alia, gadis malang. kehidupannya yang menyakitkan setelah ibu tiri menjualnya, hamil tanpa suami di sisinya, kehilangan satu-satunya keluarga yang dimilikinya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ewie_srt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
tiga puluh tiga
"Aku ingin mengajakmu menemui kedua orangtuaku alia, aku ingin mengenalkan kamu kepada mereka"
Bara mengucapkannya dengan hati-hati, tatapan matanya memohon. Alia terhenyak mendengar permintaan bara yang sangat tiba-tiba dan tanpa basa basi. Kedua matanya menatap bara kasihan, alia tahu rasa di hati bara untuknya tulus.
Tapi ia sama sekali tidak punya keberanian untuk menerima rasa itu, Bara dan langit bersaudara, bagaimana bisa ia menerima perasaan bara.
"Maaf pak, sa—"
"Tolong jangan panggil saya bapak, Alia" potong bara cepat, netranya masih menatap alia begitu dalam.
"Hhhhhhh"
Hembusan nafas yang keluar dari mulut alia terdengar berat, kedua bola matanya menelisik, mengamati bara yang terlihat begitu berharap.
"Saya tidak bisa begitu pak, anda atasan saya, rasa hormat saya melarangnya"
"Tapi alia, sa—"
"Pak bara.." alia menyela ucapan bara cepat, ia menegakkan tubuhnya, tatapan mata alia berubah lebih serius.
"Maafkan saya, kalau selama ini saya seperti memberikan harapan palsu, saya tidak bisa menerima perasaan bapak, bukan saja karena bapak terlalu baik untuk saya, tapi ada sesuatu alasan yang membuat saya tidak boleh menerima perasaan bapak, alasan itu membuat kita tidak akan mungkin bisa lebih dari ini"
"Apa maksudmu?" Mata bara memicing, kerutan keningnya pun terlihat sangat penasaran.
"Tunggu..." potong bara cepat, ketika melihat alia akan bicara.
"Kamu menolakku bukan karena kamu memiliki seseorang di hati kamukan?"
Alia menggeleng cepat,
"Saya tidak memiliki keinginan sedikit pun untuk itu pak bara, hidup saya terlalu ribet hanya untuk memikirkan masalah percintaan"
Wajah bara memerah, jawaban alia seakan mencubit hatinya.
"Aku benar-benar menyukaimu alia, tidak ada sedikitpun niat dihatiku ingin mempermainkanmu, aku bersedia menjadi ayah yang baik untuk putramu"
"Saya tahu pak, saya tahu ketulusan bapak kepada saya dan luka, tapi saya tidak boleh menerima perasaan bapak" tutur alia lugas dan tenang.
"Tidak boleh?" Mata bara kembali memicing penasaran,
"Apa maksudmu tidak boleh?"
Alia menatap mata bara yang terlihat penasaran, pria itu menuntut jawaban dari tatapan tajamnya itu.
Alia terdiam, ia tertegun, jingga sedang mempertimbangkan, apakah ia harus mengatakan yang sebenarnya atau tidak. Namun akhirnya kalimat itu meluncur dari mulut alia.
"Hhhhhhh, karena langit, pak bara" hembusan nafas alia terdengar berat, namun lega.
Mata bara membola sempurna, pria di hadapan alia itu terlihat tidak begitu terkejut, namun senyum yang timbul di bibir pria itu terlihat sinis.
"Sudah aku duga, ternyata memang karena pria lain" gumam bara lirih.
"Pak bara salah paham, sa—"
"Aku tahu alia, kalau diantara kalian berdua ada sesuatu, tapi aku tidak menyangka sama sekali kalau ternyata kamu juga menyukai langit..." bara menyela ucapan alia, mata pria itu terlihat sendu.
"Pak bara salah paham pak"
Alia menggelengkan kepalanya.
"Ini bukan seperti yang ada dalam pikiran bapak"
Bara murung, namun ucapan alia barusan mengundang rasa penasaran di hatinya. Pria itu menatap alia lekat, ada tanya di mata elangnya itu.
"Langit itu.., langit adalah..ayah luka"
Bara terperangah, kedua matanya membola tak percaya, bara tidak mempercayai pendengarannya.
Ucapan alia barusan sangat mengejutkannya, jauh lebih mengejutkan baginya dibandingkan jika saat ini ada berita tentang pendaratan alien di bumi. Wajah tampan dan teduh miliknya kebingungan dan penasaran, ia masih menatap alia dengan sorot kebingungan.
"Apakah..apakah aku tidak salah dengar, alia?"
"Tidak pak bara, maaf" geleng alia sendu,
"Langit, adalah ayah biologis luka. Langit ayah kandung luka"
Wajah bara memias, terhenyak pria itu menghempaskan tubuhnya kesandaran tempat duduk. Tatapan matanya masih terlihat tidak percaya.
"Itu..itu..bukan alasan kamu saja, untuk menolakku kan?" Bola matanya masih terlihat syok, bibirnya sampai bergetar. Pria itu meremas jarinya yang saling tergenggam.
"Maaf pak bara" pinta alia lirih, matanya menatap iba ke arah pria baik yang masih kelihatan syok berat itu.
Mereka terdiam cukup lama, alia tidak ingin bersuara, tidak ingin menganggu pria di hadapannya itu, yang masih termenung dengan wajah kebingungannya.
