Raka, seorang arsitek sukses namun kesepian di usia 30-an, menemukan kembali barang-barang lamanya saat hendak pindah rumah. Penemuan ini membawanya menelusuri kembali ingatan tentang Naya—seorang perempuan yang sangat biasa-biasa saja; tidak paling cantik, tidak paling pintar, dan sering terlupakan oleh orang lain. Namun, bagi Raka, Naya adalah satu-satunya anomali dalam hidupnya yang teratur. Cerita ini berjalan dalam dua garis waktu: masa kini (Raka yang mencoba berdamai dengan kehampaannya) dan masa lalu (bagaimana hal-hal remeh bersama Naya membentuk siapa Raka hari ini).
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hantu di Antara Rak Buku
Sabtu pagi datang dengan cahaya matahari yang terlalu terang, menerobos celah gorden apartemen Raka yang tidak tertutup rapat. Partikel debu terlihat menari-nari dalam sorotan cahaya itu, sebuah pemandangan remeh yang entah mengapa membuat Raka terpaku selama lima menit penuh di tepi tempat tidur.
Biasanya, Sabtu adalah hari di mana Raka akan bangun dengan beban ganda: kelelahan fisik sisa seminggu bekerja dan kekosongan mental karena tidak adanya rutinitas kantor. Namun, pagi ini terasa sedikit berbeda. Ada sisa rasa dari kopi Jumat sore bersama Bayu yang masih tertinggal—bukan rasa kafeinnya, melainkan rasa "normal" yang asing. Interaksi itu, meski canggung dan penuh kewaspadaan di pihak Raka, telah memberinya sedikit celah untuk bernapas. Dia tidak langsung merasa tercekik oleh kesepian begitu membuka mata.
Raka bangkit, merapikan seprai dengan gerakan otomatis yang presisi. Dia berjalan ke dapur mungilnya, menyalakan pemanas air. Bunyi *cetek* dari tombol ketel listrik terdengar nyaring di ruangan yang sunyi.
Hari ini dia memutuskan untuk tidak berdiam diri di apartemen. Pengalaman sakit kemarin dan isolasi yang menyertainya masih menyisakan trauma halus. Dinding-dinding apartemen ini seolah masih menyimpan hawa demamnya. Dia butuh udara luar, tapi bukan keramaian yang menuntut interaksi.
Pilihan jatuh pada toko buku besar di pusat kota. Itu adalah zona netral. Tempat di mana orang-orang datang untuk mencari kesunyian di tengah keramaian, sebuah paradoks yang selalu Raka sukai.
Satu jam kemudian, Raka sudah berada di dalam gerbong kereta yang tidak terlalu padat. Dia mengenakan kaos polo abu-abu dan celana jins, pakaian standar yang membuatnya membaur sempurna dengan latar belakang. Di depannya, seorang anak kecil sedang sibuk menceritakan isi kartun yang baru ditontonnya kepada ibunya. Raka mengalihkan pandangan ke jendela, melihat gedung-gedung Jakarta yang berkelebat. Dulu, dia sering melakukan perjalanan seperti ini berdua. Ada tangan yang biasanya menggenggam lengannya, menunjuk papan reklame lucu atau mengomentari pakaian penumpang lain.
Raka memasukkan tangan ke dalam saku celana, menggenggam ponselnya erat-erat untuk mengusir bayangan tak kasat mata di lengannya.
Sesampainya di toko buku, hawa dingin dari pendingin ruangan dan aroma khas kertas baru langsung menyambutnya. Bau ini menenangkan. Bau yang logis dan teratur. Raka berjalan melewati deretan buku *best seller* di depan, menghindari bagian novel romansa seolah itu adalah area terkontaminasi radiasi, dan langsung menuju lorong fiksi misteri dan *thriller*.
Dia mengambil sebuah novel terjemahan dengan sampul hitam kelam. Dia membaca sinopsis di belakangnya. Detektif yang kehilangan istri, pembunuhan berantai, dan alkohol. Klise, pikir Raka, tapi cukup untuk membunuh waktu.
Saat hendak mengembalikan buku itu ke rak, sudut matanya menangkap pergerakan di lorong sebelah. Lorong sastra klasik.
Jantung Raka berhenti berdetak selama satu detik penuh.
Di sana, berdiri seorang wanita dengan rambut sebahu yang diikat setengah—gaya rambut yang sangat spesifik. Dia mengenakan kardigan rajut berwarna *cream* yang sedikit kebesaran dan rok plisket cokelat. Postur tubuhnya saat memiringkan kepala untuk membaca judul buku di rak bagian atas begitu familiar hingga membuat perut Raka mulas.
Itu dia.
Logika Raka berteriak bahwa itu tidak mungkin. Kota ini dihuni oleh sepuluh juta manusia. Kemungkinan bertemu di sini nyaris nol. Tapi memori sensorik Raka tidak peduli pada statistik. Otaknya langsung memutar rekaman lama: bagaimana wanita itu suka menghabiskan waktu berjam-jam di lorong sastra, bagaimana dia akan berjinjit untuk mengambil buku, dan bagaimana wangi sampo stroberinya akan tercium jika Raka berdiri cukup dekat.
Tanpa sadar, Raka melangkah mendekat. Kakinya bergerak sendiri, diseret oleh gravitasi masa lalu.
Jarak mereka kini hanya terpisah dua meter. Raka bisa melihat jepit rambut yang digunakan wanita itu. Bentuknya sederhana, hitam polos. Bukan jepit rambut bermotif bunga yang dulu pernah Raka belikan. Tapi itu bisa saja hilang, kan? Waktu sudah berlalu lama. Orang berubah, selera berubah.
