NovelToon NovelToon
Istri Bawel Ustadz Galak

Istri Bawel Ustadz Galak

Status: tamat
Genre:Perjodohan / Romansa / Tamat
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Rina Casper

Gadis Bar-bar×Ustadz galak+Benci jadi Cinta+Cinta Manis,Komedi Romantis】Karakter Utama Namira Salsabila (Mira) Gadis mungil berusia 18 tahun yang baru saja menanggalkan seragam SMA-nya ini adalah definisi nyata dari kata "unik". Mira dikenal karena sifatnya yang sangat cerewet dan "bawel", namun di balik rentetan bicaranya, ia memiliki hati yang luar biasa penyayang, terutama jika sudah berhadapan dengan anak kecil. Secara fisik, Mira memiliki pesona baby face yang menggemaskan: Wajah & Kulit: Kulitnya putih bersih dengan wajah yang cenderung baby blues (sangat imut dan awet muda). Mata & Alis: Bulu matanya lentik alami layaknya memakai maskara, dipadukan dengan alis tebal yang konon katanya melambangkan sifat boros dalam keuangan—sebuah mitos yang ternyata menjadi kenyataan dalam gaya hidupnya. Hidung & Bibir: Memiliki bentuk bibir yang khas ("bibir terbalik") dan hidung yang proporsional (tidak mancung namun tidak pesek), menambah kesan imut pada wajahnya. Postur Tubuh: Tubuhnya san.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 31

Ayyan hanya mengangkat sebelah alisnya, tampak semakin penasaran. "Memang ada bagian 'good rekening'-nya? Mas pikir hanya doa minta jodoh yang saleh," goda Ayyan sambil membukakan pintu mobil untuk Namira.

"Yah... Mas, namanya juga usaha! Masa minta sama Allah nanggung-nanggung," gerutu Namira sambil masuk ke jok penumpang.

Mobil melaju pelan meninggalkan area pesantren menuju kedai es krim di pusat kota. Suasana di dalam mobil terasa hangat, ditemani lantunan murottal yang diputar Ayyan dengan volume rendah. Begitu sampai dan mendapatkan dua cup besar es krim cokelat-kacang, mereka duduk di pojokan kedai yang agak sepi.

Namira menyendok es krimnya dengan semangat, sampai sedikit belepotan di sudut bibir. Ayyan, tanpa bicara, mengambil tisu dan mengusapnya dengan gerakan yang sangat telaten, membuat Namira mendadak terdiam dan salah tingkah.

"Ayo, ceritakan. Mas sudah siap mendengarkan rahasia perusahaanmu," ucap Ayyan sambil menatap Namira lekat.

Namira berdehem, mencoba mengatur suaranya agar tidak terdengar terlalu malu. "Jadi gini... waktu itu di masjid, aku habis salat ashar kan sama Bunda. Terus aku doa, 'Ya Allah, kalau boleh minta, kasih jodoh yang nggak jelek ya Allah. Tampan juga nggak apa-apa banget, malah saya syukur'."

Ayyan sedikit terbatuk, mencoba menahan tawa.

"Terus?"

"Terus... aku lanjut, 'Jangan yang miskin ya Allah, kalau bisa yang kaya biar aku bisa jajan terus. Good rekening juga boleh banget...'. Eh, tiba-tiba ada suara dingin di balik tirai yang bilang 'Orang aneh, banyak mau'. Itu Mas, kan?!" Namira menunjuk Ayyan dengan sendok es krimnya.

Ayyan akhirnya tidak bisa menahan tawanya lagi. Tawa baritonnya pecah, membuat beberapa pengunjung kedai menoleh. "Jadi, alasan utama kamu terima lamaran Mas waktu itu karena Mas masuk kriteria 'tampan dan kaya' itu?"

Namira memutar bola matanya. "Ya nggak cuma itu sih! Tapi pas tahu yang datang itu Mas, aku kaget banget. Kayak dikasih paket lengkap tapi ada bonus galaknya."

Namira terdiam sejenak, wajahnya berubah sedikit lebih serius. "Tapi Mas, sebenernya ada bagian doa yang nggak aku sebutin kemarin."

"Apa itu?" tanya Ayyan, wajahnya ikut serius.

"Aku juga minta... 'Ya Allah, kasih aku imam yang bisa sabar ngadepin aku yang berisik ini. Yang nggak cuma sayang sama aku, tapi juga bisa nuntun aku biar nggak cuma mikirin dunia terus'. Dan pas aku lihat Mas ngajar santri, pas aku lihat Mas jaga Abah sama Umi... aku tahu kalau bagian doa yang itu juga dikabulin. Bahkan lebih dari yang aku minta."

Ayyan terpaku. Ia tidak menyangka di balik keceriaan dan sikap "bawel" Namira, ada pemikiran sedalam itu. Ia meraih tangan Namira yang memegang cup es krim, menggenggamnya erat.

"Namira... soal good rekening, insyaallah Mas akan usahakan terus supaya kamu bisa jajan seblak sampai bosan. Tapi soal menuntun kamu, Mas juga masih belajar. Kita belajar bareng-bareng, ya?"

Namira tersenyum sangat lebar, matanya menyipit hingga membentuk bulan sabit. "Iya, Mas. Tapi tetep ya, jatah dres tiap bulan nggak boleh dipotong!"

Ayyan terkekeh pasrah. "Iya, tidak dipotong. Tapi setorannya ditambah satu halaman kitab setiap ada dres baru."

"MAS AYYAN! Perhitungan banget sih!"

Malam itu, mereka pulang dengan hati yang lebih ringan. Namun, sesampainya di pesantren, sebuah mobil polisi tampak terparkir di depan kantor keamanan. Seseorang berpakaian rapi namun tampak kusut sedang dikawal masuk.