"Tapi.., tapi.. mengapa selama ini...., arghhhhhh"
Bara mengerang geram, meremasi rambutnya frustasi, ia bingung tak tahu mau bertanya apa. Mata beningnya menatap alia, mata itu terlihat terluka.
"Kenapa kamu baru cerita sekarang alia?"
"Mengapa, aku tidak tahu sama sekali tentang kamu, langit dan luka" keluhnya sedih, wajah tampannya terlihat sangat frustasi. Bara masih meremasi rambutnya, wajahnya terlihat sangat kalut dan terluka.
Alia terenyuh melihat kesedihan di wajah bara, pria itu terlihat begitu terpukul, alia kehabisan kata untuk menenangkan pria di hadapannya itu.
Mata bara memerah, hatinya sangat terluka. Banyak hal yang ingin ia tanyakan, namun tak ada satupun yang keluar dari bibirnya yang kelu.
"Maafkan saya pak bara, saya tahu bapak pasti terluka mendengarnya" lirih suara alia menyadarkan bara yang tertegun, gerakan tubuh bara, tarikan nafasnya, terlihat begitu risau.
"Bolehkah aku tahu, bagaimana kisah kamu dan langit?" Tanya bara lirih, hatinya perih.
Ia tahu jawaban alia pasti akan sangat menyakiti hatinya, tapi bagaimanapun ia harus tahu. Ia harus tahu bagaimana bisa mereka memiliki luka di antara mereka.
"Apakah, dulu kamu dan langit berpacaran?"
Alia menggeleng sendu, ada duka yang harus ia ingat. Ada trauma yang harus ia ceritakan. Alia sebenarnya enggan, tapi pria dihadapannya ini harus tahu, agar tidak tercipta kesalah pahaman di antara mereka.
"Langit.., ia memperk*s*ku..!" Tergagap alia menceritakan luka yang sangat ingin ia pendam selamanya. Kepalanya menunduk dalam, ada yang terasa pedih di dalam dadanya.
"Apaaa....?" Suara bara tercekat di tenggorokannya, matanya menatap nyalang alia yang terkejut mendongak.
"Alia!, kamu serius?" Mata itu menghunjam tajam ke lubuk hati alia, alia mengangguk pilu, tanpa ia sadari air matanya jatuh tanpa suara.
"Kurang ajar.." teriak bara menghantam meja dengan tinjunya yang terkepal, wajahnya menegang merah.
Ada amarah yang tak terkata dari kedua matanya yang menatap nyalang. Alia terkejut, reaksi bara sungguh membuatnya terperangah. Pria di hadapannya itu sangat marah.
"Aku harus bertanya kepada langit, aku harus menghajar pria bangsat itu" gemeretak suara gigi bara yang beradu, tubuhnya yang menghentak berdiri, menunjukkan bahwa pria itu sangat, sangat marah.
Bara melangkah tegas, berjalan dengan langkah panjangnya. Alia berlari mengejar bara yang terlihat begitu marah, ada rasa takut menguasai hatinya saat ini, sungguh ia tak ingin terjadi sesuatu antara 2 orang bersaudara ini, Ia tak ingin menjadi penyebab hubungan persaudaraan antara 2 pria ini rusak.
"Pak bara.."
Alia mencekal lengan bara, nafasnya memburu tak beraturan, dada alia naik turun, kembang kempis.
"Lepaskan aku alia, aku harus memberi pelajaran kepada pria brengsek itu" tuturnya dingin, ia berusaha melepaskan cekalan tangan alia di pergelangan tangannya.
"Pak..., istighfar, sabar" ujar alia mengingatkan, tangannya masih tetap mencekal lengan bara yang masih berusaha melepaskan tangan alia.
Mata merah bara menatap alia tak percaya,
"Kamu masih memintaku sabar?"
"Alia.., kamu waras?" Pertanyaan Bara yang cukup tajam tak menyurutkan keberanian alia, ia tetap mencekal erat tangan pria yang sedang di amuk amarah itu.
"Ingat pak, langit itu adik pak bara" alia mencoba mengingatkan, dengusan kasar terdengar dari bibir bara yang tersenyum sinis, wajahnya melengos jengah.
"Hanya adik tiri.."
Alia terkejut, mengamati wajah pria yang biasanya tenang itu, namun saat ini terlihat sedang dilanda emosi berat.
"Tiri?, langit saudara tiri pak bara?" Bara menoleh kembali, wajahnya masih terlihat kelam. Ada api di pancaran matanya yang merah.
"Lepaskan aku alia, aku harus memberikan pelajaran untuk langit"
"Jangan pak.." geleng alia tak setuju, tangannya semakin erat mencengkeram.
"Kalaupun bapak begitu marah padanya, paling tidak ingat putra saya pak, langit itu ayahnya luka"
Tubuh bara mengendur, bahunya luruh. Ia merasa bagai di hempaskan dari ketinggian. Tiba-tiba tubuhnya bergetar, matanya menatap alia pilu, ada setitik air bening di sudut matanya yang sedih.
Jari-jarinya yang mengepal tadi perlahan membuka, alia merasa bersalah, hatinya sungguh merasakan sakit yang bara rasakan saat ini. Dengan rasa bersalah yang luar biasa, alia meraih kedua tangan bara dan menggenggamnya erat.
"Maafkan aku pak bara," pinta alia memohon. Mata bening bara melihat alia, tidak ada suara tidak ada kata. Hanya ada luka, hanya ada air mata yang tertahan.
Bersambung...