NovelToon NovelToon
Pewaris Yang Tak Terduga

Pewaris Yang Tak Terduga

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Percintaan Konglomerat / Konflik etika / CEO Amnesia
Popularitas:72
Nilai: 5
Nama Author: Her midda

Gibran Pradikta, anak bungsu dari keluarga konglomerat Pradikta, mengalami kecelakaan misterius dalam perjalanan pulang usai menghadiri acara bisnis. Tanpa ia sadari, kecelakaan itu bukanlah musibah biasa. Kakaknya sendiri, Arya Pradikta, telah merencanakan segalanya demi menyingkirkan Gibran dan merebut kendali penuh atas perusahaan keluarga. Manipulasi sistem keamanan mobil membuat Gibran terperosok ke sungai dan dinyatakan hilang.
Selamat dari maut, Gibran mengalami luka parah dan kehilangan seluruh ingatannya. Ia tak lagi mengenal siapa dirinya, masa lalunya, maupun keluarga yang mencarinya. Dalam kondisi tak berdaya, ia diselamatkan oleh Nadia, seorang gadis sederhana berhati tulus yang menemukannya di tepi sungai. Nadia membawa Gibran ke rumahnya dan merawatnya tanpa mengetahui bahwa pria yang ditolongnya adalah pewaris konglomerasi

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Her midda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22

Gedung Pradikta Group, pagi itu terasa berbeda. Tidak lagi sunyi dan penuh bisik-bisik seperti hari-hari setelah insiden menggemparkan yang sempat mengguncang fondasi perusahaan. Hari ini, aura antusias dan harapan memenuhi setiap sudut lobi utama.

Langkah kaki Gibran menggema saat pintu lift khusus terbuka. Setelan gelap yang dikenakannya rapi, bahunya tegap, dan sorot matanya tenang...seolah semua badai yang pernah menerpanya kini telah ia taklukkan. Begitu ia melangkah keluar, tepuk tangan menggema. Bukan sekadar formalitas, melainkan luapan perasaan tulus.

Para karyawan berdiri berbaris, beberapa bahkan tak mampu menyembunyikan mata yang berkaca-kaca. Bagi mereka, Gibran bukan hanya CEO. Ia adalah pemimpin yang bekerja bersama, mendengar, dan melindungi.

Rangga berdiri paling depan, senyum lebarnya tak tertahan. Di belakangnya, para kolega bisnis...orang-orang yang pernah meragukan rumor kematian itu...kini menyaksikan sendiri bahwa Gibran Pradikta berdiri utuh, hidup, dan lebih kuat dari sebelumnya.

Malam harinya, aula utama disulap menjadi tempat jamuan makan besar. Lampu gantung berkilau, meja panjang dipenuhi hidangan terbaik. Acara itu bukan sekadar perayaan, melainkan simbol Pradikta Group telah mendapatkan kembali jantungnya.

Banyak yang tahu...dan tak lagi menutupinya...bahwa di bawah kepemimpinan Gibran, perusahaan berkembang dengan pesat. Berbeda dengan masa Arya, yang dipenuhi ambisi dingin dan keputusan sepihak. Gibran memimpin dengan akal, empati, dan integritas. Dan itulah alasan mereka berdiri di sini malam ini.

Rangga melangkah mendekat, menepuk bahu Gibran pelan. “Akhirnya… kantor ini kembali terasa seperti rumah.”

Gibran tersenyum tipis, matanya menyapu ruangan yang penuh wajah familiar.“Aku tidak menyangka sambutannya akan sebesar ini.”

Seorang manajer senior maju, suaranya bergetar karena emosi.“Dengan segala hormat, Pak… kami merindukan kepemimpinan Anda. Banyak keputusan sulit terasa lebih ringan saat Anda yang memimpin.”

Karyawan lain menimpali, tanpa ragu.

“Jujur saja, Pak Gibran… kami merasa lebih aman bekerja di bawah Anda.”

Gibran terdiam sejenak. Ia menunduk, lalu menghela napas dalam.“Terima kasih. Aku kembali bukan untuk dirayakan. Aku kembali karena Pradikta Group adalah tanggung jawabku… dan kalian adalah alasan kenapa aku bertahan hidup.”

Tepuk tangan kembali pecah, lebih riuh dari sebelumnya.Saat makan malam berlangsung, seorang kolega bisnis mengangkat gelasnya.“Untuk CEO terbaik yang pernah dimiliki Pradikta Group."

Rangga tersenyum miring ke arah Gibran.“Kalau saja mereka berani jujur sejak awal, nama Arya bahkan tak pantas dibandingkan denganmu.”

Gibran terkekeh kecil, menggeleng.

“Perusahaan ini tidak butuh perbandingan. Yang dibutuhkannya adalah kejujuran… dan orang-orang yang mau berjalan bersama.”

Malam itu, tawa, percakapan hangat, dan harapan menyatu.Dan untuk pertama kalinya sejak insiden itu terjadi, semua orang yakin...Pradikta Group benar-benar telah kembali ke tangan yang tepat.

********

Sementara di sisi lain. Dari balik dinding kaca ruang rapat lantai atas, Arya berdiri mematung.Lampu aula di bawah menyala terang, tawa dan tepuk tangan terdengar samar namun menusuk. Setiap denting gelas, setiap sorak nama Gibran, terasa seperti pukulan pelan yang berulang di dadanya.Tangannya mengepal.

Ia menyaksikan bagaimana Gibran berdiri di tengah ruangan...disambut, dihormati, bahkan dicintai. Bukan karena jabatan, bukan karena nama besar Pradikta semata, melainkan karena cara laki-laki itu memperlakukan semua orang setara.