"Mas... itu bukan Randi, kan?" bisik Namira panik.

Ayyan menajamkan pandangannya.

"Bukan. Itu admin akun gosip yang kemarin menyebarkan video kamu. Sepertinya somasi kita benar-benar bekerja lebih cepat dari yang dibayangkan."

Ayyan memarkirkan mobilnya dengan tenang, namun sorot matanya tetap waspada. Ia menuntun Namira masuk melalui pintu samping agar tidak langsung berpapasan dengan kerumunan di depan kantor keamanan.

"Kamu masuk ke ndalem dulu ya, temui Umi. Mas mau cek ke kantor sebentar," ucap Ayyan sambil melepaskan jaketnya.

"Tapi Mas, aku mau ikut! Aku mau lihat muka orang yang udah bikin aku dikatain nenek sihir se-Indonesia!" Namira menahan lengan baju Ayyan, wajahnya penuh rasa penasaran yang meledak-ledak.

Ayyan menghela napas, menatap wajah istrinya yang masih memegang boneka beruang dari pasar malam. "Ini urusan hukum, Namira. Takutnya pembicaraannya kasar. Mas tidak mau kamu kepikiran lagi."

"Mas... justru aku bakal kepikiran kalau nggak tahu apa-apa. Please? Aku janji bakal jadi Ning yang kalem, nggak akan aku siram pakai air mukena deh!" Namira mengangkat dua jarinya membentuk tanda peace dengan wajah memelas.

Ayyan akhirnya luluh. "Oke. Tapi jangan bicara sebelum Mas izinkan. Paham?"

Di dalam kantor keamanan pesantren, seorang pria muda berkacamata tampak duduk gemetar di hadapan kepala keamanan pesantren dan dua orang petugas kepolisian. Begitu Ayyan dan Namira masuk, pria itu langsung berdiri dengan wajah pucat pasi.

"Gus... Ning... saya mohon maaf! Saya cuma

menjalankan tugas, saya nggak tahu kalau urusannya bakal panjang begini!" ucap pria itu hampir menangis.

Ayyan duduk dengan tenang di kursi utama, sementara Namira berdiri di sampingnya dengan tangan bersedekap, mencoba terlihat se-intimidasi mungkin (meskipun gagal karena wajahnya terlalu imut).

"Siapa yang memberimu rekaman CCTV itu?" tanya Ayyan langsung pada intinya. Suaranya rendah tapi menekan.

"Pak Randi, Gus... Eh, maksud saya, suruhannya Pak Randi," jawab pria itu terbata-bata. "Dia nggak cuma kasih video, tapi dia juga bayar saya lima puluh juta buat mastiin video itu viral dalam satu malam. Katanya biar Ning Namira malu dan mau balik ke Jakarta."

Namira membelalak. "Lima puluh juta?! Mas, harga nama baik aku cuma setara motor matic dua biji?!" bisiknya gemas, namun segera diam setelah ditepuk pelan oleh Ayyan.

"Ada bukti percakapannya?" tanya Ayyan lagi.

Pria itu buru-buru mengeluarkan ponselnya.

"Ada, Gus! Semua bukti transfer dan chat perintahnya ada di sini. Saya mau kooperatif, Gus. Tolong cabut somasinya, saya punya anak istri yang harus dikasih makan."

Ayyan memeriksa ponsel tersebut sejenak, lalu memberikannya kepada petugas polisi. "Pak, sepertinya ini sudah masuk ranah tindak pidana pencemaran nama baik yang direncanakan (ITE) dan ada unsur penyuapan untuk menyebar fitnah."

Polisi itu mengangguk. "Betul, Gus. Dengan bukti ini, posisi Pak Randi sebagai otak pelaku sangat kuat."

Setelah admin itu dibawa pergi oleh polisi untuk pemeriksaan lebih lanjut, Namira terduduk lemas di kursi kayu.

"Mas... Randi beneran se-obsesi itu ya? Lima puluh juta cuma buat bikin aku kelihatan jahat? Padahal uang segitu bisa buat beli seblak buat satu kabupaten, Mas!"

Ayyan berjongkok di depan istrinya, menggenggam kedua tangan Namira. "Dia tidak sedang menyerang kamu karena cinta, Namira. Dia menyerang karena egonya terluka. Dia tidak bisa terima kalau kamu lebih memilih hidup sederhana di sini daripada semua kemewahan yang dia tawarkan."

Ayyan menatap mata Namira dengan sangat dalam. "Mas akan pastikan dia tidak akan pernah mengganggumu lagi. Mas sudah bicara dengan Pak Surya, dan sepertinya Pak Surya sendiri yang akan mengirim Randi ke luar negeri untuk 'sekolah' lagi agar lebih tahu adab."

Namira terdiam, lalu ia tersenyum tipis. "Ya udah deh, yang penting sekarang semuanya udah jelas. Tapi Mas..."

"Apalagi, Sayang?"

"Gara-gara drama ini, akun aku followersnya naik jadi seratus sepuluh juta, Mas! Terus banyak yang minta aku spill resep lodeh pedas kemarin!"

Ayyan memijat keningnya, tak percaya bahwa dalam situasi genting pun istrinya masih sempat memikirkan statistik media sosial. "Namira... Mas menyerah. Silakan bikin konten lodeh, tapi tolong... jangan sebutkan kalau Mas sampai minum air tiga galon gara-gara masakanmu itu."

"Iya, iya! Itu rahasia dapur kita, Gus Sayang!" Namira tertawa lepas, ia merasa menang telak.

1
Ayumarhumah
Hay ... aku sudah mampir tetap semangat ya 💪💪💪
Rina Casper: iya makasih ya kakk sudah mampir🤭 semoga suka dengan novelnya😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!