Kisah dua insan yang saling mencintai, namun terhalang oleh restu orang tua. Seorang pemuda nan soleh jatuh cinta kepada seorang gadis yang biasa saja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ria Diana Santi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jalan-Jalan Yang Berujung Tragis
Terkadang apa yang kita bayangkan tak seindah kenyataan
...*****...
"Ryu, Ibu akan menelpon ayahmu dulu. Kamu tahan sebentar, ya!" Dini pergi untuk menelpon suaminya. Kini hanya, Riri yang bersama Ryu di kamar itu.
"Ryu ... bertahanlah! Ayahmu sebentar lagi pasti akan datang," pinta, Riri pada Ryu yang
tengah kesakitan saat itu. Namun, dia masih sempat untuk mencemaskan, Riri yang tengah menangis di hadapannya saat ini.
"Riri ... kamu jangan khawatir! Aku baik-baik saja," ucapnya dengan suara lemah dan tak berdaya. Kini ia hampir-hampir tak sadarkan diri.
Riri tak tega melihat, Ryu laki-laki yang baik hati itu kini menjadi lemah tak berdaya. Sungguh perih, melihatnya terkapar seperti itu.
Riri hanya bisa berucap, "Sudahlah, kamu jangan memaksakan diri! Mengapa tadi kita tidak langsung ke rumah sakit saja? Kenapa kamu melarang ku membawamu ke rumah sakit? Bertahanlah, aku akan selalu di sini untuk menjagamu!" ucap Riri seraya khawatir pada kondisi Ryu saat ini.
"Aku tidak suka rumah sakit dan jarum suntik."
"Itu sangat konyol, jangan bercanda terus!" tegasnya pada Ryu, dengan derai air mata di pipinya yang tak berhenti membasahi wajahnya.
Sementara itu, Dini sedang menghubungi suaminya yang berada di rumah sakit.
"Kenapa tidak diangkat, juga? Ayolah, angkat telepon mu, Suamiku! Aku tidak akan menyerah aku akan terus menghubungimu!"
Tut ..., tut ..., tut ...!
"Halo ...,"
"Halo, Suamiku."
"Ada apa kau menelpon ku?"
"Cepatlah pulang! Telah terjadi sesuatu pada Ryu, dia terluka parah."
"Apa ...? Baiklah, tunggu aku! Aku akan segera pulang." Dengan terburu-buru dia meninggalkan rumah sakit tempatnya bekerja.
Aito, sangat mengkhawatirkan anaknya. Syukurlah ia seorang dokter. Dia pasti akan mengerahkan seluruh kemampuannya untuk menyelamatkan anaknya.
Dengan perasaan cemas yang teramat sangat,
serta rasa takut, Aito mengendarai mobilnya.
Di rumah, Dini dan Riri mulai merasa sangat khawatir sekali. Namun, beberapa saat kemudian. Terdengar suara mesin mobil yang berhenti di depan rumah.
Dini merasa itu pasti suaminya. Tanpa berpikir lagi, Dini berlari menuju pintu. Ternyata benar itu memang suaminya. Dengan perasaan yang kalut, Dini menceritakan keadaan putra mereka pada Aito suaminya.
"Suamiku, anak kita terluka parah. Sekarang dia ada di kamarnya bersama Riri. Ayo, cepatlah ke kamarnya," ajak Dini pada suaminya.
Mereka berdua pun segera pergi menuju kamar Ryu. Ketika sampai di kamar Ryu, Aito segera memeriksa keadaan anaknya itu.
"Suamiku, bagaimana keadaannya?" tanya Dini dengan terburu serta perasaan yang sangat cemas dan khawatir.
Aito telah memeriksanya dengan teliti.
"Dia kekurangan banyak darah. Sepertinya, lukanya terlalu dalam. Kita harus membawanya ke rumah sakit sekarang juga.
Ayo, bantu aku membawanya ke mobil!" titah Aito.
