NovelToon NovelToon
Halte Takdir

Halte Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir
Popularitas:286
Nilai: 5
Nama Author: Nameika

Hujan mempertemukan mereka yang putus asa dengan pilihan yang seharusnya tidak pernah ada.

Di satu sore terburuk dalam hidupnya, Viona menemukan sebuah halte tua yang tak pernah ada dan seorang pria misterius yang menawarkan cara untuk mengubah segalanya.

Di Halte Takdir, Viona harus memilih: payung untuk kembali ke masa lalu dan memperbaiki kesalahan fatal, atau pena untuk menulis masa depan sempurna tanpa kegagalan. Namun setiap keajaiban menuntut harga yang kejam, kenangan paling bahagia, atau perasaan yang membuatnya tetap manusia.

Akankah Viona berani mengubah takdirnya? Atau justru memilih menolak keajaiban demi mempertahankan dirinya sendiri?

Penuh emosi, fantasi modern, dan dilema yang menusuk, ikuti kisah tentang pilihan hidup yang tidak semua orang sanggup menanggung akibatnya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nameika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

UTANG YANG TERSIMPAN DI BALIK BADAI

BAB 3: UTANG YANG TERSIMPAN DI BALIK BADAI

"Ibu? Ibu di mana?! Jawab Vio, Bu!"

Suara Viona melengking tinggi, membelah kesunyian gang sempit yang diapit tembok-tembok beton tua. Napasnya memburu, uap tipis keluar dari mulutnya setiap kali ia mengembuskan napas di tengah udara malam yang menggigit. Ia tidak peduli lagi pada air hujan yang mulai merembes masuk ke balik kerah bajunya. Fokusnya hanya tertuju pada suara rintihan yang tadi ia dengar—suara yang sangat mirip dengan ibunya yang sedang kesakitan.

"Vio... tolong... mereka... mereka di sini..."

Suara itu terdengar lagi, kali ini berasal dari balik tumpukan palet kayu di ujung gang yang gelap. Viona berlari kecil, mengabaikan genangan air yang menciprat ke betisnya. Tangannya yang menggenggam payung biru tua itu gemetar hebat. Namun, saat ia sampai di balik tumpukan kayu itu, ia tidak menemukan siapapun. Hanya ada seekor kucing jalanan yang basah kuyup, menatapnya dengan mata kuning yang berpendar aneh di kegelapan.

"Brengsek! Lo siapa?! Jangan main-main ya! Keluar lo!" teriak Viona frustrasi. Amarah mulai mengambil alih rasa takutnya. Ia merasa dipermainkan oleh sisa-sisa trauma atau mungkin oleh makhluk-makhluk yang tadi disebut Alfred sebagai Umbra.

Tiba-tiba, suara tawa rendah terdengar dari arah belakangnya. Bukan tawa yang melengking seperti hantu di film horor, melainkan tawa dingin dan tenang dari seorang pria yang sangat waras.

Viona berbalik dengan cepat. Di mulut gang, berdiri seorang pria jangkung yang mengenakan jas hujan transparan. Di bawah lampu jalan yang berkedip-kedip, wajah pria itu tampak tirus dengan rahang yang tegas. Ia tidak tampak seperti monster atau bayangan hitam; ia tampak seperti manusia biasa, kecuali satu hal: ia membawa sebuah buku catatan kecil berkulit hitam yang permukaannya tidak basah sama sekali, meski hujan mengguyur deras.

"Nggak perlu teriak-teriak begitu, Viona. Saya bukan hantu. Saya cuma penagih yang taat aturan," ucap pria itu. Suaranya datar, tanpa emosi, seolah sedang membacakan laporan cuaca.

Viona mengerutkan kening, mencoba mengatur nafasnya. "Penagih? Penagih apa? Gue nggak punya utang sama siapa-siapa! Lo salah orang kali."

Pria itu membuka buku catatannya, membolak-balik halaman dengan santai. "Viona Anindita Mahendra. Anak dari almarhum Nathan Mahendra. Benar, kan? Ayah kamu... dia melakukan transaksi yang sangat besar sepuluh tahun lalu. Dan sayangnya, dia meninggal sebelum sempat melunasi bunganya."

Jantung Viona serasa melompat. "Ayah meninggal karena kecelakaan! Dia nggak pernah cerita soal utang apa-apa. Lagian, kalau emang ada utang bank atau apa, kenapa baru sekarang lo dateng?"

"Ini bukan utang bank, Vio. Ini utang 'waktu'. Ayahmu meminjam sepuluh tahun keberuntungan untuk memastikan kamu dan ibumu hidup berkecukupan setelah dia pergi. Tapi keberuntungan itu ada harganya. Dan karena dia sudah nggak ada, kewajiban itu jatuh ke tangan ahli warisnya. Yaitu kamu," pria itu melangkah maju. Setiap langkahnya terasa berat, seolah membawa beban gravitasi yang lebih besar dari manusia biasa.

Viona mundur, punggungnya menabrak tembok dingin. "Jangan ngaco! Keberuntungan nggak bisa dipinjem. Lo pasti orang gila yang kebanyakan baca komik fantasi."

"Oh, ya? Lalu gimana menurutmu soal pria tua di halte tadi? Alfred? Kamu pikir pertemuan itu cuma kebetulan?" Pria itu tersenyum tipis, sebuah senyuman yang membuat bulu kuduk Viona berdiri. "Alfred itu penjual eceran. Dia nawarin solusi instan yang bakal bikin kamu terikat kontrak selamanya sama Ordo Chronos. Tapi saya? Saya dari 'Pialang Takdir'. Kami lebih suka menagih apa yang sudah menjadi hak kami."

