Novel ini adalah sekuel dari novel yang berjudul: Dinikahi Sang Duda Kaya yang sudah tamat sebelumnya.
Alea Ardiman, "The Smiling Shark" yang jenius namun anti-cinta, harus berurusan dengan dr. Rigel Kalandra setelah jatuh pingsan. Rigel, dokter bedah saraf yang dingin, adalah satu-satunya pria yang berani membanting laptop kerja Alea dan mengabaikan ancaman kekayaannya.
"Simpan uang Anda, Nona Alea. Di ruangan ini, detak jantung Anda lebih penting daripada Indeks Harga Saham Gabungan."
Alea merasa tertantang, tanpa menyadari bahwa Rigel sebenarnya adalah pewaris tunggal konglomerat farmasi sekaligus "Investor Paus" yang diam-diam melindungi perusahaannya. Ketika Ratu Saham yang angkuh bertemu Dokter Sultan yang diam-diam bucin, siapakah yang akan jatuh cinta duluan di bawah pengawasan ketat Papa Gavin?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11: Kemeja Putih & Detak Jantung
"Mata lo... minus," jawab Alea asal, berusaha memecahkan ketegangan yang membuat oksigen di paru-parunya menipis. Dia memalingkan wajah ke samping, menghindari tatapan intens dokter itu. "Udah selesai belum ngancinginnya? Tangan lo lambat banget kayak siput."
Rigel tidak langsung menarik tangannya. Dia justru merapikan kerah kemeja itu dengan gerakan lambat yang disengaja, menyentuh kulit leher Alea sekilas. Sentuhan itu membuat bulu kuduk Alea meremang hebat.
"Selesai," ucap Rigel akhirnya, menarik tubuhnya mundur kembali ke kursi pengemudi.
Alea langsung menghela napas lega—atau kecewa? Entahlah.
Dia menarik kemeja kebesaran itu agar menutupi paha mulusnya yang terekspos karena gaun backless-nya terangkat saat duduk. Kemeja Rigel menelan tubuh rampingnya, membuatnya terlihat kecil dan rapuh, jauh dari imej Ratu Saham yang garang.
"Lo ngapain sih liatin gue terus?" semprot Alea galak saat menyadari Rigel masih menatapnya dari samping. "Ada yang salah? Muka gue luntur?"
"Nggak," jawab Rigel santai, menyandarkan punggungnya ke jok. Dia melipat kedua tangannya di belakang kepala, memamerkan otot bisepnya yang terbalut kaos singlet hitam ketat. "Cuma aneh aja."
"Aneh apanya?"
"Liat Ratu Saham pakai kemeja murah seharga seratus lima puluh ribu. Ternyata cocok juga. Kelihatan lebih... manusiawi."
"Sialan lo," umpat Alea, meski pipinya terasa panas. "Ini terpaksa ya! Kalau nggak kedinginan, ogah gue pake baju apek lo ini."
"Apek?" Rigel mengangkat alis sebelah. "Yakin apek? Dari tadi saya liat kamu nyuri-nyuri napas buat nyium kerahnya."
Wajah Alea langsung merah padam sampai ke telinga. Sialan.
Dokter ini punya mata elang atau gimana? Memang benar, wangi kemeja ini—perpaduan aroma citrus, mint, dan aroma tubuh maskulin Rigel—sangat menenangkan. Rasanya seperti dipeluk.
"Si-siapa yang nyium! Hidung gue mampet kena flu! Geer banget jadi cowok!" elak Alea panik.
Rigel hanya terkekeh pelan. Tawa yang berat dan renyah. "Ya sudah kalau nggak mau ngaku."
Suasana hening lagi. Hanya suara hujan yang menderu. Alea memeluk lututnya, mencoba menghangatkan diri sambil melirik jam tangan mahalnya. Sudah sepuluh menit berlalu.
"Kita mau sampai kapan di sini? Sampai jadi fosil?" keluh Alea. "Gue ada meeting pagi besok. Gue butuh tidur di kasur empuk gue."
Tiba-tiba, sorot lampu kuning terang menembus kegelapan dari arah belakang. Klakson nyaring berbunyi dua kali.
TIN! TIN!
Alea menoleh cepat ke belakang. Sebuah truk derek berwarna oranye dengan tulisan "LAYANAN DEREK 24 JAM" berhenti tepat di belakang sedan tua Rigel. Seorang petugas berseragam rompi menyala turun sambil membawa payung.
"Derek!" seru Alea girang, matanya berbinar seolah melihat malaikat. "Akhirnya! Kok cepet banget datengnya? Perasaan lo belum nelpon siapa-siapa?"
Rigel menegakkan duduknya, wajahnya tetap datar tanpa ekspresi kaget sedikit pun.
"Kebetulan lewat mungkin," jawab Rigel singkat.
Padahal, lima menit yang lalu, Rigel sudah menekan tombol darurat di jam tangannya—memberi sinyal pada tim keamanan bayangan yang disewa ayahnya untuk selalu mengawasi dari jarak jauh. Rigel tahu mereka pasti ada di sekitar sini.
