Kiandra tumbuh sebagai anak yang tak pernah diakui ayahnya. Ibunya diusir, hidupnya penuh luka, dan amarah menjadi satu-satunya cara bertahan.
Di sekolah, ia bertemu Tara—perempuan yang selalu berada di sisi yang dipilih dunia. Mereka musuh, saling menjatuhkan, hingga seorang cowok bernama Daffa membuat kebencian itu semakin panas.
Semua berubah ketika Kia tahu: **Tara adalah saudara tirinya.**
Salah paham menghancurkan segalanya. Tuduhan kejam membuat hidup Tara runtuh, dan takdir mempertemukan mereka di bawah satu atap sebagai dua orang yang saling membenci. Hingga waktu memisahkan mereka.
Enam tahun kemudian, mereka bertemu kembali sebagai orang dewasa. Luka lama belum sembuh, cinta lama belum mati, dan kebenaran menunggu untuk diakui.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabana01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9 – Kia si Anak Galak
Nama Kiandra—atau Kia—tidak pernah disebut di sekolah tanpa embel-embel tambahan.
“Anak galak.”
“Mulutnya tajam.”
“Jangan cari masalah sama dia.”
Kia tahu semua itu. Ia mendengarnya sejak kelas sepuluh, sejak pertama kali ia berdiri di depan kelas dengan seragam kebesaran yang sudah beberapa kali dijahit ulang oleh ibunya. Sejak hari itu, ia belajar satu hal: di sekolah ini, kelembutan sering disalahartikan sebagai kelemahan.
Dan Kia tidak punya ruang untuk lemah.
Pagi itu, suasana kelas ribut. Guru belum datang, dan beberapa siswa memanfaatkan waktu untuk bercanda berlebihan. Tawa meledak-ledak, kursi diseret sembarangan.
Kia duduk di bangku belakang dekat jendela, earphone terpasang di satu telinga, buku catatan terbuka. Ia menulis cepat, fokus, seolah dunia di sekitarnya tidak ada.
Sampai sebuah buku terlempar dan mengenai mejanya.
“Eh, maaf,” kata seorang cowok sambil nyengir. “Nggak sengaja.”
Kia mengangkat wajahnya perlahan. Tatapannya dingin.
“Ambil,” katanya singkat.
Cowok itu tertawa kecil. “Santai aja kali—”
“Ambil,” ulang Kia, kali ini lebih pelan, tapi tekanannya terasa.
Suasana kelas mendadak sunyi.
Cowok itu mendecak, mengambil bukunya, lalu kembali ke tempat duduknya sambil mengumpat pelan.
“Ribet banget, sih,” gumamnya.
Kia kembali menunduk, melanjutkan tulisannya, seolah tidak terjadi apa-apa.
Di bangku depan, Daffa memperhatikan semuanya. Ia tidak tersenyum, tidak juga terkejut. Hanya mencatat satu hal: Kia tidak mencari masalah. Tapi kalau masalah datang, ia tidak lari.
“Kenapa sih lo selalu marah?” tanya salah satu teman sekelas saat jam istirahat.
Kia menutup botol minumnya. “Aku nggak marah.”
“Ya… galak, gitu,” lanjut gadis itu hati-hati.
Kia menoleh. “Kalau aku senyum, orang-orang bakal berhenti seenaknya?”
Temannya terdiam.
“Kalau jawabannya nggak,” lanjut Kia, “berarti ini cara paling aman.”
Ia berdiri dan pergi, meninggalkan gadis itu dengan perasaan bersalah yang tidak sempat diucapkan.
Kia tidak pernah menjelaskan dirinya. Ia tidak merasa perlu.
Yang tahu kebenarannya, hanya satu orang: ibunya.
Di rumah kecil mereka yang terletak di gang sempit, Kia membantu ibunya melipat cucian.
“Kamu berantem lagi di sekolah?” tanya ibunya lembut, tanpa menatap langsung.
Kia menggeleng. “Nggak.”
Ibunya tersenyum kecil. “Kamu selalu bilang begitu.”
“Karena memang nggak,” jawab Kia jujur. “Aku cuma… nggak mau diinjek.”
Ibunya berhenti melipat. Menatap putrinya dengan mata lelah tapi penuh cinta.
“Ibu nggak pernah ngajarin kamu jadi keras,” katanya pelan.
“Ibu ngajarin aku bertahan,” balas Kia tanpa ragu.
Hening menyelimuti ruangan kecil itu.
Ibunya menghela napas. “Kadang Ibu takut… dunia bikin kamu lupa caranya jadi lembut.”
Kia menunduk. Tangannya mengepal sebentar.
“Aku lembut sama orang yang pantas,” katanya akhirnya.
Ibunya tidak menjawab. Ia hanya mengelus punggung tangan Kia, seolah ingin mengatakan: aku mengerti, meski tidak sepenuhnya setuju.
Di sekolah, reputasi Kia semakin menguat.
Saat seorang siswi kelas sebelah menangis karena tasnya dirusak senior, Kia yang pertama berdiri.
