Berawal dari selembar struk pembayaran sebuah tas branded yang harganya mahal, Kirana mencurigai Rafka sudah berselingkuh di belakangnya. Dia pun mulai memantau suaminya secara diam-diam.
Sampai suatu hari Kirana sadar Rafka lebih mengutamakan Kinanti dan putrinya, Ara, dibandingkan dengan dirinya dan Gita, putri kandungnya sendiri.
"Bukannya Mas sudah janji sama Gita, lalu kenapa Mas malah pergi ke wahana bermain sama Ara? Sungguh, Mas tega menyakiti perasaan anak sendiri dan membahagiakan anak orang lain!" ucap Kirana dengan berderai air mata.
"Ma, Papa sudah tidak sayang lagi sama aku, ya?" tanya Gita lirih, menahan isak tangis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Tangis Gita akhirnya mereda setelah setengah jam menangis. Akan tetapi, getaran rasa kesal masih tertinggal di dada Kirana.
Gadis kecil itu tertidur di pangkuannya setelah terlalu lelah menangis. Kirana mengelus rambut putrinya pelan, seolah sentuhan itu juga ditujukan untuk menenangkan dirinya sendiri. Di sekelilingnya, suasana rumah mertua kembali normal, seakan tidak ada apa-apa yang baru saja mengguncang batinnya.
Namun bagi Kirana, sesuatu telah berubah. Sebuah pesan dan ucapan Gita membongkar kebohongan kecil yang dilakukan oleh suaminya. Ia menatap ke arah jalan desa yang sepi. Entah kenapa, kali ini perginya suaminya tidak terasa biasa.
“Gita tidur?” tanya Bu Ratih dari balik pintu.
“Iya, Bu. Mungkin Gita capek,” jawab Kirana sambil tersenyum kecil.
Kirana berusaha untuk menghilangkan rasa kecurigaannya. Bahkan pada dirinya sendiri, Kirana masih berusaha meyakinkan bahwa semua ini hanyalah salah paham.
Rafka itu suaminya. Pria yang enam tahun hidup bersamanya. Ayah dari anaknya. Ia bukan tipe pria yang sembarangan dekat dengan wanita.
Kalimat yang selalu ia gunakan untuk menenangkan diri, kini terdengar rapuh.
Rafka pulang menjelang siang. Motor berhenti di depan rumah dan suara langkahnya terdengar mendekat. Kirana yang sedang menata piring di dapur bisa mengenali langkah itu tanpa perlu menoleh.
“Yang,” panggil Rafka ringan.
Kirana menoleh, menatap wajah suaminya yang tampak biasa saja.
“Habis dari mana, Mas?”
“Beli bensin.”
“Bensinnya habis? Kok, pergi sampai berjam-jam,” tanya Kirana, berusaha terdengar santai.
“Iya. Tadi sekalian mampir sebentar,” jawab Rafka cepat.
“Mampir ke mana?” Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari mulut Kirana tanpa tekanan.
Rafka sempat terkejut sepersekian detik. Walau cukup singkat, tetapi Kirana bisa melihat perubahan ekspresi wajah suaminya.
“Ke bengkel. Ada sedikit masalah pada motornya,” jawab Rafka.
“Oh.”
Kirana mengangguk. Tidak ada yang aneh dari jawaban itu. Namun, hatinya berdesir pelan. Seperti perasaan ketika mengetahui hujan akan turun meski langit masih cerah.
“Tadi Gita nangis cukup lama sampai tertidur,” ucap Kirana kemudian.
Rafka menoleh cepat. “Kenapa?”
“Dia bilang, kemarin Ara cerita mau ke Timezone sama kamu, Mas.” Kirana menatap suaminya lurus-lurus. “Apa itu benar?”
Udara di antara mereka menegang. Rafka tertawa kecil, terlalu dipaksakan.
“Ah, itu. Mbak Kinanti cuma minta dianterin. Kebetulan kita bertemu di jalan.”
“Kemarin?” Kirana mengejar.
“Iya. Saat aku pulang kerja.”
Kirana menahan napas. Dia merasa ada yang disembunyikan oleh Rafka. Namun, dia ikuti saja ucapan suaminya.
“Kenapa Mas nggak cerita?”
Rafka mengangkat bahu. “Lupa. Lagian cuma sebentar.”
Jawaban itu rapi. Terlalu rapi. Seperti sudah disiapkan.
“Kok, Ara bilang kamu sering datang ke rumah Mbak Kinanti?” Kirana tidak mengubah nada suaranya. Ia memilih tetap lembut, meski dadanya mulai berdenyut nyeri.
“Kadang Mbak Kinanti minta tolong. Dia itu wanita dan banyak hal yang tidak bisa dia kerjakan. Misalnya ganti lampu di langit-langit atau benerin genteng,” ucap pria itu berdalih.
Rafka menghela napas panjang. “Yang, kamu kenapa jadi curiga begini?”
Kalimat itu menusuk. Bukan karena nadanya, melainkan karena ia memutar posisi, membuat Kirana merasa bersalah hanya karena bertanya.
“Aku bukan curiga,” Kirana menelan ludah. “Aku hanya terkejut saja Ara bicara begitu.”
“Kinanti itu kakakmu,” ucap Rafka, suaranya terdengar jengkel. “Dia janda. Punya anak. Masa aku nggak boleh bantu?”
Kirana terdiam. Kalimat itu masuk akal. Sangat masuk akal. Namun, justru itulah yang membuatnya semakin takut. Karena kebohongan yang baik selalu berdiri di atas kebenaran kecil.