Tok! Tok!
Petugas derek mengetuk kaca jendela. Rigel membukanya sedikit.
"Mogok, Mas? Mau diderek?" tanya petugas itu sopan—terlalu sopan untuk ukuran sopir derek jalanan. Matanya sekilas melirik Rigel dengan kode hormat yang hanya dimengerti mereka.
"Boleh, Pak. Aki tekor. Tolong antar ke bengkel langganan saya, terus kami numpang sampai ke apartemen teman saya di depan sana," pinta Rigel.
"Siap, laksanakan. Mari pindah ke kabin truk, Mas, Mbak. Di sini dingin."
Alea tidak perlu disuruh dua kali. Dia langsung membuka pintu mobil.
"Tunggu," tahan Rigel.
Rigel keluar lebih dulu menembus hujan. Dia berlari memutar ke sisi pintu Alea, membukakan pintu, lalu menggunakan tubuh tegapnya untuk memayungi Alea dari guyuran hujan saat Alea melompat turun menuju kabin truk derek.
"Cepetan masuk," perintah Rigel saat Alea sedikit ragu melihat truk tinggi itu. Rigel menahan pinggang Alea, membantunya memanjat naik.
Sesaat, Alea merasakan tangan besar dan hangat itu di pinggangnya. Aman. Kokoh.
Mereka berdua akhirnya duduk berhimpitan di kabin truk derek yang sempit. Sopir derek menyetir dalam diam—takut salah bicara di depan Tuan Mudanya.
Alea duduk di tengah, diapit sopir dan Rigel. Paha mereka bersentuhan setiap kali truk bergoyang. Alea masih memakai kemeja Rigel, sementara Rigel hanya memakai kaos singlet.
"Lo nggak kedinginan?" tanya Alea pelan, melihat lengan Rigel yang basah terkena air hujan.
"Dikit. Tapi nggak apa-apa. Saya seneng liat kamu anget," jawab Rigel tanpa menoleh, matanya lurus ke jalan.
Jantung Alea berulah lagi. Dug-dug-dug.
Kalimat sederhana itu efeknya lebih dahsyat daripada gombalan buaya darat pengincar uang manapun yang pernah mendekatinya.
Tiga puluh menit kemudian, truk derek berhenti di lobi apartemen mewah tempat Alea tinggal. Penthouse di kawasan SCBD.
Alea turun, dibantu Rigel lagi. Hujan sudah reda, menyisakan gerimis halus.
"Makasih tumpangannya. Dan... makasih udah nyelamatin gue dari Dion tadi," ucap Alea canggung. Dia berdiri di depan pintu lobi kaca yang megah, kontras dengan penampilannya yang berantakan pakai kemeja kebesaran.
"Sama-sama. Jangan lupa minum obat lambung, terus tidur. Jangan buka laptop lagi," pesan Rigel tegas.
Alea mengangguk. Tangannya kemudian bergerak membuka kancing kemeja itu.
"Eh, bentar. Baju lo gue balikin sekarang aja. Gue pake dress gue aja lari ke lift," kata Alea, bersiap melepas kemeja itu.
Rigel dengan cepat menahan tangan Alea. Dia melangkah maju, membuat jarak mereka kembali nol senti.
"Jangan," cegah Rigel.
"Kenapa? Lo mau pulang pake kutang doang? Masuk angin nanti!"
Rigel menatap mata Alea dalam-dalam, senyum miring yang mematikan itu muncul lagi di bibirnya. Dia mencondongkan wajahnya, mendekatkan bibirnya ke telinga Alea.
"Bawa aja," bisik Rigel serak.
"Hah?" Alea bingung, otaknya mendadak blank karena kedekatan ini.
"Kemejanya simpan saja malam ini," lanjut Rigel, suaranya makin pelan dan menggoda. "Pakai buat tidur."
"Maksud lo?"
"Biar kamu ingat wangi saya pas tidur. Siapa tau mimpi indah."
Setelah membisikkan kalimat itu, Rigel menarik wajahnya, mengedipkan sebelah mata dengan nakal, lalu berbalik badan berlari kecil kembali ke truk derek tanpa menunggu respon Alea.
Alea mematung di tempat. Angin malam berhembus, tapi wajahnya terasa seperti terbakar api. Merah padam sampai ke leher.
"DOKTER GILA! MESUM! SIAPA YANG MAU MIMPIIN LO?!" teriak Alea histeris ke arah truk yang mulai berjalan menjauh.
Tapi tangan Alea justru merapatkan kemeja itu ke tubuhnya, menghirup aroma musk yang tertinggal di kerahnya dalam-dalam.
Malam itu, untuk pertama kalinya, Ratu Saham tidak memikirkan grafik harga pasar. Di kepalanya hanya ada satu nama yang berputar-putar seperti ticker saham yang sedang bullish.
Rigel.
aya Aya wae nich dokter satu......
Alea di tantangin......
papa jual......Alea beli....