Arya menelan ludah. Inilah yang selalu ia benci… dan ia tak pernah mampu miliki.

Tak satu pun wajah di aula itu menoleh ke atas.Tak ada yang mencarinya.

Tak ada yang menyebut namanya.

Seolah keberadaannya perlahan terhapus, digantikan oleh sosok yang dulu ia kira sudah mati.

Seorang staf kepercayaan Arya berdiri di belakangnya, ragu untuk bicara.

“Pak Arya… acara penyambutan itu diadakan atas permintaan karyawan dan beberapa partner lama.”

Arya tersenyum tipis. Senyum yang dingin, tanpa kehangatan.“Tentu saja. Mereka selalu tahu siapa yang pantas dipuja.”

Matanya tak lepas dari Gibran yang kini sedang berbincang akrab dengan Rangga.“Aku sudah menguasai kursi itu… tapi kenapa rasanya seperti aku hanya duduk di bayangannya?”

Staf itu terdiam. Kalimat itu bukan pertanyaan...melainkan pengakuan.

Arya melangkah lebih dekat ke kaca, telapak tangannya menempel di permukaan dingin.

“Dia kembali… dan semuanya lupa siapa aku.”

Di bawah sana, tepuk tangan kembali bergema saat Gibran mengangkat gelasnya. Sorot lampu memantul sempurna di wajahnya.

Arya memejamkan mata sejenak.

“Belum selesai. Selama aku masih di gedung ini… aku tidak akan menjadi penonton.”

Ia berbalik, langkahnya cepat namun terkontrol. Di balik punggungnya, perayaan terus berlangsung...tanpa menyadari bahwa di lantai atas, badai baru mulai terbentuk.

********

Keesokan harinya, perusahaan mengadakan pengesahan ulang. Karna adanya konflik kembalinya Gibran membuat dewan direksi melakukan pengesahan ulang secara resmi.

Ruang rapat utama Pradikta Group tertutup rapat.

Meja oval panjang itu dipenuhi wajah-wajah serius...para pemegang saham utama dan dewan direksi yang selama ini memilih diam, menunggu, dan menimbang arah angin.

Arya duduk di salah satu sisi meja, punggungnya tegak, rahangnya mengeras.Di seberang sana, kursi Gibran masih kosong.

Pintu terbuka.

Langkah kaki Gibran masuk dengan tenang, diikuti Rangga. Tidak tergesa, tidak arogan. Aura kepemimpinan itu hadir tanpa perlu diumumkan. Beberapa anggota dewan saling bertukar pandang...keputusan mereka seolah kian mantap.

Ketua Dewan, pria berambut perak, membuka map tebal di hadapannya.

“Kita mulai rapat ini dengan satu agenda utama. Legalitas kepemilikan dan pengesahan kepemimpinan Pradikta Group.”

Ruangan mendadak sunyi.

Arya menyandarkan punggung, tersenyum tipis...pura-pura tenang.

“Seperti yang kita semua tahu, pengesahan sudah dijadwalkan. Semua dokumen—”

Ketua Dewan memotong, "Sudah kami telaah ulang.”Nada suaranya tegas.

Tak ada ruang tawar-menawar.

Ia menggeser beberapa dokumen ke tengah meja.

“Berdasarkan fakta baru mengenai insiden menggemparkan beberapa waktu lalu, serta status hukum Pak Gibran Pradikta yang terbukti masih hidup dan sah… maka pengesahan perusahaan kepada Tuan Arya dinyatakan batal secara resmi.”

Kata batal jatuh seperti palu.

Arya menegang.“Apa maksud Anda...?”

Salah satu anggota dewan lain ikut bicara.“Proses sebelumnya dilakukan dengan asumsi pewaris utama telah meninggal dunia. Asumsi itu terbukti keliru.”

“Dan kami juga mempertimbangkan kinerja perusahaan selama masa kepemimpinan sementara. Secara objektif… hasil terbaik Pradikta Group dicapai di bawah kepemimpinan Gibran.”

Arya tertawa kecil, getir.“Jadi ini soal popularitas?”

Gibran akhirnya bicara. Suaranya rendah, terkendali.“Ini soal tanggung jawab. Dan soal siapa yang benar-benar menjaga perusahaan ini....bukan memanfaatkannya dan melegalkan aset."

Tatapan mereka bertemu.Tak ada lagi kepura-puraan.

Ketua Dewan mengangkat satu dokumen terakhir.“Dengan ini, dewan direksi dan pemegang saham mayoritas menyatakan...kepemilikan dan kendali penuh Pradikta Group dikembalikan secara sah kepada Gibran Pradikta, sebagai pewaris dan CEO utama.”

Ia mendorong dokumen itu ke arah Gibran.“Selamat datang kembali… Tuan Gibran.”

Rangga mengembuskan napas lega, senyum puas terukir jelas.

Arya terdiam.Wajahnya pucat, matanya bergetar...bukan karena takut, melainkan karena kalah.“Jadi… aku benar-benar selesai.”

Gibran menatapnya, tanpa senyum, tanpa kebencian.“Kau selesai sejak memilih jalan yang salah, Kak Arya.”

Ketua Dewan berdiri, diikuti anggota lain.

“Rapat dinyatakan selesai.”

Satu per satu mereka keluar. Meninggalkan Arya sendirian di kursinya...tanpa kuasa, tanpa sorak, tanpa nama.

Gibran berdiri, merapikan jasnya.

Sebelum pergi, ia menoleh sekali.

“Pradikta Group bukan tentang siapa yang menang hari ini. Tapi tentang siapa yang mampu menjaganya untuk esok.”

Pintu tertutup. Dan di hari itu, bukan hanya jabatan yang berpindah tangan...

sejarah Pradikta Group ditulis ulang.

bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!