NovelToon NovelToon
Di Ujung Rasa Sesal

Di Ujung Rasa Sesal

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Hamil di luar nikah / Romansa / Konflik etika / Tamat
Popularitas:8.1k
Nilai: 5
Nama Author: Bunda SB

Tiga tahun Nadira mencintai Raka, setia menunggu pernikahan meski selalu ditolak dengan alasan "belum siap" bahkan saat ia hamil delapan bulan.

Hingga Nadira mendengar pengakuan Raka: hubungan mereka hanya permainan. Ia tak pernah serius, hanya menginginkan tubuhnya.

Saat Raka mengejar untuk menjelaskan, kecelakaan menghantam. Nadira koma, bayi mereka tak sempat lahir.

Di hadapan tubuh Nadira yang tak berdaya, Raka akhirnya mengerti... ia benar-benar mencintainya.

Tapi penyesalan selalu datang terlambat. Cinta yang disia-siakan mungkin tak akan terbangun lagi, meski orang yang dicintai masih bernapas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda SB, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sendiri

Nadira berdiri di depan cermin kamar mandi, menatap pantulan dirinya dengan tatapan kosong. Rambutnya yang panjang sudah diikat ke belakang, sedikit berantakan tapi ia tidak peduli. Wajahnya tampak pucat, lebih pucat dari biasanya. Lingkaran hitam tipis menghiasi bawah matanya, tanda tidur yang tidak nyenyak beberapa malam terakhir.

Tangannya bergerak ke perut yang membuncit besar, mengusapnya pelan. Delapan bulan. Sebentar lagi bayinya akan lahir. Sebentar lagi ia akan menjadi seorang ibu.

Tapi kenapa ia merasa begitu sendirian?

Ia menghela napas panjang, lalu berbalik dari cermin. Hari ini jadwal kontrol kandungan. Pemeriksaan rutin bulanan yang tidak boleh dilewatkan. Dokter bilang pada usia kandungan segini, pemeriksaan harus lebih sering untuk memastikan kondisi bayi dan dirinya tetap sehat.

Nadira keluar dari kamar mandi, melangkah pelan menuju kamar tidur. Raka masih di sana, berbaring di atas kasur dengan posisi setengah duduk, bersandar pada tumpukan bantal. Ponselnya terangkat di depan wajah, jempolnya bergerak cepat, entah membalas chat atau scrolling media sosial.

Ia bahkan tidak menoleh saat Nadira masuk.

Nadira berhenti di pinggir kasur, memandang pria yang sudah tiga tahun bersamanya itu. Pria yang ia cintai. Pria yang ia percaya akan menjadi ayah yang baik untuk anak mereka.

Tapi apakah keyakinannya itu benar?

"Raka," panggil Nadira pelan.

"Hmm?" Raka tidak mengalihkan pandangannya dari ponsel.

"Hari ini aku kontrol ke dokter. Jam sepuluh."

"Oke."

Hanya itu. Tidak ada tatapan. Tidak ada tanggapan lebih. Hanya sebuah kata singkat yang terdengar begitu... tidak peduli.

Nadira menggigit bibirnya. Jari-jarinya meremas ujung kaus longgar yang ia kenakan.

"Kamu kan... sedang libur hari ini," lanjut Nadira, suaranya pelan, hampir ragu. "Bisa nggak... temani aku ke dokter?"

Raka akhirnya menurunkan ponselnya. Ia menatap Nadira dengan tatapan yang sulit dibaca. Ada jeda sebelum ia menjawab.

"Aku lelah, Dira."

"Tapi..."

"Aku baru pulang tengah malam tadi. Lembur sampai kantor sepi. Aku butuh istirahat."

Nadira merasakan dadanya sesak. Ia tahu Raka lelah. Ia tahu pria itu bekerja keras. Tapi... hanya kali ini. Hanya sekali.

"Raka, tolong," pinta Nadira, kali ini suaranya bergetar sedikit. "Kali ini saja. Dari awal aku hamil, kamu belum pernah sekalipun menemaniku ke dokter. Sekali saja, kumohon."

Raka menghela napas berat, napas yang terdengar seperti beban besar baru saja ditimpakan padanya.

"Nadira, aku bilang aku lelah."

"Aku tahu kamu lelah. Tapi aku juga... aku juga butuh kamu di sana."

Raka menatap Nadira dengan tatapan yang mulai terlihat jengah. Ia meletakkan ponselnya di samping bantal, lalu mengusap wajahnya dengan kedua tangan.

"Dengar, aku benar-benar tidak bisa hari ini," ucapnya dengan nada tegas. "Aku hanya ingin istirahat. Kamu bisa pergi sendiri, kan? Bukan pertama kalinya juga."

Kata-kata itu menampar.

Bukan pertama kalinya.

Ya. Memang bukan. Karena dari awal, Nadira selalu pergi sendiri. Setiap pemeriksaan, setiap USG, setiap kali mendengar detak jantung bayinya... ia selalu sendirian.

