setengah merem. Badan berat banget. Rasanya pengen jatuh lagi ke kasur, tidur sampai siang. Tapi tidak bisa. Aldi nangis makin kenceng.

"Iya sayang, Mama beri ASI sekarang. Sabar ya." Nayara duduk di tepi ranjang, buka baju, tempelkan Aldi ke payudaranya.

Aldi langsung nyedot kuat. Napsu banget. Padahal baru tiga jam yang lalu nyusu. Kok cepet laper sih?

Nayara melirik ke samping. Gilang tidur pulas. Dengkuran halusnya terdengar jelas. Kemarin dia pulang jam dua belas malem setelah tiga hari tidak pulang. Bilang habis dinas ke Surabaya. Tapi kok baju yang dibawa pulang masih bersih semua? Kok tidak ada oleh-oleh atau apa? Gilang kan kalau dinas biasanya bawa oleh-oleh makanan khas daerah situ.

Bohong lagi pasti. Gilang pasti nginep di apartemen Sandra atau hotel bareng Sandra.

Nayara menatap wajah Gilang yang tidur. Masih ganteng. Masih sempurna. Tapi udah kayak orang asing buat Nayara.

"Mas," panggil Nayara pelan.

Gilang tidak gerak. Tidur mati.

"Mas," panggil Nayara lagi, sedikit lebih keras.

Gilang bergumam, tangannya narik selimut lebih tinggi, nutupin telinganya.

Nayara nyerah. Dia fokus sama Aldi yang masih nyusu lahap. Mata bulat bayinya menatap wajah Nayara. Innocent banget. Tidak tau apa-apa tentang masalah orang tuanya.

"Kamu untung ya, Nak. Masih kecil. Belum ngerti apa-apa. Belum ngerti Papa jahat." Nayara bisik sambil mengelus pipi Aldi yang chubby.

Selesai nyusu, Nayara senggawa-in Aldi. Tepuk-tepuk punggungnya pelan sampai keluar suara sendawa kecil lucu. Terus Aldi gumoh. Muntah ASI sedikit ke baju Nayara.

"Aduh, Nak. Gumoh lagi." Nayara ambil kain lap, bersihin baju sama mulut Aldi. Udah biasa. Aldi emang sering gumoh setelah nyusu. Dokter bilang itu normal.

Nayara rebahan Aldi di box lagi. Tapi begitu ditaro, Aldi langsung nangis. Mulutnya nganga lebar, tangisannya keras banget buat bayi sekecil dia.

"Sayang, Mama cape. Mama pengen tidur sebentar aja. Please." Nayara mohon sama bayinya sendiri. Konyol sih. Tapi dia beneran cape banget.

Tapi Aldi tetep nangis. Makin kenceng malah.

Nayara angkat lagi. Gendong sambil jalan-jalan keliling kamar. "Udah ya, Nak. Jangan nangis. Nanti Papa bangun, Mama dimarahin lagi."

Aldi pelan-pelan berhenti nangis. Kepalanya bersender di bahu Nayara. Mata mulai merem. Tapi begitu Nayara coba taro lagi di box, dia nangis lagi.

"Ya ampun, Aldi. Mama cape banget, sayang. Kasian Mama dikit." Air mata Nayara mulai keluar. Cape fisik campur cape mental jadi satu.

Nayara duduk di sofa pojok kamar. Gendong Aldi sambil nangis pelan. Badannya gemetar. Kepalanya pusing berputar. Matanya perih banget. Tenggorokannya kering.

"Ya Allah, kenapa aku lemah banget? Kenapa aku tidak bisa jadi ibu yang baik?" Nayara nanya sama Tuhan sambil natap langit-langit kamar.

Gilang gerak dikit di ranjang. Balik badan, ngadepin Nayara. Tapi matanya tetep merem. Masih tidur pulas.

Enak banget ya jadi cowok. Jadi bapak tapi bisa tidur nyenyak. Istri sama anaknya susah payah sendirian, dia mah tidur aja. Bangun-bangun minta sarapan. Habis itu pergi lagi entah kemana.

