NovelToon NovelToon
MAS KADES, I LOVE YOU

MAS KADES, I LOVE YOU

Status: tamat
Genre:Romansa pedesaan / Cintamanis / Menyembunyikan Identitas / Budidaya dan Peningkatan / Chicklit / Tamat
Popularitas:664.5k
Nilai: 5
Nama Author: Mama Mia

ccerita ini hanyalah fiksi . jika ada kesamaan nama, tempat , Desa ataupun kota itu hanyalah kebetulan Semata.

Amelia, putri seorang konglomerat, memilih mengikuti kata hatinya dengan menekuni pertanian, hal yang sangat ditentang sang ayah.

Penolakan Amelia terhadap perjodohan yang diatur ayahnya memicu kemarahan sang ayah hingga menantangnya untuk hidup mandiri tanpa embel-embel kekayaan keluarga.

Amelia menerima tantangan itu dan memilih meninggalkan gemerlap dunia mewahnya. Terlunta-lunta tanpa arah, Amelia akhirnya mencari perlindungan pada mantan pengasuhnya di sebuah desa.

Di tengah kesederhanaan desa, Amelia menemukan cinta pada seorang pemuda yang menjadi kepala desa. Namun, kebahagiaannya terancam karena keluarga sang kepala desa yang menganggapnya rendah karena mengira dirinya hanya anak seorang pembantu.

Bagaimanakah Amelia menyikapi semua itu?
Ataukah dia akhirnya melepas impian untuk bersama sang kekasih?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

15. Hinaan ibunya Raka

.

“Ini…?”

Mata Amelia terbelalak melihat sesuatu yang jatuh dari lipatan selendang tersebut. Gadis itu membungkukkan badan, kemudian mengambilnya.

Jantung Amelia berdebar kencang saat melihat benda yang ada di tangannya. Sebuah kartu hitam berwarna hitam pekat dengan logo sebuah bank internasional yang sangat terkenal. Ia tahu, kartu hitam itu milik mamanya.

Amelia membolak-balik kartu ATM itu dengan bingung. Bagaimana bisa kartu ATM ini ada di dalam selendangnya? Bukankah mamanya selalu menyimpan kartu ATM ini di dalam dompetnya? Dan tak hanya kartu hitam tapi juga beberapa perhiasan lengkap dengan surat-suratnya.

Tiba-tiba, Amelia teringat sesuatu. Ia teringat saat mamanya memberikan selendang ini kepadanya sebelum ia pergi dari rumah. Saat itu, mamanya sendiri yang memasukkan selendang itu ke dalam kopernya.

Namun, Amelia tidak tahu, mamanya menyembunyikan kartu ATM ini di dalam selendangnya. Amelia menduga, mamanya sengaja melakukan itu agar ia bisa memiliki uang untuk bertahan hidup setelah keluar dari rumah Bramasta.

Air mata Amelia menetes membasahi pipinya. Ia terharu dengan perhatian dan kasih sayang mamanya. Ia tahu, mamanya sangat menyayanginya.

Amelia menggenggam kartu hitam itu erat-erat. Ia berjanji tidak akan menggunakan kartu itu kecuali dalam keadaan benar-benar terdesak.

Amelia mengusap air matanya dan menarik napas dalam-dalam. Ia mencoba menenangkan dirinya. Ia tidak ingin Bu Sukma melihatnya bersedih.

Setelah merasa tenang, Amelia mengenakan selendang itu di kepalanya. Ia kemudian keluar dari kamarnya dan menghampiri Bu Sukma yang sudah menunggunya di ruang tamu.

"Udah siap, Neng?" tanya Bu Sukma, sambil tersenyum.

Amelia mengangguk. "Udah Bu," jawab Amelia, dengan senyum yang dipaksakan.

"Ya udah, ayo kita berangkat," ajak Bu Sukma yang tidak menyadari perubahan raut wajah Amelia.

Amelia dan Bu Sukma berjalan keluar rumah setelah berpamitan pada Pak Marzuki. Mereka berdua menuju ke rumah orang tua Raka yang terletak tidak jauh dari rumah Bu Sukma.

Sepanjang perjalanan, Amelia terus memikirkan tentang kartu ATM yang diberikan oleh mamanya.

Ia tahu, mamanya pasti sangat khawatir tentang dirinya. Ia ingin segera menghubungi mamanya dan mengucapkan terima kasih setelah pulang dari rumah Raka, nanti.

.

Ketika Bu Sukma dan Amelia tiba di rumah Pak Wiranto, orang tua Raka, suasana sudah sangat ramai. Baru kali ini Amelia melihat ada tradisi semacam itu.

