Di tahun 3000 terjadi kekacaun dunia. Banyak orang berpendapat itu adalah akhir zaman, bencana alam yang mengguncang dunia, Gempa bumi, lonsor, hujan yang disertai badai..
Saat mata mereka terbuka, dunia sudah berubah. Banyak orang yang tewas akibat tertimpa bangunan yang roboh dan juga tertimbun akibat tanah longsor.
Tapi, ada yang berbeda dengan Orang yang terkena air hujan. Mereka tiba-tiba menjadi linglung, bergerak dengan lambat, meraung saat mencium bauh darah.
Yah, itu Virus Zombie. Semua orang harus bertahan hidup dengan saling membunuh. Kekuatan yang muncul sedikit membantu mereka untuk melawan ribuan Zombie.
Lima tahun berlalu, Dunia benar-benar hancur.. Tidak ada lagi harapan untuk hidup. Sumber makanan sudah habis, semua tanaman juga bermutasi menjadi tanaman yang mengerikan.
Aruna Zabire, memasuki hutan yang dipenuhi hewan dan tumbuhan mutasi. Dia sudah bosan untuk bertahan, tidak ada lagi keluarga dan kerabat. Mereka semua tumbang satu persatu ditahun ketiga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda Fii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15. Perpisahan
Di tempat peristirahatan, beberapa menit setelah kepergian Aruna, dua sosok pria asing tiba-tiba muncul. Para warga langsung waspada, apalagi melihat mereka membawa pedang.
"Kalian berdua siapa? Apa ada perlu sesuatu?" tanya Kepala Desa dengan ramah, meski dia sedikit takut.
Pria berbadan besar maju lebih dekat, lalu berkata. "Di mana Tabib sakti kalian?" Dia malah bertanya, mengabaikan pertanyaan Kepala Desa.
Mendengar julukan itu, semua orang tau siapa yang dia maksud. Mereka diam seribu bahasa, Mereka bingung harus menjawab apa, karena niat kedua pria itu belum jelas.
"Oh ada apa kalian mencari cucuku? Apa keluarga kalian ada yang sakit? Aku juga seorang Tabib, mungkin aku bisa membantu!" Ujar Tabib Gu, dia sudah merasakan niat buruk mereka.
Kedua Pria itu saling tatap lalu tertawa "Hahahaha, sayang sekali kami tidak mencari Tabib karena ada yang sakit. Tapi kami mencari Tabib sakti, karena dia sudah membuat seseorang marah!"
Semua orang langsung tak percaya, Aruna membuat seseorang marah? Itu tidak mungkin. Meski baru mengenal Aruna, mereka sudah tau bagaimana sikapnya, jikapun Aruna membuat seseorang marah, pasti ada alasan dibaliknya.
"Kenapa diam saja ha? Katakan di mana kalian menyembunyikannya?" Pria satunya bertanya dengan suara tinggi, agar para warga ketakutan.
"Cih mana mungkin cucuku membuat seseorang marah, ini pasti alasan kalian saja untuk mencari masalah!" ucap Tabib Gu.
"Brengsek, kalian itu cuman orang desa yang lemah. Tak usah berlagak kuat." Balasnya dengan emosi, baru kali ini ada berani melawan omongannya, hm tidak sayang nyawa.
"Ckckck,, kalian semua cari mati ya? Padahal kalian tinggal mengatakan di mana Tabib sakti itu, jangan sampai anak-anak kalian jadi korban!"
Para warga mulai kalut, ini menyangkut banyak nyawa, jika tidak buka mulut anak mereka jadi korban, tapi kalau jujur, Aruna yang akan di buru oleh orang asing itu.
Melihat para warga yang masih diam, membuat kedua orang itu makin murka, mereka tidak punya banyak waktu lagi. Mereka hanya dapat tugas untuk merusak wajah seseorang yang dijuluki Tabib sakti, di sepanjang jalan saat mengikuti rombongan desa Suning, keduanya tidak melihat seorang gadis yang wajahnya lebih cantik dari kecantikan no 1.
Sreeennggg...
Sreeennggg...
Tiba-tiba kedua pria itu menghunuskan pedangnya, tapi para warga tetap berdiri tegak, seakan tidak takut sama sekali.
Kedua Pria itu langsung maju untuk menyerang, tapi hal yang tak terduga terjadi. Pedang mereka jatuh ke tanah. Karena ada sebuah anak panah melesat, dan mengenai gagang pedang mereka.
"Brengsek,, siapa yang berani menyerang dari kegelapan? Keluar, lawan aku.." Teriaknya dengan marah.
"Tidak perlu berteriak, aku dibelakangmu!" seseorang menyahut dengan suara datar.
Kedua pria itu berbalik, melihat seorang pemuda yang menatap mereka dengan dingin. Tatapan itu membuat keduanya sedikit menciut, tapi mana mungkin orang desa lebih mendominasi, mereka juga tak merasakan tenaga dalam pemuda tersebut, orang itu tak lain adalah Ozian.
Dengan percaya diri, kedua pria itu mengambil pedang mereka yang terjatuh dan langsung menyerang Ozian menggunakan pedang dengan tenaga dalam. Mengeluarkan semua kekuatan mereka karena merasa jengkel dengan para warga yang melawan.