Nayara peluk Aldi lebih erat. Bayinya udah tidur di gendongannya. Napas teratur. Mulut terbuka sedikit. Lucu.

"Maafin Mama ya, Nak. Mama jahat tadi bilang cape sama kamu. Padahal kamu kan masih bayi. Belum ngerti apa-apa. Yang salah itu Mama. Mama lemah." Nayara cium puncak kepala Aldi berkali-kali.

Jam tujuh pagi, Gilang bangun. Langsung ke kamar mandi tanpa ngelihat Nayara sama Aldi yang masih duduk di sofa.

Keluar dari kamar mandi, Gilang langsung pake baju. Kemeja putih, celana bahan hitam. Rapi seperti biasa.

"Mas mau kemana?" Nayara nanya dengan suara serak karena semalem cuma tidur dua jam total.

"Kantor. Emang mau kemana lagi?" Gilang jawab sambil rapikan rambut di depan cermin.

"Tapi kan hari Minggu, Mas."

"Ada kerjaan yang harus diselesaiin."

Kerja lagi. Selalu kerja. Atau kerja itu cuma dalih buat ketemu Sandra?

"Mas, Mas tidak bisa di rumah aja hari ini? Temenin aku sama Aldi?" Nayara coba minta. Udah lama banget mereka tidak quality time bareng.

Gilang ketawa. "Quality time? Buat apa? Lo kan ada Aldi. Udah tidak sendirian."

"Tapi aku pengen Mas ada. Aldi juga butuh Papa."

"ALDI MASIH BAYI! DIA BELUM NGERTI APA-APA! YANG PENTING DIA KENYANG SAMA BERSIH! ITU AJA!" Gilang bentak tiba-tiba.

Aldi terbangun karena suara keras. Langsung nangis.

"Nah, kan kebangun. Udah deh, gua pergi. Lo diemin tuh anak lo." Gilang ambil kunci mobil, keluar dari kamar.

"MAS! INI ANAK KITA BERDUA!" Nayara teriak sambil gendong Aldi yang nangis.

Tapi Gilang udah turun. Pintu rumah kebuka terus ketutup. Suara mobil nyala terus menjauh.

Pergi lagi.

Ninggalin Nayara sendirian lagi.

Nayara duduk di tepi ranjang. Aldi nangis kenceng di gendongannya. Tapi Nayara cuma diem aja. Natap kosong ke jendela kamar.

Sinar matahari pagi masuk lewat celah gorden. Hangat. Terang. Tapi Nayara ngerasa dingin. Gelap.

"Mama cape, Nak. Mama cape banget." Nayara bisik sambil nangis. Air matanya jatuh ke kepala Aldi yang botak.

Aldi tetep nangis. Mungkin laper lagi. Atau ngompol. Atau cuma pengen digendong sambil jalan-jalan.

Tapi Nayara tidak gerak. Tubuhnya kayak beku. Tidak ada tenaga buat berdiri. Tidak ada semangat buat apa-apa.

Ini yang dokter bilang depresi postpartum kali ya? Nayara pernah baca artikel tentang itu. Ibu yang habis melahirkan suka sedih berlebihan. Nangis terus. Ngerasa gagal jadi ibu. Ngerasa tidak berguna.

Iya. Nayara ngerasa semua itu. Gagal. Tidak berguna. Beban.

"Ya Allah," Nayara bisik dengan suara pecah. "Kenapa ini terjadi padaku? Apa salahku? Apa dosaku sampai Kau kasih cobaan seberat ini?"

Tidak ada jawaban. Hanya tangisan Aldi yang makin keras.

Nayara akhirnya berdiri. Kakinya goyah. Kepalanya pusing. Tapi dia harus nyusuin Aldi. Bayinya butuh makan.

Nayara duduk di sofa. Buka baju. Tempelkan Aldi ke payudaranya. Aldi langsung nyedot walau masih sesenggukan karena habis nangis.

