NovelToon NovelToon
Takdir Paranormal Gadungan

Takdir Paranormal Gadungan

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Horor / Mata Batin / Iblis / Anak Yatim Piatu / Roh Supernatural
Popularitas:44
Nilai: 5
Nama Author: Princss Halu

Freen Sarocha adalah seorang penipu ulung yang hidup dari rasa takut orang lain. Berbekal minyak melati, bubuk kunyit, dan trik kabel listrik, ia sukses membangun reputasi sebagai "Paranormal Sakti" demi menguras dompet para orang kaya yang percaya takhayul. Baginya, hantu itu tidak nyata—mereka hanyalah peluang bisnis.
​Namun, keberuntungan Freen berakhir saat ia menginjakkan kaki di rumah tua milik sahabatnya, Nam.
​Di sana, ia bertemu dengan sesuatu yang tidak bisa ia tipu dengan trik pencahayaan. Sosok arwah bernama Chanya tidak hanya mengusir Freen, tapi juga memberikan hukuman paling kejam bagi seorang penipu: Membuka Mata Batinnya secara paksa.
​Kini, dunia Freen berubah menjadi mimpi buruk. Ia melihat sosok-sosok mengerikan di setiap sudut jalan, di punggung orang asing, dan di bawah lampu merah. Hanya ada satu cara agar ia bisa kembali menjadi "normal": Freen harus berhenti berpura-pura dan mulai menjadi paranormal sungguhan.
​Terjebak dalam konspirasi pembunuhan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Princss Halu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Klien pertama: Penebusan karma

Freen mengendarai motor Nam dengan sangat hati-hati, menjaga kecepatan konstan agar Khai yang berlari di samping mereka tidak tertinggal. Nam duduk tegang di belakang, sesekali menoleh ke belakang seolah berharap bisa melihat Khai.

"Belok kanan, Freen! Sekarang!" seru Freen, menirukan arahan Khai yang ia dengar melalui mata batinnya.

"Kenapa kau tidak bilang dari tadi?!" balas Nam, hampir terjungkal saat motor menikung tajam.

"Khai baru bilang, Nam! Dia ada di sebelah kananmu! Jangan injak dia!" Freen berteriak panik, membuat Nam segera mengangkat kakinya.

Setelah beberapa saat, mereka tiba di sebuah area kumuh dekat pelabuhan. Bangunan di sana tampak usang dan padat, didominasi oleh rusun-rusun tua yang dindingnya ditumbuhi jamur dan lumut.

"Rusun Tua dekat pelabuhan," gumam Freen, memelankan motor. "Kamar 12, lantai tiga."

"Dia di depan, Freen! Dia menunjuk rusun yang paling besar dan paling jelek!" kata Khai, suaranya terdengar mendesak.

Freen memarkir motor di tempat yang agak tersembunyi. Mereka berdua turun. Bau amis ikan asin, sampah, dan udara laut yang lembap langsung menyambut mereka.

"Kau tunggu di sini, Nam. Ini mungkin sensitif. Aku yang akan naik," kata Freen, menyadari ini adalah urusan keluarga yang harus ia hadapi dengan sensitivitas.

"Tidak! Aku ikut. Aku asisten risetmu. Dan kau butuh seseorang untuk menenangkan Ibu Khai yang mungkin histeris melihatmu bicara sendiri," balas Nam, bersikeras.

Mereka pun naik tangga sempit yang kotor menuju lantai tiga. Setiap langkah terasa berderit. Freen memimpin, diikuti Nam yang memegangi lengan Freen dengan erat.

Mereka tiba di lantai tiga. Lorong itu remang-remang. Khai berlari mendahului Freen, lalu berhenti di depan pintu kayu bernomor 12 yang sudah usang.

"Ini dia, P'Freen. Rumahku," bisik Khai, aura sedih kembali menyelimutinya.

Freen menatap pintu itu. Ia mengetuk pelan.

"Permisi," sapa Freen.

Tidak ada jawaban. Freen mengetuk lagi, sedikit lebih keras.

"Permisi? Ada orang di dalam?"

Tiba-tiba, Khai menjadi panik. "Dia tidak menjawab! Ibu tidak menjawab! Dia sakit! Dia pasti semakin sakit karena aku tidak membawakan permennya!" Khai tampak gemetar, aura transparan tubuhnya mulai bergetar.

Freen merasakan kepanikan Khai. Ia mendorong pintu itu dengan hati-hati. Ternyata, pintu itu tidak terkunci, hanya tertutup rapat.

Pintu terbuka. Ruangan kecil itu sangat minim penerangan. Freen segera menyalakan senter handphone-nya.

