NovelToon NovelToon
DIINJAK UNTUK BERSINAR

DIINJAK UNTUK BERSINAR

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Identitas Tersembunyi / Anak Lelaki/Pria Miskin / Romansa / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:724
Nilai: 5
Nama Author: Dri Andri

Di balik megahnya SMA elit, Satria Bumi Aksara adalah anomali yang dipaksa bertahan dalam kepungan hinaan. Sebagai anak buruh lumpuh yang masuk lewat jalur prestasi, ia menjadi sasaran empuk perundungan; tasnya compang-camping, seragamnya memudar, dan kakinya lecet berjalan kiloan meter. Namun, luka fisiknya tak sebanding dengan remuknya hati saat melihat sang ayah terbaring tanpa daya dan ibunya mencuci puluhan kilo pakaian hingga tangannya pecah-pecah.
​Dunia Satria runtuh saat tahu beasiswa impiannya dikorupsi oleh orang-orang serakah. Di titik nadir itulah, ia menemukan "sinar" pada empat sahabat yang sama-sama terluka. Bersama Vanya, Arjuna, Nareswari, dan Adrian, Satria mempertaruhkan nyawa membongkar busuknya institusi, meski ia harus berlari tanpa alas kaki membawa ibunya yang sekarat ke puskesmas.
​Keteguhan Satria adalah bukti bahwa kemiskinan hanyalah tempaan bagi jiwa yang hebat. Setelah satu dekade penuh air mata, peluh, dan waktu tidur yang terenggut, Satria kembali sebag

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

# BAB 20: BUKTI YANG MENGEJUTKAN

Sore itu langit mendung.

Awan kelabu menutupi matahari. Angin dingin bertiup kencang. Kayaknya mau hujan.

Aku, Vanya, sama Arjuna jalan ke taman dekat sekolah. Taman kecil yang jarang ada orang. Cuma ada beberapa pohon besar sama bangku-bangku kayu tua yang catnya udah mengelupas.

Adrian sama Nareswari aku suruh jaga di luar. Buat jaga-jaga kalau ada yang ngikutin kami.

Jam lima sore tepat.

Di bangku paling pojok, ada seorang laki-laki duduk sendirian. Umur sekitar lima puluhan. Rambut udah beruban. Pake kacamata tebal. Baju kemeja lusuh. Celana kain cokelat. Di sampingnya ada tas ransel besar.

Dia liat kami. Dia angkat tangan sedikit. Isyarat.

Kami jalan ke arah dia.

"Satria Bumi Aksara?" tanya dia.

Aku ngangguk. "Iya. Bapak Pak Budi Santoso?"

Dia geleng. "Bukan. Nama saya Joko Prasetyo. Saya minta maaf bohong di telepon kemarin. Saya khawatir telepon disadap. Jadi saya pake nama samaran."

Aku, Vanya, sama Arjuna saling pandang. Agak curiga. Tapi kami duduk di sebelahnya.

Pak Joko liat sekeliling. Pastiin gak ada orang lain. Terus dia keluarin map tebal dari tas ranselnya. Map cokelat yang penuh dengan kertas-kertas.

"Ini. Ini semua bukti yang saya kumpulkan selama dua tahun terakhir."

Dia buka map itu. Di dalamnya ada ratusan lembar dokumen. Fotokopian. Print-out. Tulisan tangan. Foto-foto.

Vanya ambil satu lembar. Dia baca. Matanya melebar. "Ini... ini dokumen transfer uang sebesar lima miliar rupiah dari rekening sekolah ke rekening pribadi H. Bambang..."

Pak Joko ngangguk. "Itu salah satu dari sekian banyak transaksi ilegal yang dia lakukan. Total uang yang dikorupsi H. Bambang selama lima tahun terakhir mencapai lima belas miliar rupiah."

Lima belas miliar.

Angka yang gak bisa aku bayangin.

Arjuna ambil dokumen lain. "Ini daftar nama anak-anak yang seharusnya dapat beasiswa tapi gak dapat. Ada... ada lebih dari seratus nama di sini."

Pak Joko senyum sedih. "Seratus lima puluh tiga nama tepatnya. Seratus lima puluh tiga anak miskin yang haknya dicuri. Dan kalian... kalian berlima termasuk di dalamnya."

