NovelToon NovelToon
Cahaya Abadi Shatila

Cahaya Abadi Shatila

Status: tamat
Genre:Menjual Anak Perempuan untuk Melunasi Hutang / Cinta setelah menikah / Romansa / Tamat
Popularitas:385
Nilai: 5
Nama Author: Rina Casper

Mentari sore di Pantai Santa Monica, California, mulai turun ke peraduan. Langit yang semula biru cerah kini berubah menjadi gradasi oranye dan ungu yang cantik. Di antara kerumunan turis dan peselancar, dua pria muda berjalan beriringan dengan langkah tenang. Salah satunya adalah Muhammad Hannan, atau yang akrab disapa Hannan, seorang ustadz muda yang sedang menempuh studi lanjut di Amerika.
​"Hannan, lihatlah. Kadang aku berpikir, bumi Allah itu begitu luas. Di sini senjanya sama indahnya dengan di pesantren dulu, ya?" celetuk Gus Malik sambil membetulkan letak kacamata hitamnya.
​Hannan tersenyum tipis. "Benar, Gus. Keindahan ini pengingat bahwa di mana pun kita berpijak, kita tetap berada di bawah langit yang sama."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab

Hannan tidak gentar sedikit pun. Ia menatap lurus ke mata Ryan. "Dunia saya adalah dunia di mana setiap orang harus dihormati haknya. Dan saat ini, Amara tidak ingin ikut dengan Anda. Silakan pergi sebelum kami memanggil keamanan."

Amara bersembunyi di belakang punggung Hannan, memegang ujung baju Hannan dengan gemetar. "Hannan, tolong jangan biarkan dia membawaku..."

Ryan mendengus kasar, wajahnya memerah karena amarah yang tertahan. Ia merasa terhina karena seorang pria yang tampak lembut seperti Hannan berani menentangnya di depan umum.

​"Kamu pikir kamu siapa, hah?!" Ryan berteriak sambil mendorong bahu Hannan. "Jangan merasa suci di depan pacar saya!"

​Hannan tetap berdiri kokoh. Ia tidak membalas dorongan itu dengan kekerasan, melainkan dengan ketenangan yang mematikan. "Saya tidak merasa suci, Ryan. Tapi saya tahu mana yang benar dan mana yang salah. Menyakiti seorang wanita adalah kesalahan besar."

​"Cukup, Ryan! Pergi!" Amara memberanikan diri berteriak dari balik punggung Hannan. "Aku tidak mau ikut kamu. Kamu dan Papa sama saja!"

​Mendengar itu, Ryan menjadi gelap mata. Ia mengepalkan tinjunya dan melayangkan sebuah pukulan cepat ke arah wajah Hannan.

​Srett!

​Hannan dengan tenang memiringkan kepalanya sedikit, membuat pukulan Ryan hanya mengenai udara kosong. Sebelum Ryan sempat menarik tangannya, Hannan dengan gerakan bela diri yang lincah menangkap pergelangan tangan Ryan dan menguncinya di belakang punggung pria itu.

​"Aghh! Lepas! Lepaskan!" Ryan mengerang kesakitan.

​"Gus Malik, tolong panggil petugas keamanan masjid," instruksi Hannan tanpa melepaskan kunciannya.

​Gus Malik segera berlari memanggil dua orang petugas keamanan bertubuh besar yang berjaga di depan gerbang. Dalam hitungan detik, Ryan sudah diamankan oleh petugas tersebut.

​"Kalian akan menyesal! Amara, kamu tidak akan pernah bisa lepas dariku dan papamu!" teriak Ryan saat diseret menjauh menuju mobilnya.

​Setelah suasana mulai kondusif, Hannan melepaskan napas panjang. Ia berbalik dan mendapati Amara sudah terduduk lemas di bangku taman, wajahnya tertutup kedua telapak tangan. Bahunya naik turun karena isak tangis yang tak terbendung lagi.

​Hannan mendekat, namun tetap menjaga jarak sekitar satu meter. Ia tidak menyentuh Amara, melainkan hanya berdiri di sana sebagai tameng pelindung.

​"Dia sudah pergi, Amara. Kamu aman," bisik Hannan lembut.

​Amara mendongak, matanya merah dan sembap. "Kenapa... kenapa hidupku harus seperti ini, Hannan? Orang yang seharusnya menyayangiku justru ingin menghancurkanku. Kenapa Tuhanmu mengirim orang sebaik kamu untuk menolong orang sepertiku?"

​Hannan menatap langit malam California yang bertabur bintang. "Mungkin karena Allah ingin menunjukkan bahwa kamu tidak sendirian. Setiap luka pasti ada obatnya, dan setiap kesulitan pasti ada kemudahan."

​Amara terdiam, meresapi kata-kata itu. Untuk pertama kalinya, ia merasa bahwa mungkin ada harapan di tengah kegelapan hidupnya.

​"Gus," panggil Hannan saat Gus Malik kembali. "Kita harus segera membawa Amara ke rumah Ummi Salamah. Di sana ada lingkungan yang lebih aman untuknya."

​"Setuju, Nan. Ayo, sebelum malam semakin larut," jawab Gus Malik.

​Saat mereka berjalan menuju mobil, Amara berjalan di antara Hannan dan Gus Malik. Ia merasa seolah sedang dijaga oleh dua malaikat pelindung.

Diam-diam, Amara menoleh ke arah Hannan yang sedang membukakan pintu mobil bagian belakang untuknya tanpa menyentuh tangannya sedikit pun.

​"Hannan," panggil Amara pelan sebelum masuk ke mobil.

​"Iya, Amara?"

​"Bolehkah aku belajar... belajar menjadi tenang seperti dirimu?"

​Hannan tersenyum tipis, sebuah senyuman yang membuat jantung Amara berdegup dengan cara yang berbeda. "Ketenangan itu milik Allah, Amara. Jika kamu mencari-Nya, kamu akan menemukannya."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!