NovelToon NovelToon
Rahasia Jarum Naga Emas

Rahasia Jarum Naga Emas

Status: sedang berlangsung
Genre:Raja Tentara/Dewa Perang / Dokter Ajaib / Ahli Bela Diri Kuno / Roh Supernatural / Mata Batin / Mengubah Takdir
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: O'Liong

Fauzan Arfariza hanyalah seorang mahasiswa tingkat awal, hidup sederhana dan nyaris tak terlihat di tengah hiruk-pikuk kota. Demi menyelamatkan nyawa ibunya yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit, ia menelan harga diri dan berjuang mengumpulkan uang pengobatan, satu demi satu, di bawah terik dan hujan tanpa keluhan.

Namun takdir kejam menantinya di sebuah persimpangan. Sebuah mobil melaju ugal-ugalan, dikemudikan oleh seorang wanita yang mengabaikan aturan dan nyawa orang lain.

Dalam sekejap, tubuh Fauzan Arfariza terhempas, darah membasahi aspal, dan dunia seolah runtuh dalam kegelapan. Saat hidup dan mati hanya dipisahkan oleh satu helaan napas, roda nasib berputar.

Di ambang kesadaran, Fauzan Arfariza menerima warisan agung Pengobatan Kuno—sebuah pengetahuan legendaris yang telah tertidur selama ribuan tahun. Kitab suci medis, teknik penyembuhan surgawi, dan seni bela diri kuno menyatu ke dalam jiwanya.

Sejak hari itu, Fauzan Arfariza terlahir kembali.
Jarum peraknya mamp

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon O'Liong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tak Layak Bergelar Dokter

“Cepat! Baringkan anak itu di ranjang rumah sakit dan segera lakukan penanganan darurat!”

Suara perintah itu bergema keras di ruang gawat darurat, sarat wibawa dan tak menyisakan ruang untuk membantah. Begitu mendengar bahwa kasus ini merupakan instruksi langsung dari Kepala Dinas Kesehatan Kota Jakarta, Syarif Sudrajat tidak berani bersikap lalai sedikit pun. Dengan gerakan tergesa namun terkontrol, ia memerintahkan pria paruh baya itu untuk meletakkan bocah kecil tersebut di ranjang ICU.

Wajah anak itu pucat kelabu, napasnya tersengal-sengal seperti ikan yang terlempar ke daratan, dan matanya terpejam rapat tanpa kesadaran. Kondisinya jelas genting. Melihat keadaan itu, Fauzan Arfariza memilih diam. Soal biaya pengobatan bisa dibicarakan nanti; nyawa manusia tidak mengenal kata menunggu.

Sambil memeriksa denyut nadi dan pupil mata sang anak, Syarif Sudrajat bertanya, “Bagaimana awal mula anak ini jatuh sakit?”

Pria paruh baya itu menjawab dengan suara bergetar, “Anak saya baik-baik saja saat pulang sekolah. Tapi tak lama setelah sampai rumah, dia mengeluh tidak enak badan. Demamnya naik sangat tinggi, lalu… lalu dia pingsan.”

Setelah melakukan pemeriksaan singkat, Syarif Sudrajat tersenyum tipis dan berkata dengan nada menenangkan, “Tidak perlu khawatir. Ini hanya masuk angin biasa, hanya saja demamnya agak tinggi. Saya akan berikan suntikan penurun panas, sebentar lagi dia pasti membaik.”

Karena belum mengetahui hubungan pria itu dengan Hendarto, sang kepala dinas, Syarif Sudrajat memilih berbicara dengan penuh kehati-hatian dan kesopanan.

Pria paruh baya itu menghela napas panjang, seolah beban di dadanya sedikit terangkat. “Syukurlah… Terima kasih banyak, Dokter.”

Suntikan Analgesik yang telah disiapkan oleh Indah Purnama segera diambil. Syarif Sudrajat bersiap menyuntikkannya ke tubuh kecil yang terbaring lemah itu.