Ozian tetap tenang, karena bisa merasakan kekuatan tenaga dalam kedua pria itu, berarti kekuatan Ozian lebih tinggi. Meliha keduanya menyerang, Ozian tak tinggal diam, dia hanya mengandalkan anak panahnya untuk menangkis pedang tersebut.
Tengg...
Tengg..
Tengg..
Ozian dengan tenang menangkis pedang yang terhunus kepadanya, melawan dua orang yang lebih lemah darinya bukan hal yang sulit.
Kedua Pria tersebut saling pandang dengan alis yang mengerut, mereka tak menyangka Ozian yang hanya orang desa bisa melawan mereka yang menggunakan pedang.
"Heeh, ternyata aku salah memandangmu. Kau cukup kuat juga." si paling besar menyahut dengan tatapan serius.
"Tenaga dalammu lumayan juga!" Pria satunya ikut menyahut.
Ozian tak menanggapi, dia maju untuk menyerang. Dia tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan untuk berlatih sesama orang yang memiliki tenaga dalam, selama di desa dia hanya berlatih sendiri.
Tengg...
Tengg...
Tenggg..
Suara pedang dan anak panah kembali beradu. Para warga malah menonton dengan semangat, ketakutan mereka hilang begitu saja melihat Ozian yang sangat hebat, mereka sudah tau juka Ozian pandai beladiri. Dalam pikiran mereka sebelumnya, Ozian bisa bela diri karena sering berburu. Tapi sekarang, Ozian terlihat sangat keren, membuat mereka kagum.
"Arrggh,, sial." Pria berbadan besar teriak kesakitan, lengannya tertusuk anak panah"
"Brengsek, kau melukai saudaraku. Aku tidak akan membiarkanmu hidup, rasakan ini." Dia sangat marah melihat temannya terluka, dengan penuh emosi dia menerjang Ozian dengan emosi.
Tenngg...
Tengggg...
Ozian hanya tersenyum kecil, ternyata mereka sangat lemah. Tapi lumayan sebagai latihannya, karena merasa sudah cukup untuk berlatih, Ozian berubah jadi serius, dia menambah tekanan pada anak panah di tangannya.
Tengg...
Buk...
Pedang pria itu terjatuh, Ozian tak membiarkankan untuk mengambilnya kembali. Dengan cepat Ozian sudah berada di belakangnya, hanya dengan satu kali pukulan di bagaian pundaknya, pria tersebut jatuh tak sadarkan diri.
"Kau,, apa yang kau lakukan? Kenapa kau membunuh saudaraku ha?" Pria yang terluka, berteriak dengan marah sambil menahan sakit. Dia ingin menyesal, tapi percuma.
"Aku hanya membela diri, jika aku tidak melawan, berarti aku yang ada diposisinya." jelas Ozian sambil jalan mendekat.
"Jangan mendekat, kau.. kau mau apa?" tanyanya dengan penuh rasa takut. Sebenarnya dia hanya memiliki sedikit kekuatan, dan di kota Nuwu tidak ada yang bisa mengalahkannya, jadi dia merasa di segani dan berkuasa. Makanya saat, ada yang meminta bantuannya dengan harga mahal dia langsung setuju. Tapi tak disangka, ternyata ada orang desa yang kekuatannya lebih tinggi darinya.
Ozian juga memukul pundaknya, sampai tak sadarkan diri. Dia mengikatnya di sebuah pohon, tugasnya sudah selesai. Selanjutnya akan menjadi urusan Aruna.
"Nak kamu baik-baik saja kan?" Tanya Kakek Ji dengan dengan cemas.
"Aku baik-baik saja!" balasnya.
"Apa kamu terluka?" Tabib Gu juga bertanya.
"Tidak, bagaimana dengan warga yang lain?" tanya Ozian, dia tadi terlambat karena sedang sakit perut, dia masuk hutan untuk menuntaskannya.
"Syukurlah, yang lain juga baik-baik saja. Kamu datang tepat waktu." Mungkin banyak yang terluka jika Ozian terlambat sedikit saja.
"Waah, saudara Ozian, kamu sangat hebat.." Puji Lin dengan kagum.
"Yaa,, Nak Ozian ternyata sangat pandai bela diri.."
"Ternyata di Desa kita, ada pemuda yang sangat berbakat."
"Terima kasih saudara Ozian.."
Ozian hanya tersenyum kaku, dia belum pernah berbicara dengan warga lainnya secara akrab, bukannya tidak mau, orang-orang terlihat takut saat melihatnya, jadi dia lebih memilih menghindar.
Kakek Ji yang pekah, langsung mengalihkan pembicaraan, "Jadi orang itu mau diapakan?" tanyanya.
Para warga juga sadar kembali, masih ada dua orang asing yang sudah membuat kekacauan.
"Kita tinggalkan saja, tidak mungkin kita bawa dia ke kota Nuwu untuk melapor. Itu terlalu membuang-buang waktu" ucap Ayah Lin.