Amelia memandangi rumah itu. Rumah yang begitu besar, paling besar di antara para tetangga desa, walaupun tentu saja masih jauh dibandingkan rumah keluarga Bramasta.

Di rumah bagian depan, para tamu laki-laki sedang berkumpul duduk dengan posisi melingkar.

Bu Sukma mengajak Amelia menuju rumah bagian belakang lewat pintu dapur yang ada di samping rumah.

Di dalam sudah banyak para tamu wanita, ibu-ibu tetangga desa. Bu Sukma mengajak Amelia untuk menghampiri Bu Sundari, ibu dari Raka. Bu Sukma mengulurkan tangan bersalaman mengucapkan selamat atas kemenangan Raka, kemudian menyuruh Amelia untuk melakukan hal yang sama.

Amelia mengikuti apa yang disuruh oleh Bu Sukma. Namun, gadis itu merasakan tanggapan ibu dari Raka yang sama sekali tidak ramah.

"Oh, ini yang namanya Amelia?" tanya Bu Sundari dengan suaranya yang terdengar sinis penuh ejekan.

Amelia menoleh ke arah Bu Sukma sambil mengerutkan kening. Ia tidak mengerti apa maksud dari Bu Sundari.

"Kamu keponakannya Bu Sukma, yang katanya kerja jadi pembantu di kota itu kan?" tanya Bu Sundari dengan menekankan kata "pembantu". Suaranya seolah sengaja dibuat keras agar semua orang mendengar.

Amelia terkejut mendengar ucapan Bu Sundari. Begitu pula para ibu-ibu tetangga yang ada di sana yang sontak menoleh ke arah mereka. Amelia mengepalkan tangannya erat mencoba menahan emosi. Seumur hidup baru kali ini dirinya dihina. Namun, kali ini dirinya sadar inilah salah satu konsekuensi jika dirinya hidup tanpa nama besar Bramasta.

Bu Sukma juga merasa tidak kesal dengan ucapan Bu Sundari. Apalagi ketika menyadari ruangan yang tadinya begitu riuh dengan celotehan para ibu-ibu mendadak menjadi sunyi dan hanya terdengar saling berbisik.

"Bu Sundari, apa maksud ibu berbicara seperti itu," tanya Bu Sukma, dengan nada pelan.

"Ya tidak ada maksud apa-apa," balas Bu Sundari, dengan nada sinis. Kedua tangannya bersedekap di depan dada,

“Saya kan cuma bilang keponakanmu ini hanya seorang pembantu. Memangnya ada yang salah?" lanjut Bu Sundari, matanya menatap sinis ke arah Amelia dengan dagu terangkat tinggi.

Amelia mengatupkan rahang yang mencoba untuk tidak meledak. Jika saja wanita di hadapannya ini bukanlah ibunya Raka, atau jika saja di sini sedang tidak banyak orang, mungkin Amelia tak akan segan untuk menjawab.

Bu Sukma yang tidak terima dengan perkataan Bu Sundari ingin kembali menjawab, tetapi Amelia menggenggam tangan wanita itu erat.

"Sudah, Bu," ucap Amelia, dengan nada pelan. "Nggak apa-apa." Amelia menggelengkan kepala dan menatap teduh wajah Bu Sukma. Amelia mencoba untuk tersenyum agar Bu Sukma tidak terbawa emosi.

“Kita pulang saja ya? Sepertinya kehadiran kita tidak diterima di sini," ucap Amelia lalu kembali menatap ke arah Bu Sundari. "Kami permisi, Nyonya. Selamat atas keberhasilan putra Anda." Gadis yang bahkan menekankan kata nyonya.

Amelia menggandeng tangan Bu Sukma dan mengajaknya keluar dari rumah besar itu. Ia tidak ingin berlama-lama berada di tempat yang tidak menerimanya.

*

Sesampainya mereka di rumah, Bu Sukma menghempaskan tubuhnya dengan kesal di atas kursi di mana Pak Marzuki sedang menonton televisi di sana.

"Ada apa to, Bu? Kok pulang-pulang wajahnya ditekuk begitu?” tanya Pak Marzuki dengan kening berkerut.

Bu Sukma pun kemudian menceritakan apa yang terjadi di rumah Pak Wiranto.

*

Di sisi lain, Bu Sundari memang sudah beberapa waktu ini mendengar desas-desus tentang Raka yang dekat dengan keponakan Bu Sukma. Bu Sundari mencari tahu dari beberapa tetangga dan mendapatkan informasi bahwa keponakan Bu Sukma yang bernama Amelia itu hanyalah seorang gadis yang pernah bekerja sebagai pembantu rumah tangga di kota.

