NovelToon NovelToon
Love Under One Roof: Jangan Ada Baper Di Antara Kita

Love Under One Roof: Jangan Ada Baper Di Antara Kita

Status: sedang berlangsung
Genre:Slice of Life / Romansa / Enemy to Lovers
Popularitas:467
Nilai: 5
Nama Author: salsabilah *2009

Nara adalah seorang gadis yang baru saja pindah ke apartemen baru setelah putus cinta. Sialnya, tetangga sebelah unitnya adalah Rian, cowok paling menyebalkan, sombong, dan perfectionist yang pernah Nara temui.

Mereka berdua terlibat dalam sebuah insiden konyol (seperti kunci tertinggal atau salah kirim paket) yang membuat mereka harus sering berinteraksi. Karena sering berisik dan saling komplain ke pengelola apartemen, mereka akhirnya membuat "Kontrak Damai". Salah satu aturannya adalah: Dilarang keras baper (jatuh cinta) satu sama lain.

Tapi, kita semua tahu, aturan dibuat untuk dilanggar, kan? 😉

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon salsabilah *2009, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Serangan Balik di Rumah Mewah dan Strategi Tante Shinta

Hari Minggu tiba, dan buat Nara, ini rasanya kayak mau pergi ke medan perang tapi perangnya pakai dress cantik dan bawa buah tangan. Nara udah dandan maksimal tapi tetep dengan gaya casual-chic-nya. Dia pakai overall denim dengan kaos garis-garis di dalemnya, rambutnya dikepang dua yang bikin dia kelihatan seger banget.

"Mas, ini beneran nggak apa-apa saya bawa martabak manis buat Tante Shinta?" tanya Nara pas mereka udah di depan pintu rumah mewah keluarga Rian.

Rian yang lagi benerin jam tangannya—masih dengan gaya parlente tapi auranya udah nggak sedingin dulu—ngelihat ke arah kotak martabak di tangan Nara. "Mama itu orangnya fleksibel, Nara. Dia lebih suka martabak daripada cokelat impor yang rasanya kayak sabun itu. Percaya sama saya."

Begitu pintu dibuka, bukan pelayan yang nyambut, tapi Tante Shinta sendiri yang udah lari-lari kecil ke arah mereka.

"NARAAA! Sayang, akhirnya dateng juga!" Tante Shinta langsung meluk Nara, bahkan Rian yang anaknya sendiri malah dicuekin gitu aja. "Ya ampun, makin cantik aja sih kamu. Rian, kamu kasih makan apa tetangga kamu ini sampai bisa makin glowing gini?"

"Kasih makan pasta buatan sendiri, Ma," jawab Rian santai sambil nyosor masuk ke dalem.

"Dih, sombong banget anak Mama satu ini. Ayo sayang, masuk! Tante udah masak banyak banget," ajak Tante Shinta sambil narik tangan Nara.

Nara ngerasa nyaman banget di sini. Rumah ini emang gede, tapi suasananya nggak horor atau kaku. Banyak foto-foto masa kecil Rian yang dipajang. Nara sempat berhenti di depan satu foto Rian pas umur sepuluh tahun yang lagi nangis sambil megang piala.

"Itu pas dia juara satu lomba matematika tingkat provinsi, tapi dia nangis karena ada satu soal yang dia jawabnya pakai cara panjang, bukan cara cepat. Emang dari kecil otaknya udah konslet," bisik Tante Shinta ke kuping Nara, bikin Nara ketawa ngakak.

"Ma, stop deh," keluh Rian yang tiba-tiba udah di belakang mereka.

Pas mereka lagi asyik makan siang, tiba-tiba bel rumah bunyi. Pelayan rumah masuk dan bilang kalau ada tamu yang maksa masuk.

"Siapa, Bi?" tanya Tante Shinta.

"Mbak Karin, Nyonya."

Suasana meja makan mendadak hening. Nara langsung ngerasa nafsu makannya ilang separo. Rian langsung naruh garpunya, rahangnya ngeras keras.

"Siapa yang kasih izin dia ke sini?" suara Rian rendah banget, tanda dia lagi emosi.

"Ian, tenang dulu," Tante Shinta nepuk tangan Rian, terus dia nengok ke Nara yang wajahnya udah mulai tegang. "Nara sayang, Tante tahu kamu pasti risih. Tapi biar Tante yang beresin ini. Kamu cukup duduk manis dan makan ya."

Karin masuk ke ruang makan dengan gaya yang... wah, bener-bener kayak mau fashion show. Dia bawa bouquet bunga lili yang gede banget.

"Tante Shinta, apa kabar? Maaf ya Karin dateng nggak bilang-bilang. Tadi habis dari butik deket sini, jadi mampir deh," ucap Karin dengan suara yang dibuat-buat semanis madu tapi aslinya pahit.

Karin baru sadar ada Nara di sana. "Oh... ada tamu juga ya? Hai, Nara. Masih betah main di sini?"

Nara narik napas panjang. Dia inget kata Rian: jangan minder. Nara senyum manis, paling manis yang dia punya. "Hai, Mbak Karin. Betah banget dong, soalnya masakan Tante Shinta juara banget. Mbak mau ikut makan? Tapi maaf ya, porsinya kayaknya udah pas buat keluarga aja."

Boom! Sindiran halus Nara langsung bikin muka Karin sedikit berubah.