Ditengah perjalanan menuju rumah sakit, tiba-tiba, Ryu tak sadarkan diri. Riri, yang melihat hal itu merasa cemas dan ia pun segera memberi tahukannya pada Aito.
"Paman, Ryu tidak sadarkan diri. Dia pingsan paman. Kita harus secepatnya ke rumah sakit, kalau tidak, aku takut terjadi sesuatu yang ...,"
"Cukup, diam lah! Aku tahu," ucap, Aito yang memotong perkataan, Riri dengan tegasnya.
Sedangkan, Dini. Ia sangat panik dengan kondisi Ryu saat ini. Dengan linangan air mata dia berdoa.
"Ya, Allah ..., tolong selamatkan lah putraku! Aku mohon padaMu ya Rob." dengan terisak-isak ia berdoa pada Allah. Berharap anaknya akan segera selamat dan baik-baik saja seperti sedia kala.
Riri yang berada di samping Dini, mencoba untuk menenangkannya dan menghentikan tangisnya untuk sementara. Walau itu rasanya tidaklah mungkin. Tapi, dia tetap mencobanya.
"Tante, Tante tenang, ya! Aku yakin dan percaya, Allah pasti mendengar doa, Tante dan akan mengabulkannya. Tante tahu kenapa? Karena, Tante dan Ryu adalah orang yang baik. Bahkan, sangat baik! Jadi, sekarang, Tante jangan menangis lagi!" pinta Riri pada Dini.
Namun, Dini tetap tidak bisa menghentikan tangisnya itu. Dia hanya bisa berkata,
"Riri, Tante tidak bisa menghentikan tangisan ini. Maka, biarkan saja air mata ini terus mengalir," ucapnya dengan penuh haru.
Mendengar hal itu, Riri diam dan berkata dalam hatinya, "Tante benar, tidak ada seorang ibu yang sanggup melihat anaknya menderita. Apa lagi sampai terluka parah seperti ini. Mereka pasti rela mengorbankan jiwa dan raga mereka, demi anak yang amat sangat mereka sayangi. Tidak peduli seberat apa pun rintangan yang menghadang. Bahkan, hingga titik darah terakhir mereka tidak akan pernah menyerah," gumamnya dalam hati.
Mendadak, Aito berhenti karena telah sampai di depan rumah sakit. Aito segera keluar dan membantu Para Perawat untuk mengangkat Ryu. Kemudian membawanya ke ruang UGD. Dengan cepat Para Perawat, Aito, Dini dan juga Riri membawa Ryu ke UGD.
Setelah sampai di UGD, Ryu langsung ditangani oleh ayahnya sendiri. Satu persatu alat di gunakan oleh Aito untuk membersihkan darah serta menjahit perut Ryu.
Sementara itu, Dini dan Riri tengah menunggu di luar. Mereka harap-harap cemas terhadap keadaan Ryu. Lalu, Riri berinisiatif untuk mengajak Dini shalat.
"Tante, sebaiknya kita shalat dan mendoakan, Ryu." ajak Riri pada Dini.
"Kamu benar, ayo ikut, Tante!" Dini mengajak Riri pergi dari tempat itu. Mereka pergi ke ruang shalat yang ada di rumah sakit itu, walau ukurannya tidaklah seberapa.
Setelah berwudhu, Dini dan Riri mengerjakan shalat bersama. Sedangkan, Aito tengah berjuang untuk menyelamatkan anaknya.
"Isha, kanja no myakuhaku wa yowamatte imasu."
( Dokter, denyut nadi pasien melemah.)
"Dewa, -ji no akushon o jikko shite, shinpaku - su ga seijo ni modoru yo ni shimasu. Sugu ni ...,"
(Baiklah, kalau begitu lakukan tindakan selanjutnya, agar detak jantungnya kembali normal. Segera ...,).
"Oke, Isha."
(Baik, Dokter.)
Di tempat lain, Riri dan Dini tengah berdoa untuk keselamatan Ryu.
