NovelToon NovelToon
Semua Ini Demi Kebahagian Ayah Dan Adik

Semua Ini Demi Kebahagian Ayah Dan Adik

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Fantasi Wanita / Ruang Ajaib
Popularitas:17.8k
Nilai: 5
Nama Author:

Anjeli Pranita, putri cantik pak Burhan yang biasa di sapa Anjeli. Gadis cantik dengan julukan kembang desa rela putus sekolah semenjak insiden yang membuat Keseharian ayahnya hanya bisa duduk di kursi roda yang usang pemberian tetangganya. Anjeli adalah gadis yang pintar di bidang akademik, murah senyum dan ceria. Namun, kepergian ibunya bersama laki-laki lain dengan alasan sudah capek hidup miskin dan ditambah kondisi ayahnya, menghilangkan senyum dan keceriaan di wajahnya akibat luka yang ditoreh ibunya untuk mereka. Anjeli si gadis sederhana harus menjadi kuat dan tahan banting di umurnya yang masih 16 tahun. Suatu hari, Anjeli yang menjadi tulang punggung untuk keluarga sedang mengais rezeki sebagai kuli panggul di pasar menggantikan pekerjaan bapaknya sebelum kecelakaan. Pagi itu tanpa sengaja Anjeli bertemu seorang nenek yang sedang kelaparan, ia yang memang memiliki hati yang baik memberikan bekal untuk makannya kepada sang nenek itu. Dari pertolongan itu Anjeli diberikan sebuah cincin usang oleh sang nenek sebagai bentuk kebaikan Anjeli. Cincin apakah yang diberikan oleh sang nenek itu kepada Anjeli????? Apakah ada keajaiban untuk Anjeli dan keluarganya??? Yukkkkk….,ikuti cerita Anjeli….

32

Suasana di pagi ini seperti biasanya yang diisi oleh kabut yang turun perlahan dari puncak perbukitan jati. Namun, pagi ini kabut itu terasa lebih tebal dan beraroma wangi, seolah-olah udara sendiri telah dicuci oleh sisa-sisa aroma Sari Bumi yang disiramkan Anjeli kemarin lusa. Anjeli keluar ke teras belakang, membawa nampan berisi singkong rebus dan sambal terasi untuk sarapan mereka di lahan samping.

"Ayah! Adek! Ayo Cepat ke sini!" teriakan Anjeli memecah keheningan pagi.

Pak Burhan yang sedang melatih kekuatan kakinya dengan berjalan mondar-mandir di teras depan segera mempercepat langkahnya. Aris, yang masih mengenakan sarung yang melilit lehernya seperti pahlawan bertopeng, berlari paling depan.

"Ada apa, Kak? Ada ulat besar lagi kah?" tanya Aris bersemangat.

Anjeli menunjuk ke arah petak jahe merah yang baru tiga hari mereka tanam. Secara teori, rimpang jahe membutuhkan waktu berminggu-minggu untuk memunculkan tunas ke permukaan tanah. Namun, di hadapan mereka, tanah hitam yang gembur itu telah terbelah oleh tunas-tunas kecil yang mencuat setinggi jari kelingking.

"Itu…Lihat warnanya, Ayah," bisik Anjeli dengan nada tak percaya.

Tunas-tunas itu bukan berwarna hijau muda pucat seperti tanaman pada umumnya. Tapi mereka berwarna hijau zamrud gelap dengan gemburan serat berwarna perak di sepanjang tulang daunnya yang masih kuncup. Dan jika saat terkena sinar matahari pagi, tunas itu tampak berkilau, seolah-olah mereka terbuat dari logam mulia yang hidup.

Pak Burhan berjongkok dengan hati-hati. Ia menyentuh tanah di sekitar tunas itu. "Ini mustahil, Nak. Ayah sudah bertani puluhan tahun, tapi belum pernah melihat pertumbuhan secepat ini. Sari Bumi milik Kakekmu... itu benar-benar keajaiban."

"Kak, tunasnya cantik sekali! Seperti ada lampunya di dalam!" Aris mencoba menyentuh salah satu tunas, namun Anjeli menahan tangannya dengan lembut.

"Jangan dulu, Dek. Mereka masih sangat muda. Kita biarkan mereka tumbuh kuat dulu," ucap Anjeli.

Kecantikan tunas perak itu ternyata memiliki daya tarik yang luar biasa. Tidak butuh waktu lama bagi warga desa untuk menyadari adanya sesuatu yang tidak biasa di lahan samping keluarga Pak Burhan. Dimulai dari Mak Odah yang berniat meminjam parang, akhirnya berita tentang jahe bercahaya menyebar lebih cepat daripada gosip pasar.

Pukul sepuluh pagi, pagar mawar Anjeli sudah dikerumuni oleh belasan warga. Mereka berdiri berjinjit, mencoba mengintip ke arah lahan samping.

