Keyra Anandita telah hidup di tahun terakhir SMA-nya sebanyak puluhan kali. Setiap kali ia berhasil mendapatkan nilai sempurna, beasiswa impian, dan pacar “terbaik”, dunia justru berakhir dan waktu kembali terulang dari awal.
Di loop ke-45, Keyra memutuskan berhenti mengejar kesempurnaan. Keputusan itu membawanya pada Raka Mahendra, cowok berisik yang selalu melanggar aturan—dan satu-satunya orang yang tampaknya menyadari bahwa waktu mereka tidak berjalan normal.
Bersama Raka, Keyra mulai menyelidiki rahasia di balik pengulangan waktu, menemukan bahwa dunia mereka mungkin bukan nyata, dan bahwa takdir tidak selalu memilih orang yang paling sempurna.
Dalam perjalanan penuh misteri, humor, dan cinta yang tumbuh di tengah kekacauan waktu, Keyra harus menentukan satu hal: apakah ia ingin hidup dalam garis waktu yang sempurna, atau memilih satu orang yang tidak pernah seharusnya menjadi bagian dari takdirnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab: 15
Aroma manis *waffle cone* dan vanila yang menyeruak di kedai gelato itu tidak cukup untuk mencairkan atmosfer yang membeku dalam hitungan detik.
Keyra baru saja akan menyendok suapan pertama es krim *double scoop*-nya—kombinasi aneh antara *Sea Salt* dan *Dark Chocolate* pilihan Raka—ketika bayangan panjang jatuh menutupi meja bundar mereka. Dia tidak perlu mendongak untuk tahu siapa pemilik siluet presisi dengan postur tubuh tegak kaku itu.
Julian Adhitya berdiri di sana. Dia tidak terengah-engah, meski Keyra tahu dia pasti berlari atau setidaknya berjalan sangat cepat dari lobi utama mal. Kemeja flanel mahalnya terkancing rapi, rambutnya tertata tanpa celah, namun ada kilatan statis di matanya yang biasanya tenang. Seperti layar komputer yang mengalami *glitch* sesaat sebelum *blue screen*.
"Ponsel," suara Julian datar, namun memiliki bobot yang menekan gendang telinga. "Kenapa dimatikan?"
Keyra meletakkan sendok plastiknya perlahan. "Baterainya habis," bohongnya. Kebohongan yang buruk. Julian tahu Keyra selalu membawa *power bank*.
"Baterai habis, atau lo sengaja memutus sirkuit komunikasi karena ada virus yang mengganggu sistem lo?" Julian melirik Raka sekilas, tatapan yang setajam silet bedah, seolah Raka adalah *malware* yang harus dikarantina.
Di seberang meja, Raka justru tampak terlalu santai. Dia menyandarkan punggungnya ke kursi, satu tangan memainkan sendok es krim seolah itu adalah tongkat konduktor. Tidak ada rasa bersalah, tidak ada ketakutan. Hanya senyum tipis yang menjengkelkan.
"Hai, Pak Ketua," sapa Raka ringan. "Mau gabung? Gue traktir. Rasa mint enak buat dinginin kepala."
Julian mengabaikan tawaran itu sepenuhnya. Dia menarik kursi kosong di sebelah Keyra, memutarnya dengan gerakan kasar yang terukur, lalu duduk. Dia tidak menatap Keyra lagi, melainkan memutar tubuhnya sepenuhnya menghadap Raka. Ini adalah mode konfrontasi. Julian sedang menjalankan protokol interogasi.
"Raka Abimanyu," Julian menyebut nama itu seolah sedang membaca label pada spesimen laboratorium yang gagal. "Gue sudah kalkulasi semua kemungkinan alasan lo bawa Keyra ke sini. Bolos bimbel, main *arcade*, makan es krim. Klasik. Primitif. Lo pikir lo sedang ada di film romansa remaja tahun 2000-an?"
