Lin Xiao, seorang Supreme Alchemist dan petarung tingkat Dewa di "Alam Kayangan", dikhianati oleh kekasih dan sahabatnya demi merebut "Kitab Keabadian". Ia meledakkan jiwanya sendiri, tetapi bukannya musnah, ia bereinkarnasi 500 tahun kemudian ke tubuh seorang tuan muda yang dianggap sampah di sebuah kota kecil di Benua Bawah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikyar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16
Sementara itu, di ruang bawah tanah rahasia Keluarga Wang.
Ruangan itu lembap dan gelap, hanya diterangi obor api hijau. Wang Tian berdiri menghadap tiga sosok berjubah hitam yang duduk dalam kegelapan.
"Berapa harga yang kalian minta?" tanya Wang Tian. Suaranya serak.
"Untuk membunuh seorang Qi Gathering Tingkat 5? Murah. Seribu koin emas," jawab salah satu sosok dengan suara parau.
"Bukan hanya membunuh," potong Wang Tian. Matanya memancarkan kegilaan. "Aku ingin dia menderita. Aku ingin dia melihat harapan, lalu hancurkan. Potong lidahnya, congkel matanya, baru bawa kepalanya padaku."
"Itu biaya tambahan. Dua ribu koin emas."
"Setuju," kata Wang Tian tanpa ragu. Dia melempar kantong berat ke meja.
Sosok di tengah mengambil kantong itu. Saat tangannya terulur, terlihat kulitnya yang keriput dan pucat seperti mayat hidup.
"Tapi Tuan Wang," kata sosok itu. "Turnamen Berburu memiliki batasan usia di bawah 20 tahun. Dan ada pemeriksaan tulang di gerbang masuk hutan. Kami bertiga sudah tua. Bagaimana kami bisa masuk?"
Wang Tian menyeringai licik. Dia mengeluarkan tiga butir pil berwarna merah darah dari sakunya.
"Pil Pembalik Usia Sementara (Bone Shrinking Pill)," jelas Wang Tian. "Ini akan menyamarkan usia tulang dan aura kalian menjadi remaja selama 24 jam. Efek sampingnya, kultivasi kalian akan ditekan turun ke Tingkat 6 Puncak. Apakah itu cukup untuk membunuh Lin Xiao?"
Tiga sosok itu tertawa serempak. Tawa yang mengerikan.
"Tingkat 6 Puncak? Kami bertiga adalah mantan bandit Gunung Tengkorak. Pengalaman tempur kami jauh di atas bocah ingusan yang baru belajar memegang pedang. Bahkan jika dia punya bakat langit, di hadapan taktik pembunuhan kami, dia hanya domba."
"Bagus," Wang Tian berbalik, menatap lukisan leluhur di dinding. "Lin Hai... kau pikir kau menang hari ini? Besok, saat matahari terbenam, aku akan mengirim kepala putramu sebagai hadiah makan malam."
Fajar menyingsing.
Gerbang Hutan Belantara Selatan—lokasi fase kedua turnamen—sudah dipadati peserta. Kali ini, jumlahnya berkurang drastis. Banyak peserta dari keluarga kecil yang mengundurkan diri setelah melihat kebrutalan kemarin. Hanya tersisa sekitar 50 peserta yang nekat.
Lin Xiao datang sendirian. Dia mengenakan jubah hitam baru yang pas di badan, rambutnya diikat rapi. Pedang Xuan di punggungnya terbungkus kain.
Suasana hening saat dia tiba. Peserta lain otomatis menyingkir, memberinya jalan. Rasa takut terhadap "Si Penghancur Dantian" masih segar di ingatan mereka.
"Lihat itu," bisik seseorang. "Keluarga Wang mengirim tiga peserta baru. Siapa mereka? Aku belum pernah melihat wajah mereka sebelumnya."
Lin Xiao menoleh.
Di barisan Keluarga Wang, berdiri tiga pemuda berwajah asing. Mereka tampak biasa saja, aura mereka berada di Tingkat 5. Mereka menunduk, menghindari kontak mata.
Tapi saat mata Lin Xiao menyapu mereka, Dantian-nya bergetar pelan.
"Hmm?" Lin Xiao menyipitkan mata. Teknik Mata Roh-nya aktif.
Di balik penyamaran fisik itu, Lin Xiao melihat jiwa yang keruh dan aura darah yang pekat—aura yang hanya dimiliki oleh pembunuh veteran yang telah membantai ratusan orang. Dan ada energi aneh yang menekan kultivasi asli mereka.
"Menarik," batin Lin Xiao, senyum tipis terukir di bibirnya. "Menyamarkan ahli tingkat tinggi menjadi peserta muda? Wang Tian, kau benar-benar tidak punya malu."
Wasit meniup terompet tanduk.
