Sifa (18 tahun) hanyalah gadis lulusan SMA yang 'kasat mata'. Di dunia yang memuja kekayaan dan penampilan, Sifa yang miskin, culun, dan polos adalah target empuk. Hidupnya adalah serangkaian kesialan: di-bully habis-habisan oleh duo sosialita kejam Rana dan Rani sejak sekolah, dikucilkan tanpa teman, dan harus bekerja serabutan demi ibunya. Tak ada yang spesial dari Sifa, kecuali hatinya yang seluas samudra.
Hingga suatu sore di taman kota, takdir melempar sebuah jam tangan butut ke pangkuannya.
Siapa sangka, benda rongsokan itu adalah "Chrono", asisten AI super canggih dari masa depan yang bisa melakukan apa saja—mulai dari memanipulasi data, mengubah penampilan, hingga meretas sistem perusahaan elit NVT tempat Sifa bekerja sebagai staf rendahan!
Dengan bantuan jam ajaib yang sarkas dan kocak itu, Sifa mulai membalas dendam pada Rana dan Rani dengan cara yang elegan. Namun, kekacauan dimulai saat Adi, CEO NVT yang tampan namun dingin, mulai menaruh curiga... sekaligus menaruh hati
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hafidz Irawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Integritas Rasa Micin
Kokok ayam jantan milik Pak RT terdengar parau, seolah malas menyambut matahari pagi yang mulai mengintip malu-malu di ufuk timur Jakarta. Di dalam rumah petak kami, suara cetek-cetek kompor gas yang susah dinyalakan menjadi musik pembuka hari.
Aku duduk di lantai beralaskan tikar, menatap sarapanku. Sepiring nasi putih hangat dengan sisa kepala lele goreng semalam yang sudah dingin dan agak alot. Ditambah sedikit kecap manis biar ada rasanya.
"Maaf ya, Nduk. Cuma ada sisa kepala lele," ujar Ibu sambil menuangkan teh tawar hangat ke gelas belimbing. Wajah Ibu terlihat sedikit lebih segar pagi ini, mungkin efek makan enak semalam.
"Nggak apa-apa, Bu. Kepala lele itu banyak vitaminnya, bikin pinter," jawabku asal sambil tersenyum lebar, lalu dengan lahap menyuapkan nasi itu ke mulut. Rasanya gurih, asin, dan penuh rasa syukur.
Sambil mengunyah, aku melirik jam tangan di pergelangan kiriku. Chrono masih dalam mode standby, layarnya hitam pekat. Dia pasti sedang mengisi daya dari cahaya matahari pagi yang masuk lewat celah genteng kaca.
"Sifa berangkat dulu ya, Bu," pamitku setelah meneguk teh tawar sampai tandas. Aku mencium tangan Ibu lama, menyerap energinya.
"Hati-hati. Jangan lupa senyum, biar rezekinya lancar," pesan Ibu sambil merapikan kerah kemeja kerjaku yang warnanya sudah mulai pudar.
Aku melangkah keluar gang dengan semangat baru. Meski dompetku tipis, setidaknya hatiku penuh. Udara pagi Gang Senggol berbau campur aduk: bau selokan, bau sabun cuci baju tetangga, dan bau asap knalpot motor yang sedang dipanaskan.
Di ujung gang, gerobak "Cimol Mang Asep" sudah mangkal, mengepulkan asap putih yang baunya... subhanallah, menggoda iman. Bau bawang putih goreng dan bumbu balado yang menusuk hidung.
Perutku yang baru diisi sedikit nasi tadi langsung bereaksi. Masih ada sisa ruang di sana yang berteriak minta diisi jajanan. Aku meraba saku rok. Ada uang receh dua ribu rupiah.
"Mang, cimol dua ribu ya. Bumbunya yang pedes asin, jangan pelit micinnya," pesanku sambil menyodorkan uang logam.
"Siap, Neng Sifa! Sarapan micin biar glowing!" canda Mang Asep sambil cekatan menusuk bola-bola tepung kanji itu ke dalam plastik.
