Xiao Chen kehilangan seluruh keluarganya akibat sebuah rumor tentang Buku Racun Legendaris yang sebenarnya tidak pernah ada. Keserakahan sekte-sekte besar dan para pendekar buta membuat darah tak bersalah tumpah tanpa ampun.
Dihantam amarah dan keputusasaan, Xiao Chen bersumpah membalas dendam. Ia menapaki jalan terlarang, memilih menjadi pendekar racun yang ditakuti dunia persilatan.
Jika dunia hancur karena buku racun yang tak pernah ada, maka Xiao Chen akan menciptakannya sendiri—sebuah kitab racun legendaris yang lahir dari kebencian, kematian, dan dendam abadi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16: Tempaan Empedu
Xiao Chen membawa Ling jauh dari kebisingan Kota Pasir Besi, menuju ke arah barat di mana Hutan Kerangka Merah berada.
Hutan itu disebut demikian karena pepohonannya memiliki batang merah darah tanpa daun, dan tanahnya mengandung uap sulfur yang mematikan.
Bagi orang biasa, ini adalah kuburan massal; bagi Xiao Chen, ini adalah taman bermain yang sempurna untuk melatih murid barunya.
Ling berjalan di belakang Xiao Chen dengan langkah yang masih goyah. Meski tubuhnya lemah, sorot matanya yang kuning mencerminkan tekad yang tidak goyah.
"Duduklah," perintah Xiao Chen saat mereka mencapai sebuah mata air berwarna hijau neon di tengah hutan.
Ling segera duduk bersila. Xiao Chen berdiri di depannya, menatap gadis itu dengan dingin. "Tubuhmu adalah berkah sekaligus kutukan. Sembilan Racun Alami dalam darahmu saat ini sedang berperang satu sama lain, itulah sebabnya kau kesakitan. Jika kau tidak belajar mengendalikannya, kau akan meledak sebelum usia enam belas tahun."
"Aku tidak takut mati, Guru," jawab Ling datar. "Aku hanya takut mati sebelum bisa membalas mereka."
Xiao Chen sedikit menyeringai. "Bagus. Karena latihanmu akan lebih menyakitkan daripada kematian."
Xiao Chen menjentikkan jarinya, dan dari kantong dimensinya, ia mengeluarkan tiga jenis kalajengking pasir raksasa yang masih hidup. Ia melemparkannya tepat ke pangkuan Ling.
"Biarkan mereka menyengatmu. Jangan gunakan Qi, jangan berteriak. Gunakan kesadaranmu untuk menarik racun mereka masuk ke dalam sumsum tulangmu, bukan ke aliran darahmu." perintah Xiao Chen.
Ling membelalak saat kalajengking-kalajengking itu mulai menancapkan ekor mereka ke lengannya yang kurus. Wajahnya membiru, tubuhnya mengejang hebat, namun ia menggigit bibirnya hingga berdarah agar tidak mengeluarkan suara.
Xiao Chen mengawasi dengan teliti. Ia tidak hanya diam; tangannya bergerak lincah di udara, mengalirkan sedikit demi sedikit energi ungu miliknya untuk membimbing racun-racun asing itu di dalam tubuh Ling agar tidak langsung menghancurkan jantungnya. Inilah metode "Pembersihan Sumsum Beracun" yang pernah ia gunakan pada dirinya sendiri sepuluh tahun lalu.
Di tengah proses yang menyiksa itu, ketenangan hutan tiba-tiba terganggu. Suara kepakan sayap besar terdengar dari langit, diikuti oleh mendaratnya sebuah botol keramik raksasa yang dipacu oleh energi api.
Tiga orang pria mengenakan jubah putih dengan bordiran kuali emas turun dari botol tersebut. Mereka adalah murid dari Sekte Alkimia Matahari Terbenam, faksi paling berpengaruh di Kekaisaran Wan yang memonopoli peredaran obat dan racun.
