Raka pulang setelah delapan tahun menghilang di Singapura. Bukan karena rindu kampung halaman, tapi karena mimpi yang terus berulang mimpi tentang Maya, sepupunya yang dulu selalu jadi lawan debatnya, teman sekaligus musuh dalam satu tubuh.
Tapi yang dia temukan bukan Maya yang dia kenal. Maya yang dulu ceplas-ceplos kini diam seperti kuburan. Maya yang dulu penuh api kini hanya menyisakan abu. Ditinggal suami tanpa penjelasan, harus membesarkan dua anak sendirian, dan terjebak dalam kesendirian yang dia jaga ketat seperti benteng.
Raka datang dengan niat hanya sebentar. Cukup untuk memastikan sepupunya baik-baik saja. Cukup untuk menghilangkan rasa bersalah karena pergi tanpa pamit delapan tahun lalu. Tapi hidup punya rencana lain.
"Kadang, yang paling kita hindari adalah tempat kita seharusnya kembali. Dan orang yang paling kita lawan adalah cinta yang tak pernah benar-benar pergi."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ilonksrcc, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2: RUMAH YANG TERLALU SUNYI
"Om Raka, kenapa melamun?"
Kinan menatapku polos sambil menarik ujung kemejaku. "Masuk temani Adek, Om. Adek sendirian dari tadi."
Sendirian dari tadi.
Empat kata itu membuat dadaku semakin sesak. Sejak kapan anak lima tahun ditinggal sendirian di rumah?
Aku tersentak kaget. Terlalu jauh melamun, batinku.
Aku lalu tersenyum lebar, berusaha menyembunyikan kegelisahan yang tiba-tiba muncul seperti air bah.
"Eh, nggak kok," ujarku sambil mengacak rambutnya pelan. "Ya sudah, ayo masuk. Om bawa..."
Aku tiba-tiba teringat. Aku tidak membawa apa-apa untuk anak-anak. Hanya anggur yang tidak mereka sukai. Kecerobohan yang membuatku merasa seperti orang asing yang tidak peka.
Tapi Kinan sudah menarik tanganku, memaksaku masuk ke dalam rumah.
Rumah itu... terasa kosong. Bukan kosong dalam arti tidak ada perabotan. Semuanya ada sofa, meja, TV, rak buku. Tapi ada aura kesepian yang menempel di setiap sudut. Seperti rumah yang ditinggalkan perlahan-lahan, bukan ditinggalkan sekaligus.
"Kakak Bima belum pulang?" tanyaku sambil menatap foto keluarga di dinding. Foto itu masih foto lama Maya, Rangga, Bima yang masih bayi, dan Kinan yang masih dalam kandungan.
"Belum, Om," jawab Kinan sambil duduk di sofa, kakinya yang kecil tidak mencapai lantai. "Kakak pulang jam tiga, seperti biasa."
Seperti biasa...
Entah kenapa, kata-kata itu membuat dadaku terasa sedikit lebih berat. Seperti ada pola di sini. Pola kesendirian. Pola ketidakhadiran.
"Kamu nunggu Mama sendirian dari tadi?" tanyaku lagi, berusaha tidak terdengar khawatir.
Kinan mengangguk. "Iya. Tapi nggak apa-apa. Adek sudah biasa."
Adek sudah biasa.
Kalimat itu, diucapkan dengan polos oleh anak lima tahun, adalah kalimat paling menyedihkan yang pernah kudengar dalam hidupku. Tidak ada anak yang seharusnya "sudah biasa" dengan kesendirian.
"Ya sudah," kataku cepat, berusaha terdengar ceria. "Sekarang Mama belum pulang, tapi Om ada. Kita masak bareng, mau?"
Mata Kinan berbinar untuk pertama kalinya sejak tadi. "Mau! Tapi... Om bisa masak?"
Aku terkekeh kecil. "Bisa dong. Di Singapura Om sering masak sendiri. Kalau nggak, bisa kelaparan."
Kami menuju dapur. Aku membuka kulkas isi cukup lengkap tapi terasa... impersonal. Sayuran, telur, ayam, bumbu-bumbu. Tapi tidak ada sisa makanan, tidak ada masakan yang sudah disiapkan untuk anak-anak.