"Dan lo pikir lo ada di mana? Film dokumenter tentang manajemen waktu?" balas Raka cepat. Dia menyuapkan es krim ke mulutnya. "Santai dikit, Jul. Hari Minggu itu diciptakan Tuhan sebelum ada jadwal *try out*."
"Waktu Keyra itu investasi," potong Julian tajam. Dia meletakkan kedua tangannya di atas meja, jari-jarinya bertaut membentuk piramida. Gestur khas saat dia memimpin rapat OSIS. "Setiap jam yang dia habiskan sama lo adalah depresiasi nilai. Lo cuma variabel acak yang mengacaukan grafik performanya. Lo nggak punya rencana, nggak punya visi, dan yang paling parah, lo bangga dengan ketidaktahuan lo itu."
Keyra merasakan dadanya sesak. "Julian, cukup. Gue yang minta—"
"Diam, Key," Julian mengangkat satu tangan tanpa menoleh, membungkam Keyra. Fokusnya terkunci pada Raka. "Gue bicara sama *sumber error*-nya."
Ada jeda sejenak. Suara bising pengunjung mal dan denting mesin kasir seolah menjadi latar suara bagi duel sunyi di meja nomor 14 itu. Julian menatap Raka dengan intensitas seorang programmer yang mencoba mencari *bug* dalam kode.
Namun, Raka tidak menyusut. Dia justru tertawa pelan. Tawa yang renyah, seolah Julian baru saja menceritakan lelucon paling lucu sedunia.
"Investasi? Depresiasi?" Raka menggeleng-gelengkan kepalanya. "Lo ngomongin Keyra kayak dia saham IPO, Jul. Itu masalah lo. Lo terlalu sibuk memprediksi masa depan sampai lupa kalau masa kini itu nggak bisa di-skip kayak iklan YouTube."
"Masa depan dibentuk oleh kedisiplinan hari ini," balas Julian otomatis, seperti mesin penjawab. "Orang kayak lo, yang hidup cuma buat hari ini, nggak akan pernah paham konsep *compounding effect*. Lo cuma... *noise*."
"Dan lo cuma algoritma yang kaku," Raka memajukan tubuhnya sedikit, menatap lurus ke manik mata Julian. "Lo tahu kenapa lo marah banget sekarang? Bukan karena Keyra bolos. Bukan karena gue ajak dia main. Tapi karena lo nggak bisa prediksi ini. Lo marah karena skenario di kepala lo berantakan. Lo panik karena 'variabel acak' ini ternyata nggak sesuai sama hitungan probabilitas lo."
Rahang Julian mengeras. Urat halus di pelipisnya berkedut. Analisis Raka tepat sasaran, menusuk langsung ke inti ketidakamanan Julian. Julian merasa seperti robot yang dipaksa memproses paradoks logika. Sistemnya memanas.
"Gue nggak memprediksi lo karena lo nggak signifikan," desis Julian dingin.
"Oh ya?" tantang Raka. "Coba tebak apa yang bakal gue lakuin lima detik lagi."
Julian terdiam. Matanya bergerak cepat, memindai bahasa tubuh Raka. Bahu rileks, tangan kanan memegang sendok, tangan kiri di atas meja. Pupil mata normal. Tidak ada tanda-tanda agresi fisik. Julian memproses data: Raka mungkin akan berdiri, atau melempar es krim, atau pergi.
"Tiga... dua... satu..." Raka menghitung mundur.
Julian menahan napas, bersiap menangkis atau bereaksi.
Namun, Raka tidak melakukan apa-apa. Dia hanya diam, menatap Julian dengan senyum miring.
"Lihat?" bisik Raka. "Lo sibuk mikirin seribu kemungkinan, padahal gue cuma diem. Lo capek sendiri, Jul. Lo diperbudak sama ketakutan lo sendiri kalau segala sesuatu nggak berjalan sesuai rencana."
Julian merasa seolah ada korsleting di dalam kepalanya. Dia benci perasaan ini. Perasaan tidak berdaya. Perasaan bahwa dia adalah mesin canggih yang sedang dikalahkan oleh manusia purba yang hanya bermodalkan insting.