"Benar itu, Pak RT! Lihat sendiri! Tunasnya mengkilap seperti perak!" seru salah seorang warga.

Bu Sumi, tentu saja, berada di barisan paling depan dengan raut wajah yang campur aduk antara takut dan dengki. "Kalian lihat kan? Sudah kubilang ini bukan pertanian biasa! Itu pasti tanaman dari alam gaib. Mana ada tanaman normal tumbuh secepat itu dan warnanya perak seperti itu?"

Pak RT, seorang pria paruh baya yang bijaksana, mencoba menenangkan warga. "Sabar semuanya, sabar. Kita tanya langsung pada Anjeli."

Anjeli keluar dari rumah, diikuti oleh Ayah dan Aris yang tampak agak tegang melihat kerumunan itu. Anjeli menarik napas panjang, meraba cincin di jarinya untuk mencari ketenangan.

"Selamat pagi, Bapak, Ibu, dan Pak RT. Ada apa ini ramai-ramai di sini?" tanya Anjeli dengan nada sesopan mungkin.

"Anjeli, warga penasaran dengan tanaman baru di samping rumahmu. Apakah itu benar jahe merah?" tanya Pak RT dengan nada menyelidik namun tetap ramah.

Anjeli menatap warga satu per satu. Ia tahu, jika ia berbohong, kecurigaan akan semakin menjadi-jadi. Namun, ia juga tidak mungkin menceritakan tentang botol kakek atau Ruang Ajaib secara gamblang.

"Benar, Pak RT. Itu jahe merah," jawab Anjeli tenang. "Hanya saja, saya menggunakan metode pemupukan lama yang diajarkan mendiang Kakek. Kami menemukan catatan lama beliau yang mengajarkan cara mengolah kompos dari bunga hutan. Itulah yang membuat warnanya sedikit berbeda di awal pertumbuhan."

"Kompos bunga hutan? Jangan membual kamu, Njel!" Bu Sumi menyela dengan sinis. "Saya juga sering pakai kompos, tapi tidak ada yang bercahaya seperti itu. Pasti kamu pakai tumbal, ya?"

Wajah Pak Burhan memerah mendengar tuduhan itu. Ia melangkah maju, berdiri di samping Anjeli. "Bu Sumi, jaga bicara Ibu. Kami memeras keringat di sini siang malam. Jika Ibu tidak percaya, silakan bawa ahli pertanian ke sini. Tanah kami bersih dari segala hal yang Ibu tuduhkan."

Suasana mendadak hening. Ketegasan Pak Burhan membuat Bu Sumi sedikit menciut.

Melihat ketegangan yang ada, Anjeli menyadari bahwa transparansi adalah satu-satunya cara untuk meredam konflik. Ia berbisik sejenak pada Ayahnya, lalu menatap warga kembali.

"Begini saja, Pak RT dan semuanya. Saya tidak ingin ada fitnah di desa kita. Jika Bapak dan Ibu ingin tahu, besok pagi saya akan mengadakan demonstrasi kecil. Saya akan tunjukkan cara kami membuat pupuk organik sederhana dari bahan-bahan yang ada di sekitar kita. Tidak ada rahasia, tidak ada mistis. Hanya kerja keras dan resep turun-temurun," tawar Anjeli.

Warga mulai berbisik-bisik, sebagian besar merasa setuju karena mereka juga sebenarnya ingin tahu rahasia kesuburan tanah Anjeli.

"Baiklah, itu tawaran yang adil," putus Pak RT. "Besok pagi kita berkumpul lagi di sini. Dan untuk sekarang, tolong semuanya bubar, jangan mengganggu ketenangan keluarga Pak Burhan."

___________

Setelah warga bubar, Anjeli mengajak Ayah dan Adiknya masuk ke dalam rumah. Aris tampak sedikit ketakutan, ia memeluk kaki Anjeli erat-erat.

"Kak, kenapa orang-orang itu marah? Apa kita salah menanam jahe?" tanya Aris dengan suara lirih.

Anjeli berjongkok dan memeluk adiknya. "Tidak, Sayang. Mereka tidak marah, mereka hanya belum mengerti. Orang seringkali takut pada hal yang mereka tidak pahami. Itulah kenapa Kakak harus menjelaskan pada mereka besok."

Pak Burhan duduk di kursi kayu dengan napas yang masih memburu. "Nak, apa kamu yakin mau berbagi resep itu? Bagaimanapun juga itu resep rahasia dari Kakekmu, kamu tidak takut terbongkar, nak?"

"Ayah, Anjeli hanya akan membagikan resep pupuk organik dasar yang kita campur dengan air biasa. Cairan Sari Bumi tetap akan kita simpan sebagai rahasia keluarga. Dengan memberi mereka sedikit pengetahuan, mereka akan merasa menjadi bagian dari keberhasilan kita, bukan hanya sebagai penonton yang iri," jelas Anjeli cerdas.

