Devan kaget saat tiba-tiba seseorang masuk seenaknya ke dalam mobilnya, bahkan dengan berani duduk di pangkuannya. Ia bertekad untuk mengusir gadis itu, tapi... gadis itu tampak tidak normal. Lebih parah lagi, ciuman pertamanya malah di ambil oleh gadis aneh itu.
"Aku akan menikahi Gauri."
~ Devan Valtor
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mae_jer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Toko roti
Jalan menuju gerbang sekolah terasa lebih panjang dari biasanya. Gauri berjalan sambil menggandeng Devan, sesekali menghentak-hentakkan langkah kecil seperti anak yang terlalu excited setelah menangis lama. Jari-jarinya masih mengait erat tangan Devan, tidak berniat melepas meski satu pun.
Devan tidak mengatakan apa pun, hanya terus menjaga langkah agar tidak terlalu cepat. Sesekali ia menunduk memastikan Gauri tidak tersandung, dan setiap kali itu terjadi, Gauri menatapnya balik dan tersenyum, seolah seluruh emosi kacau beberapa menit lalu tidak pernah ada.
Saat mereka mencapai parkiran sepi, Devan merogoh ponsel dari saku dan menekan nama Agam.
Panggilan tersambung.
"Kenapa Dev?" suara Agam terdengar letih.
"Aku bawa Gauri keluar sebentar," ujar Devan, membuka pintu mobil dan membantu Gauri masuk dulu.
"Ke toko roti."
Hening sepersekian detik. Lalu suara Agam meninggi sedikit, bukan marah, lebih ke terkejut berat.
"Gauri? Dia sama kamu? Loh …Gauri kan lagi tidur di rumah sakit. Gimana dia bisa ..."
"Aku nemuin dia di belakang kebun sekolah," potong Devan singkat. Ia menutup pintu mobil, masuk ke sisi pengemudi.
"Ceritanya panjang, Gam."
Gauri memiringkan kepala, penasaran mendengar nama yang seperti dia kenal. Devan menepuk kepala gadis itu lembut, isyarat agar tenang.
Di seberang sana, Agam menarik napas panjang, terdengar jelas kelelahan bercampur kekhawatiran.
"Oke… oke. Aku nggak bisa ninggalin ruang operasi sekarang. Kamu tolong jagain dia. Kalau sudah selesai langsung antar saja ke rumah sakit."
"Mm"
"Satu hal lagi. Kamu sudah tahu kondisi Gauri kan? Kalau dia marah sedikit saja,"
"Aku tau," balas Devan, baru saja Gauri tantrum gara-gara dia. Tapi dia berhasil menenangkannya.
Ada jeda lama sebelum akhirnya Agam berkata, suaranya melembut.
"Makasih."
Sambungan terputus. Devan meletakkan ponsel di dashboard, lalu menoleh ke Gauri yang menatapnya tanpa berkedip.
"Kakak Agam?" tanyanya pelan, seakan memastikan.
"Hm. Kakak kamu," jawab Devan.
Gauri tersenyum lembut, lalu menyentuh jari Devan pelan, bermain-main dengan kuku pria itu seolah itu hal paling menarik di dunia.
Devan menghela napas pelan, tidak tahu kenapa tindakan sekecil itu bisa membuat dadanya menghangat.
"Mau roti?" tanya Devan.
Gauri mengangguk cepat, sangat cepat, bahkan tubuhnya ikut memantul kecil. Devan tersenyum tipis tanpa sadar.
Mobil melaju keluar dari gerbang sekolah, melewati jalanan kota yang mulai ramai menjelang sore. Sepanjang perjalanan, Gauri memandangi luar jendela, tapi tangannya tidak melepas jemari Devan. Bahkan ketika pria itu harus memindah gigi, Gauri hanya memegang pergelangan tangan, menunggu sampai Devan bisa menggenggam lagi.