Aku menghela napas pelan. Maya, apa yang terjadi denganmu?
"Oke, kita bikin yang gampang saja," ujarku sambil mengambil telur dan sosis. "Kinan bantu Om, ya?"
Dia mengangguk antusias, berdiri di kursi kecil sambil mengawasi setiap gerakanku dengan serius. Aku mengupas bawang, memotong sosis, menggoreng telur. Kinan sesekali bertanya, "Itu buat apa, Om?" atau "Kenapa harus pakai mentega, Om?"
Dan untuk beberapa saat, dapur ini terasa hidup. Terasa seperti rumah. Bau bawang goreng, suara minyak berdesis, dan tawa kecil Kinan ketika aku sengaja membuat telur mata sapi dengan bentuk hati.
Tapi di balik semua itu, ada kegelisahan yang menggeliat di perutku. Di mana Maya? Kenapa dia membiarkan Kinan sendirian? Jam sudah menunjukkan pukul empat sore.
Setelah makanan siap, aku menyajikannya di meja makan. Kinan makan dengan lahap, sesekali tersenyum padaku.
"Enak, Om," katanya dengan mulut penuh.
Aku tersenyum tipis, tapi hati tidak ikut tersenyum. Maya... anakmu seharusnya tidak sesering ini makan seadanya.
"Kalau Mama pulang, Om marahin?" tanya Kinan tiba-tiba, di antara suapan.
Aku terdiam sejenak. Melihat matanya yang polos namun penuh kekhawatiran.
"Enggak," jawabku akhirnya, lembut. "Om cuma mau pastiin Mama kamu baik-baik saja."
Dan di dalam hatiku, kalimat itu bergema seperti janji. Janji yang tidak aku ketahui konsekuensinya. Janji untuk sepupu yang dulu adalah segalanya bagiku, lalu menjadi orang asing, dan sekarang... sekarang aku bahkan tidak tahu siapa dia lagi.
Kinan tersenyum lega. "Mama baik, Om. Cuma... capek aja."
Capek. Kata sederhana yang menyimpan ribuan cerita yang tidak terucap.
Aku sedang akan bertanya lebih lanjut ketika terdengar suara kunci di pintu depan. Kinan langsung melompat dari kursinya.
"Mama!"
Aku menoleh ke arah pintu. Jantung berdegup kencang. Delapan tahun. Sudah delapan tahun.
Pintu terbuka. Dan di sana, berdiri Maya.
Tapi bukan Maya yang kukenang. Bukan Maya dengan mata berapi-api dan senyum lebar. Yang berdiri di sana adalah wanita dengan bahu turun, mata sayu, dan senyum yang terlihat seperti upaya keras.
Dia melihatku. Matanya membesar, lalu menyempit. Aku bisa melihat proses di kepalanya pengenalan, kejutan, lalu... sesuatu yang mirip dengan kemarahan?
"Raka?" suaranya datar, tidak beremosi. "Kamu... apa yang kamu lakukan di sini?"
Aku berdiri, ingin mendekat, tapi kakiku terasa berat. Di tangannya ada tas kerja yang terlihat berat. Di wajahnya ada kelelahan yang lebih dalam dari sekadar capek fisik.
"Aku..." suaraku serak. "Aku pulang."
Dia menatapku lama. Lalu matanya beralih ke Kinan, ke makanan di meja, lalu kembali padaku. Ada sesuatu yang pecah di wajahnya seperti pertahanan yang selama ini dijaga dengan susah payah akhirnya retak.
"Pulang?" ulangnya, dan untuk pertama kalinya, ada getaran di suaranya. "Setelah delapan tahun, kamu baru 'pulang'?"
Dan di matanya, aku melihatnya. Bukan kemarahan. Bukan kekecewaan.
Tapi luka. Luka yang sudah lama dibiarkan terbuka, dan kedatanganku seperti garam di atasnya.
Aku tidak punya kata-kata. Aku hanya berdiri di sana, dengan anggur yang tak berarti di atas meja, dengan janji yang baru saja kubuat dalam hati, dan dengan realita bahwa sepupuku perempuan yang dulu adalah separuh jiwaku kini adalah orang asing yang terluka.
Dan aku adalah salah satu penyebabnya.