Semua orang mengenal Genta sebagai Presma (Presiden Mahasiswa) yang berwibawa. Tapi hanya Rara yang tahu kalau kakinya lemas setiap kali harus berpidato.
Berawal dari rahasia di balik panggung, Rara terjebak dalam kesepakatan rumit: Menjadi "support system" mental sang idola kampus secara offline, sambil menjaga rahasia bahwa sang pangeran es sebenarnya adalah Paladin manja yang ia kenal di dunia maya.
Satu hal yang Genta pelajari: Berakting cool itu mudah, tapi menyembunyikan detak jantung di depan Rara itu mustahil.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leel K, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Notifikasi Tengah Malam
Pukul dua pagi di Jakarta biasanya hanya menyisakan deru mesin kendaraan dari kejauhan atau gonggongan anjing liar yang bersahutan di gang-gang sempit. Namun, di dalam kamar kos berukuran tiga kali tiga meter itu, atmosfernya jauh dari kata tenang.
Satu-satunya sumber cahaya berasal dari monitor lengkung dua puluh tujuh inci yang memancarkan pendar biru pucat\, menyinari wajah lelah seorang gadis yang duduk membeku di depan meja. Rara\, yang lebih dikenal sebagai ‘Rara_The_Healer’ di jagat Fantasy World, sedang berada di puncak ketegangan hidup dan mati, secara virtual.
Kamar itu mencerminkan kekacauan pikirannya. Tumpukan buku diktat Komunikasi Massa tergeletak tak berdaya di sudut meja, tertutup oleh kabel headset yang melilit dan tiga kaleng kopi instan yang sudah kosong sejak tiga jam lalu. Aroma sisa mi instan cup yang sudah mendingin bercampur dengan udara lembap dari kipas angin kecil yang berputar malas di sudut ruangan. Namun, bagi Rara, realitas fisiknya tidak lagi penting. Fokusnya tersedot sepenuhnya ke dalam layar, di mana partikel-partikel cahaya sihir berterbangan di tengah kepulan asap hitam.
"Tahan! Sedikit lagi!" gumam Rara dengan suara parau. Bibirnya yang kering digigit kuat-kuat.
Di layar, sesosok naga raksasa bernama Obsidian Scale baru saja mengibaskan ekornya yang berduri. Debu virtual beterbangan, menutupi pandangan. Rara melihat bilah nyawa (HP bar) rekannya, Paladin_Z, berkedip merah terang. Hanya tersisa kurang dari lima persen. Satu sentuhan ringan saja dari sang naga, dan seluruh perjuangan mereka selama dua jam terakhir akan sia-sia.
Jari-jari Rara menari di atas keyboard mekanik dengan kecepatan yang mengerikan. Suara klik-klik-klik yang repetitif dan keras memenuhi kesunyian malam, menciptakan ritme yang sinkron dengan detak jantungnya yang memompa kencang. Jari telunjuknya menekan tombol W, A, S, D secara bergantian untuk menghindari area serangan api, sementara jari kelinking dan manisnya bersiap di atas tombol angka 1 sampai 4.
"Paladin, menjauh dari zona merah!" serunya di depan mikrofon, meski dia tahu pria di seberang sana mungkin tidak menggunakan fitur suara malam ini.
Tangan Rara gemetar tipis saat dia menekan kombinasi Shift + R. Karakter penyihirnya, seorang gadis peri dengan jubah putih yang berkibar, mengangkat tongkat kristal tinggi-tinggi. Cahaya emas murni memancar, menyelimuti zirah perak Paladin_Z tepat saat cakar naga itu akan menghujam.
Divine Intervention. Skill terkuat dengan cooldown lima menit.
"Dapet!" teriak Rara tertahan. Dia melihat nyawa Paladin kembali terisi setengah, memberikan cukup waktu bagi pria itu untuk melancarkan serangan terakhir.
Paladin_Z tidak menyia-nyiakan kesempatan. Karakter dengan armor berat itu melompat tinggi, pedang besarnya berpendar cahaya biru elektrik. Dengan satu tebasan vertikal yang membelah layar, kepala sang naga terhempas ke tanah. Layar bergetar hebat seolah-olah guncangan itu nyata hingga ke meja Rara. Tulisan emas raksasa muncul memenuhi layar: BOSS DEFEATED.
Rara menyandarkan punggungnya ke kursi kayu yang keras, mengeluarkan napas panjang yang sejak tadi tertahan di tenggorokan. Bahunya yang tegang perlahan melunak. Dia melepaskan headset-nya, membiarkannya tergantung di leher, dan menikmati kesunyian nyata yang tiba-tiba terasa sangat asing setelah kebisingan pertempuran tadi.
***
Beberapa menit setelah menjarah loot langka dari sang naga, kedua karakter mereka berjalan menuju sebuah area tersembunyi yang disebut Silver Stream. Di sana, air sungai mengalir dengan efek cahaya rembulan virtual yang sangat tenang. Tidak ada monster, tidak ada pemain lain. Hanya mereka berdua.
Sebuah kotak dialog muncul di pojok kiri bawah.
**Paladin_Z:**Heal yang luar biasa, Ra. Kalau kamu telat sedetik aja, aku sudah jadi abu.
Rara tersenyum kecil. Dia menarik kaleng kopi terakhir, menyadari hanya ada sisa seteguk yang sudah pahit. Dia mulai mengetik.
**Rara_The_Healer:**Kamu yang terlalu nekat. Aku hampir serangan jantung liat darahmu kedip-kedip kayak lampu disko. Kenapa sih malam ini? Kamu mainnya nggak tenang banget.
