Apa jadinya jika air ketuban pecah di malam kencan pertamamu?
Panik dan syok, itulah yang dirasakan Maggie saat menjalani kencan pertamanya dengan Kael, seorang miliarder tampan dan karismatik.
Kencan romantis itu mendadak berubah kacau ketika air ketubannya pecah di tengah acara makan malam.
Alih-alih ikut panik, Kael justru sigap mengangkat Maggie dan membawanya ke limusin mewahnya untuk segera menuju rumah sakit.
Namun, apa yang terjadi selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mengganti Popok
Kael terbangun mendadak di dalam pesawat. Dia pasti kelelahan. Dia menggosok mata dan menoleh ke sekeliling. Kursi di sebelahnya, tempat Maggie dan Biann berada saat dia tertidur ... kosong.
Dia mendengarkan mesin berdengung. Rere dan Cesar pasti ada di kokpit.
Pintu dapur tertutup. Dia menduga Maggie ada di bagian kamar. Larry mungkin sudah menyiapkan tempat tidur untuknya dan bayi itu.
Sebuah selimut tampak menutupi salah satu deret kursi. Dia melepas sabuk pengaman dan berjalan ke sana untuk melihat siapa itu.
Larry.
Penerbangan internasional berturut-turut juga memengaruhinya. Kael sudah terlalu banyak meminta bantuan Larry dalam beberapa hari terakhir. Dia tidak akan membangunkannya.
Maggie pasti ada di belakang. Pintu ganda cukup efektif meredam suara dari depan ke belakang pesawat. Maggie dan bayinya bisa saja tidur. Dia tidak akan mendengarnya.
Kael menekan tombol, dan panel pertama terbuka. Panel kedua sudah terbuka, memperlihatkan bahwa tempat tidur memang sudah diturunkan.
Kael bisa melihat kaki Maggie di ujung tempat tidur. Dia hendak kembali ke kursinya ketika Maggie duduk, rambut pirangnya berkilau.
“Kamu bangun,” bisiknya. Kael masuk dengan hati-hati. Bayi itu tidur di tengah tempat tidur. “Kamu enggak apa-apa?”
Maggie menyibakkan rambut ke belakang. “Aku agak lengket kena susu, aku pingin bersih-bersih.”
Dia melirik Biann. Bayi itu tertidur pulas. “Mandi aja sebentar. Atau apa pun yang kamu butuhkan. Aku di sini sama bayinya.”
“Yakin?” tanyanya.
“Yakin. Aku enggak takut sama dia.”
Maggie tersenyum. “Kalau dia bangun dan menangis, jemput aku.”
“Kita bakal baik-baik aja. Tenang aja.”
“Makasih.” Maggie mencondongkan badan dan mengecup pipi Biann.
Maggie beraroma susu. Ada gelombang nostalgia yang datang di ingatan Kael. Bukan tentang Mamanya sendiri, yang mungkin sudah menaruh wiski di botol susu mereka saat umur enam bulan. Tapi tentang keluarga. Rumah. Dia tidak kebal terhadap kenangan itu.
Maggie menoleh ke sekeliling ruangan. “Kamu tahu di mana tasku?”
“Larry mungkin menaruh yang kecil di rak bawah wastafel.”
“Bagus. Makasih.”
Gigi Maggie tampak putih berkilau, lalu dia menuju pintu kamar mandi. Gaunnya kusut dan rambutnya jatuh berombak di punggungnya, sedikit kusut.
Tapi Kael suka versi Maggie yang ini. Versi yang tidak sempurna dan tidak dibuat-buat.
Maggie menutup pintu dan terdengar beberapa hentakan saat dia menggeser barang. Lalu suara air menyala.
Kael melepas jas dan meletakkannya di ujung tempat tidur. Bayi itu mendesah dalam tidurnya dan dia membeku. Saat bayi kembali tenang, dia duduk perlahan di sudut, berusaha tidak menggerakkan kasur di bawahnya.
Dia belum pernah tidur di tempat tidur ini. Belum pernah melihat kasur ini diturunkan. Kebanyakan perjalanan dihabiskan untuk bekerja atau menelepon lewat satelit di kabin utama. Tempat tidur ini suasananya nyaman. Kael menyukainya.
Terdengar suara pintu shower bergeser di ruangan sebelah, dan Kael sadar Maggie pasti bertelanjang di balik dinding itu. Dia teringat ciuman panas mereka sebelum Maggie memutuskan ikut dalam perjalanan ini.
Kael belum pernah berkencan dengan seorang Mommy. Apalagi yang masih sangat muda. Dia tidak tahu bagaimana ini akan memengaruhi kesempatan mereka untuk memiliki waktu bersama. Atau apakah Maggie siap untuk itu.
Maggie tidak pernah menyebut ayah dari bayi itu. Tidak ada yang menyebutkannya, bahkan di rumah sakit. Ketika perawat mengira dialah ayahnya, tidak ada satu orang pun yang meluruskan.
Dia berasumsi Maggie akan menceritakan kisahnya saat siap. Meski bukan sekarang. Mereka masih di tahap awal saling mengenal.
Sebuah bunyi tiba-tiba memecah keheningan. Lalu umpatan teredam. Sepertinya Maggie menjatuhkan botol sampo.
Kael tersenyum sendiri sampai menyadari mata bayi itu terbuka. Mulutnya mengeras lalu meringis.
Tangisan kecil itu langsung menghantam dadanya. Dia mendekat dan meletakkan tangan di perut Biann. Bayi itu tenang sebentar, lalu raungannya makin keras.
“Jangan, jangan, Biann,” kata Kael. “Biar Mama mandi dulu.”
Jelas Biann tidak paham, karena tangisannya justru makin kencang.
"Aduh, Nak."
Maggie mungkin tidak akan mendengar mereka dari dalam shower.
Kael mengangkat Biann dan menyandarkannya di bahu, seperti yang sering Maggie lakukan.
Sesaat, itu menenangkan. Kael bersenandung pelan, berusaha menjaga suasana.
Tapi jeritan kembali pecah. Dia menepuk punggung Biann, lalu tiba-tiba mencium bau.
“Kamu popoknya kotor, ya.”
Kael mengayun lebih kuat, bertanya-tanya apakah mereka bisa bertahan sampai Maggie keluar.
Tangisan itu begitu dekat dengan telinganya. Dia harus melakukan sesuatu.
Tas popok ada di meja kecil di samping tempat tidur.
“Seberapa susah sih ini?” bisiknya di telinga Biann sambil meletakkannya kembali di kasur.
Kael melirik ke dapur sampai ke depan pesawat, berharap Larry datang menyelamatkannya. Tapi Kael tidak mau membangunkannya. Dia menutup cepat pintu dapur agar suara tertahan di bagian kabin mereka.
“Ayo kita lakukan ini, Sayang,” katanya. “Kerja sama, ya.”
Entah kenapa, ucapan itu membantu.
Biann jadi lebih tenang, mengayunkan tangan di udara.
“Syukurlah.”
Biann mencoba memasukkan kepalan tangan ke mulut, tapi malah kena matanya sendiri.
Mulutnya pun terbuka untuk berteriak lagi.
...𓂃✍︎...
...Seandainya hujan yang jatuh hari ini ialah engkau, bolehkah sekali saja kuberteduh tuk melewatinya?...
...────୨ৎ────...
tapi aku gk naik limosin aku naik mobil trios mobil keluarga yg sederhana .