Sambil menunggu cimolku diracik, tiba-tiba pergelangan tanganku bergetar halus.
"Peringatan: Asupan Natrium Glutamat (Micin) berlebihan dapat menurunkan kinerja otak sebesar 0,5 persen," suara Chrono muncul di kepalaku, nadanya seperti guru biologi yang cerewet.
Aku mendengus pelan, menerima bungkusan cimol hangat itu. "Berisik. Ini namanya soul food, Chrono. Makanan jiwa."
Aku berjalan menuju halte busway sambil menusuk satu butir cimol yang kenyal. Rasanya meledak di mulut. Pedas, gurih, nikmat. Surga dunia seharga dua ribu perak.
"Gue baru aja selesai scan kondisi finansial lo," lanjut Chrono, suaranya terdengar lebih serius. "Saldo tabungan: Rp 150.000. Utang warung Ibu: Rp 300.000. Gaji lo baru turun dua minggu lagi. Lo yakin bisa bertahan hidup dengan diet cimol begini?"
Aku menelan cimol dengan susah payah. Realitas kembali menampol. "Ya mau gimana lagi? Dicukup-cukupin lah."
Layar Chrono berkedip biru.
"Gue punya solusi instan, Nona. Gue baru aja mendeteksi aliran dana mencurigakan di rekening seorang pejabat korup yang lagi transfer uang suap lewat bank luar negeri. Enkripsinya lemah banget, kayak pintu rumah nggak dikunci."
Langkahku terhenti di trotoar. "Maksud kamu?"
"Gue bisa belokin aliran dananya sedikit. Cuma nol koma sekian persen. Sekitar 10 juta rupiah. Masuk ke rekening lo sekarang juga. Orangnya nggak bakal sadar, bank nggak bakal tau. Anggap aja Robin Hood digital. Lo bisa lunasin utang Ibu, beli baju bagus buat pesta, dan makan steak tiap hari."
Sepuluh juta.
Angka itu berdengung di telingaku. Uang segitu banyak... aku harus kerja berbulan-bulan buat mendapatkannya. Bayangan wajah Ibu yang bahagia, rumah yang diperbaiki, obat yang bagus... semuanya melintas di benakku. Tinggal bilang "Iya", dan Chrono akan memberikannya.
Tanganku yang memegang plastik cimol gemetar. Godaan itu nyata. Sangat nyata.
Tapi kemudian, aku teringat pesan Ibu tadi pagi. "Kamu anak jujur, Sifa. Rezekimu pasti nanti ngalir."
Aku menarik napas panjang, lalu menggeleng tegas.
"Nggak, Chrono."
"Hah? Lo nolak duit gratis? Lo gila apa suci?" Chrono terdengar kaget.
"Dua-duanya mungkin," jawabku sambil tersenyum kecut, kembali melangkah menuju halte. "Itu uang haram, Chrono. Uang maling. Kalau aku ambil, apa bedanya aku sama Rana yang suka ambil hak orang lain? Apa bedanya aku sama koruptor itu?"
"Tapi lo butuh..."
"Aku emang butuh. Banget. Tapi aku mau uang yang berkah. Uang hasil keringatku sendiri. Biarpun cuma cukup buat beli cimol, tapi tidurnya nyenyak. Kalau makan uang haram, nanti perutku sakit, Ibu juga pasti sedih kalau tau."
Hening sejenak di kepalaku. Chrono tidak langsung menjawab.
"Hmm. Integritas moral: 99 persen. Naif: 100 persen," akhirnya Chrono berkomentar, tapi nadanya terdengar... kagum? "Oke, terserah lo. Dasar manusia aneh. Padahal gue udah siapin algoritmanya."
Aku tersenyum bangga. Aku memang miskin, tapi aku punya harga diri.
Sesampainya di NVT Tower, tantangan berikutnya dimulai: Menyelundupkan cimol ini ke meja kerjaku tanpa ketahuan satpam. Bau micin dan bawang gorengnya sangat menyengat, bisa tercium dari radius sepuluh meter.