Pria itu mengangkat tangannya, dan tiba-tiba saja, air hujan di sekitar Viona seolah membeku di udara. Butiran-butiran air itu berhenti bergerak, menciptakan pemandangan surealis yang mengerikan. Hanya Viona dan pria itu yang masih bisa bergerak di tengah waktu yang seolah terhenti.

"Nama saya Julian. Dan saya di sini untuk mengambil 'pembayaran' pertama," ucap Julian. Ia merogoh saku jas hujannya dan mengeluarkan sebuah belati kecil dengan ukiran aneh di gagangnya.

Viona panik. Ia tidak punya senjata. Secara refleks, ia mengangkat payung biru tua pemberian Alfred dan membukanya dengan sentakan kuat. Srak!

Begitu payung itu terbuka, sebuah cahaya biru lembut berpendar dari rangka-rangkanya yang bengkok. Gelombang energi hangat memancar keluar, menghantam butiran hujan yang membeku dan membuatnya kembali cair secara paksa. Waktu kembali berdetak. Suara deru hujan kembali memenuhi pendengaran.

Julian tampak terkejut. Ia mundur beberapa langkah, menutupi matanya dari pendar cahaya payung tersebut. "Payung itu... dari mana kamu dapet barang rongsokan itu? Alfred nggak mungkin ngasih itu cuma-cuma."

Viona sendiri melongo melihat payungnya. Ia tidak tahu benda biru kusam ini punya kekuatan untuk mematahkan sihir Julian. "Kakek tadi bilang ini cuma payung biasa! Tapi kayaknya dia bohong soal 'biasa'-nya."

"Ternyata kamu lebih berharga dari yang saya kira," gumam Julian, wajahnya kini terlihat lebih serius. "Tapi payung itu nggak bakal bisa ngelindungin kamu selamanya. Kontrak ayahmu sudah ditandatangani dengan darah. Kalau kamu nggak bayar, mereka bakal ambil ibu kamu sebagai jaminannya."

"Jangan berani-berani sentuh Ibu!" ancam Viona, meski suaranya masih sedikit bergetar. Ia menggenggam payung itu seperti sebuah pedang.

Julian menutup buku hitamnya dengan suara debuman keras. "Saya kasih waktu tiga hari. Cari tahu apa yang sebenarnya Ayah kamu sembunyikan di ruang bawah tanah rumah lama kalian. Kalau kamu nggak nemuin 'Koin Chronos' di sana, saya bakal dateng lagi. Dan kali ini, saya nggak bakal sesabar sekarang."

Tanpa peringatan, Julian berbalik dan berjalan menembus kegelapan. Tubuhnya perlahan memudar, menyatu dengan bayangan gedung, hingga benar-benar hilang dari pandangan Viona.

Viona berdiri mematung di tengah gang yang kini terasa jauh lebih dingin. Kepalanya berdenyut kencang. Ayahnya... utang waktu... ruang bawah tanah? Semuanya terasa seperti mimpi buruk yang tidak ada ujungnya. Namun, pendar biru dari payungnya perlahan meredup, menyisakan payung biru kusam yang kembali tampak biasa saja.

"Gue harus pulang. Sekarang," gumamnya pada diri sendiri.

Ia berlari keluar dari gang, menuju jalan raya untuk mencari taksi. Pikirannya kalut. Jika apa yang dikatakan Julian benar, maka kecelakaan yang menimpa ibunya, kegagalan kariernya, bahkan pertemuan dengan Alfred, semuanya adalah bagian dari benang merah yang sengaja ditenun oleh kekuatan yang tidak ia pahami.

Sesampainya di depan kompleks apartemen kecil tempat ia tinggal, Viona langsung berlari menuju unitnya di lantai tiga. Ia membuka pintu dengan kasar, napasnya tersengal.

"Ibu? Ibu nggak apa-apa kan?" teriaknya sambil melempar tasnya ke lantai.

Kondisi apartemen itu gelap. Hanya ada cahaya televisi yang menyala tanpa suara di ruang tengah. Di depan televisi, ibunya duduk diam di kursi roda, membelakangi pintu masuk. Bahu ibunya tampak terguncang kecil, seolah-olah ia sedang menangis atau tertawa pelan.

Viona mendekat dengan hati-hati. "Bu? Ini Vio. Maaf Vio pulangnya telat banget. Tadi ada..."

Kalimat Viona terhenti saat kursi roda itu berputar perlahan. Ibunya menatapnya, tapi matanya tidak fokus. Wajah ibunya pucat pasi, dan di lehernya, terdapat bekas telapak tangan berwarna keunguan yang tampak sangat segar.

Namun, yang lebih mengerikan adalah apa yang ada di pangkuan ibunya. Di sana, tergeletak sebuah kotak kayu tua yang digembok dengan rantai besi yang berkarat.

"Vio... Ayahmu... dia datang tadi," bisik ibunya dengan suara yang terdengar seperti bukan suaranya sendiri. "Dia bilang, jangan pernah buka kotak ini kalau kamu masih mau melihat matahari besok pagi."

Viona terpaku. Di belakang ibunya, di cermin ruang tamu, ia melihat pantulan dirinya sendiri. Namun, di dalam cermin itu, ia tidak berdiri sendirian. Ada sosok bayangan hitam yang berdiri tepat di belakangnya, memegang sebilah pena perak yang ujungnya menempel di leher pantulan Viona.

"Jadi, Viona... kamu mau buka kotaknya sekarang, atau mau dengerin nasihat Ayahmu?" suara asing itu berbisik tepat di telinganya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!