NovelToon NovelToon
Semua Ini Demi Kebahagian Ayah Dan Adik

Semua Ini Demi Kebahagian Ayah Dan Adik

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Fantasi Wanita / Ruang Ajaib
Popularitas:17.6k
Nilai: 5
Nama Author:

Anjeli Pranita, putri cantik pak Burhan yang biasa di sapa Anjeli. Gadis cantik dengan julukan kembang desa rela putus sekolah semenjak insiden yang membuat Keseharian ayahnya hanya bisa duduk di kursi roda yang usang pemberian tetangganya. Anjeli adalah gadis yang pintar di bidang akademik, murah senyum dan ceria. Namun, kepergian ibunya bersama laki-laki lain dengan alasan sudah capek hidup miskin dan ditambah kondisi ayahnya, menghilangkan senyum dan keceriaan di wajahnya akibat luka yang ditoreh ibunya untuk mereka. Anjeli si gadis sederhana harus menjadi kuat dan tahan banting di umurnya yang masih 16 tahun. Suatu hari, Anjeli yang menjadi tulang punggung untuk keluarga sedang mengais rezeki sebagai kuli panggul di pasar menggantikan pekerjaan bapaknya sebelum kecelakaan. Pagi itu tanpa sengaja Anjeli bertemu seorang nenek yang sedang kelaparan, ia yang memang memiliki hati yang baik memberikan bekal untuk makannya kepada sang nenek itu. Dari pertolongan itu Anjeli diberikan sebuah cincin usang oleh sang nenek sebagai bentuk kebaikan Anjeli. Cincin apakah yang diberikan oleh sang nenek itu kepada Anjeli????? Apakah ada keajaiban untuk Anjeli dan keluarganya??? Yukkkkk….,ikuti cerita Anjeli….

30

Mentari pagi kali ini terasa lebih bersahabat. Cahayanya yang kuning keemasan menembus celah-celah daun jati, menciptakan pola-pola cahaya yang menari di atas tanah. Anjeli menghirup napas dalam-dalam, merasakan aroma tanah yang segar dan wangi mawar yang telah pulih sepenuhnya. Hari ini bukan seperti hari kemarin untuk bergelut dengan pengadilan atau pengacara, hari ini adalah hari untuk kembali ke bumi.

"Ayah! Adek! Ayo keluar, matahari sedang bagus-bagusnya ini!” seru Anjeli dari arah samping rumah.

Lahan di samping rumah mereka selama ini memang terbengkalai san tidak pernah di urus. Tanah seluas dua ratus meter persegi itu dipenuhi semak belukar, alang-alang yang meninggi, dan beberapa tumpukan batu kali yang sudah berlumut. Namun, di mata Anjeli, lahan ini adalah masa depan. Di sinilah ia akan menanam jahe merah dalam skala besar untuk memenuhi kontrak Bu Widya.

Pak Burhan keluar dari pintu samping dengan mengenakan kaos oblong putih dan celana kain yang ia gulung hingga lutut. Di tangannya, ia memegang sebuah parang yang baru saja ia asah. Langkahnya mantap, meskipun ia masih sesekali menggunakan gerakan tangan untuk menyeimbangkan tubuhnya.

"Ayah siap membantumu, Nak. Ayah rasa otot-otot Ayah sudah rindu memegang alat pertanian," ucap Pak Burhan sambil tersenyum lebar.

Aris menyusul dari belakang, membawa sebuah ember kecil dan cetok mainan plastik berwarna merah. "Aris juga siap! Aris mau jadi komandan pasukan pembersih rumput!"

Anjeli tertawa melihat semangat adik dan Ayahnya. "Haha…Baik…Baik, Komandan Aris! Tugas pertamamu adalah mengumpulkan batu-batu kecil dan dahan kering yang jatuh. Ayah dan Kakak akan fokus membabat alang-alang ini."