Semua orang mengangguk setuju, mereka yang sudah mencari masalah, bahkan sampai menargetkan Aruna.
"Kita tunggu Aruna balik, sebelum pergi, dia meminta untuk menangkap mereka." jelas Ozian.
Semua orang saling menatap, dari omongan Ozian, Aruna sudah mengetahui kedua pria itu, makanya dia lari masuk ke hutan.
Kakek Ji langsung cemas, takut para warga salah paham. Mereka pasti berpikir, Aruna sengaja masuk hutan untuk bersembunyi, dan membiarkan mereka melawan, dan menjadi korban.
"Oh bagus lah, jadi Nak Aruna tidak perlu berhadapan dengan mereka!"
"Ya, Aruna sudah sangat baik sama kita semua. Jadi sewajarnya kita berbalas budi!'
Kakek Ji menghela nafas lega, apa yang dia takutkan tidak terjadi. Para warganya ternyata bisa berpikir logis, tidak hanya mau enaknya saja..
"Tapi, dia sudah pergi terlalu lama,!" Tabib Gu tiba-tiba menyahut sambil melihat ke arah hutan.
Kakek Ji juga berpikir seperti itu, Aruna sudah pergi selama 2 jam. "Kita tunggu setengah jam lagi, kalau belum balik, kita harus menyusulnya.
Semua setuju, masakan juga sudah siap, tinggal menunggu Aruna saja. Sambil menunggu, mereka berbincang tentang tujuan orang itu mencari Aruna. Mereka hanya saling menebak saja, karena tidak mungkin bertanya langsung kepada orang asing itu.
Setengah jam berlalu, Aruna belum balik juga. Semua orang sudah mulai cemas dan gelisah. Takut terjadi apa-apa, seorang gadis masuk hutan sendiri termasuk hal berbahaya.
"Aku akan pergi mencarinya!" ucap Ozian sambil beranjak bersiap pergi. Mreka sudah sepakat dari awal, dan jika ada orang asing lagi, mereka tak perlu takut. Lewan saja beramai-ramai sekuat tenaga.
"Ehh,, bukan kah itu Aruna?" Tanya Ji Yong sambil menunjuk ke arah seseorang yang sedang berlari dari arah hutan.
"Ya, itu Nak Aruna. Tapi apa yang mengejarnya itu.?"
"Serigala.." ucap Ozian, dia sudah bersiap dengan anak panahnya.
"Astaga,,, cepat, cepat kalian bersembunyi ada serigala..!" Seru Kakek Ji kepada anak-anak dan wanita. Dia sangat takut, serigala itu benar-benar berlari tepat di belakang Aruna.
Para Ibu-ibu segera menarik anak-anaknya untuk masuk dalam tenda untuk bersembunyi, baru saja mereka selamat dari dua orang asing, sekarang datang yang lebih parah.
****
Aruna memang berlari, tapi hanya berlari kecil. Bukan berlari ketakutan seperti yang ada pikiran para warga. Serigala putih yang seperti anjing memang ikut dengannya. Ayah serigala yang memintanya, saat ingin pulang kedua serigala itu tetap mengikutinya.
"Aku harus pulang, semoga kita bertemu lagi" ucap Aruna bersiap untuk terbang. Tapi, serigala itu tiba-tiba menggigit ujung bajunya.
Geerrrr...
Geeerrrr...
"Kenapa?"
Geerrr...
Ayah serigala menggeram, dan berbalik pergi. Sekitar jarak 20 meter dia menoleh, dia menatap Aruna lalu menatap anaknya.
Geerrrr.... Ayah serigala langsung berlari tanpa menoleh lagi. Aruna yang melihat itu hanya bisa tertegun, setelah hilang dari pandangannya dia menatap anak serigala yang masih melihat kepergian Ayahnya.
Aruna sangat paham. Ayah serigala memintanya untuk menjaga anaknya, mungkin karena takut Aruna menolak jadi dia langsung berbalik pergi.
Aruna tak sanggup, anak serigala itu meneteskan air matanya. Dia mendekat, lalu mengusap kepala serigala. "Ayahmu menitipkanmu kepadaku, aku juga tidak tau apa alasannya. Tapi sekarang kamu menjadi tanggung jawabku, aku akan merawatmu dengan baik. Jadi, apakah kamu mau ikut denganku?"
Geerrr.....
Aruna tersenyum, dia menganggap geraman itu persetujuan. Aruna bangkit, lalu berlari pelan, agar anak serigala bisa mengikutinya. Tapi setelah mendekati perkemahan, dia langsung berhenti.
Aruna tidak lagi berlari, dia berjalan yang masih diikuti serigala. "Kalian sedang apa?" tanyanya pada warga yang terlihat seperti ingin bertempur, di tangan mereka semua anda alat tempur. Parang, balok, kayu dan pacul.
"Aruna kenapa berhenti? Cepat lari, kami akan melawan serigala itu!" teriak Lin.
Aruna : "......"
Dia benar-benar lupa, di zaman itu serigala adalah binatang buas yang bisa membunuh manusia dengan cakarnya, sedangkan di tahun 3000 serigala sudah menjadi pengganti anjing.
lanjut thorr💪💪💪