“Siapa?” tanyanya singkat.
“Bukan urusan lo,” sahut salah satu senior.
Kia mendekat. Tidak berteriak. Tidak mengancam.
“Kalau lo berani ngerusak barang orang,” katanya pelan, “lo juga harus berani tanggung jawab.”
Senior itu menatapnya sinis. “Terus?”
“Terus gue bakal lapor wali kelas, BK, dan kepala sekolah. Sekalian gue sebutin nama lo satu-satu.”
“Lo ngancam?”
“Gue jujur.”
Akhirnya tas itu diganti.
Siswi yang ditolong hanya bisa menangis sambil mengucap terima kasih. Kia mengangguk singkat, lalu pergi.
Sejak hari itu, tidak ada yang berani terang-terangan meremehkannya.
Tara melihat semua itu dari kejauhan.
Ia tidak tahu harus merasa apa.
Sebagian dari dirinya menganggap Kia berlebihan. Sok berani. Sok kuat.
Sebagian lain—yang tidak ingin ia akui—merasa kagum.
“Kenapa dia selalu harus jadi pahlawan?” gumam Tara pada dirinya sendiri.
Padahal ia tahu jawabannya.
Karena tidak ada yang pernah jadi pahlawan buat Kia.
Di koridor sepi setelah jam sekolah, Tara akhirnya berdiri menghadang Kia.
“Kita bisa ngomong?” tanyanya.
Kia berhenti. Menatap Tara tanpa ekspresi. “Tentang apa?”
“Tentang kamu,” jawab Tara. “Tentang sikap kamu.”
Kia menyilangkan tangan. “Kalau mau ceramah, cari orang lain.”
“Aku serius,” suara Tara bergetar tipis. “Kamu nggak capek jadi galak terus?”
Pertanyaan itu menusuk.
Kia tertawa kecil. Bukan tawa lucu. Lebih seperti tawa pahit.
“Kamu pikir ini pilihan?” tanyanya balik.
Tara terdiam.
“Kamu tumbuh di rumah besar,” lanjut Kia. “Dengan orang tua lengkap. Dengan pilihan untuk jadi manis tanpa takut dimakan.”
Tara menggigit bibirnya. “Kamu nggak tahu hidup aku—”
“Aku nggak mau tahu,” potong Kia. “Dan kamu juga nggak pernah mau tahu hidup aku.”
Mereka saling menatap. Tegang. Diam.
Dari ujung koridor, Daffa berdiri, ragu untuk mendekat.
Akhirnya, Kia melangkah pergi lebih dulu.
“Jangan nilai aku dari luar,” katanya tanpa menoleh. “Kamu nggak hidup di sepatuku.”
Daffa menyusul Kia di luar gerbang.
“Lo oke?” tanyanya.
Kia mengangguk. “Selalu.”
“Jawaban klise,” kata Daffa.
“Pertanyaan lo juga,” balas Kia.
Daffa tersenyum tipis. “Orang-orang bilang lo galak.”
“Dan?” Kia menantang.
“Dan gue pikir… lo cuma jujur,” jawab Daffa. “Tentang siapa yang lo izinkan masuk ke hidup lo.”
Kia berhenti berjalan.
Ia menatap Daffa, lama. Lebih lama dari biasanya.
“Lo salah,” katanya pelan. “Aku nggak izinin siapa pun masuk.”
Daffa menatapnya balik. “Mungkin belum.”
Untuk pertama kalinya, Kia tidak punya jawaban.
Malam itu, Kia berdiri di depan cermin kamarnya.
Ia melihat pantulan wajahnya. Mata yang terlalu dewasa untuk usianya. Bahu yang selalu tegang, seolah siap diserang kapan saja.
“Anak galak,” gumamnya pada pantulan itu.
Ia menghela napas.
Jika menjadi galak berarti bisa melindungi ibu yang pernah diusir,
melindungi diri yang pernah diabaikan,
melindungi hati yang tidak pernah diberi pilihan—
maka ia akan memilih itu.
Ia mematikan lampu dan berbaring.
Di luar sana, sekolah terus bergosip.
Tentang Kia si galak.
Tentang Tara si anak pilihan.
Tentang Daffa di antara mereka.
Tak satu pun tahu—
di balik amarah Kia, ada kejujuran yang tidak pernah ditawar.
Dan keberanian yang lahir bukan dari kekuatan…
melainkan dari terlalu sering disakiti.
...****************...
yg salah adalah org tua
terutama arman dan keluarga ny.
mash jdi teka teki,knp dgn ank perempuan ?
ank dri istri pertama perempuan,ank dri istri ke 2 perempuan, tpi knp ank dri istri ke 2 tetap di pilih dan di sayang ?
bgtu pun dgn Arman ? dri ke 2 ank ny,knp dia kaku dgn ank² ny ? sprti ad tembok yg kokoh .
cucu intan payung oma kek ny..
cihhhhh dsar laki² gak guna, ga bisa tegas,model manut ae..
tunggu aj karma mu
blm bisa komen bnyk..
ok salam kenal thor,izin membaca karya nya