Sekar Arum, gadis desa Plumbon, memiliki cinta yang tak biasa: wayang kulit. Ia rela begadang demi menyaksikan setiap pertunjukan, mengabaikan cemoohan teman-temannya. Baginya, wayang adalah jendela menuju dunia nilai dan kearifan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Gemini 75, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Langkah Pertama di Gerbang Universitas
Mentari pagi menyelinap masuk melalui celah jendela, membangunkan Sekar Arum dari tidur nyenyaknya. Ia menggeliat sejenak, merasakan tubuhnya yang segar dan bersemangat. Hari ini adalah hari pertama kuliahnya di UNS, sebuah momen yang telah lama ia impikan.
Dengan bergegas, ia bangun, mandi, dan mengenakan pakaian yang sudah ia siapkan semalam: blus berwarna pastel dengan motif bunga kecil, rok panjang berwarna cokelat, dan jilbab segiempat berbahan voal yang senada dengan warna blusnya. Ia berdandan tipis, memoleskan bedak dan lip gloss agar wajahnya terlihat segar dan ceria. Ia ingin tampil menarik dan sopan di hari pertama kuliahnya.
Setelah siap, ia keluar dari kamar dan menuju dapur. Di sana, ia melihat Ibu Siti sedang menyiapkan sarapan.
"Pagi, Sekar. Sudah siap kuliah?" sapa Ibu Siti dengan senyum ramah.
"Pagi, Bu," jawab Sekar Arum sambil tersenyum. "Sudah, Bu. Semoga hari ini lancar."
"Aamiin. Ini, sarapan dulu. Jangan sampai telat makan," kata Ibu Siti, menyiapkan sepiring nasi goreng dan segelas teh hangat untuk Sekar Arum.
Sekar Arum makan dengan lahap. Nasi goreng buatan Ibu Siti memang enak sekali. Setelah selesai makan, ia berpamitan kepada Ibu Siti dan berangkat ke kampus.
"Bu, Sekar berangkat dulu ya. Assalamualaikum," kata Sekar Arum sambil mencium tangan Ibu Siti.
"Waalaikumsalam. Hati-hati ya, Nak. Semangat!" jawab Ibu Siti.
Sekar Arum berjalan menuju gerbang kos. Di sana, ia bertemu dengan Dewi yang juga hendak berangkat kuliah.
"Eh, Sekar. Bareng yuk!" sapa Dewi dengan ceria.
"Yuk!" jawab Sekar Arum.
Mereka berdua berjalan bersama menuju halte bus. Sambil menunggu bus, mereka berbincang-bincang tentang jadwal kuliah dan rencana kegiatan di kampus.
"Sekar, kamu sudah tahu gedung fakultasmu di mana?" tanya Dewi.
"Aku belum tahu, Dewi. Semoga nanti tidak nyasar," jawab Sekar Arum sambil tertawa kecil.
"Tenang saja. Nanti aku anterin sampai depan fakultasmu," kata Dewi.
Tidak lama kemudian, bus yang mereka tunggu datang. Mereka segera naik dan mencari tempat duduk yang kosong.
Perjalanan ke kampus terasa cukup lama. Bus penuh sesak dengan mahasiswa yang juga hendak berangkat kuliah. Sekar Arum mengamati wajah-wajah baru di sekitarnya. Ia merasa sedikit gugup dan tidak percaya diri.
Sesampainya di kampus, Sekar Arum terkagum-kagum melihat gedung-gedung yang megah dan halaman yang luas. Kampus UNS benar-benar indah dan berwibawa.
"Ayo, Sekar. Kita ke fakultasmu dulu," kata Dewi, menarik tangan Sekar Arum.
Mereka berdua berjalan menyusuri jalan kampus, melewati taman-taman yang rindang dan lapangan olahraga yang ramai. Sekar Arum merasa kagum dengan suasana kampus yang hidup dan bersemangat
Akhirnya*, mereka tiba di depan gedung Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, tempat jurusan Ilmu Komunikasi berada. Gedung itu tampak megah dengan arsitektur modern, didominasi warna abu-abu dan kaca. Di depan gedung, terdapat sebuah taman kecil dengan air mancur yang gemericik, memberikan kesan yang sejuk dan menenangkan.
"Ini fakultasmu, Sekar. Semangat belajar ya!" kata Dewi sambil tersenyum memberikan semangat.
"Makasih banyak, Dewi. Kamu juga semangat ya!" jawab Sekar Arum, merasakan debaran di dadanya semakin kencang.
Setelah berpamitan, Dewi pergi menuju fakultasnya sendiri, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, yang terletak tidak jauh dari sana. Sekar Arum menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan diri. Ia merasa gugup dan tidak percaya diri untuk melangkah masuk ke dalam gedung fakultas.
Ia melihat sekelilingnya dengan tatapan penuh keraguan. Di depan gedung, berdiri beberapa mahasiswa yang tampak akrab dan percaya diri. Mereka tertawa dan bercanda, seolah-olah sudah lama saling mengenal. Sekar Arum merasa minder dan kecil di antara mereka.
Namun, ia mengingat pesan Bapak dan Ibu untuk selalu percaya diri dan berani menghadapi tantangan. Ia juga mengingat impiannya untuk menjadi sarjana Ilmu Komunikasi yang sukses dan membanggakan orang tua.
Dengan tekad yang bulat, Sekar Arum melangkah masuk ke dalam gedung fakultas. Suasana di dalam gedung terasa lebih ramai dan sibuk. Mahasiswa berlalu-lalang, membawa buku-buku dan catatan-catatan. Beberapa di antara mereka duduk di kursi-kursi panjang di lorong, berdiskusi dengan serius.
Sekar Arum merasa semakin bingung dan tidak tahu harus ke mana. Ia mencoba mencari informasi di papan pengumuman, tetapi tidak menemukan apa pun yang berkaitan dengan mahasiswa baru.
Akhirnya*, ia memberanikan diri untuk bertanya kepada seorang mahasiswa yang sedang duduk sendirian di kursi panjang.
"Maaf, Kak. Saya mau tanya, kalau ruang orientasi mahasiswa baru Ilmu Komunikasi di mana ya?" tanya Sekar Arum dengan sopan.
Mahasiswa tersebut mengangkat wajahnya dan menatap Sekar Arum dengan tatapan yang ramah. "Oh, kamu mahasiswa baru ya? Ruang orientasinya ada di aula fakultas, lantai dua. Dari sini, kamu lurus saja, nanti ada tangga, naik ke lantai dua, terus belok kanan. Aulanya ada di ujung lorong," jelas mahasiswa tersebut dengan ramah.
"Oh, gitu. Terima kasih banyak, Kak," ucap Sekar Arum.
"Sama-sama. Selamat datang di FISIP, ya!" kata mahasiswa tersebut.
Sekar Arum mengikuti petunjuk dari mahasiswa tersebut. Ia berjalan lurus, menemukan tangga, naik ke lantai dua, belok kanan, dan akhirnya tiba di depan sebuah pintu besar yang bertuliskan "Aula FISIP".
Ia menarik napas dalam-dalam dan membuka pintu aula. Suasana di dalam aula terasa lebih ramai dan berisik. Ratusan mahasiswa baru berkumpul di sana, duduk di kursi-kursi yang tertata rapi, menunggu acara orientasi dimulai. Di atas panggung, terlihat beberapa orang senior yang sedang menyiapkan perlengkapan. Sekar Arum merasa sedikit terlambat, tetapi ia tetap berusaha mencari tempat duduk yang kosong dan mengikuti acara dengan baik.
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*