"Heh, apa yang kita temukan di sini?" salah satu dari mereka, seorang pemuda dengan wajah sombong bernama Hu Feng, mendekat. "Seorang pengembara dan budak yang sedang bereksperimen? Tunggu... bukankah itu gadis dengan Tubuh Terkutuk yang hilang dari pasar?"
Hu Feng menatap Ling dengan mata penuh ketamakan. "Gadis itu adalah bahan obat yang langka! Serahkan dia pada kami, dan kau mungkin bisa pergi dari sini dengan nyawa utuh."
Xiao Chen bahkan tidak menoleh. Ia masih fokus mengarahkan energi di tubuh Ling. "Kalian mengganggu waktu belajarnya. Pergilah jika masih ingin melihat matahari besok."
"Berani sekali kau!" Hu Feng menghunus sebuah kipas yang bisa menyemburkan api alkimia. "Di Kekaisaran Wan, tidak ada yang berani menentang Sekte Matahari Terbenam! Tangkap mereka!"
Dua murid lainnya melesat maju. Namun, tepat saat mereka berada dalam jarak lima meter, Xiao Chen hanya mengibaskan lengan baju kirinya.
Syuuu—
Sebuah kabut ungu tipis keluar, begitu halus hingga hampir tak terlihat. Kedua murid itu tiba-tiba berhenti di tengah jalan.
Kulit mereka berubah menjadi warna abu-abu dalam hitungan detik, dan saat mereka mencoba bicara, hanya debu yang keluar dari mulut mereka. Tubuh mereka hancur menjadi tumpukan abu sebelum sempat menyentuh tanah.
Hu Feng membelalak, wajahnya yang sombong kini pucat pasi. "K-kau... teknik macam apa itu?! Kau bukan pendekar biasa!"
Xiao Chen akhirnya berdiri, berbalik menatap Hu Feng. Tekanan Ranah Raja Roh miliknya dilepaskan hanya sedikit, namun itu cukup untuk membuat tanah di bawah kaki Hu Feng retak dan pohon-pohon merah di sekitarnya layu seketika.
"Aku adalah orang yang baru saja membuat sekte-mu kehilangan dua muridnya," ucap Xiao Chen. "Dan jika kau tidak segera lari untuk memberitahu gurumu bahwa Legenda Pendekar Racun telah tiba di tanah ini, kau akan menjadi tumpukan abu ketiga."
Hu Feng gemetar hebat. Ia tidak bodoh; ia tahu ia sedang berhadapan dengan monster. Tanpa sepatah kata pun, ia melompat kembali ke botol keramiknya dan memacu energinya sekuat tenaga untuk kabur.
Xiao Chen kembali menatap Ling. Gadis itu rupanya telah berhasil menyerap racun kalajengking tersebut. Kulitnya kini tampak lebih sehat, meski masih pucat, dan ada kilatan ungu di mata kuningnya.
"Kau melihat itu, Ling?" tanya Xiao Chen.
"Ya, Guru. Mereka lemah karena terlalu mengandalkan api dan alat." jawab Ling, suaranya kini memiliki kekuatan baru.
"Benar. Alkimia mereka adalah teknik meminjam kekuatan luar. Racun kita adalah kekuatan dari dalam. Ingatlah hari ini, karena sebentar lagi, seluruh Kekaisaran Wan akan memburu kita, dan saat itulah latihanmu yang sesungguhnya dimulai."
Xiao Chen mengambil sebuah tanaman merah dari tanah yang layu—sebuah Bunga Darah Kerangka yang bermutasi karena terkena energinya. Ia menyerahkannya pada Ling. "Makan ini. Kita akan menuju ibukota. Aku mendengar ada seekor Naga Komodo Beracun yang bersemayam di bawah istana mereka. Itu akan menjadi santapan yang bagus untuk Bai."
Silat Nusantara • Kultivasi • Dunia Purba • Dimensi
MC tidak naif.
Kekuatan dibangun dari raga, napas, dan kehendak.
👉 Jika suka progres nyata & cerita panjang,
jangan lupa favorit & komentar.