Ada jeda yang cukup lama. Indikator "typing..." muncul dan menghilang beberapa kali, menandakan lawan bicaranya sedang ragu-ragu. Rara menatap kursor yang berkedip di layar, merasa ada sesuatu yang tidak beres. Paladin_Z biasanya adalah pemain yang paling tenang dan penuh perhitungan yang pernah dia kenal dalam dua tahun bermain game ini.
**Paladin_Z:**Maaf. Pikiranku lagi nggak di game. Besok... aku harus pidato di depan ribuan orang.
**Paladin_Z:**Rasanya aneh, kan? Di sini aku bisa lawan naga tanpa takut, tapi di dunia nyata, cuma berdiri di depan podium aja rasanya kayak mau mati.
Rara tertegun. Ini adalah pertama kalinya Paladin_Z bicara sedalam ini tentang kehidupan pribadinya. Selama ini, mereka hanya rekan seperjuangan yang membicarakan strategi, drop item, atau perkembangan update game. Rara selalu membayangkan Paladin_Z adalah pria dewasa yang tangguh, mungkin seorang tentara atau atlet yang hobi bermain game di waktu senggangnya. Namun, pengakuan barusan menunjukkan sisi yang sangat rapuh.
"Gugup pidato?" bisik Rara pada dirinya sendiri. Dia bisa merasakan getaran ketakutan itu melalui kata-kata yang diketik Paladin.
**Rara_The_Healer:**Hei, denger ya. Kamu itu Paladin yang paling hebat yang pernah aku temuin. Kalau kamu bisa nahan serangan naga Obsidian tanpa mundur satu langkah pun, berarti kamu punya mental baja.
Paladin_Z: Itu cuma karakter game, Ra. Di dunia nyata, aku nggak punya armor perak atau pedang besar buat ngelindungin diri dari tatapan orang-orang.
Rara menggigit bibir bawahnya, berpikir keras. Dia ingin memberikan semangat, tapi dia sendiri bukanlah orang yang pandai berkata-kata manis. Akhirnya, dia memutuskan untuk menggunakan gayanya sendiri.
**Rara_The_Healer:**Oke, denger strategi ini. Besok, pas kamu naik podium, bayangin aja semua orang yang ada di depanmu itu cuma gerombolan Slime level satu yang unyu-unyu. Mereka nggak bisa nyerang kamu. Dan kalau kamu merasa mulai 'low HP' karena gugup, bayangin aja aku ada di sudut ruangan, siap nge-cast skill 'Motivation Buff' buat kamu.
Dia kemudian mengirimkan sebuah meme yang dia peroleh dari forum pemain: gambar seekor kucing yang memakai helm ksatria dengan tulisan 'I BELIEVE IN YOU, SIR TANK-A-LOT'.
**Paladin_Z:**Hahaha. Kamu benar-benar unik, Ra. Makasih ya.
**Paladin_Z:**Aku merasa sedikit lebih baik sekarang. Mungkin aku bisa tidur sejam atau dua jam sebelum matahari terbit.
Rara_The_Healer: Tidurlah. Jangan sampai pingsan di panggung gara-gara kurang tidur. Nanti Slime-nya malah ketawa.
**Paladin_Z:**Goodnight, Healer terbaikku.
Rara melihat status 'Paladin_Z' berubah dari hijau menjadi abu-abu. Offline.
Dia menutup aplikasi game itu dengan satu klik cepat. Seketika, kamarnya kembali ke dalam kegelapan total kecuali cahaya dari lampu jalan yang menerobos celah gorden. Rara menatap layar hitam monitornya, di mana kini dia hanya bisa melihat pantulan wajahnya sendiri. Mata yang sembap, rambut yang berantakan, dan wajah yang nampak sangat biasa saja.
Siapa sebenarnya pria di balik karakter Paladin itu? Suaranya tidak pernah terdengar, wajahnya tidak pernah terlihat. Namun, dalam dua tahun terakhir, dia merasa lebih mengenal pria anonim itu daripada teman-temannya di kampus. Pria itu adalah kombinasi aneh antara kekuatan luar biasa di dunia maya dan kerapuhan yang menyedihkan di dunia nyata.
Rara bangkit dari kursinya, sendinya berderak karena terlalu lama duduk. Dia berjalan menuju jendela, menatap ke arah kampus Universitas Nusantara yang bangunannya terlihat samar di kejauhan. Besok adalah hari pertama orientasi mahasiswa baru, dan dia harus bangun pagi-pagi sekali karena dia terdaftar sebagai salah satu panitia logistik.
"Pidato besar ya?" gumamnya lagi, mengingat kata-kata Paladin.
Dia bertanya-tanya, mungkinkah pria itu berada di kota yang sama dengannya? Atau mungkin pria itu adalah seseorang yang bahkan pernah dia lewati di jalan? Pikiran itu membuatnya tersenyum kecil sebelum akhirnya dia merebahkan tubuhnya di kasur tipisnya.
Di tengah kesunyian malam, Rara menutup mata, membayangkan seorang pria yang gemetaran di depan podium, sementara di belakangnya, bayangan seorang Paladin dengan zirah perak berdiri tegak, menjaganya dari ketakutan yang tidak kasat mata.
Semoga sukses, Paladin, bisiknya dalam hati sebelum akhirnya terlelap, tidak menyadari bahwa besok pagi, takdir akan mempertemukannya dengan pria itu dalam cara yang paling menjengkelkan sekaligus mengejutkan yang pernah dia bayangkan.
Dunia nyata tidak pernah sesederhana Fantasy World, dan Rara akan segera mempelajari bahwa tidak semua luka bisa disembuhkan dengan sekali cast mantra sihir.