Ruangan itu sangat sederhana. Hanya ada kasur usang di lantai, beberapa perabotan kayu yang rapuh, dan bau obat-obatan herbal yang kuat.

Di atas kasur, terbaring seorang wanita paruh baya. Wajahnya sangat pucat, dan ia terlihat sangat lemah. Ia tidak bergerak.

"Ibu..." bisik Khai, lari mendekati kasur.

Ia mencoba menyentuh Ibunya, tetapi tangan transparannya hanya menembus tubuh wanita itu.

Freen berjalan cepat ke kasur, Nam mengikuti di belakangnya dengan waspada. Freen meraba pergelangan tangan wanita itu.

"Nadinya... lemah sekali. Tapi dia masih hidup," kata Freen lega. Namun, wajah wanita itu menyiratkan kesedihan yang mendalam.

Wanita itu membuka matanya perlahan. Ia melihat Freen dan Nam.

"Kalian siapa?" bisik wanita itu, suaranya hampir tak terdengar.

"Kami teman Khai," jawab Freen. "Kami mencarinya. Dia... dia ingin memberikan ini pada Anda."

Freen mengambil bungkusan permen mint yang Khai berikan padanya, meletakkannya di samping wanita itu.

Melihat permen itu, mata wanita itu langsung berkaca-kaca. Air mata mengalir di pelipisnya.

"Khai..." bisik wanita itu, penuh kepiluan. "Khai... dia anak yang baik. Dia janji akan membelikan ini untuk saya..."

Wanita itu menarik napas tersengal-sengal. "Sejak dia hilang... sejak tiga hari yang lalu... saya tidak bisa bangun. Saya tahu sesuatu terjadi padanya. Saya hanya menunggu. Saya tidak bisa pergi sebelum tahu nasib Khai."

Khai, si anak hantu, berdiri di samping Ibunya, air mata mengalir dari matanya.

"Ibu! Aku di sini! Aku bawa permennya!" teriak Khai, tapi Ibunya tidak mendengarnya.

Freen tahu, misi sebenarnya bukan hanya membeli permen, tetapi menyampaikan pesan terakhir Khai agar ibunya bisa tenang dan melanjutkan hidup.

Freen memegang tangan wanita itu. "Maafkan saya, Bu. Khai... dia mengalami kecelakaan di dekat toko kelontong. Dia jatuh, dan dia tidak bisa bangun lagi. Tapi dia ingin Ibu tahu, dia berhasil membeli permen ini untuk Ibu. Dia sangat menyayangi Ibu."

Wanita itu menggenggam bungkusan permen itu dengan kekuatan yang tersisa. Air matanya membasahi bungkusan plastik.

"Khai... anakku..." isaknya.

Tiba-tiba, Freen merasakan perubahan pada Khai. Aura kebiruan Khai menjadi semakin terang dan menyebar. Khai menatap Ibunya dengan senyum tulus.

"Ibu, sekarang aku sudah membeli permennya. Ibu harus sembuh. Khai sayang Ibu."

Khai menoleh ke arah Freen, wajahnya dipenuhi rasa terima kasih. "Terima kasih, P'Freen. Sekarang, aku bisa pergi."

Dalam sekejap, aura terang Khai memudar, dan anak itu menghilang sepenuhnya.

Wanita itu, yang mendengar kata-kata Freen, terdiam. Ia memejamkan mata, memeluk permen mint itu ke dadanya, seolah memeluk Khai untuk terakhir kalinya.

"Sekarang, saya tahu, Khai sudah tenang," bisik wanita itu, air mata masih mengalir, tetapi ekspresinya berubah menjadi damai.

Freen dan Nam saling pandang. Mereka harus membawa wanita ini ke rumah sakit.

"Nam, hubungi ambulans. Cepat. Setelah ini, kita akan tidur selama dua hari penuh," kata Freen, hatinya terasa campur aduk antara kelelahan, kesedihan, dan kepuasan yang aneh.

Misi Khai telah selesai. Dan Freen Sarocha semakin terseret dalam takdir barunya sebagai alat para arwah.

Freen menghela napas panjang saat Nam sibuk menghubungi nomor darurat menggunakan handphone-nya. Mereka menunggu dengan cemas hingga suara sirene ambulans terdengar mendekat ke area pelabuhan yang padat.

Beberapa petugas medis dan dua orang polisi tiba, segera mengevakuasi Ibu Khai. Kondisinya kritis karena demam tinggi dan dehidrasi, diperburuk oleh kesedihan yang mendalam atas hilangnya Khai.