Namun pada saat itu, Fauzan Arfariza menggeleng pelan. “Anak ini sama sekali bukan masuk angin. Jika Anda memberinya suntikan penurun panas, kondisinya justru akan semakin parah.”

“Apa yang kau tahu?” bentak Syarif Sudrajat dengan wajah memerah. “Aku yang menangani pasien ini atau kau? Jika tidak paham, jangan asal bicara!”

Rasa malu dan amarah karena kelicikannya sebelumnya terbongkar membuat emosinya meluap. Tanpa ragu, ia tetap menyuntikkan Analgesik itu ke tubuh sang anak.

Beberapa saat berlalu. Warna wajah bocah itu perlahan membaik, rona pucatnya memudar, dan ekspresinya tampak lebih tenang.

Dengan senyum puas, Syarif Sudrajat berkata, “Lihat? Aku sudah bilang, hanya penyakit ringan.”

Pria paruh baya itu mengangguk-angguk cepat. “Benar, benar. Dokter Sudrajat memang pantas menjadi kepala dokter. Keahlian medis Anda luar biasa.”

Namun, tepat ketika kalimat pujian itu melayang di udara, wajah bocah itu mendadak menegang. Tubuhnya kejang hebat, kedua kakinya menghentak-hentak tanpa kendali, busa putih menyembur dari mulutnya, dan mesin pemantau di samping ranjang mengeluarkan bunyi alarm yang memekakkan telinga.

Tekanan darahnya merosot tajam. Detak jantungnya melambat drastis, seolah nyawanya bisa terputus kapan saja.

“Dokter! Apa yang terjadi? Ada apa dengan anak saya?!” teriak sang ayah dengan wajah panik.

Syarif Sudrajat terperanjat. Berdasarkan diagnosanya, ini seharusnya hanya penyakit ringan. Ia benar-benar tidak mengerti bagaimana situasi bisa berubah sedrastis ini.

Dengan suara nyaris histeris, pria paruh baya itu berteriak, “Dokter, cepat lakukan sesuatu! Saya hanya punya satu anak!”

“A-aku…”

Untuk pertama kalinya, Syarif Sudrajat kehilangan kata-kata. Otaknya kosong, tak tahu harus berbuat apa.

Melihat kondisi sang anak yang kian memburuk, sang ayah meraung penuh amarah, “Dokter palsu! Jika anakku mati, aku akan menuntut nyawamu!”

“Aku yang akan menanganinya.”

Suara Fauzan Arfariza terdengar tenang namun tegas. Ia telah mewarisi ajaran Agung dari Sekte Medis Kuno; ia tak mungkin berdiam diri menyaksikan kematian.

Ia melangkah ke sisi ranjang. “Aku sudah memperingatkanmu. Ini bukan masuk angin, melainkan keracunan.”

Sambil berkata demikian, ia mengeluarkan jarum-jarum perak dari sakunya. Dengan gerakan presisi, jarum-jarum itu ditusukkan ke titik-titik vital di dada bocah tersebut, mengikuti aliran Energi Vital yang hanya bisa dirasakan oleh mereka yang memahami hukum Keseimbangan dan Kestabilan.

“Apa yang kau lakukan?!” Syarif Sudrajat hendak menghentikannya, namun tiba-tiba ia terdiam, seolah mendapatkan ide licik. Ia berteriak keras, “Kau mengganggu perawatanku! Apa pun yang terjadi nanti, kau yang bertanggung jawab!”

Dalam benaknya, jika bocah ini mati, ia bisa melempar kesalahan pada Fauzan.

Fauzan tak menggubris. Ia terus menyalurkan Energi Vital, memaksa racun keluar dari tubuh sang anak. Jika diperhatikan dengan saksama, ujung jarum perak itu bergetar halus, seakan digerakkan oleh kekuatan tak kasatmata.