Aku memasukkan plastik cimol itu ke dalam tas selempangku yang butut, menutup ritsletingnya rapat-rapat, lalu menjepit tas itu di ketiak.
Aku bergegas menuju lift karyawan. Sial, antriannya panjang mengular sampai ke lobi depan. Kalau nunggu di sini, aku bisa telat dan cimolku keburu dingin (cimol dingin itu alotnya kayak karet ban).
Mataku melirik ke lift VIP di ujung lorong. Lift yang biasanya khusus direksi. Pintunya terbuka dan... kosong. Sepertinya sedang maintenance atau tidak ada yang pakai. Satpam yang jaga juga lagi ke toilet.
"Kesempatan dalam kesempitan. Masuk," bisik Chrono memprovokasi.
Tanpa pikir panjang, aku menyelinap masuk ke lift VIP itu. Pintunya berlapis emas dan cermin di dalamnya bersih tanpa noda. Aku menekan tombol lantai gudang dengan cepat.
Ting! Pintu lift mulai menutup.
"Aman..." desahku lega. Aku membuka sedikit ritsleting tasku, ingin mengambil satu butir cimol lagi. Baunya langsung menyeruak memenuhi ruang lift yang sempit dan ber-AC dingin itu.
Tiba-tiba...
Sebuah tangan kekar menahan pintu lift yang hampir tertutup rapat. Sensor pintu bekerja, dan pintu kembali terbuka lebar.
Jleb.
Jantungku berhenti berdetak.
Di sana, berdiri Adi Pratama.
Dia terlihat segar, tampan, dan wangi seperti biasa. Setelan jas abu-abunya pas badan, rambutnya tertata rapi dengan pomade. Di tangannya ada tablet dan tumbler kopi mahal.
Mata kami bertemu. Mata cokelatnya membelalak sedikit kaget melihat ada anak magang kucel di lift VIP direksi.
Aku panik setengah mati. Buru-buru aku menyembunyikan tangan ke belakang punggung, tapi bau cimol itu sudah terlanjur menguasai udara, bertarung sengit dengan wangi parfum mahal Mas Adi.
"Pa-pak Adi... Pagi, Pak..." cicitku, badanku kaku menempel ke dinding lift.
Adi tidak marah. Dia justru tersenyum tipis—senyum yang membuat lututku lemas—dan melangkah masuk.
"Pagi, Sifa," sapanya ramah. Dia ingat namaku! "Lift karyawan penuh ya?"
"I-iya, Pak. Maaf saya lancang masuk sini..."
"Nggak apa-apa. Lift ini buat manusia kok, bukan buat dewa," candanya santai sambil menekan tombol lantai paling atas, lalu berdiri di sampingku.
Pintu lift menutup. Kami terjebak berdua di dalam kotak besi mewah yang bergerak naik.
Keheningan yang canggung melanda. Canggung dan... bau bawang. Aku ingin sekali menghilang ditelan bumi. Bau cimol ini semakin lama semakin tajam di ruang tertutup.
Sniff. Sniff.
Hidung bangir Mas Adi bergerak-gerak sedikit. Dia menoleh ke arahku, lalu ke arah tasku yang kugenggam erat.
"Wangi apa ini?" tanyanya polos. "Baunya... gurih? Kayak bawang putih goreng?"
Wajahku panas merah padam. Tamat riwayatku. CEO NVT mencium bau jajanan SD di lift pribadinya.
"I-itu... anu Pak..." aku gelagapan. "Itu... parfum baru saya..."
Adi mengerutkan kening, menahan tawa. "Parfum aroma garlic? Unik juga selera kamu."
Aku tidak tahan lagi. Kebohongan konyol ini harus diakhiri. Dengan pasrah, aku membuka tasku sedikit, memperlihatkan bungkusan plastik transparan berisi bola-bola kenyal berlumur bumbu merah.
"Bukan parfum, Pak," aku menunduk malu. "Ini... cimol. Tadi saya beli di pinggir jalan. Maaf Pak kalau baunya bikin pusing."