Aku ambil dokumen lain. Aku baca.

**LAPORAN KEMATIAN**

**Nama: Siti Nurhasanah**

**Umur: 42 tahun**

**Pekerjaan: Guru Honorer SMA Negeri 3 Jakarta**

**Penyebab kematian: Gagal ginjal akut. Tidak mampu biaya cuci darah.**

Aku liat tanggalnya. Dua tahun lalu.

"Ini... ini siapa?"

Pak Joko tarik napas dalam. Matanya berkaca-kaca. "Itu... itu istri saya."

Hening.

Kami semua diem. Shock.

"Istri saya guru honorer di sekolah kalian. Dia ngajar Bahasa Inggris. Gajinya kecil. Cuma satu juta dua ratus ribu sebulan. Dua tahun lalu dia sakit. Ginjal rusak. Harus cuci darah seminggu dua kali. Biayanya mahal. Lima ratus ribu sekali cuci darah."

Suaranya bergetar. Dia lap matanya yang mulai basah.

"Saya coba urus dana kesehatan dari sekolah. Katanya ada dana khusus buat guru yang sakit. Saya urus semua berkasnya. Saya kumpulin ke TU. Tapi... tapi dana itu gak turun-turun. Saya tanya berkali-kali. Mereka bilang masih diproses."

Dia tutup muka pake tangan.

"Tiga bulan kemudian... istri saya meninggal. Di rumah. Karena gak bisa cuci darah lagi. Ginjal udah gak berfungsi sama sekali. Dia... dia meninggal sambil minta maaf sama saya. Minta maaf karena dia gak bisa bertahan."

Pak Joko nangis. Nangis keras. Bahunya bergetar.

Aku, Vanya, Arjuna juga nangis. Gak bisa nahan.

"Setelah istri saya meninggal... saya cari tau kemana dana kesehatan itu. Saya selidiki. Dan saya temukan... dana itu masuk ke rekening pribadi H. Bambang. Dia korupsi. Dia curi uang yang seharusnya buat nyeimatin istri saya."

Pak Joko kepal tangan. Kuat banget. Sampai buku-buku jarinya memutih.

"Sejak itu saya mulai investigasi. Diam-diam. Saya kumpulin semua bukti. Dokumen transfer. Rekening koran. Saksi-saksi. Semua. Selama dua tahun. Buat suatu hari... suatu hari saya bisa bongkar kejahatan dia. Dan sekarang... sekarang kalian muncul. Kalian berani bongkar korupsi beasiswa. Saya tau ini saatnya."

Dia liat kami. Matanya merah tapi penuh tekad.

"Saya butuh kalian. Saya butuh saksi hidup. Saksi yang berani bersaksi di pengadilan nanti. Kalian... kalian berani?"

Aku liat Vanya. Liat Arjuna.

Mereka ngangguk.

Aku liat Pak Joko. "Kami berani, Pak. Kami berani bersaksi. Untuk istri Bapak. Untuk semua anak miskin yang jadi korban. Untuk keadilan."

Pak Joko senyum. Senyum yang penuh air mata. "Terima kasih... terima kasih, anak-anak..."

Dia peluk kami bertiga. Kami peluk dia balik.

Kami nangis bareng. Di taman yang sepi. Di bawah langit yang mendung.

***

Setelah tenang, Pak Joko jelasin lebih detail.

"Dana BOS yang seharusnya buat perbaikan sekolah, beli buku, bayar guru honorer... semua dikorupsi. H. Bambang bikin laporan palsu. Dia manipulasi data. Dia buat seolah-olah dana itu udah dipake. Padahal masuk kantong pribadi."

Arjuna ambil dokumen. "Ini laporan keuangan palsu?"

Pak Joko ngangguk. "Iya. Bandingkan sama laporan asli yang saya dapet dari pegawai TU yang masih punya hati nurani. Angkanya beda jauh."

Vanya liat kedua laporan itu. "Di laporan palsu tertulis dana buat beli buku sebesar dua ratus juta. Tapi di laporan asli cuma lima puluh juta. Berarti seratus lima puluh juta masuk kantong H. Bambang."

