NovelToon NovelToon
SALAH TARGET! AKU MALAH DINIKAHI SANG MAFIA

SALAH TARGET! AKU MALAH DINIKAHI SANG MAFIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Dark Romance / Mafia / Nikah Kontrak
Popularitas:11.2k
Nilai: 5
Nama Author: Wahidah88

Alana, agen intelijen terbaik, melakukan kesalahan fatal saat menyamar. Bukannya mendapatkan data rahasia, ia malah tertangkap basah oleh Arkano Dirgantara, raja mafia paling berbahaya.
Hanya ada dua pilihan bagi Alana: Mati di tangan Arkano, atau menjadi istrinya.
Terjebak dalam pernikahan kontrak yang penuh intrik, Alana harus berpura-pura menjadi istri yang patuh sambil terus menjalankan misinya. Namun, saat Arkano mulai menunjukkan sisi posesif yang gelap sekaligus mempesona, Alana terjebak di antara tugas negara atau perasaan hatinya.
"Kau mangsaku, Alana. Dan seorang predator tidak akan pernah melepaskan tangkapannya."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 27: PELATUK YANG TERLEPAS

​Aroma mesiu yang tajam masih menggantung di udara ballroom, bersaing dengan bau anyir darah yang mulai merembes ke karpet beludru mahal. Di sekeliling, suasana kacau balau; beberapa tamu undangan dari klan kelas bawah masih gemetar di balik meja, sementara para pengawal klan Dirgantara bergerak dengan efisiensi dingin, menyeret tubuh-tubuh penyerang klan Silver Fang keluar dari ruangan.

​Alana berdiri mematung di tengah aula yang porak-poranda. Pistol krom milik Arkano terasa berat dan panas di genggamannya. Ia bisa merasakan detak jantungnya sendiri yang berdegup kencang—bukan karena takut pada pemandangan mengerikan di depannya, melainkan karena tatapan Arkano yang kini menghujamnya dari jarak hanya beberapa langkah.

​Arkano melangkah mendekat. Langkah kakinya yang berat di atas lantai marmer terdengar seperti detik jam menuju ledakan. Pria itu berhenti tepat di depan Alana, tingginya yang menjulang membuat Alana harus sedikit mendongak. Tanpa sepatah kata pun, Arkano perlahan mengambil pistol itu dari tangan Alana yang masih kaku akibat sisa adrenalin.

​"Dua tembakan di lutut, satu di bahu kanan, dan satu di pergelangan tangan," Arkano bergumam pelan, suaranya sedingin es namun ada nada kekaguman yang terselip di sana. "Kau tidak membunuh mereka, Alana. Kau melumpuhkan mereka dengan presisi seorang profesional. Kau memastikan mereka tidak bisa lagi menarik pelatuk selamanya, namun tetap membiarkan mereka hidup untuk aku interogasi."

​Arkano mendekatkan wajahnya, matanya menyipit tajam. "Sejak kapan istriku yang cantik ini memiliki jari-jari yang begitu akrab dengan pelatuk? Dan sejak kapan kau bisa melakukan tactical reload tanpa sekali pun menundukkan pandanganmu?"

​Alana menelan ludah, mencoba mengatur napasnya agar tidak terlihat terlalu taktis. Ia harus kembali menjadi Alana yang "lemah", atau setidaknya Alana yang punya alasan logis. "Aku... aku hanya meniru apa yang kulihat di sekitarmu, Arkano. Aku panik. Aku tidak ingin kau terluka di depan mataku sendiri."

​Arkano menyeringai miring, sebuah senyum sinis yang tidak sampai ke mata. Ia menyentuh dagu Alana, mendongakkannya dengan paksa agar mata mereka bertemu. "Berhenti membual, Sayang. Keberuntungan tidak bekerja seakurat itu. Kau bergerak seperti predator yang sudah menghabiskan ribuan jam di lapangan tembak."

​Tanpa menunggu jawaban lebih lanjut, Arkano menarik tangan Alana, menuntunnya keluar dari aula menuju limosin yang sudah menunggu. Genggamannya sangat kuat, sebuah pesan tak tertulis bahwa malam ini, tidak ada satu pun rahasia yang boleh tersisa.

​Di dalam limosin, keheningan terasa mencekam. Arkano duduk bersandar, namun auranya memancarkan kemarahan yang bercampur dengan obsesi yang meluap. Ia tiba-tiba menarik tubuh Alana hingga wanita itu terduduk di pangkuannya. Tangannya melingkar di pinggang Alana dengan sangat posesif.

​"Katakan padaku siapa kau sebenarnya," tuntut Arkano. Suaranya serak di telinga Alana. "Apakah kau mata-mata yang dikirim untuk menusuk punggungku saat aku mulai mencintaimu? Ataukah kau adalah hadiah paling berbahaya yang pernah diberikan semesta padaku?"

​Alana menatap mata gelap Arkano. Ia bisa melihat kilatan amarah, namun ada sesuatu yang lebih besar di sana: rasa takut akan pengkhianatan.

​"Jika aku ingin membunuhmu, Arkano, aku sudah melakukannya saat kau terpojok di dermaga tempo hari!" Alana membela diri, suaranya sedikit meninggi. "Aku menyelamatkanmu karena... karena aku tidak punya pilihan lain selain hidup bersamamu!"