Saat Ibu Khai diangkat ke tandu, seorang petugas polisi menahan Freen.

"Nona, Anda adalah yang menemukan pasien. Bisakah Anda memberikan identitas dan bertindak sebagai wali sementara? Pasien tidak memiliki kerabat dekat yang tercatat dan kondisinya sangat lemah," tanya petugas itu dengan nada tegas.

Freen Sarocha menatap Ibu Khai, yang wajahnya masih memeluk erat bungkusan permen mint Khai. Perasaan bersalah karena Khai meninggal, dicampur dengan kewajiban yang ditanamkan oleh Mae Nakha, membuatnya tidak bisa menolak.

"Baik, Pak. Saya akan menjadi walinya," jawab Freen, memberikan KTP-nya.

"Saya yang akan mengurus administrasi dan memastikan dia mendapat perawatan terbaik."

Nam menatap Freen dengan pandangan tidak percaya. Ia berbisik, "Freen! Kau gila? Kau punya uang? Kita bahkan belum dibayar dari kasus Jirayut! Kau mau jadi wali hantu?"

"Aku tidak bisa meninggalkannya, Nam," balas Freen, suaranya pelan tapi tegas. "Khai meninggal karena dia. Aku harus memastikan Ibunya selamat dan bisa melanjutkan hidup. Ini adalah bagian dari misi. Mungkin, Mae Nakha akan puas jika aku benar-benar menyelamatkan Ibunya secara total."

Freen menemani ambulans menuju rumah sakit terdekat, sementara Nam mengikuti dengan motor.

****

Di rumah sakit, proses administrasi terasa rumit dan menghabiskan sisa uang tunai Freen yang tidak seberapa. Setelah memastikan Ibu Khai berada di ruang perawatan dan menerima obat-obatan, Freen dan Nam akhirnya bisa duduk di bangku tunggu.

"Baiklah, Freen. Aku sangat bangga padamu, kau luar biasa," kata Nam, meraih tangan Freen.

"Tapi kita bangkrut. Kita butuh kasus. Segera. Aku butuh uang untuk makan, dan kau butuh uang untuk biaya rumah sakit Ibu Khai."

Freen menyandarkan kepala di dinding, matanya terpejam. "Aku tahu, Nam. Kita butuh pekerjaan. Pekerjaan yang menghasilkan uang, bukan hanya karma baik."

Tiba-tiba, Freen merasakan hawa dingin yang familiar. Ia membuka mata. Mae Nakha tidak muncul, tetapi Freen merasakan tanda kehadirannya.

Di layar televisi ruang tunggu rumah sakit yang menyala, tanpa suara, Freen melihat berita utama yang menarik perhatiannya:

Berita Utama: “Kekayaan Keluarga Kaya di Ibu Kota Misterius Hilang! Anak Tunggal Menderita Kelainan Aneh, Diduga Karena Kutukan!“

Freen melihat foto keluarga yang terlihat sangat tertekan. Ada seorang pria dan wanita paruh baya, serta seorang gadis remaja cantik yang tampak pucat dan lemah.

Tiba-tiba, layar handphone Freen yang ada di sakunya bergetar. Freen mengeluarkannya. Sebuah pesan masuk, dari nomor tak dikenal.

Pesannya hanya berupa sebuah alamat mewah di Ibu Kota, diikuti tiga kata:

"Bayaran Tinggi"

"Kelainan"

"Penyembuhan"

Freen menoleh ke arah Nam, senyum licik khasnya perlahan kembali muncul, meskipun matanya masih memancarkan kelelahan.

"Nam, kurasa manajer Dewi kita sudah mengirimkan klien pertamaku. Dan dia bilang, 'bayaran tinggi'," kata Freen, menunjuk ke layar televisi dan kemudian ke pesan di handphone-nya.

"Ayo kita ke Ibu Kota. Waktunya bagi Paranormal Gadungan Sejati untuk mendapatkan klien kaya yang sebenarnya. Dan untuk menutup semua hutang karma dan rumah sakit ini."

Nam menyeringai lebar. Kelelahan mereka seolah lenyap digantikan oleh kegembiraan akan tantangan dan, yang paling penting, uang.

"Aku siap, Freen. Kapan kita berangkat?"

"Sekarang juga. Kita harus mencari tahu apa yang terjadi dengan 'kelainan aneh' itu sebelum kita tiba di sana. Kita butuh riset yang cepat."

Freen Sarocha dan Nam, tim detektif arwah yang dipandu oleh dewi takdir dan didorong oleh kebutuhan finansial, bersiap untuk menghadapi tantangan besar pertama mereka di Ibu Kota.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!