Dan Raka tidak pernah peduli.

Nadira merasakan matanya memanas. Tapi ia tidak akan menangis. Tidak sekarang.

"Raka," bisiknya dengan suara yang nyaris putus. "Apa kamu... apa kamu benar-benar menginginkan anak ini?"

Pertanyaan itu terlontar begitu saja. Sebuah pertanyaan yang sudah lama mengendap di dalam dadanya, tapi baru kali ini ia berani mengucapkannya keras-keras.

Raka terdiam. Matanya membelalak sedikit, seperti tidak menyangka Nadira akan bertanya seperti itu.

"Apa maksudmu?" tanyanya dengan nada defensif.

"Kamu tidak pernah mau menemaniku," jawab Nadira, suaranya mulai bergetar. "Tidak pernah. Bahkan saat aku USG pertama kali dan mendengar detak jantungnya, kamu tidak ada di sana. Saat aku tahu dia laki-laki atau perempuan, kamu juga tidak ada. Kamu tidak pernah bertanya bagaimana perkembangan dia. Kamu tidak pernah... tidak pernah terlihat peduli."

Raka bangkit dari posisi berbaringnya, duduk tegak. Ia meraih tangan Nadira dengan lembut... terlalu lembut, seperti sedang memegang sesuatu yang rapuh.

"Nadira, dengarkan aku." Suaranya menjadi lebih lembut sekarang. "Aku menginginkan anak ini. Aku sangat menantikan kelahirannya. Percaya padaku."

Nadira menatap mata cokelat itu. Mata yang selalu bisa membujuknya. Mata yang selalu membuatnya percaya, meski hatinya berkata sebaliknya.

"Kalau kamu menanti, kenapa kamu tidak pernah mau menemaniku?" tanya Nadira lagi, kali ini dengan nada yang lebih tegas meski matanya sudah berkaca-kaca. "Sekali saja, Raka. Hanya sekali. Aku hanya ingin kamu ada di sana bersamaku."

Raka menggenggam tangan Nadira lebih erat. Ia menarik napas dalam.

"Jadwal kontrolmu selalu bertabrakan dengan kesibukanku," jawabnya dengan nada yang terdengar meyakinkan. "Kamu tahu sendiri pekerjaanku. Aku tidak bisa seenaknya meninggalkan kantor. Apalagi sekarang aku sudah jadi manajer. Tanggung jawabnya besar."

Nadira ingin percaya. Ia ingin sangat percaya.

Tapi ada sesuatu di dalam dadanya yang terus berbisik: "Dia berbohong. Dia tidak peduli."

"Maafkan aku," ucap Raka dengan suara lembut. Ia mengangkat tangan Nadira, menciumnya pelan, gerakan yang selalu sama setiap kali Raka menolaknya. "Aku tahu aku tidak bisa sering menemanimu. Tapi percayalah, saat kamu melahirkan nanti, aku pasti akan ada di sana. Aku janji."

Janji lagi.

Selalu janji.

Nadira menatap wajah Raka dengan tatapan lelah. Lelah secara fisik, lelah secara emosional. Ia sudah terlalu sering mendengar kata "janji" dari bibir pria itu. Dan terlalu sering pula janji itu tidak ditepati.

Tapi apa yang bisa ia lakukan?

Ia hanya mengangguk lemah. "Oke."

Raka tersenyum, senyuman yang tampak lega. Ia mengecup kening Nadira sekali lagi sebelum melepaskan tangannya dan kembali meraih ponselnya.

"Hati-hati di jalan, ya," ucapnya sambil kembali fokus pada layar ponsel. "Kalau ada apa-apa, telepon aku."

Nadira berdiri di sana beberapa detik lebih lama, menatap Raka yang sudah kembali asyik dengan dunianya sendiri. Dunia yang tidak pernah ada tempat untuknya.

Ia menarik napas pelan, lalu berbalik dan keluar dari kamar.

Nadira berjalan pelan menuju pintu depan apartemen. Tas kecilnya sudah tersampir di bahu, berisi buku kontrol kandungan, dompet, dan ponsel. Ia meraih kunci mobilnya dari gantungan kunci di dinding, lalu berhenti sejenak.

Ia menoleh ke belakang, ke arah kamar tidur tempat Raka berada.

Tidak ada suara. Tidak ada tanda bahwa Raka akan berubah pikiran dan mengantarnya.

Nadira menutup matanya sejenak, menarik napas dalam, lalu membuka pintu dan melangkah keluar.

Udara pagi menyapa wajahnya. Matahari sudah mulai naik, menyinari kompleks apartemen dengan cahaya hangatnya. Tapi kehangatan itu tidak cukup untuk melelehkan kebekuan di dadanya.

Ia berjalan perlahan menuju area parkir, setiap langkahnya terasa lebih berat dari biasanya. Perut besarnya membuat gerakannya canggung, dan sesekali ia harus berhenti untuk mengatur napas.

