"Kau bisa memiliki segalanya di dunia ini, Arunika. Kecuali satu hal: Kebebasan."
Arunika mengira menikah dengan Adrian Valerius, sang Direktur jenius yang tampan, adalah keberuntungan. Namun di balik wajah malaikatnya, Adrian adalah seorang psikopat dingin yang terobsesi pada kendali.
Di mansion mewah yang menjadi penjara kaca, setiap napas Arunika diawasi, dan setiap pembangkangan ada harganya. Arunika bukan lagi seorang istri, melainkan "proyek" untuk memuaskan obsesi gelap sang suami.
Mampukah Arunika melarikan diri, atau justru terjerat selamanya dalam cinta yang beracun?
"Jangan mencoba lari, Sayang. Karena sejauh apa pun kamu melangkah, kamu tetap milikku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9: PERJAMUAN BERACUN
Lantai marmer ruang makan mansion Valerius berkilau tertimpa cahaya lampu kristal yang menggantung megah di langit-langit. Namun, bagi Arunika, kemewahan itu terasa seperti dekorasi panggung sandiwara yang dirancang untuk menutupi sebuah eksekusi. Di tengah ruangan, meja panjang telah tertata rapi. Di atasnya, dua piring perak menyajikan steak daging sapi wagyu yang aromanya memenuhi ruangan.
Arunika duduk di kursinya, jemarinya meremas serbet kain di bawah meja hingga buku jarinya memutih. Sobekan kertas dari laci rahasia tadi terasa seolah-olah membakar saku gaunnya.
“Jangan makan daging di hari Selasa. Dia menaruhnya di sana.”
Pesan Elena bukan sekadar peringatan; itu adalah jeritan dari kubur yang kini berdenging di telinga Arunika. Hari ini hari Selasa. Dan di depannya, potongan daging merah kecokelatan yang tampak sempurna itu terlihat seperti umpan mematikan.
Adrian duduk di kepala meja, tampak sangat santai setelah rapat besarnya. Ia melepaskan kancing atas kemejanya dan menggulung lengan kemeja hingga siku, memamerkan jam tangan perak yang baru saja "dipinjam" Arunika kuncinya.
"Kenapa diam saja, Sayang? Bukankah ini makanan favoritmu?" suara Adrian memecah kesunyian. Ia mulai memotong dagingnya dengan gerakan yang sangat presisi, seolah sedang melakukan operasi bedah.
Arunika menelan ludah yang terasa seperti kerikil di tenggorokan. "Aku... aku merasa agak mual sejak tadi pagi, Adrian. Sepertinya aku kurang enak badan."
Gerakan tangan Adrian berhenti. Ia meletakkan pisau dan garpunya, lalu menatap Arunika dengan tatapan yang sulit diartikan—campuran antara perhatian yang berlebihan dan kecurigaan yang tajam.
"Mual? Kenapa kau tidak bilang sejak tadi?" Adrian berdiri, berjalan mendekati kursi Arunika, dan meletakkan telapak tangannya di kening wanita itu. "Kau tidak demam. Mungkin kau hanya butuh asupan protein yang cukup. Makanlah, sedikit saja."
Arunika menatap potongan daging di piringnya. Ia merasa setiap serat daging itu mengandung racun yang akan melumpuhkan syarafnya, sama seperti yang terjadi pada Elena.
"Aku benar-benar tidak bisa, Adrian. Bau dagingnya membuatku pusing," Arunika mencoba memberikan alasan yang masuk akal, berharap suaminya tidak mencium aroma kebohongan.
Adrian tidak menjawab. Ia justru mengambil garpu dari piring Arunika, menusuk sepotong kecil daging, dan mengarahkannya ke bibir Arunika.
"Buka mulutmu, Arunika. Kau tahu aku tidak suka membuang-buang makanan berkualitas tinggi," ucap Adrian. Nadanya tetap lembut, namun ada perintah yang tidak terbantahkan di sana. Inilah gaslighting yang mulai bekerja; Adrian memposisikan dirinya sebagai suami yang peduli, sehingga jika Arunika menolak, Arunika-lah yang terlihat sebagai istri yang tidak tahu berterima kasih.
Arunika menatap mata Adrian. Gelap dan tanpa dasar. Ia menyadari bahwa jika ia menolak secara terang-terangan, Adrian akan tahu bahwa ia telah mengetahui sesuatu. Ia harus melakukan manuver.
"Baiklah, tapi aku ingin minum dulu," kata Arunika. Ia meraih gelas air putihnya, namun karena tangannya gemetar hebat, gelas itu tersenggol dan isinya tumpah membasahi meja serta gaunnya.
"Ah! Maafkan aku, aku benar-benar ceroboh," Arunika segera berdiri, pura-pura panik.
Adrian mendesah pelan, tampak sedikit terganggu oleh kekacauan itu. "Marta! Bersihkan ini."
Bi Marta muncul dari balik bayang-bayang dapur seolah ia memang sudah menunggu momen itu. Dengan cepat, ia mengelap tumpahan air. Saat ia membungkuk di dekat Arunika, Bi Marta membisikkan sesuatu yang nyaris tak terdengar.
"Jatuhkan piringnya."
Arunika tersentak. Isyarat dari Bi Marta adalah perintah perang. Saat Bi Marta berpura-pura menyenggol siku Arunika saat sedang membersihkan meja, Arunika dengan sengaja menyapu piring peraknya hingga jatuh ke lantai marmer dengan dentuman keras. Daging mahal itu terlempar ke lantai, berhamburan di dekat kaki Adrian.
