NovelToon NovelToon
A Penliba

A Penliba

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen School/College / Persahabatan
Popularitas:104
Nilai: 5
Nama Author: Kacang Kulit

"Lo tuh ngeselin!" bisik Giselle di telinga Libra.

"Udah tau." Selalu, jawaban Libra semakin membuat Giselle kesal. Gadis itu cemberut sepanjang pelajaran dimulai. Padahal hari masih pagi, tetapi dia sudah dibuat emosi oleh pemuda yang sayangnya adalah sahabatnya sendiri.

Libra tau Giselle sedang marah padanya. Namun, pemuda itu malah tersenyum geli sembari menopang dagunya menatap gadis yang sedang mengerucutkan bibirnya itu.

***

Sebuah kisah tentang dua remaja yang sedang berjuang untuk menemukan tujuan hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kacang Kulit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 19 - Capek

Sudah seminggu berlalu sejak Giselle belajar mati-matian setiap hari. Bukannya ilmu bertambah, justru ia merasa otaknya sangat lelah. Memaksakan diri untuk selalu belajar setiap pulang sekolah bahkan sampai malam menjelang justru membuat Giselle benar-benar stres. Semakin berusaha, semakin ia tidak mengerti dengan semua yang telah ia pelajari. Sebenarnya, di mana letak kesalahannya?

"Capek," keluh Giselle sembari menelungkupkan kepalanya di atas meja belajar. Kepalanya pusing, matanya perih, otaknya sudah tidak dapat berpikir dengan jernih.

Giselle memutuskan untuk berbaring di kasur, menyudahi sesi belajar malam ini sedikit lebih cepat dari biasanya. Matanya menatap langit-langit kamar dengan lekat. Namun, pikirannya justru melayang ke hal lain. Beberapa detik terdiam, mata Giselle mulai berkaca-kaca. Ia merasa sangat lelah, sungguh. Tidak hanya fisik, tetapi juga mental.

Giselle sadar, ia adalah gadis yang cengeng. Seringkali menangis karena hal-hal kecil. Beberapa hari ini ia selalu berusaha untuk tidak menangis. Ingin membuktikan pada ibunya bahwa ia bukanlah gadis lemah yang selalu menangis. Ia juga ingin membuktikan bahwa ia tidak bodoh. Ia bisa memperbaiki nilainya agar ibunya merasa bangga. Namun, yang terjadi justru Giselle merasa lelah dengan situasi ini.

Air matanya mengalir seiring dengan matanya yang terpejam. Ia merindukan Libra. Ia merindukan waktunya bermain bersama pemuda itu. Ia merindukan segala hal yang biasa ia lakukan bersama pemuda itu. Ia lelah harus belajar mati-matian seperti ini.

Giselle segera membekap mulutnya, takut-takut ibunya akan mendengar suara tangisannya. Sudah cukup ibunya bersikap dingin selama ini. Setelah mendapati nilainya yang jauh dari kata sempurna, sikapnya juga jauh lebih dingin. Giselle terkadang bertanya-tanya, benarkah ia ibu kandungnya? Mengapa ia begitu tega menyiksanya seperti ini.

Ibunya memang tidak pernah menyerang fisiknya. Namun, sikapnya yang dingin, ucapannya yang tajam dan menusuk, seringkali membuat Giselle merasa menjadi anak yang tidak berguna. Ia seolah menjadi gadis paling buruk di mata ibunya. Sama sekali tidak membuat ibunya bangga.

"Ibu, Giselle capek," batinnya menangis pilu.

...***...

"Kamu kenapa sih, Libra? Daritadi mama lihat kamu bengong aja."

Fara menatap Libra dengan pandangan heran. Sebenarnya tidak hanya saat ini. Beberapa hari terakhir juga Libra terlihat lebih murung. Entah apa yang sedang putranya pikirkan.

"Kangen Giselle, Ma," ucap Libra tanpa semangat. Ia merebahkan kepalanya di pangkuan Fara. Saat ini mereka sedang bersantai di ruang keluarga sembari menonton tayangan televisi.

"Samperin sana. Kan cuma di sebelah."

"Jangan, nanti Giselle dimarahin ibunya lagi."

Fara menghela napas, mulai paham kenapa putranya begitu murung. Ia tidak habis pikir dengan Atika yang terlalu keras mendidik Giselle. Namun, ia tidak bisa sepenuhnya menyalahkan wanita itu, karena setiap ibu memiliki caranya masing-masing untuk mendidik anak mereka. Walaupun ini bukan ranahnya, tetap saja Fara merasa tidak tega pada Giselle. Gadis itu sudah ia anggap seperti putrinya sendiri. Melihat pertumbuhan gadis itu dari bayi sampai remaja, tentu saja timbul rasa sayang yang sama terhadap Giselle dan Libra.

Apalagi ia hanya memiliki satu anak. Sudah lama Fara menginginkan anak perempuan, tapi mungkin itu belum rezekinya. Mungkin Tuhan menghadirkan Giselle untuk memenuhi keinginannya.

"Gapapa, lagian kalian juga masih ketemu setiap hari di sekolah."

"Beda, Ma." Libra bangkit, duduk menghadap mamanya dengan raut frustrasi. Ia tidak mengerti kenapa dirinya begitu tertekan dengan situasi ini. Memang benar, ia masih bertemu Giselle setiap hari di sekolah. Namun, rasanya tetap kurang. Ia butuh lebih banyak waktu bersama Giselle seperti biasanya. Ia merindukan setiap momen yang ia lalui bersama gadis itu. Padahal Giselle berada di dekatnya, tapi mengapa rasanya sekarang gadis itu terlalu jauh dari jangkauannya.

"Pengen culik Giselle, terus aku bawa kabur yang jauh," celetuk Libra setelah lama terdiam.

"Hussh, gak usah aneh-aneh kamu." Fara memukul lengan Libra dengan pelan.

"Lagian Giselle lebih kayak dipenjara di rumahnya." Libra mendengus kesal.

Meskipun mereka selalu bertemu di sekolah, tetapi Giselle terlihat berbeda. Ia menjadi lebih pendiam, terkadang ketika ada jam kosong, Giselle lebih memilih untuk tidur. Libra menebak bahwa gadis itu kurang tidur akibat memaksakan diri untuk terus belajar.

"Kamu jangan ikutan tertekan gitu dong. Harusnya kamu lebih menghibur dia kalau di sekolah. Harus bikin dia lebih happy kalau di sekolah. Di rumah mungkin dia tertekan, tapi di sekolah jangan sampai tertekan juga," nasihat Fara.

Libra mengangguk-angguk paham. Benar juga apa yang dikatakan mamanya. Ia harus membuat Giselle lebih bahagia ketika di sekolah.

"Thanks, Ma. Mama emang terbaik."

...***...

20 Januari 2026

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!