Bu Sundari sangat tidak suka Amelia dekat dengan Raka, karena Bu Sundari merasa bahwa Amelia yang seorang mantan pembantu itu pasti sengaja mendekati Raka karena melihat Raka sebagai pemuda yang berasal dari keluarga kaya raya. Bu Sundari merasa Amelia sama sekali tidak cocok dengan anaknya.

“Hanya seorang mantan pembantu, berani-beraninya ingin panjat sosial,” gumamnya dengan suara yang masih didengar oleh para tamu yang ada di sana.

Bu Sundari memiliki rencana lain untuk Raka. Ia ingin menjodohkan Raka dengan anak dari seorang saudagar beras yang kekayaannya sama dengan keluarga Wiranto. Dengan menikahi anak saudagar beras itu, Raka akan semakin sukses dan keluarganya akan semakin kaya.

Apalagi keluarga saudagar beras itu juga terpandang dan memiliki pengaruh yang besar di desa tersebut. Ditambah dengan Safitri, putri dari saudagar beras itu yang saat ini juga menjabat sebagai perangkat desa, sehingga pernikahan ini akan semakin memperkuat posisi mereka di mata masyarakat.

Karena itulah, Bu Sundari sengaja mempermalukan Amelia di depan para tamu agar Amelia merasa minder dan menjauhi Raka. Ia ingin Amelia merasa tidak pantas untuk bersanding dengan Raka.

Bu Sundari tersenyum sinis dan puas dengan apa yang telah ia lakukan. Setelah ini, pasti Amelia tidak akan berani lagi mendekati Raka.

Namun, Bu Sundari tidak tahu, apa yang telah ia lakukan justru akan membuat posisinya sebagai Nyonya di rumah keluarga Wiranto berada dalam masalah.

1
Lita Pujiastuti
jane pengin ngguyu lihat sikap papanya yg sok cuek... 😁
Lita Pujiastuti
pasti itu suruhan alexander yg ditugasi utk mengawasi dan menjaga amelia selama ini
Lita Pujiastuti
Aduh piye ki ngko Amel.... senoga orang² suruhan papanya trs mengawasi shg Amel aman
Lita Pujiastuti
Haduh .. bu Sund jd ruwet hidupnya...
Lita Pujiastuti
Raka khawatir berat iki
Lita Pujiastuti
Kenapa hatiku ikut merasa adem tinggal di rumah bu Sulma dan pak Marzuki ya.. di sebuah desa yg tenang , sejuk ..
Lita Pujiastuti
segera sah ini . 😊
Lita Pujiastuti
Drama lagi.... dasar safitrut...
Lita Pujiastuti
sopo wi sing telpon sund.. el..
May Maya
Thor keong sawah itu bisa d konsumsi kan ya? soalnya dulu aku kecil suka makan keong sawah 🤭 bukan bekecot alias keong racun loh
✍️⃞⃟𝑹𝑨 Mama Mia: bekicot juga bisa dikonsumsi. tp pengolahan nya lebih mudah keong sawah. karena keong sawah tidak berlendir. nyucinya lebih cepat
total 2 replies
panjul man09
disini sundari merusak cerita sikapnya tdk masuk akal sangat tdk natural , masih menganggap dirinya penting padahal hanya ibu tiri yg tdk di anggap sama sekali tdk ada alasan untuk berpikiran jahat , author perbaiki perannya biar tau dirilah
panjul man09
perhatikan penggunaan kalimat banyak yg kedengaran janggal kalo dibaca , gunakan kalimat yg biasa di pake sehari hari
✍️⃞⃟𝑹𝑨 Mama Mia: akan saya perhatikan kak. terima kasih atas masukannya 🙏
total 1 replies
Lita Pujiastuti
siip...
Lita Pujiastuti
Cinta gk bisa dipaksa Safitri, semakin kamu nekat, semakin kamu akan malu nantinya.... sdhlah...
Lita Pujiastuti
lanjut
Lita Pujiastuti
Keluarga Sundari itu benalu ya...
Lita Pujiastuti
nikah yuuukk... 😊
Lita Pujiastuti
pasti papanya Amelia yg telepon. waduh... berarti sdh ketahuan dong, kalau amelia berada di rmh bu Sukma...
Lita Pujiastuti
Thor.. waduk apa sungai . kok terdebgar genericik suara air .. 😊
✍️⃞⃟𝑹𝑨 Mama Mia: eh iya... kalo waduk itu gak gemericik ya ha ha. .. duh jadi malu. maklum Emak gak pernah ke waduk 🤭🤭
total 1 replies
Lita Pujiastuti
Safitri sama bu Sundel.. nanti ngamuk lhoooo... 😀
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!