Sambil nyusuin, Nayara natap kosong ke dinding kosong di depan. Pikirannya kemana-mana.

Apa yang dia lakuin salah selama ini? Dia udah coba jadi istri yang baik. Masak buat Gilang walau capek. Beresin rumah walau badan sakit. Jaga Aldi sendirian tanpa komplain.

Tapi kenapa Gilang malah makin menjauh? Kenapa dia malah lebih pilih Sandra?

Apa Nayara kurang cantik? Kurang seksi? Kurang pintar?

Atau emang Nayara dari awal bukan pilihan hati Gilang? Emang dari awal cuma boneka yang dipake buat tutup mulut orang tua?

Air mata Nayara mengalir tanpa suara. Jatuh pelan di pipi Aldi yang lagi nyusu.

"Maafin Mama ya, Nak. Mama lemah. Mama tidak sekuat yang Mama kira." Nayara bisik dengan suara gemetar.

Aldi terus nyusu. Matanya natap wajah Nayara. Seolah ngerti ibunya lagi sedih. Tangannya yang mungil pegang jari Nayara. Genggaman lemah tapi cukup buat bikin hati Nayara makin sakit.

"Kamu satu-satunya alasan Mama bertahan, Nak. Kalau tidak ada kamu, Mama mungkin udah menyerah dari dulu." Nayara cium kepala Aldi pelan.

Hari itu Gilang tidak pulang. Malemnya juga tidak pulang. Nayara ngirim pesan berkali-kali. Tidak dibalas. Telepon berkali-kali. Tidak diangkat.

Nayara udah tau sih kemana Gilang. Pasti sama Sandra. Mungkin nginep di hotel mewah. Makan malam romantis. Ketawa-ketawa bahagia.

Sementara Nayara di rumah. Sendirian. Jaga anak yang nangis terus. Badannya sakit. Hatinya lebih sakit.

Malem itu Nayara gendong Aldi sambil duduk di sofa ruang tamu. Lampu ruangan dimatiin. Cuma lampu taman dari luar yang masuk lewat jendela.

Nayara natap Aldi yang tidur pulas di gendongannya.

"Kenapa hidup Mama kayak gini, Nak?" bisik Nayara pelan. "Kenapa Mama harus sendiri terus? Kenapa Papa tidak sayang sama kita?"

Pertanyaan yang sama. Berkali-kali ditanya. Tapi tidak pernah ada jawaban.

Nayara peluk Aldi lebih erat. Cium keningnya berkali-kali.

"Tapi tidak apa-apa. Mama punya kamu. Kamu cukup buat Mama. Mama janji akan selalu ada buat kamu. Tidak akan ninggalin kamu kayak Papa ninggalin kita."

Janji yang keluar dari hati yang udah remuk.

Janji yang Nayara pegang walau dia sendiri tidak tau gimana caranya bertahan.

Tapi dia harus bertahan.

Untuk Aldi.

Cuma untuk Aldi.

Karena kalau bukan karena bayi mungil ini, Nayara mungkin udah menyerah sejak lama.

Udah nyerah sama hidup yang rasanya lebih berat dari apapun.