“Aku cuma ingin tahu,” ucap Kirana lirih.
Rafka mendekat, meraih tangan istrinya. “Yang, jangan mikir aneh-aneh. Kamu capek.”
Sentuhan Rafka biasanya menenangkan. Namun, hari ini tidak.
Malamnya, Kirana tidak bisa tidur. Sementara Rafka sudah terlelap di sampingnya, napasnya teratur, wajahnya tenang. Kirana menatap langit-langit kamar, pikirannya berputar tanpa henti.
Pikiran Kirana sibuk dengan kejadian hari ini. Dia teringat pesan kakaknya di ponsel Rafka. Ia teringat saat Gita menangis. Ia juga teringat dengan perubahan ekspresi wajah Rafka saat ditanya olehnya.
Semua potongan kecil itu tidak membentuk bukti. Namun, cukup untuk melahirkan satu pertanyaan besar yang tak berani ia ucapkan.
“Sejak kapan aku tidak tahu ke mana suamiku pergi?”
Kirana memejamkan mata, mencoba mengusir pikiran itu. Bayangan wajah Kinanti justru muncul.
Kakaknya itu selalu lembut. Selalu tampak rapuh. Selalu berbicara dengan suara rendah yang seolah meminta dimengerti. Kinanti juga selalu pandai membuat orang merasa dibutuhkan.
Hari-hari berikutnya, Kirana mulai memperhatikan hal-hal kecil. Seperti, Rafka lebih sering memegang ponsel. Sering keluar dengan alasan singkat. Dan yang paling mengganggu pria itu mulai lebih sering menyebut nama Kinanti dalam percakapan sehari-hari.
“Mbak Kinanti minta tolong ini.”
“Ara lagi sakit. Mbak Kinanti minta antarkan ke dokter.”
Semua itu terdengar wajar. Sampai suatu sore, Rafka pamit pergi lagi, padahal baru pulang.
“Mau ke mana, Mas?” tanya Kirana.
“Ada pegawai yang kecelakaan di pabrik,” jawab Rafka sambil memakai jaketnya.
“Memangnya ada giliran kerja shift malam? Bukannya sekarang tidak memberlakukan pembagian jam kerja, ya, di pabrik.”
Rafka terlihat gelagapan, namun berusaha tetap tenang. “Ini di bagian pengiriman barang. Kadang bahan baku datang terlambat ke pabrik."
Kirana mengangguk, lalu tersenyum. “Hati-hati di jalannya, Mas.”
Walau motor Rafka menghilang dari pandangan, Kirana masih berdiri di teras. Dadanya terasa sesak oleh sesuatu yang tak bisa dia jelaskan.
Setelah berdiri lebih dari sepuluh menit, Kirana masuk ke rumah. Ketika duduk di tepi ranjang, matanya jatuh pada ponsel Rafka yang tertinggal di atas meja.
Bisik hati Kirana menyuruhnya untuk mengambil ponsel itu. Dengan tangan yang gemetar, dia pun mengambilnya. Ia tahu membuka ponsel suaminya tanpa izin adalah pelanggaran. Namun, rasa penasaran itu kini lebih besar daripada rasa bersalah.
Kirana terkejut karena layar ponsel itu terkunci oleh sandi. Selama ini Rafka tidak pernah mengunci ponsel dengan pola sebagai kunci.
“Kenapa ponselnya di kunci?” gumam Kirana.
Wanita itu pun meletakkannya kembali dengan napas terengah. Dadanya naik turun, seolah baru saja melakukan sesuatu yang sangat berdosa dan hampir melakukannya.
Malam itu, Rafka pulang jam sembilan. Kirana masih terjaga.
“Bagaimana keadaan di pabrik, Mas?” tanya Kirana.
“Sudah berhasil diatasi,” jawab Rafka singkat.
“Syukurlah kalau begitu.”
Rafka mengangguk tanpa menatapnya.
Kirana tersenyum kecil, meski hatinya bergetar. Ia mulai menyadari satu hal yang menyakitkan. Suaminya kini lebih sering menjawab tanpa menatap mata. Itu bukan kebiasaan Rafka.
Pagi itu, Kirana berpura-pura sibuk seperti biasa. Ia menyiapkan sarapan, mengantar Gita ke sekolah, dan bersikap selembut mungkin.
Ketika Rafka pamit pergi bekerja, Kirana tersenyum.
“Hati-hati, Mas.”
“Iya.”
Begitu motor itu menjauh, Kirana bergegas masuk ke kamar. Ia mengganti pakaiannya, mengambil tas kecil, dan memastikan Gita aman di sekolah.
Tangannya bergetar saat menutup pintu rumah.
“Aku harus cari tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Mas Rafka," batin Kirana.
Kirana menyalakan motor yang sengaja dia sewa dari tetangganya. Lalu, mengikuti arah yang biasa Rafka ambil ketika pergi ke pabrik.
Jantung Kirana berdetak keras, setiap meter terasa seperti langkah menuju kebenaran yang mungkin tidak siap ia terima. Satu hal sudah pasti, jika ada sesuatu yang disembunyikan, Kirana akan menemukan hal itu. Dia bukan lagi istri yang hanya menunggu penjelasan, melainkan perempuan yang bersiap menghadapi kenyataan.
semoga kirana mendapat kebahagian kembali dgn pasangan hidup yg baru 😍 🙏