"Ya, Allah. Engkau Yang Maha Kuasa, kepadaMu lah hamba meminta dan memohon pertolongan. Sembuhkan lah, anak hamba, ya Allah. Angkatlah rasa sakitnya, agar ia dapat berkumpul lagi bersama orang-orang yang ia sayangi, yang juga menyayanginya, serta mencintainya. Tanpa ridho dari Mu, ya Allah, ia takkan bisa berjuang melewati semua ini. Kabulkan lah, doa hamba, ya Allah. Amin."
Setelah selesai berdoa, Riri pun bersalaman dengan Dini dan mengatakan sesuatu padanya. Tentang bagaimana kejadian itu terjadi.
"Eee ..., Tante bisakah kita bicara?" tanya Riri dengan sedikit rasa takut.
"Ya, apa yang ingin kamu kata 'kan? Tapi sebelum itu, Tante mau tanya. Bisakah kamu memanggil ku dengan sebutan, Ibu?!"
Riri tercengang mendengar pertanyaan atau lebih tepatnya permintaan dari Dini padanya.
"Kenapa memangnya, Tante? Apakah itu sangat berpengaruh bagimu, Tante? Jika, aku memanggilmu, Ibu?"
"Tentu, bagiku panggilan seseorang itu penting, karena dengan sebutan itu dapat di artikan bahwa kau menganggap seseorang itu apa bagi hidupmu, Nak. Aku memanggilmu nak saat ini, karena aku menganggap mu seperti anakku sendiri. Jika, kamu memanggilku tante. Maka, aku hanyalah sebatas itu bagimu. Itulah mengapa aku katakan semua itu penting bagiku, Nak. Walau aku baru mengenalmu, namun aku yakin bahwa kau adalah anak yang baik dan kau pantas menjadi anakku." kata Dini dengan penuh kelembutan.
Pada akhirnya Riri belum mengatakan apa yang terjadi sebenarnya. Dia jadi tidak tega bila mengatakannya.
***
Assalamualaikum.
Terima kasih untuk kalian yang sudah mau meluangkan waktunya untuk membaca karyaku. Kalian adalah penyemangat hidupku. Aku percaya jika kita menghargai seseorang, Allah juga akan buat kita di hargai oleh orang lain juga. Jadi, terima kasih ❤❤❤❤❤
Mungkin Ryu lebih condong ke sifat ibunya
Sosoknya masih misterius, semoga dia juga orang baik
Hey kaum adam! Awas aja ya kalau kalian berani bikin Puri patah hati maka kalian akan dihajar olehnya
Gibran kamu mau tahu siapa yang ada dihati Riri? Sini aku bisikin namanya itu Ryu
Riko,Riri takut teman-teman sekolahnya digondol maling jadi dia agak ragu untuk ikut pergi sama kamu😂
Meski begitu tetap aja hati Rico hancur berkeping-keping
Tapi syukurlah, Riri ada tempat tinggal.
Daesuke kamu harus move on dan cobalah membuka hatimu kembali untuk wanita lain
Itu benar banget Gibran, kamu itu membuat Riri jadi gak fokus belajar tahu tapi Riri tak mau mengakuinya
Terus nanti Ryu gimana? Apa dia bukan jodohnya Riri?
Gibran sama Roni lucu banget sih kalian😂
Cowok kayak kamu termasuk langkah Ryu
Riri ibumu nyembunyiin kunci dipot kalau aku sih nyembunyiin kunci rumah dibawah keset yang ada didepan pintu
Jadi Riri menolak tawaran orang itu dong kalau dia mau pulang keIndonesia? Kalau Karina gimana?
Puri aku yakin Riri juga merasakan hal yang sama kaya kamu. jadi bersabarlah kalian pasti dipertemukan lagi sama Authornya ya😁
Ya ampun itu namanya ikatan batin ya Ryu, gak lihat orangnya tapi kamu bisa merasakan kehadirannya
The best deh Ryu, suka sama karakternya