Tante Shinta berdiri, dia nggak nerima bunga dari Karin, malah nyuruh pelayan buat naruh di pojokan. "Karin, kamu cantik banget hari ini. Tapi maaf ya, hari ini acaranya khusus buat ngerayain kebahagiaan Rian sama 'calon menantu' Tante yang baru."

Karin melongo. "Calon menantu? Tante, maksudnya—"

"Iya, Nara. Rian udah cerita semuanya. Dan Tante seneng banget akhirnya Rian nemuin cewek yang bukan cuma modal tas mahal, tapi bisa bikin dia ketawa," lanjut Tante Shinta sambil ngerangkul Nara.

Rian juga nggak tinggal diem. Dia berdiri, jalan ke arah Nara, terus ngecup puncak kepala Nara di depan Karin. "Karin, saya pikir pembicaraan kita kemarin udah cukup jelas. Jangan bikin diri kamu makin kelihatan rendah dengan datang ke sini tanpa diundang."

Muka Karin bener-bener merah padam. Dia nggak nyangka Tante Shinta bakal terang-terangan belain Nara. "Tante... Tante nggak tahu siapa cewek ini sebenarnya. Dia itu cuma mau—"

"Tante lebih tahu siapa yang pantes buat anak Tante, Karin," potong Tante Shinta tegas. "Dulu pas Rian lagi susah ngebangun kariernya dari nol, kamu di mana? Kamu malah pergi ke London kan? Sekarang pas dia udah sukses, kamu balik lagi bawa bunga? Maaf, Tante bukan penonton sinetron yang gampang dibohongin."

Karin bener-bener mati kutu. Dia akhirnya mutusin buat pergi dengan hentakan kaki yang berisik banget. "Oke! Liat aja nanti!"

Setelah Karin pergi, Tante Shinta langsung duduk lagi dan lanjut makan seolah nggak ada kejadian apa-apa. "Duh, ganggu aja ya. Nara, tambahin lagi ya rendangnya. Jangan dipikirin cewek kayak gitu, dia itu cuma debu di atas meja kaca, tinggal dilap dikit juga ilang."

Nara bener-bener kagum sama Tante Shinta. "Tante... makasih banyak ya udah belain saya."

"Sayang, Tante itu belain kebenaran. Dan kebenaran itu ada di kamu. Kamu udah bikin anak Tante jadi manusia lagi. Kamu tahu nggak? Sejak sama kamu, Rian jadi sering nelepon Tante cuma buat nanya 'Ma, resep sup ayam yang enak gimana?'. Dulu mana pernah dia nanya gitu, paling cuma nanya laporan bulanan," cerita Tante Shinta sambil ketawa.

Rian cuma bisa pasrah rahasianya dibongkar. "Ma, udah..."

Nara nengok ke Rian dengan mata yang berkaca-kaca tapi bahagia. "Mas Rian nanya resep sup ayam buat saya?"

Rian berdehem, nyembunyiin mukanya yang memerah. "Ya... kan katanya kamu harus makan sehat."

Sore itu diakhiri dengan mereka duduk di taman belakang rumah sambil ngopi. Tante Shinta udah masuk ke dalem buat istirahat, nyisain Nara dan Rian berdua di ayunan kayu.

"Mas," panggil Nara sambil nyenderin kepalanya di bahu Rian.

"Hmm?"

"Makasih ya buat semuanya. Makasih udah ngenalin saya ke keluarga Mas yang luar biasa."

Rian ngerangkul bahu Nara, dia nyium kening Nara lama banget. Rasanya damai banget. "Saya yang makasih, Nara. Kalau nggak ada kamu yang ceroboh dan berisik, mungkin saya masih jadi robot kaku yang nggak punya tujuan hidup selain kerja."

"Mas, kalau nanti Karin beneran ngelakuin sesuatu yang jahat gimana?" tanya Nara sedikit khawatir.

Rian natap langit yang mulai berubah jadi oranye. "Dia nggak bakal bisa ngelakuin apa-apa. Saya udah siapin tim buat jagain kamu, dan saya udah tutup semua akses dia ke bisnis saya. Dia cuma masa lalu yang udah kadaluarsa, Nara. Masa depan saya itu... lagi nyender di bahu saya sekarang."

Nara senyum lebar. Dia ngerasa dunia ini beneran adil. Dari tetangga yang hobi berantem soal jemuran dan suara musik, sekarang jadi pelindung yang paling bisa diandelin.

"Mas, balik yuk. Saya kangen daster buah naga saya," ajak Nara sambil narik tangan Rian.

Rian ketawa. "Oke, kita balik. Tapi syaratnya, besok pagi kamu harus bangunin saya lagi pakai cara yang sama."

"Ih! Mas Rian ketagihan ya dipanggil sayang?!"

"Siapa yang nggak ketagihan denger suara kamu pagi-pagi?" goda Rian sambil gendong Nara ala bridal style ke arah mobil, bikin Nara teriak-teriak malu tapi bahagia.

Mereka berdua nggak tahu, kalau di balik tembok apartemen nanti, bakal ada kejutan baru yang menanti. Tapi buat sekarang, mereka cuma mau nikmatin momen ini. Momen di mana dua orang dari dunia yang beda banget, akhirnya nemuin frekuensi yang sama.

1
Huzaifa Ode
👍🏻
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!