Pembersihan dimulai dengan suasana yang penuh keceriaan. Tidak ada beban yang menggelayuti pundak mereka. Pak Burhan mulai mengayunkan parangnya dengan ritme yang teratur. Srekk... srekk... bunyi alang-alang yang tumbang beradu dengan suara tawa Aris yang sibuk mengejar seekor belalang hijau yang melompat dari balik semak.

"Lihat Kak! Belalangnya takut sama Aris!" teriak Aris sambil mencoba menangkap belalang itu dengan embernya.

"Jangan dikejar jauh-jauh, Dek. Fokus saja pada batu-batunya dulu, ya" sahut Anjeli sambil mencangkul akar-akar rumput yang keras.

"Biarkan saja, Nak. Biarkan dia bermain sambil belajar," ucap Pak Burhan sambil berhenti sejenak untuk menyeka keringat di dahinya. "Ayah sudah lama tidak melihat Aris seceria ini. Rasanya dua tahun kemarin kita semua seperti hidup di dalam peti yang gelap."

Anjeli berhenti mencangkul dan menatap Ayahnya. "Sekarang petinya sudah terbuka, Ayah. Kita punya udara segar dan tanah yang luas."

Pak Burhan mengangguk, lalu menunjuk ke arah tumpukan batu di pojok lahan. "Dulu, waktu kamu masih sangat kecil, Kakekmu pernah bilang kalau tanah di samping rumah ini adalah tanah yang paling manis. Beliau bilang, apa pun yang ditanam di sini akan berbuah dua kali lipat lebih banyak."

"Benarkah, Ayah? Mengapa Kakek bilang begitu?" tanya Anjeli penasaran.

"Entahlah. Kakekmu punya banyak rahasia tentang tanah. Sayang, beliau pergi sebelum sempat menceritakan semuanya," jawab Pak Burhan dengan nada sedikit nostalgia.

Saat matahari mulai naik tepat di atas kepala, Anjeli sedang berusaha membongkar sebuah gundukan tanah yang dikelilingi oleh batu-batu besar. Batunya terasa sangat berat dan tertanam dalam.

"Ayah, minta tolong bantuin Anjeli sebentar. Batu ini sulit sekali digerakkan," pinta Anjeli.

Pak Burhan mendekat, ia meletakkan parangnya dan mulai membantu Anjeli mengungkit batu itu menggunakan sebilah bambu kuat. Dengan tenaga yang kini semakin pulih, Pak Burhan mendorong, sementara Anjeli menarik bagian bawah batu tersebut.

“”Krak!””

Batu itu terguling, menyingkap tanah lembap di bawahnya. Namun, di antara sisa akar yang membusuk, mata Anjeli menangkap sesuatu yang tidak biasa. Ada sebuah benda berbentuk kotak kayu kecil yang terbungkus kain mori yang sudah sangat lapuk.

"Apa itu, Kak? Harta karun ya?" Aris langsung mendekat dengan mata membelalak penuh rasa ingin tahu.

Anjeli perlahan mengambil kotak itu. Kain pembungkusnya hancur menjadi debu saat disentuh. Kotak kayu itu berwarna hitam pekat, dengan ukiran bunga mawar yang sangat mirip dengan ukiran pada cincin di jari Anjeli.

"Ini... ini punya Kakekmu, Nak" bisik Pak Burhan dengan suara bergetar. "Ayah ingat sekali kotak ini. Dulu Kakekmu selalu menyimpannya di bawah kolong tempat tidurnya, lalu tiba-tiba hilang saat beliau meninggal. Ternyata beliau menguburnya di sini."

Anjeli membuka tutup kotak itu dengan hati-hati. Di dalamnya tidak ada emas atau perhiasan. Hanya ada sebuah buku catatan kecil bersampul kulit dan sebuah botol keramik mini yang tertutup rapat.

"Buku apa itu, Ayah?" tanya Anjeli.