Hening.
Napas Arunika tertahan. Ia melihat kemarahan mulai bergejolak di rahang Adrian yang mengeras. Adrian menatap daging yang kotor di lantai, lalu menatap Arunika dengan tatapan yang seolah bisa menguliti kulitnya.
"Maaf, Adrian... aku benar-benar lemas. Tanganku tidak bisa memegang apa pun dengan benar," isak Arunika, mulai mengeluarkan air mata palsu untuk memancing rasa kasihan—atau setidaknya untuk mengalihkan kecurigaan.
Adrian berdiri diam selama beberapa detik. Atmosfer di ruang makan itu menjadi begitu berat hingga oksigen seolah menghilang. Namun, tiba-tiba Adrian tertawa kecil. Tawa yang kering dan tidak sampai ke matanya.
"Sepertinya kau benar-benar sakit, Sayang. Marta, bawa Nyonya kembali ke kamar. Berikan dia sup hangat saja. Pastikan dia tidak menyentuh makanan lain tanpa pengawasanku," perintah Adrian.
"Baik, Tuan," jawab Bi Marta patuh.
Arunika segera meninggalkan ruang makan dengan kaki yang terasa seperti jeli. Begitu sampai di kamarnya, ia mengunci pintu dan jatuh terduduk di balik pintu. Ia berhasil lolos kali ini, tapi ia tahu Adrian tidak bodoh. Kecurigaan Adrian pasti sudah meningkat ke level yang baru.
Malam harinya, Arunika tidak bisa tidur. Ia terus memikirkan sobekan kertas Elena. Kenapa hanya hari Selasa? Dan racun apa yang dimasukkan Adrian?
Tiba-tiba, ia mendengar suara kunci diputar dari luar. Jantungnya berdegup kencang. Ia mengira Adrian akan masuk untuk menghajarnya atau menginterogasinya. Namun, pintu hanya terbuka sedikit. Seseorang menyelipkan sebuah nampan kecil ke dalam.
Itu adalah Bi Marta. Namun, kali ini wajahnya tampak pucat pasi.
"Makan ini. Ini aman," bisik Bi Marta sambil menaruh semangkuk sup bening. "Dan dengarkan aku baik-baik. Tuan Adrian baru saja memecat dua penjaga gerbang malam ini karena mereka dianggap lalai memantau CCTV lorong ruang kerja tadi siang."
Arunika tersentak. "Berarti dia tahu ada yang masuk ke ruangannya?"
"Dia curiga, tapi dia tidak punya bukti karena saya berhasil menghapus rekaman sepuluh menit itu," Bi Marta menatap Arunika dengan tatapan yang sangat dalam. "Tapi Sandra... sekretarisnya itu... dia mulai menanamkan ide di kepala Tuan bahwa Anda bukan sekadar istri yang penurut. Sandra ingin Anda lenyap agar dia bisa mengambil posisi Anda."
Arunika merinding. "Sandra tahu soal Elena?"
"Sandra adalah orang yang membantu Tuan 'membersihkan' jejak Elena. Jangan pernah percaya pada wanita itu," Bi Marta kemudian merogoh saku seragamnya dan mengeluarkan sebuah benda kecil. Sebuah kunci cadangan untuk gerbang samping.
"Gunakan ini hanya jika kau benar-benar terdesak. Sekarang, Tuan sedang mengawasi kamar ini dari ruang monitornya. Berpura-puralah tidur setelah makan sup ini."
Bi Marta pergi secepat dia datang. Arunika menatap sup di depannya. Ia baru saja akan menyuap sup itu ketika ia mendengar suara langkah kaki di lorong. Cepat-cepat ia menyembunyikan kunci gerbang itu di bawah bantal dan merebahkan diri, memejamkan mata dan mengatur napasnya agar terlihat seperti orang yang sudah terlelap.
Pintu kamar terbuka. Langkah kaki yang berat itu mendekat ke tempat tidur. Arunika bisa merasakan kehadiran Adrian yang berdiri tepat di sampingnya. Pria itu tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya berdiri di sana selama waktu yang terasa seperti selamanya, mengawasi setiap gerak-gerik napas Arunika.
Arunika merasa sebuah tangan dingin mengusap pipinya. Sentuhan itu lembut, namun di baliknya ada janji tentang kehancuran.
"Kau sangat cantik saat diam seperti ini, Arunika," bisik Adrian. "Jangan pernah mencoba lari dariku. Karena jika kau lari, aku tidak akan hanya membawamu kembali... aku akan memastikan kau tidak akan pernah bisa berjalan lagi."
Adrian kemudian mencium keningnya—sebuah kecupan yang terasa seperti segel kutukan—sebelum akhirnya keluar dan mengunci pintu dari luar.
Di dalam kegelapan, Arunika membuka matanya. Ia menyadari satu hal: Fase satu dari sangkar emas ini telah berakhir. Adrian tidak lagi melihatnya hanya sebagai istri, melainkan sebagai tawanan yang mulai memberontak. Dan untuk mencapai 120 bab perjalanannya, ia harus mulai belajar bermain peran yang lebih berbahaya daripada sekadar menjadi korban.
Ia harus menjadi sekutu bagi musuh Adrian, atau ia harus menjadi iblis yang lebih besar daripada suaminya sendiri.
Apakah sobekan kertas itu adalah satu-satunya peninggalan Elena? Dan mampukah Arunika memanfaatkan Sandra untuk menghancurkan Adrian dari dalam?