NovelToon NovelToon
Heart'S

Heart'S

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Nikahmuda / Cintamanis / Cinta Seiring Waktu / Enemy to Lovers / Cintapertama
Popularitas:125
Nilai: 5
Nama Author: Reyna Octavia

Dino pamungkas, pemilik tubuh tinggi dan wajah tegas itu merupakan ketua geng Ultimate Phoenix. Mendadak dijodohkan, Dino sempat menolak. Namun, setelah tahu siapa calon istrinya, dia menerima dengan senang hati.

Dara Farastasya, yang kini dijodohkan dengan Dino. Dara bekerja menjadi kasir di supermarket. Gadis cantik yang ternyata sudah mengambil hati Dino semenjak satu tahun lalu.

Dara tidak tahu, Dino menyukainya. Pun Dino yang gengsi mengatakannya. Lantas, bagaimana rumah tangga dua orang pekerja keras itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reyna Octavia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

13. Musibah keluarga bunda

...SELAMAT MEMBACA!...

"Dara?" Bila gelagapan melihat sang putri ternyata mendengar pembicaraan itu. Lalu, wanita tersebut berdiri dan menghampiri Dara. "Kamu udah dari tadi? Kok gak ngabarin kalau mau ke sini?" tanya Bila, berusaha mengalihkan topik.

Dara diam sejenak, dia sangat mengerti sang bunda. Ada yang disembunyikan darinya. "Dara kangen Bunda, makanya tadi mampir mumpung belum terlalu malam," ucap Dara.

"Sini, duduk!" ajak Bila, menarik tangan Dara. "Ayo masuk, Dino!"

Bila menyambut putrinya itu dengan sangat gembira, senyuman terus terukir di wajahnya. "Mau Bunda buatin minuman apa?" tawar Bila.

"Nggak usah, Bunda. Aku bisa ambil sendiri nanti," jawab Dara.

"Dino, mau minum apa?" Bila masih berusaha. Namun, Dino menggelengkan kepala.

"Gak usah repot-repot, Bun."

Bila pun diam sambil menganggukkan kepala, kemudian sedikit melirik ke arah Tino yang menunduk memainkan ponsel.

Dara melihat adiknya seperti sedang tidak bersemangat. Kesedihan begitu melekat di wajah sang adik. Lantas membuat Dara bertanya-tanya. Dia pun beralih memandang Bila, yang memasang ekspresi canggung.

"Bunda, cerita sama aku! Ada apa?" decit Dara.

"Ada apa? Gak ada, seperti yang kamu lihat," jawab Bila.

"Jangan bohong, Bunda. Aku tahu kalau ada yang disembunyikan."

Bila sangat berat untuk bercerita kepada sang putri. Dia menundukkan kepala, kemudian tangannya digenggam oleh Dara hingga membuatnya merasa sangat bersalah. "Sekolah adik kamu mengadakan kegiatan berkemah di sebuah puncak. Tapi, Tino gak bisa ikut," kata Bila.

"Kenapa nggak bisa?"

"Pabrik buku Ayah kamu sekarang sedang terancam."

"Terancam?" tanya Dara. Sedangkan Dino hanya menyimak memandangi Dara dan Bila bergantian. "Kenapa, Bun? Cerita!"

"Satu minggu yang lalu, ayah kamu kena tipu. Ayah jadi punya hutang dengan bank buat mengganti semua kerugian dan gaji karyawan. Restoran kita juga sepi karena ayah salah pilih orang untuk mengurusnya."

"Manager yang ayah kamu pilih, dia kabur dengan uang pendapatan. Ayah kamu jadi ngga dapat keuntungan bulan ini sama sekali. Pemasukan cuma cukup buat restock bahan sama gaji."

"Ayah kamu lagi berusaha cari sponsor sambil promosi restoran," jelas Bila.

Rasanya, seperti aneh saja. Usaha orang tuanya tiba-tiba terancam gulung tikar, padahal selama ini sangat sukses. Hal itu membuat Bila meneteskan air mata dan menunduk dalam. "Jangan nangis, Bunda!" tutur Dara. "Kita bantuin Ayah, ya?"

"Gimana kalau kita bikin poster promosi?" ujar Dino. Lantas Dara dan Bila menatapnya bersamaan.

Dino mendekatkan wajahnya kepada sang istri. "Tino bisa ikut kegiatan itu. Biar gue yang biayai," bisik Dino, tepat di telinga Dara.

.....

"Kita buat desain promosinya di sini aja. Aku nggak punya laptop, bisa pakai HP." Dara menyodorkan ponselnya kepada Dino yang duduk di kasurnya. "Kamu aja, No. Aku kurang ngerti sama hal-hal tentang promosi," ucap Dara.

Dino mengambil handphone gadis itu. Ia memandang layar yang menyala tersebut, kemudian mulai melakukan pekerjaannya. Sedangkan Dara hanya duduk di samping Dino dan ikut melihat ke layar handphone.

Waktu berjalan, malam semakin larut. Bulan dan bintang nampak bertengger di langit sana, lampu di kamar Dara menerangi di gelapnya malam. Dino berdiri dari duduknya setelah selesai dengan kegiatan mengedit poster. Lalu, dia berdiri dari sana dan berjalan mendekati meja di pojok ruangan.

Dara meninggalkan laki-laki itu sejak setengah jam yang lalu, untuk membantu sang bunda memasak. Dia sungguh merasa beruntung karena suaminya bersedia membantu di tengah musibah ini.