Pak Burhan mengambil buku itu, membukanya perlahan. "Ini adalah catatan harian Kakek kalian tentang cara merawat tanah. Lihat, Nak... di sini tertulis “Untuk cucuku yang kelak akan dipanggil oleh tanah”. Kakekmu seolah-olah tahu kalau suatu saat kamu akan melakukan semua ini. Nak”

Anjeli merasakan merinding di sekujur tubuhnya. Ternyata hubungan mereka dengan tanah ini jauh lebih dalam dari yang ia bayangkan. Cincin di jarinya terasa hangat, seolah menyambut penemuan tersebut.

Setelah penemuan itu, mereka memutuskan untuk beristirahat di bawah pohon mangga yang rimbun. Aris langsung menyerbu termos air dingin dan bekal ubi rebus yang dibawa dari dapur.

"Ayah, nanti kalau lahan ini sudah bersih, Anjeli mau buatkan taman kecil di sudut situ," ucap Anjeli sambil menunjuk lokasi penemuan kotak tadi. "Anjeli akan tanam bunga-bunga yang disukai Kakek."

"Ide bagus, Sayang. Kakekmu pasti senang," sahut Pak Burhan sambil mengunyah ubinya. "Tapi ingat, jangan terlalu dipaksakan. Kita kerjakan ini perlahan-lahan. Keindahan itu tidak diciptakan dalam semalam."

Aris yang mulutnya penuh dengan ubi bergumam, "Aris mau tanam tomat lagi di sana. Biar tomatnya sebesar bola basket!"

"Haha, kalau sebesar bola basket, nanti Aris tidak akan kuat membawanya lai," goda Anjeli sambil mencubit gemas pipi adiknya.

Suasana itu benar-benar penuh kedamaian. Tidak ada bayang-bayang Bu Sumi yang mengintip, tidak ada ketakutan akan mobil hitam dari kota. Hanya ada sebuah keluarga yang sedang membangun kembali pondasi kehidupan mereka di atas tanah warisan leluhur.

Sambil beristirahat, Pak Burhan menatap tangan Anjeli yang penuh dengan tanah. Ia mengambil selembar kain bersih dan mulai membersihkan jari-jari putrinya satu per satu.

"Nak... Ayah minta maaf ya," ucap Pak Burhan tiba-tiba.

Anjeli tertegun. "Minta maaf untuk apa, Ayah?"

"Untuk dua tahun terakhir ini. Ayah merasa sangat tidak berguna. Seharusnya Ayah yang melindungimu, bukan sebaliknya. Ayah melihatmu bekerja dari pagi sampai malam di pasar, mulai berkebun dan menanam sayur sendirian, menghadapi pengacara... Ayah, Ayah, merasa gagal menjadi seorang ayah."

Anjeli memegang tangan Ayahnya, menghentikan gerakan kain itu. "Ayah, jangan bicara begitu. Ayah tidak gagal. Ayah adalah alasan Anjeli tidak menyerah. Kalau Ayah tidak ada di rumah ini, Anjeli tidak akan punya alasan untuk menanam buncis atau jahe. Ayah adalah akarnya, Anjeli hanya dahannya. Tanpa akar yang kuat, dahan tidak akan bisa tumbuh. Yah”

Mata Pak Burhan berkaca-kaca. Ia menarik Anjeli ke dalam pelukannya. Aris yang melihat itu langsung ikut menubruk mereka berdua. "Aris juga sayang Kak Anjeli! Aris juga sayang Ayah!"

Di bawah naungan pohon mangga, mereka berpelukan erat. Air mata syukur mengalir diam-diam di pipi Anjeli. Inilah kebahagiaan yang ia perjuangkan mati-matian. Bukan uang jutaan rupiah dari kontrak Pak Hendra, bukan pujian di majalah, melainkan momen sederhana di mana mereka bisa tertawa dan saling menguatkan di atas tanah mereka sendiri.