​Arkano tertegun sejenak. Ia membelai pipi Alana dengan ibu jarinya, lalu tiba-tiba mencium bibir Alana dengan sangat kasar dan menuntut. Ciuman itu terasa seperti perang—sebuah perebutan kendali. Alana mencoba melawan pada awalnya, namun perlahan ia menyerah pada dominasi Arkano yang memabukkan. Pria ini adalah monster yang telah dikhianati oleh dunia, dan entah mengapa, Alana mulai merasa bahwa hanya dialah yang bisa memahami kegelapan itu.

​Keesokan harinya, Arkano tidak menghukum Alana atas kebohongannya. Sebaliknya, ia justru menunjukkan sisi "Bucin" yang gila. Arkano membawa Alana ke Markas Sektor 9—sebuah bunker bawah tanah yang merupakan pusat kekuatan klan Dirgantara.

​"Karena kau sangat jago menembak, aku tidak akan membiarkanmu menggunakan senjata murahan," ujar Arkano sambil menunjuk ke sebuah kotak beludru di atas meja baja.

​Alana membukanya dan terkesiap. Di dalamnya terdapat sebuah pistol yang dilapisi krom hitam, dengan ukiran nama Alana Dirgantara di sisinya. Di sampingnya, terdapat sebuah kalung berlian safir yang berkilau mewah.

​"Hadiah atas keberanianmu semalam," bisik Arkano dari belakang, memakaikan kalung itu ke leher Alana. "Kalung ini untuk menunjukkan pada dunia bahwa kau permaisuriku. Dan pistol ini untuk memastikan tidak ada seorang pun yang berani membantahnya."

​Namun, suasana romantis itu terhenti saat Marco masuk membawa sebuah folder dokumen yang baru saja didapat dari ponsel salah satu penyerang semalam.

​"Tuan, ada pesan masuk dari sebuah jalur terenkripsi," lapor Marco dengan wajah serius. "Pesan ini dikirim beberapa menit sebelum serangan di pesta. Pengirimnya menggunakan kode 'The Bishop'. Dia memberikan titik koordinat tepat di mana Nyonya Alana berdiri semalam."

​Darah Alana terasa membeku. The Bishop. Ia sangat mengenal kode itu. Itu adalah kode komunikasi rahasia milik Pak Hendrawan, atasannya di kepolisian.

​"Siapa The Bishop, Alana?" tanya Arkano dengan suara yang tiba-tiba berubah dingin. Ia membalikkan tubuh Alana, menatap matanya yang membelalak.

​Alana meremas pistol barunya. Pengkhianatan itu terasa nyata sekarang. Hendrawan tidak hanya menjualnya kepada Arkano, tapi pria tua itu juga mencoba melenyapkannya dengan cara membocorkan posisinya kepada klan rival. Hendrawan ingin Alana mati sebagai "pahlawan" yang gugur dalam tugas, agar rahasia korupsinya terkubur selamanya.

​"Dia adalah orang yang mengirimku padamu, Arkano," jawab Alana dengan suara bergetar karena dendam. "Tapi dia bukan mengirimku untuk menangkapmu. Dia mengirimku sebagai umpan mati agar dia bisa menguasai wilayahmu setelah kita berdua hancur."

​Arkano menyeringai, sebuah senyuman yang sangat mengerikan. Ia menarik Alana ke dalam pelukan erat, mencium keningnya dengan sangat protektif. "Begitu? Jadi gurumu ingin bermain-main denganku?"

​Arkano menangkup wajah Alana. "Mulai hari ini, kau bukan lagi agen penyamaran. Kau adalah pasanganku. Dan kita akan menyeret Pak Hendrawan keluar dari lubangnya untuk merasakan apa itu neraka yang sesungguhnya."

​Alana mengangguk pelan. Rasa cintanya pada Arkano kini bercampur dengan keinginan untuk membalas dendam pada sistem yang telah mengkhianatinya. Di bawah lampu remang-remang markas bawah tanah itu, Alana menyadari satu hal: Ia telah benar-benar meninggalkan cahayanya. Ia telah memilih untuk menjadi ratu di samping sang iblis.

​"Akan kulakukan, Arkano. Akan kupastikan dia menyesal pernah melahirkanku ke dunia ini," bisik Alana.

​Arkano tertawa rendah, sebuah tawa kemenangan. Ia mencium Alana sekali lagi, sebuah ciuman yang menandai dimulainya perang besar melawan kepolisian korup. Malam itu, Alana bukan lagi seorang polisi yang menyamar. Ia adalah Alana Dirgantara, serigala betina yang siap menerkam siapa saja yang berani mengusik rumah barunya.

1
Leebit
hehehe..
makasih ya udah mampir, semoga betah ya😁
Gheya Giyani
ikut deg deg kan kak
Siti Patimah
semoga badai cepat berlalu, dan kalian bisa hidup bahagia
Leebit
terima kasih😍
Diana
😍
Murni Dewita
👣👣
Murni Dewita: sama-sama thor
total 2 replies
Leebit
siap!!! mari kita hancurkan, hehe..
makasih ya udah dukung karya ku😊
Siti Patimah
hayo tetap bersatu hancurkan para musuh,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!