Pria paruh baya itu bertanya ragu, “Apakah dia juga dokter di sini?”

“Bukan,” jawab Syarif Sudrajat cepat. “Dia hanya keluarga pasien. Sebenarnya aku bisa menyembuhkan anakmu, tapi karena dia ikut campur, aku tidak bertanggung jawab lagi.”

“Apa?! Kau hanya keluarga pasien, berani-beraninya—”

Belum sempat kalimat itu selesai, sang ayah terdiam. Kejang bocah itu berhenti. Busa di mulutnya lenyap. Wajahnya kembali merona sehat, dan bunyi alarm mesin perlahan menghilang, digantikan irama detak jantung yang stabil.

“Apa… apa yang terjadi?” gumam semua orang terpaku.

Terutama Syarif Sudrajat, wajahnya pucat pasi. Ia mengira keberhasilan Fauzan sebelumnya hanyalah kebetulan. Kini, kenyataan menamparnya keras.

Tak ada yang mati. Semua orang menghela napas lega.

“Dokter muda,” tanya sang ayah penuh harap, “sebenarnya penyakit apa yang diderita anak saya?”

Fauzan menjawab tenang, “Ia terinfeksi virus tertentu. Apakah akhir-akhir ini ia bersentuhan dengan hewan liar atau lingkungan kotor, seperti tikus?”

“Tidak mungkin,” jawab sang ayah. “Hari ini dia hanya di sekolah.”

Fauzan mengangguk. Ia menusukkan satu jarum terakhir ke kedua jari telunjuk bocah itu, memeras dua tetes darah hitam pekat yang jatuh ke tempat sampah. Setelah itu, semua jarum ditarik.

Perlahan, bocah itu membuka mata dan duduk, menatap sekeliling dengan pandangan kosong.

“Anakku!” seru sang ayah penuh haru. “Dokter muda… kau benar-benar dokter ajaib!”

“Aku sudah mengeluarkan darah beracun,” kata Fauzan. “Di rumah, beri dia air rebusan kacang hijau. Dia akan pulih sepenuhnya.”

Dengan penuh rasa syukur, sang ayah mengeluarkan dua gepok uang Rupiah pecahan seratus ribu dan menyerahkannya. Fauzan menerimanya tanpa sungkan, lalu memberikan uang itu kepada ibunya, Masni Mulyadi.

Ini adalah aturan Sekte Medis Kuno: bayaran mengikuti takdir.

Pria paruh baya itu menoleh ke arah Syarif Sudrajat dan meludah dengan jijik. “Dokter!”

Wajah Syarif Sudrajat memerah padam. Ia berteriak ke arah Fauzan, “Apakah kau dokter? Siapa yang mengizinkanmu mengobati pasien?”

“Seharusnya kau berterima kasih,” jawab Fauzan dingin. “Orang sepertimu, tanpa etika dan tanpa kemampuan, sama sekali tidak layak disebut dokter.”

Tepat saat itu, Hendarto dan Direktur Rumah Sakit Jakarta masuk ke ruangan.

Babak penghinaan bagi Syarif Sudrajat pun baru saja dimulai.

1
Achmad
gasss thor
Achmad
semangat Thor
Achmad
semangat Thor
Achmad
semangat Thor lanjut jangan pernah kendor
culuns
ini cerita Indonesia apa cina kok campur2
Nanang: translit ing
total 1 replies
Hary
PEREMPUAN MA GAMPANG, yg SUSAH itu DUIT...!!!
MOTTO : Menghadapi wanita tidak tau diri
KENAL, PIKAT, SIKAT, MINGGAT
O'Liong: ➕2️⃣1️⃣🤭
total 1 replies
sitanggang
novelnya mirip bgt, kek sebelah...tapi disebelah pakai nama china/Korea gitu. 🫣🫣
O'Liong
Sip
O'Liong
😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!