Sampai di mobilnya, sedan putih kecil yang sudah berusia lima tahun... Nadira membuka pintu dan masuk dengan hati-hati. Ia menyesuaikan posisi duduknya agar perutnya tidak tertekan kemudi, lalu memasang sabuk pengaman.

Tangannya diam di atas setir.

Ia menatap kosong ke depan, ke arah gedung apartemen di hadapannya.

Di salah satu jendela lantai sembilan ia tahu Raka sedang berada di sana. Mungkin masih berbaring. Mungkin masih dengan ponselnya.

Tidak memikirkan Nadira sama sekali.

Nadira merasakan matanya memanas lagi. Kali ini air mata itu jatuh...mengalir perlahan di pipinya tanpa suara.

Ia tidak terisak. Tidak menangis keras. Hanya membiarkan air mata itu jatuh begitu saja, seperti hujan deras yang jatuh dalam sunyi.

"Kenapa, ya?" bisiknya pelan pada dirinya sendiri. "Kenapa aku masih di sini?"

Tapi ia tahu jawabannya.

Karena ia mencintai Raka.

Karena ia masih percaya atau setidaknya mencoba untuk percaya bahwa pria itu akan berubah. Bahwa suatu hari nanti, Raka akan menikahi dia. Akan menjadi ayah yang baik. Akan mencintai mereka berdua.

Nadira mengusap air matanya dengan punggung tangan, lalu menyalakan mesin mobil.

Suara mesin yang menderu memecah keheningan pagi itu.

Ia memutar setir dan keluar dari area parkir, meninggalkan gedung apartemen, meninggalkan Raka yang bahkan tidak tahu, atau tidak peduli, bahwa Nadira sedang menangis.

Sepanjang perjalanan ke rumah sakit, Nadira mencoba menenangkan dirinya. Ia mengelap sisa air mata, merapikan wajahnya, bernapas dalam-dalam.

Ia tidak ingin dokter atau suster melihat dia dalam kondisi seperti ini.

Tapi semakin ia mencoba menenangkan diri, semakin jelas pertanyaan itu bergema di kepalanya:

"Apakah ini yang kamu inginkan, Nadira? Terus menunggu? Terus berharap?"

Ia tidak punya jawaban.

Atau mungkin ia punya, tapi terlalu takut untuk mengakuinya.

Mobil putih itu melaju perlahan di jalanan kota yang mulai ramai. Nadira menatap jalan dengan tatapan kosong, tangannya erat menggenggam setir.

Di dalam perut, bayinya bergerak. Menendang lembut, seperti memberikan pengingat bahwa ia tidak benar-benar sendirian.

Nadira menyentuh perutnya dengan satu tangan, mengusapnya lembut.

"Tidak apa-apa, sayang," bisiknya dengan suara serak. "Mama di sini. Mama akan selalu di sini."

Tapi pertanyaannya adalah: sampai kapan?

1
Nurhartiningsih
kaya Nadira mau saja.
Nurhartiningsih
jangan bodoh Nadira....jangan mau balikan sama cowok durjana
Nurhartiningsih
menyesal makan tuh penyesalan
Nurhartiningsih
bodoh
Elin
jujur menurutku cerita ini cerita yg paling sedih dari awal sampe akhir sampe aku ikut nangis saking menghayati ceritanya,dari segi cerita bagus tapi endingnya aku gak puas...di awal cerita aku kasian sama Dira karna cintanya sendirian,hargadirinya di injak2,di anggap LC gratisan,semua pengorbanannya sia2....,tp tapi di akhir cerita aku juga kasian sama Raka karna dia tau salah dan mau berubah,dia berjuang buat dapatin maaf dari dira,dia dah kerja keras buat dapat uang lebih selama Dira di rawat sampe dia sendiri gak lupa sama kesehatannya sendiri,dia bertahan di samping Dira meski dia diperlakukan orang asing,dia berusaha jalin komunikasi meski pada akhirnya didiamkan,dan menurutku 3thn cukup buat Raka di beri kesempatan kedua...tapi terserah Thor ajalah.
JiDHan Bolu Bakar
gitu doang...pasti ada lanjutannya, beberapa tahun kemudian....😄
Dew666
❤️‍🩹❤️‍🩹❤️‍🩹❤️‍🩹
mbuh
biarkan Raka menangis darah dlu. itu tak sbrpa skitnya KRNA pengkhianatan dan khlngan anak
Dew666
🪸🪸🪸🪸🪸
mbuh
la njuttttt
kalea rizuky
ujungnya balikan halah
Anonymous
Raka goblok
Denni Siahaan
bangun Nadira kasih kesempatan
Dew666
💥💥💥💥💥
Denni Siahaan
gak guna penyesalan mu Raka
Denni Siahaan
dasar Raka egois mau enaknya aja
Denni Siahaan
tingal kan Nadira jangan tolol
Soraya
yang nabrak Nadira kok gak ada kabarin
Soraya
mampir thor
Bunda SB: terima kasih kakak 🫰
total 1 replies
Dew666
🍎🍎🍎🍎🍎
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!