1
Suanti
semoga nayara dapat jodoh lebih baik dari gilang 🤭
checangel_
Pindah ke luar negeri aja gimana Nay 🤧, suasana di sana sepertinya tak sepenuhnya mendung (mendukung)/Facepalm/
checangel_
Astaghfirullah Pak Hasan, ucapanmu loh terlalu menusuk 🤧/Facepalm/
checangel_
Sudah dimaafkan kok, tapi mohon maaf pintu hatinya Nayara sudah terlalu terkunci rapat, karena terlalu banyak luka di sana, tunggu saja sampai masa iddahnya selesai, gimana ke putusannya (Authornya)/Facepalm/
checangel_: Plongnya sampai ke ubun² ya 😇, be happy Kak🤝/Smile/
total 2 replies
Suanti
naraya jgn mau rujuk sm gilang
penyakit selingkuh tak bakal sembuh
ntar kalau rujuk kembali gilang pasti selingkuh lgi 🤭
Leoruna: betul sekali kak, selingkuh itu gk ada obatnya, dan gk akan sembuh. kecuali bner2 dapet hidayah🤭🤣
total 1 replies
checangel_
Tak ada lagi kata terucap, Author pertahankan alurmu 🤧👍🙏
Leoruna: mkasih kak🙏
total 1 replies
checangel_
Penyesalan memang seperti itu, Ibu. Jika di awal sudah bukan penyesalan lagi tetapi penerimaan yang belum sepenuhnya tertera jelas, maka dari itu ada istilah bibit, bebet, bobot dalam Jawa🤧
checangel_
Tidak semudah itu kau rangkai lagi kertas yang sudah kau robek² Mas Gilang, ingat masa Iddah sedang berlangsung 🤝
checangel_
Pernikahan toxic memang sampai segitunya, jaga diri baik-baik teruntuk yang sedang berada di ruang itu 🤗, kamu hebat, kamu kuat, dan kamu pantas mendapatkan yang lebih bermartabat 🤝
checangel_: Peluk jauh untuk yang sedang berada di sana 🤧
total 2 replies
checangel_
Rain ... go away, rain ... on the way 🎶
checangel_
Apalagi ni? Ibu Mertua datang tanpa aba 🤧 Mohon maaf Ibu, sidang sedang berlangsung .... sebaiknya masalah pribadi dibicarakan dalam tempat privasi ... Ibu Ratna! Jelek atau tidaknya istri itu alamiyah, karena bawaan dari kandungan itu sendiri selama mengandung, jikalau ingin menantumu itu tetap cantik, jangan jadikan dia menantu, tetapi pajangan 🤧 Bisa-bisanya bicara seperti itu, Ibu Ratna /Sob/, itu semua kan karena faktor alam, walaupun perawatan solusinya ... tapi kan .... tahulah perawatan itu gimana? dan habis berapa biaya?🤧
checangel_
Dua pilihan terbuka lebar, .... bertahan untuk Allah atau pergi mengikuti emosi 🤝 dan dua konsekuensi ... jika bertahan tetap menerima luka dan menyaksikan luka, jika pergi luka itu berlalu dan larut ... tapi semua keputusan ada pada genggamanmu, Nay .... pasrahkan saja pada Langit, jika Langit sudah berbicara tak ada yang bisa mengelak🤧
checangel_
Ternyata sejak tadi, baru pemanasan konflik 🤣, dan hanyalah pertengkaran biasa, padahal Readernya sudah meluap-luap 🤭
checangel_: Yup, hanya dia (reader terpilih) yang bisa menemukan berlian itu dalam kotak tulisan tak bersuara /Smile/
total 8 replies
checangel_
Jangan sampai menuju ke istilah 'baby blues' ini, yuk Nay kendalikan emosimu 🤝🤧
checangel_
Iya, di dunia ini hanya segelintir orang yang peduli akan kata Adil itu🤧
checangel_
Jika dirimu mengatakan 'istri yang menyebalkan', lantas kenapa Reynaldi hadir?🤧, itukan bukti cintamu pada Nayara, Mas Gilang!!!!!!!!!/Grimace/
checangel_
Seberharganya waktu, seorang anak juga butuh waktu dari Ayahnya /Drowsy/
checangel_
Uang tak bisa menggantikan kasih sayang seorang Ayah kepada buah hatinya, ingat itu Mas Gilang!/Smile/
checangel_
No no!! Mengurus anak itu kewajiban kedua belah pihak, baik istri maupun suami, tidak ada salah satunya /Grimace/🤝
checangel_
Yuk, maaf-maafan, sudah tiga hari itu loh kalian berdua bertengkar ... ingat 'tak baik berselisih, bahkan berdebat hingga lebih dari tiga hari' /Chuckle/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!