Ayah menatap putrinya dengan rasa bangga yang tak terhingga. "Kamu benar-benar sudah dewasa, Sayang. Cara berpikirmu jauh melampaui usiamu."

Sore itu, mereka bertiga menghabiskan waktu dengan menyiapkan bahan-bahan untuk demonstrasi besok. Anjeli meminta Aris mengumpulkan kulit telur dan sisa sayuran, sementara ia dan Ayah menumbuk sabut kelapa.

"Ayah, lihat!" seru Aris sambil menunjukkan embernya. "Aris sudah kumpulkan banyak kulit telur. Nanti kita buat bubuk ajaib ya?"

"Haha….Iya, Jagoan. Itu namanya kalsium dan bagus untuk tanaman," sahut Pak Burhan sambil tertawa kecil, melihat anaknya yang kembali ceria.

\~\~\~\~\~

Malam harinya, saat desa sudah sunyi, Anjeli pergi ke petak jahe perak itu sendirian. Ia membawa botol keramik kakeknya. Ia melihat tunas-tunas itu seolah-olah bernapas dalam kegelapan. Kilau peraknya semakin jelas di bawah sinar rembulan.

"Tumbuhlah dengan baik," bisik Anjeli. "Jadilah saksi bahwa cinta dan kerja keras tidak bisa dikalahkan oleh kebencian."

Ia menyadari bahwa besok adalah pertaruhan besar. Jika ia berhasil meyakinkan warga, ia akan mendapatkan dukungan desa. Namun jika gagal, Bu Sumi akan mendapatkan senjata baru untuk menjatuhkannya. Namun, melihat Ayahnya yang kini bisa berdiri tegak dan Aris yang tertidur pulas dengan harapan baru, Anjeli merasa siap menghadapi apa pun.

Ia kembali teringat pesan dalam buku kakeknya “Tanah akan memberikan hasil sesuai dengan niat yang menanamnya."

Anjeli memejamkan mata, merasakan koneksi yang kuat antara dirinya dana tanah warisan ini, dan juga dua orang lelaki paling berharga dalam hidupnya. Konflik tetangga hanyalah kerikil kecil di jalan yang panjang. Kebahagiaan Ayah dan Aris adalah kompas yang akan selalu menuntunnya pulang, sesulit apa pun tantangan yang diberikan oleh dunia luar.

Di dalam kamar, Pak Burhan masih terjaga. Ia melihat bayangan putrinya dari balik jendela yang sedang menatap kebun. Ia tahu, perjuangan Anjeli sangat berat. Ia berjanji dalam hati, mulai besok, ia tidak akan lagi hanya menjadi penonton. Ia akan menjadi garda terdepan untuk melindungi anak-anaknya dari lidah-lidah tajam warga desa.

"Putriku... kamu adalah mukjizat sesungguhnya di rumah ini," gumam Pak Burhan pelan sebelum akhirnya terlelap.

Sementara itu, di rumah sebelah, Bu Sumi sedang menyiapkan rencananya sendiri untuk mempermalukan Anjeli di depan umum besok pagi. Namun, ia tidak tahu bahwa tanah yang diberkati dengan cinta dan Sari Bumi memiliki cara tersendiri untuk melindungi tuannya.

______________🌹❤️

Terimah kasih sudah membacanya

Jangan lupa di Like, komen

Jangablupanjuga di kasih 👉🌟⭐️

Kalau ada Point sawerannya dong👉🌹

Heheheheeh…lanjut ceritanyaaa

1
Wanita Aries
bagus thor gk bosen bacanya
Wanita Aries
emak dzolim ninggalkan hutang ke anjeli
Wanita Aries
kasian anjeli masa jd kuli panggul
@Mita🥰
wkwkwk pak Handoko gigit jari🤣🤣🤣
Wanita Aries
mampir thorr
@Mita🥰
wah kasihan ya rumah Anjeli baru di bangun
Andira Rahmawati
lanjutttt makin seruuu💪💪💪
Lala Kusumah
semangat Anjeli, kamu pasti bisa 💪💪💪
Lala Kusumah
good job Anjeli 💪💪💪👍👍👍😍😍
@Mita🥰
semangat Anjeli
@Mita🥰
semoga sukses selalu thor
@Mita🥰
lanjut thor
@Mita🥰
lanjut
Lala Kusumah
mantaaap 👍👍👍
@Mita🥰
ini ruang ajaib nya bukan di cincin itu ya thor kok lewat pintu
@Mita🥰
bagus ceritanya
@Mita🥰
lanjut
Lala Kusumah
sukses selalu untuk Anjeli ya 🙏🙏🙏
Aretha Shanum
lanjut, suka ceritanya
Putri Hasan
suka ceritanya /Smile/
semangat updatenya 💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!