fiksi sejarah Kisah Para Pemimpin sebuah Pulau bernama The Horn Land. cerita dalam rentang waktu 110 tahun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sutrisno Ungko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Regen Manollion
Cuaca malam itu tak mau diajak bekerja sama. Tiada angin yang bertiup dari arah laut pada malam itu, sedangkan kabut kelabu keruh telah menyelimuti Pelabuhan Kaitaia.
Owen merasakan angin timur menyibak rambut kusutnya, selembut dan seharum jemari Elia. Dia bisa mendengar burung-burung berkicau, dan merasakan sungai mengalir di bawah perahu sementara sampan membawa mereka menuju fajar muda pucat.
Di hilir, matahari terbit berpendar dipermukaan sungai yang dilecuti angin. Tepian selatan berupa tanah lapang. Sehalus jalanan.
“Kita sampai.” seru Regen Manollion, yang sigap menuruni perahu mereka. Sambil memeriksa sekitar. Pedang terhunus di tangannya.
Satu-persatu penumpang perahu itu turun. Terlihat Owen Ghie, setelah menuruni perahu, tak langsung melangkahkan kaki jauh..dalam beberapa langkah ia membungkuk, menyentuh tanah dibawah kakinya, kemudian bersujud dalam rasa syukur berhasil menginjakkan kakinya lagi di tanah nenek moyang yang telah lama ditinggalkannya.
Ia membisikan sesuatu yang tak terdengar oleh yang lain..
Regen segera menemui Jhuma.
“Kemana kita selanjutnya?”
“Kita menuju rumah Master Sorush, ia sudah menunggu disana. Oliver juga butuh pengobatan.” Kata Jhuma.
Regen segera memberikan perintah pada yang lain. Segera mereka bergerak memasuki jalan setapak itu. Dengan sikap waspada, terus berhati-hati jangan sampai bertemu dengan orang lain. Keadaan mereka tentu sangat mencurigakan. Dan tak akan butuh waktu lama, informasi akan sampai pada penguasa setempat.
Perjalanan di tempuh semalam, menjelang subuh, rombongan itu sampai di rumah Master Sorush.
Mereka tiba di Kaitaia ; salah satu wilayah koloni Kekaisaran, di Pulau The Horn Land bagian utara. Wilayah ini terletak dekat sungai Awanui, di semenanjung Pulau. Ini adalah salah satu dari 30 wilayah yang ada di koloni The Horn Land. Yang telah dikuasai Kekaisaran sejak ratusan tahun lalu. Di Kaitaia-lah asal usul Suku Adara dimasa lalu berkuasa, sehingga rombongan ini memilih wilayah ini untuk melabuhkan perahu.
“Selamat datang. senang bisa melihatmu lagi Jhuma. Siapa yang bersamamu ini?” kata Master Sorush. Usianya sudah 50 tahun lebih. Masih terlihat muda, namun ia menggeluti ilmu pengobatan , ruangannya penuh buku.
Jhuma kemudian memperkenalkan Owen . Terlihat Sorush terlihat bahagia, dan memberikan penghormatan.
“Selamat datang yang mulia. Selamat datang di gubukku ini. Aku siap membantu yang mulia..” kata Sorush. Pernyataan dan tatapannya tulus.
“Terima kasih Master, temanku ini butuh bantuan.” kata Owen . Ia masih merasa canggung di berikan penghormatan yang berlebihan. Ia masih merasa seorang veteran perang berpangkat perwira dan tak lebih.
“Sudah terlalu lama anda meninggalkan The Horn Land, saat tuan pergi diusia 9 tahun, aku bahkan belum lagi lahir.” Kata Sorush.
“Aku juga tak menyangka bisa kembali ke Pulau ini.” sambut Owen.
Oliver kemudian dipapah masuk keruangan oleh Angurey. Dan segera mendapatkan penanganan dari master. Dirumah itu, Master Sorush juga dibantu seorang remaja, berusia 16 tahun bernama Theon.
“Mungkin sebaiknya setelah ini kita akan menghubungi para perwakilan keluarga yang mendukung kita.” kata Regen pada Jhuma.
“Benar. Sekarang saatnya berbagi tugas. Aku dan Angurey akan menemani Ser Owen dan Oliver disini. Sementara Ser Regen sebaiknya menuju utara kota hubungi pimpinan keluarga Loaun disana, mereka akan membantu mengirimkan gagak pada keluarga-keluarga yang sudah bersiap, Lauren kamu ke Selatan *), menemui keluarga Mandon, Aragon ke Tenggara ada keluarga Kotha menunggumu. Bantuan ke tiga keluarga itu akan membantu menghubungi yang lain. sampaikan 3 hari lagi kita akan bertemu di rumah Master Sorush. Kami menunggu...” Kata Jhuma memberikan istruksi.
*) Pada saat ke selatan Kaitaia ini, Lauren menemui keluarganya di perkampungan bernama Paihia. Ia dan istrinya, Coryanne sudah tinggal disana lebih dari 10 tahun. Bersama dua anak gadisnya ; Alysanne dan Alysaa. Istrinya kini berusia 40 tahun. Anak tertua berusia 20 tahun dan saudarinya berusia 17 tahun. Alysanne mengidap penyakit langka. Dan kemudian meninggal dua bulan kemudian setelah datangnya Lauren dari Lemuria. Pertemuan ini hanya untuk mengabarkan kepulangannya, dan meminta mereka tetap berada di Paihia, sampai situasi benar-benar aman.
Ketiga kesatria itu kemudian bergerak menuju lokasi-lokasi yang sudah diperintahkan Jhuma.
***
Regen, dia lahir dari keluarga Manollion, di wilayah Dunedin jauh di Selatan, di anak Sungai Pania yang mengalir ke Sungai Trident. Ia adalah seorang pemuda dari keluarga miskin. Ia awalnya adalah prajurit disalah satu keluarga terpandang. Dan kemudian masuk di ketentaraan kekaisaran dan bertugas di salah satu kota di selatan. Namun sejak 3 tahun lalu ia memilih mengundurkan diri dan bersama Jhuma mereka mempunyai keinginan untuk mengumpulkan kekuatan suku Adara untuk membangun perlawanan pada kekaisaran yang semakin keras memerintah wilayah mereka. Namun kendala tak adanya sosok pemimpin yang kuat menjadi penyebap tak pernah ada langkah awal yang baik dalam upaya merebut kekuasaan kekaisaran.
Beberapa tokoh yang mereka angkat untuk menjadi pemimpin jika tak berakhir dipenjara, justru berakhir dengan kematian tragis baik di bunuh maupun tewas dalam pertempuran kecil yang tak menentukan. Sampai kemudian mereka mendengar adanya perwira pejuang kemerdekaan The Horn Land yang ada di Lemuria. Sehingga terjalinlah upaya mereka mengajak Owen untuk pulang.
Kini ia mendapatkan tugas untuk menghubungi salah satu keluarga besar di Utara kota kecil Kaitaia. Namun sebelumnya ia punya rencana untuk mengunjungi keluarganya. Disebuah village kecil Valla.
***