Julian berdiri tiba-tiba, kursinya berdecit nyaring bergesekan dengan lantai. Beberapa pengunjung menoleh kaget.
"Kita pulang, Key," perintah Julian. Suaranya tidak lagi tenang, ada getaran frustrasi yang nyata. Dia tidak menunggu jawaban, langsung mencengkeram pergelangan tangan Keyra. "Sekarang."
"Julian, sakit!" protes Keyra, mencoba melepaskan diri, tapi cengkeraman Julian kuat. Julian sedang dalam mode *damage control*. Dia harus segera memindahkan aset berharga ke zona aman.
"Lepasin dia, Jul," suara Raka berubah. Tidak ada lagi nada main-main. Rendah dan berbahaya.
Julian menoleh, menatap Raka dengan tatapan merendahkan. "Atau apa? Lo mau pukul gue? Itu cuma bakal membuktikan kalau lo emang preman yang nggak punya otak."
"Gue nggak perlu pukul lo buat bikin lo kalah," kata Raka tenang. Dia berdiri perlahan, memasukkan kedua tangannya ke saku jaket. "Gue cuma perlu nunggu. Karena sistem yang terlalu kaku kayak lo, biasanya bakal hancur sendiri kalau ditekan terlalu keras. Dan Keyra... dia bukan data yang bisa lo *backup* kalau rusak."
Julian mendengus, menarik Keyra menjauh dari meja itu. "Jangan dekati dia lagi. Ini peringatan terakhir."
Julian menyeret Keyra keluar dari kedai gelato, menembus kerumunan pengunjung mal. Langkahnya lebar dan cepat, membuat Keyra setengah berlari untuk menyejajarkan diri. Keyra menoleh ke belakang sekilas.
Raka masih berdiri di sana, di samping meja mereka yang kini kosong. Dia tidak mengejar. Dia hanya memandang kepergian mereka dengan ekspresi yang sulit diartikan. Bukan kekalahan, bukan juga kemenangan. Tatapan itu seperti tatapan seseorang yang sedang menonton film yang sudah pernah dia tonton ribuan kali. Dia tahu adegan ini. Dia tahu 'tokoh antagonis' akan membawa sang putri pergi.
Dan yang membuat Keyra merinding adalah gerakan bibir Raka yang samar sebelum mereka benar-benar hilang di balik tikungan koridor.
*"Sampai ketemu di 'reset' berikutnya, Pak Ketua."*
Atau mungkin Keyra hanya berhalusinasi. Mungkin suara bising mal memanipulasi pendengarannya.
"Masuk," Julian membuka pintu mobilnya di area *drop-off* dengan kasar. Napasnya sedikit memburu, bukan karena fisik, tapi karena beban mental menahan amarah.
Keyra masuk ke dalam mobil, membanting pintu. Dia menatap Julian yang kini duduk di balik kemudi, mencengkeram setir hingga buku-buku jarinya memutih.
"Lo keterlaluan," kata Keyra pelan.
Julian menatap lurus ke depan, ke arah jalanan aspal yang macet. Matanya kosong sejenak, seolah sedang me-*reboot* sistem emosinya. "Gue menyelamatkan masa depan lo, Key. Suatu hari nanti, lo bakal berterima kasih."
"Lo nggak nyelamatin apa-apa," bantah Keyra. "Lo cuma takut lo nggak bisa ngontrol gue lagi."
Julian tidak menjawab. Dia menyalakan mesin. Suara deru halus mobil mewah itu mengisi keheningan. Julian kembali menjadi robot. Wajahnya datar, emosinya terkunci rapat di balik *firewall* pertahanannya.
Tapi Keyra melihatnya. Tangan Julian gemetar. Sangat halus, tapi ada. Algoritmanya telah terganggu. Dan untuk pertama kalinya, Julian Adhitya, sang Ketua OSIS yang sempurna, tampak ragu ke mana dia harus mengemudikan 'kendaraan' ini selanjutnya.