Pak Joko ngangguk lagi. "Dan itu cuma satu contoh. Masih banyak lagi."

Aku pegang kepala. Pusing. "Pak... kenapa Bapak gak langsung lapor ke polisi? Kenapa harus lewat kami?"

Pak Joko senyum pahit. "Karena H. Bambang punya koneksi dengan oknum polisi. Dia suap mereka. Kalau saya lapor sendirian, laporan saya bakal ditutup. Saya bisa diancam. Bahkan... bahkan nyawa saya bisa hilang."

Dia liat kami serius.

"Tapi kalian beda. Kalian sudah viral. Kalian sudah jadi perhatian media nasional. KPK udah turun tangan. Kalau kalian yang bawa bukti ini... mereka gak bisa tutup-tutupi lagi."

Aku ngerti.

Kami... kami jadi tameng. Tameng buat Pak Joko.

Tapi gak papa. Kami emang dari awal siap jadi tameng buat keadilan.

"Tapi Pak... kalau kami bawa bukti ini... nyawa kami juga dalam bahaya kan?"

Pak Joko ngangguk pelan. "Iya. Nyawa kalian dalam bahaya besar. H. Bambang punya koneksi dengan preman berbahaya. Indra dan geng-nya. Mereka gak segan bunuh orang. Kalian harus ekstra hati-hati."

Vanya pegang tanganku. Gemetar. "Sat... kita... kita tetep lanjut?"

Aku liat Vanya. Liat Arjuna.

Aku inget istri Pak Joko yang meninggal. Aku inget seratus lima puluh tiga anak miskin yang haknya dicuri. Aku inget ayah aku yang lumpuh. Ibu aku yang kolaps. Rumah kami yang dibakar.

"Kita lanjut. Kita gak boleh mundur sekarang."

Arjuna ngangguk. "Gue setuju. Kita udah terlalu jauh."

Vanya tarik napas dalam. "Oke. Aku juga setuju."

Pak Joko senyum lega. "Terima kasih, anak-anak. Kalian... kalian sangat berani."

Dia kasih map tebal itu ke aku. "Ini semua bukti. Simpan baik-baik. Besok kalian harus serahin ini ke KPK. Langsung ke kantor KPK. Jangan lewat email. Jangan lewat pos. Harus langsung. Biar aman."

Aku terima map itu. Berat. Penuh dengan bukti kejahatan.

"Baik, Pak. Kami akan serahin besok."

Pak Joko berdiri. "Saya harus pergi. Jangan hubungi saya dulu. Nanti kalau sudah aman, saya akan hubungi kalian. Hati-hati, anak-anak. Jaga diri kalian baik-baik."

Dia jalan pergi. Menghilang di balik pepohonan.

Kami bertiga duduk di bangku. Liat map tebal di tangan aku.

"Sat... ini... ini lebih besar dari yang kita kira..." bisik Vanya.

Aku ngangguk. "Iya. Ini... ini gak cuma soal beasiswa. Ini soal nyawa. Soal keluarga yang hancur. Soal anak-anak yang kehilangan masa depan. Soal... soal istri Pak Joko yang meninggal."

Arjuna pegang pundak aku. "Kita harus selesaiin ini, Sat. Buat mereka semua."

Aku ngangguk. "Kita akan selesaiin. Apapun yang terjadi."

***

Malam itu hujan turun.

Deras banget. Petir menyambar-nyambar. Angin kencang.

Aku duduk di warung Pak Hadi sambil pegang map tebal itu.

Adrian sama Nareswari udah aku telpon. Aku ceritain semuanya. Mereka shock. Tapi mereka setuju buat lanjut.

Besok pagi kami berlima akan ke kantor KPK. Serahin semua bukti. Termasuk bukti dari Pak Joko.

Ini... ini pertempuran terakhir.

Menang atau kalah.

Hidup atau mati.

Aku liat langit yang gelap. Hujan yang deras.

"Ya Allah... lindungi kami besok. Beri kami keselamatan. Dan... dan semoga keadilan menang. Aamiin."

Doaku terbang bersama suara petir yang menggelegar.

***

*

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!