"Permisi, Mbak," suara seorang pramuniaga memecah keheningan, meminta izin lewat dengan membawa tumpukan buku.
Wanita itu menoleh.
Raka menahan napas, siap untuk hancur atau siap untuk lari.
Wajah itu berputar ke arahnya. Hidung yang sedikit lebih mancung, bentuk mata yang lebih sipit, dan tahi lalat di dagu yang tidak Raka kenal.
Itu bukan dia.
Raka menghembuskan napas yang tak sadar ia tahan. Rasanya seperti ada balon yang meletus di dalam dadanya—campuran antara kelegaan yang luar biasa dan kekecewaan yang menyakitkan. Dia lega karena tidak harus menghadapi realitas pertemuan itu, tidak harus memikirkan kata apa yang harus diucapkan setelah sekian lama. Namun, dia juga kecewa karena menyadari betapa putus asanya dia mencari sosok itu di setiap sudut kota.
Wanita asing itu menatap Raka sekilas, sedikit bingung karena Raka berdiri mematung menatapnya, lalu kembali membalikkan badan, tidak peduli.
Raka mundur perlahan. Kakinya terasa lemas. Dia berbalik dan berjalan cepat meninggalkan lorong sastra, seolah baru saja lolos dari kecelakaan fatal. Dia butuh duduk.
Dia menemukan bangku kosong di dekat bagian buku arsitektur. Raka duduk, menundukkan kepala, memijat pelipisnya. Keringat dingin membasahi punggungnya.
"Bodoh," rutuknya pelan.
Kejadian barusan menamparnya kembali ke kenyataan. Dia pikir obrolan kopi dengan Bayu kemarin sudah membuatnya sedikit lebih kuat. Ternyata fondasinya masih serapuh tisu basah. Hanya karena melihat punggung yang mirip, seluruh sistem pertahanannya runtuh. Garis waktu memang berjalan, tapi Raka masih sering tersandung di titik yang sama.
Untuk mengalihkan pikiran, Raka mengeluarkan ponselnya. Dia membuka aplikasi pesan, berniat mengecek pekerjaan—kebiasaan buruknya. Namun, jempolnya berhenti di atas nama Bayu.
Status WhatsApp Bayu menyala hijau.
Raka menekannya. Sebuah foto sederhana: sebuah pancingan di tepi danau pemancingan yang keruh, dengan *caption*: *"Mancing emosi, dapetnya ikan sapu-sapu."*
Sudut bibir Raka terangkat sedikit. Sangat tipis, nyaris tak terlihat. Itu adalah humor bapak-bapak yang garing, sangat khas Bayu.
Dulu, Raka tidak akan peduli. Dia akan menutup status itu dan lanjut bekerja. Tapi hari ini, rasa malu karena insiden "salah orang" di lorong buku tadi membuatnya merasa perlu terhubung dengan sesuatu yang nyata. Sesuatu yang ada di masa kini. Bayu adalah masa kini. Bayu adalah realitas di mana Raka hanyalah karyawan biasa, bukan pria yang ditinggalkan.
Raka mengetik balasan singkat.
*"Setidaknya bukan mancing keributan."*
Dia menekan kirim sebelum sempat menyesalinya.
Raka menatap layar ponselnya, menunggu centang dua berubah biru. Detik berganti menit. Tidak ada balasan instan. Bayu mungkin sedang sibuk dengan joran pancingnya atau sedang tertawa dengan bapak-bapak lain di sana.
Raka memasukkan kembali ponselnya ke saku. Dia berdiri, mengambil napas panjang. Aroma toko buku kembali tercium netral. Hantu di lorong sastra tadi sudah hilang, digantikan oleh realitas bahwa dia sendirian di toko buku, pada hari Sabtu siang.
Dia memutuskan untuk membeli buku *thriller* tadi. Bukan karena dia sangat ingin membacanya, tapi sebagai bukti bahwa dia datang ke sini untuk melakukan sesuatu, bukan sekadar mengejar bayangan.
Di kasir, saat menyerahkan kartu debitnya, ponsel Raka bergetar.
Balasan dari Bayu.
*"Hahaha. Tumben lu idup, Ka. Kirain lagi bersemedi. Ati-ati, ntar Senin dicariin bos, jangan sampe salah kirim laporan lagi."*
Raka membaca pesan itu sambil menerima struk belanja. Tidak ada pertanyaan basa-basi yang mengganggu, tidak ada penghiburan yang berlebihan. Hanya olok-olok ringan antar rekan kerja.
Raka berjalan keluar dari toko buku. Matahari di luar sudah condong ke barat, membuat bayang-bayangnya memanjang di trotoar. Dia melihat bayangannya sendiri—sendirian, memegang kantong plastik berisi buku tentang pembunuhan.
Dia memang belum sembuh. Kejadian di dalam tadi membuktikan bahwa dia masih sangat rentan. Sosok masa lalu itu masih memegang kendali atas detak jantungnya. Tapi setidaknya, saat berjalan menuju stasiun untuk pulang, Raka tidak merasa sepenuhnya terisolasi. Ada pesan singkat dari Bayu di sakunya, sebuah jangkar kecil yang menahannya agar tidak hanyut terlalu jauh ke masa lalu.
Dia bukan yang terbaik, dan garis waktu tidak dapat menghapusnya. Raka tahu itu. Tapi mungkin, hanya mungkin, garis waktu bisa ditimpa dengan hal-hal baru yang lebih sederhana. Seperti balasan pesan WhatsApp tentang memancing ikan sapu-sapu.
Raka melangkah masuk ke stasiun, siap menghadapi malam minggu yang sepi, namun kali ini dengan sedikit lebih banyak kesiapan dibanding minggu-minggu sebelumnya.
***