^^^^^^^^^

Sore hari tiba, lahan kosong itu kini sudah terlihat jauh lebih rapi. Semak belukar sudah dibabat habis, menyisakan tanah hitam yang siap untuk dicangkul lebih dalam. Anjeli berdiri di tengah lahan, memegang buku catatan Kakeknya.

"Besok, kita akan mulai membuat bedengan baru, Ayah," ucap Anjeli dengan semangat yang baru. "Anjeli akan menggunakan metode dari buku Kakek ini. Sepertinya kakek punya cara rahasia tentang bagaimana membuat jahe merah tumbuh lebih pedas dan lebih besar."

"Ayah akan membantumu menyiapkan pupuk kandangnya. Tadi pagi Ayah sudah bicara dengan Pak RT, beliau punya sisa sekam padi yang bisa kita ambil," sahut Pak Burhan.

"Aris mau siram-siram pakai selang!" teriak Aris sambil berlari mengelilingi lahan yang sudah bersih.

Anjeli tersenyum menatap lahan itu. Ia menyadari bahwa penemuan kotak kakeknya bukanlah kebetulan. Itu adalah restu dari masa lalu untuk masa depan yang sedang ia bangun. Ia berjanji dalam hati, lahan ini tidak hanya akan memberikan mereka materi, tapi juga akan menjadi tempat di mana kenangan manis keluarga mereka akan tumbuh subur, tak tergoyahkan oleh badai mana pun.

Malam harinya, sebelum tidur, Anjeli sempat membuka botol keramik kecil dari kotak Kakek. Di dalamnya terdapat sebuah cairan berwarna keemasan yang sangat kental, dengan aroma yang belum pernah ia temui sebelumnya. Aroma itu terasa sangat purba, namun sangat akrab.

"Terima kasih, Kakek," bisik Anjeli.

Ia tahu, ekspansi lahan ini akan membawa tantangan baru. Mungkin tetangga akan semakin iri, cibiran dari Buk Sumi makin menjadi dan mungkin beban kerja akan semakin berat. Namun, selama ia memiliki Ayah yang kini berdiri tegak di sampingnya dan Aris yang selalu menghibur dengan tawanya, Anjeli yakin bahwa ia sanggup menaklukkan dunia, satu cangkulan pada satu waktu.

_______________🌹❤️

Terimah kasih sudah membacanya

Jangan lupa di like dan komen ya…

Jangan lupa di kasih👉🌟⭐️

Dan jika punya Point bagi saweran dong👉🌹

Hehehehehe🤭😅

Okey lanjutttt ceritanya,,,,,

1
Wanita Aries
emak dzolim ninggalkan hutang ke anjeli
Wanita Aries
kasian anjeli masa jd kuli panggul
@Mita🥰
wkwkwk pak Handoko gigit jari🤣🤣🤣
Wanita Aries
mampir thorr
@Mita🥰
wah kasihan ya rumah Anjeli baru di bangun
Andira Rahmawati
lanjutttt makin seruuu💪💪💪
Lala Kusumah
semangat Anjeli, kamu pasti bisa 💪💪💪
Lala Kusumah
good job Anjeli 💪💪💪👍👍👍😍😍
@Mita🥰
semangat Anjeli
@Mita🥰
semoga sukses selalu thor
@Mita🥰
lanjut thor
@Mita🥰
lanjut
Lala Kusumah
mantaaap 👍👍👍
@Mita🥰
ini ruang ajaib nya bukan di cincin itu ya thor kok lewat pintu
@Mita🥰
bagus ceritanya
@Mita🥰
lanjut
Lala Kusumah
sukses selalu untuk Anjeli ya 🙏🙏🙏
Aretha Shanum
lanjut, suka ceritanya
Putri Hasan
suka ceritanya /Smile/
semangat updatenya 💪💪
Lala Kusumah
lanjuuuuuuuuut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!