"Fase Kedua Dimulai! Durasi: 3 Hari! Kumpulkan Inti Monster sebanyak mungkin! Peserta boleh saling merampas, tapi dilarang membunuh... secara terbuka!"
Kalimat terakhir itu adalah rahasia umum. "Jangan membunuh secara terbuka" artinya "Bunuhlah di tempat sepi di mana tidak ada saksi".
Gerbang besi raksasa dibuka. Hutan lebat yang gelap menganga di depan mereka seperti mulut binatang buas.
"Maju!"
Puluhan peserta berhamburan masuk.
Lin Xiao tidak buru-buru. Dia berjalan santai di urutan terakhir. Saat dia melangkah melewati gerbang, dia menoleh sekilas ke arah tribun pengawas di kejauhan, di mana Wang Tian sedang menatapnya dengan senyum kematian.
Lin Xiao membalas senyuman itu dengan gerakan menyapu leher menggunakan ibu jarinya.
Tunggu aku, pesan mata Lin Xiao. Aku akan mengajari anjing-anjingmu cara menggonggong di neraka.
Bayangan Lin Xiao pun menghilang ditelan kegelapan hutan. Perburuan yang sebenarnya baru saja dimulai. Bukan perburuan monster, melainkan perburuan manusia.
Hutan Belantara Selatan berbeda dengan Hutan Kabut Hitam. Jika Hutan Kabut Hitam terasa dingin dan berkabut, hutan ini terasa lembap, panas, dan sesak oleh vegetasi yang tumbuh liar tak terkendali. Pohon-pohon raksasa menjulang tinggi, akar-akarnya yang besar menjalar di tanah seperti ular piton yang sedang tidur.
Lin Xiao bergerak menembus semak belukar dengan kecepatan sedang. Dia tidak berlari, tetapi langkah kakinya memiliki ritme yang aneh, seolah menyatu dengan detak jantung hutan itu sendiri.
Sudah satu jam sejak dia memasuki gerbang. Peserta lain sudah menyebar ke berbagai arah, sibuk mencari Binatang Iblis tingkat rendah.
Namun, Lin Xiao tidak berhenti untuk berburu monster. Dia tahu, ada "binatang" yang lebih berbahaya yang sedang mengincarnya.
"Tiga tikus," gumam Lin Xiao, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum dingin.
Indra spiritualnya—yang ditempa oleh jiwa Kaisar Alkemis—bisa merasakan tiga aura pembunuh yang mengikutinya dari jarak lima ratus meter. Mereka sangat ahli dalam menyembunyikan hawa keberadaan, menyatu dengan bayangan pohon. Bagi kultivator biasa, bahkan yang berada di Tingkat 7 sekalipun, mereka tidak akan terdeteksi.
Tapi bagi Lin Xiao, bau darah di tangan mereka sejelas bau bangkai di siang bolong.
Lin Xiao tiba-tiba berbelok arah, menuju ke area yang lebih dalam dan sunyi, sebuah lembah sempit yang dikelilingi tebing batu kapur. Tempat yang sempurna untuk pembantaian tanpa saksi mata.
Sesampainya di tengah lembah, Lin Xiao berhenti. Dia berbalik badan, menghadap ke arah hutan kosong di belakangnya.
"Keluarlah," kata Lin Xiao santai. Dia menepuk-nepuk pedang terbungkus kain di punggungnya. "Kalian sudah lelah mengikutiku, bukan? Mari kita selesaikan urusan ini agar aku bisa makan siang."
Hening sejenak. Hanya suara angin yang meniup dedaunan.
Lalu, tawa kering terdengar.
"Hehe... Ketajaman indramu memang luar biasa, Nak. Pantas Tuan Wang membayar mahal."
Tiga bayangan melesat turun dari atas pohon, mendarat dalam formasi segitiga yang mengurung Lin Xiao. Mereka adalah tiga pemuda "peserta" dari Keluarga Wang tadi. Namun kini, wajah mereka tidak lagi menunduk malu-malu. Ekspresi mereka buas, penuh percaya diri.
Pemuda di tengah—si pemimpin—mencabut dua belati melengkung yang berkilau hijau. "Kami adalah 'Tiga Tengkorak Gunung'. Ingat nama itu saat kau melapor pada Raja Neraka."
"Tiga Tengkorak?" Lin Xiao mengerutkan kening, pura-pura berpikir. "Ah, kelompok bandit yang dimusnahkan tentara kerajaan lima tahun lalu? Ternyata kalian bersembunyi di ketiak Keluarga Wang dan menjadi anjing peliharaan."
Wajah si pemimpin berubah gelap. "Bocah sialan! Mulutmu tajam! Saudara-saudara, jangan main-main. Habisi dia secepatnya. Ingat perintah Tuan Wang: buat dia menderita!"