Adi menatap bungkusan itu. Matanya berbinar aneh. Bukan jijik, tapi... penasaran?
"Cimol?" ulangnya. "Saya pernah dengar, tapi belum pernah lihat bentuknya. Jadi ini cimol?"
"Iya, Pak. Aci digemol. Tepung kanji goreng."
Tiba-tiba, suara perut seseorang berbunyi nyaring. Kruyuuuuuk.
Itu bukan perutku.
Aku mendongak kaget. Adi memegangi perutnya yang rata di balik kemeja mahalnya. Wajah CEO dingin itu tiba-tiba merona merah. Dia terlihat salah tingkah.
"Maaf," gumam Adi, menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Saya tadi buru-buru berangkat, belum sempat sarapan di rumah."
Melihat Adi yang malu, rasa takutku tiba-tiba hilang. Entah keberanian dari mana, mungkin karena kasihan atau karena dia terlihat sangat menggemaskan saat kelaparan, aku menyodorkan plastik cimol itu padanya.
"Bapak... mau coba?" tawarku ragu. "Ini enak lho, Pak. Masih anget. Buat ganjal perut."
Adi menatap cimol itu, lalu menatapku. Ragu sejenak. Higienis nggak ya? Tapi perutnya berbunyi lagi, memaksanya menurunkan standar gengsi.
"Boleh satu?" tanyanya pelan, seperti anak kecil minta permen.
"Boleh banget, Pak. Ambil aja."
Adi mengambil tusuk sate bambu dari tanganku. Dengan hati-hati, dia menusuk satu butir cimol. Dia mengamatinya sebentar, lalu memasukkannya ke mulut.
Dia mengunyah.
Matanya membelalak.
"Pedas!" serunya kaget, tangannya mengipas-ngipas mulut. "Tapi... hmm... kenyal ya. Enak."
Dia mengambil satu lagi. Lalu satu lagi.
Aku terpana melihat pemandangan langka di depan mataku: Seorang CEO triliuner, berdiri di lift berlapis emas, makan cimol dua ribuan dengan lahap sambil kepedasan.
"Enak kan, Pak?" tanyaku sambil tersenyum geli.
"Lumayan. Ternyata micin itu adiktif ya," jawabnya sambil tertawa renyah. Tawa yang lepas, tanpa beban. Gigi putihnya terlihat rapi.
Ya Tuhan, dia ganteng banget kalau lagi ketawa sambil ngunyah cimol.
Ting!
Pintu lift terbuka di lantai gudang. Lantai tujuanku.
Adi berhenti mengunyah, buru-buru mengelap sudut bibirnya dengan sapu tangan sutra. Dia mengembalikan tusukan bambu itu padaku.
"Terima kasih sarapannya, Sifa," katanya tulus, matanya menatap mataku lekat. "Kamu penyelamat saya lagi hari ini. Kemarin dokumen, sekarang perut."
"Sama-sama, Pak," jawabku, rasanya mau terbang.
"Nanti... bon-nya tagih ke saya ya," candanya.
"Nggak usah, Pak. Gratis buat Bapak."
Aku melangkah keluar lift dengan hati berbunga-bunga. Sebelum pintu tertutup kembali, aku sempat menoleh. Adi melambaikan tangan kecil padaku, senyum masih tersisa di bibirnya.
Pintu lift tertutup, membawa Adi naik ke puncaknya.
Aku berdiri di lorong gudang, memeluk sisa cimolku.
"Detak jantung lo: kritis. Kadar kebahagiaan: over dosis," komentar Chrono. "Gue nggak nyangka, cimol bisa jadi alat diplomasi paling efektif mengalahkan data statistik perjodohan. Selamat, Nona. Lo baru aja bikin CEO NVT ketagihan micin."
Aku tertawa kecil, menggigit bibir bawahku menahan jeritan senang. Integritasku terjaga, perutku kenyang, dan hatiku penuh dengan bayangan Adi yang kepedasan.
Hari ini, Sifa si gadis miskin merasa seperti orang paling kaya di dunia.
semangat kakak