Sebuah foto dengan bingkainya yang terpajang di atas meja, menyita perhatian Dino. Lelaki itu mengambilnya, mengamati seorang Dara dan pria asing di sampingnya. "Siapa?" gumamnya. Dia menautkan alisnya karena penasaran.

"Nono, ngapain?" Seruan itu membuat Dino menoleh, rupanya sang istri datang membawa kentang goreng. Lalu, Dino meletakkan kembali benda itu.

Dara masuk, kemudian duduk di kasur dan memakan beberapa potong kentang goreng. Dino menghampiri, mencomot makanan itu. "Foto itu, lo sama siapa?" tanya Dino, sambil menunjuk ke arah meja.

Terdiam. Dara mengunyah kentang di mulutnya dengan pelan. Lalu, terdengar helaan napas panjang dari gadis itu. "Kakak aku, namanya Agun," jawab Dara. "Dia udah ... meninggal."

Ruangan itu menjadi senyap kembali, Dara kembali memasukkan sepotong kentang ke mulutnya dan tatapan matanya menjadi sendu. Dino melihat wajah gadis itu dari samping, sangat lesu karenanya. "Udah, Ra!" ujar Dino, kemudian mengambil piring kentang dari tangan Dara.

"No! Punyaku!" tegur Dara, sebab Dino memasukkan tiga kentang sekaligus. Dara merenggut kesal, mengerucutkan bibirnya.

Dino mengembalikan piring itu.

Dara kembali menundukkan kepala. "Ayah udah pulang. Katanya, pabrik buku itu udah ada yang beli," kata gadis itu, terdengar sangat pelan hingga Dino harus mendekatinya. "Restoran itu harapan satu-satunya."

Lelaki di samping Dara itu hanya diam menatap dengan lamat. Dia mengambil piring dari tangan Dara, kemudian meletakkannya ke kasur. "Ra," panggil Dino, membuat Dara mengangkat wajahnya.

Dino menarik tangan Dara untuk digenggamnya, membuat Dara membulatkan mata. "Gue janji akan bantuin lo, sampai semuanya membaik," kata Dino. "Gue usahain, ya?"

Detak jantung Dara tidak normal. Tangannya yang kecil digenggam oleh tangan besar dan dingin milik sang suami. Gadis itu menganggukkan kepala kuat dan menarik kedua sudut bibirnya. Lalu, Dino pun ikut tersenyum.

Senyuman hangat yang tidak pernah Dino tunjukkan kepada siapapun.

.....

Beberapa tangkai bunga pun akan hancur ketika waktu itu tiba. Namun, jika ada seseorang yang tepat akan menjaganya dengan baik dan tulus, maka ia akan bertahan lebih lama. Sama halnya ketika berada di dalam hubungan.

Dino mengeluarkan lembaran kertas dari dalam tasnya. Dia baru saja selesai bengkel untuk menyelesaikan beberapa tugas, kemudian lelaki itu berhenti di tempat perkumpulan anak-anak Ultimate Phoenix. Ada sekitar 10 manusia di dalam bangunan itu.

Dino meletakkan tumpukan kertas itu di atas meja. Lantas hal itu membuat para anggotanya bingung. "Gue minta tolong, kalian tempel ini di tempat-tempat yang dijangkau banyak manusia!" ujar Dino.

Hamid berada di sana, dia mengambil satu lembar untuk mencermatinya. Pria itu telah selesai membantu sang ayah melakukan pengobatan rohani, jadi dia punya waktu menyapa rumah ke dua. "Restoran siapa, Bos?" tanya Hamid.

"Restoran orang tua istri gue. Minta tolong sebarin, ya. Sekalian promosiin ke kenalan kalian!"

Hamid DNA beberapa anggota UP mengangguk paham. "Siap, kita berangkat sekarang," ujar Anan, seorang siswa yang sedang bolos sekarang.

"An, lo jangan keseringan bolos, deh," tutur Dino. "Minimal, seminggu satu kali aja kalau bolos."

Anan meniup asap rokok yang keluar dari mulutnya. "Males gue, Kak. Kalau gak masuk dicariin, kalau masuk malah diroasting sama guru gue."

Wajah Anan terkesan lugu, tetapi sangat berbeda dengan kelakuannya yang nakal dan sulit diatur. Dino hanya bisa menggelengkan kepala melihat kelakuanku adiknya. "Gue kasih challenge. Kalau bisa, gue privat lo latihan bela diri selama seminggu," kata Dino.

Anan langsung membuka lebar matanya, menatap Dino dengan tidak percaya. "Be--beneran, nih?" seloroh Anan. "Apa challenge itu?"

"Satu bulan tanpa absen."

Anan langsung menyanggupi tantangan tersebut. Sungguh, hal yang sulit untuk minta dilatih sang ketua. Jika ada anggota meminta, biasanya Dino akan menyuruh Aga atau Angga untuk menggantikan.

Gadis cantik dengan seragam kerja itu duduk di taman, yang masih bagian area kerjanya. Dara meminum sebotol susu dingin rasa jeruk. Lalu, dia menghembuskan napas panjang. Langit cerah membuatnya mendongak untuk menikmati jam istirahat singkat ini. Ponsel di saku baju bergetar, dengan segera Dara menerima panggilan dari sang ayah.

"Iya, Ayah, ada apa?" tanya Dara.

"Terima kasih, Dara! Restorannya ramai hari ini!" kata Norman dari sana, dengan sangat heboh sambil melihat ke arah luar restoran dari dapur. "Mereka bilang akan selalu ke sini buat makan siang."

Senyum lebar sontak terukir di wajah gadis itu. Ia sangat senang karena semuanya membaik dengan begitu cepat.

.....

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!