Setiap kali tangan mereka kembali bersatu, Gauri tersenyum kecil, kecil sekali, tapi tulus.
Devan berpura-pura tidak melihat. Tapi ujung bibirnya terangkat juga.
Begitu mobil berhenti di depan toko roti favorit kota itu, Gauri langsung membuka pintu dan turun dengan semangat yang membuat Devan buru-buru mematikan mesin dan mengejar.
"Gauri, jangan lari!"
Terlambat.
Gadis itu sudah hampir setengah jalan menuju pintu toko.
Devan mempercepat langkah, mengejar dengan cemas, apalagi orang-orang mulai menatap Gauri yang berlari masuk dengan ekspresi bingung, beberapa tersenyum kikuk, beberapa saling berbisik, beberapa tampak menganggap tingkah gadis itu aneh.
Devan tidak suka itu.
Bahkan belum sepuluh detik berada di dalam, tatapan-tatapan itu sudah menusuk kulitnya seperti jarum kecil. Ia meraih pergelangan tangan Gauri, lembut namun pasti, lalu berdiri sedikit di depan gadis itu, menghalangi pandangan orang.
Tatapannya dingin. Sangat dingin. Orang-orang yang tadinya melihat, spontan memalingkan wajah.
"Gauri mau pilih yang mana?" ujar Devan lembut.
Gauri segera fokus pada rak roti. Matanya berbinar, menunjuk roti satu per satu.
"Itu! Itu mau! Sama itu! Itu juga! Yang bulat itu! Yang manis itu! Yang ada cream putih!"
"Boleh," sahut Devan. “
"Tapi jangan makan sekarang semua. Nanti sakit perut."
Gauri mengangguk keras, sangat patuh.
"Iya!"
Jawaban patuh itu membuat dada Devan terasa aneh. Janggal. Hangat. Campur aduk. Ia memasukkan roti-roti pilihan Gauri ke keranjang, dan saat mereka beranjak menuju kasir, Gauri kembali menggenggam tangan Devan, lebih erat dibanding sebelumnya.
Di depan meja kasir, sementara Devan memindah roti-roti ke meja, Gauri memainkan jari-jari pria itu dengan dua tangan sekaligus. Ia menyentuh buku jarinya, membuat lingkaran kecil dengan telunjuk, sesekali menepuk.
Kasir memperhatikan sekilas. Devan menatap balik tajam. Kasir langsung menunduk.
Setelah pembayaran hampir selesai, suara berat bernada angkuh terdengar dari belakang.
"Devan? Itu kau?"
Devan menoleh perlahan, seorang pria jangkung dengan tatapan merendahkan berdiri beberapa langkah di belakang. Mantan rivalnya di SMA. Orang yang selalu mencoba menyainginya, dan gagal.
Vano namanya.
Vano menatap Gauri sekilas, lalu mengangkat alis.
"Wah, kau balik juga ke Indonesia, ya. Ini siapa?"
Ia menggerakkan dagu ke arah Gauri.
"Pacarmu? Terlihat seperti … orang kurang waras."
Dalam sekejap, udara di sekitar Devan berubah. Tatapannya berubah menjadi tajam mematikan. Bahunya menegang. Urat rahang menonjol. Tangan Gauri yang mencengkeram jarinya ikut terhenti, seolah merasakan perubahan itu.
Gauri menatap Devan dengan bingung. Devan berdiri setengah langkah di depan Gauri, menutupi gadis itu dengan tubuhnya. Suaranya rendah, nyaris seperti geraman pelan.
"Hati-hati kalau bicara."
Vano terkekeh kecil, sok santai.
"Apa? Aku cuma bilang..."
"Sekali lagi," ucap Devan pelan, sangat pelan namun penuh ancaman.
"Coba bilang sekali lagi.'
Keranjang di tangan Vano nyaris jatuh saat ia membaca tatapan Devan. Tatapan yang dulu membuat senior berandalan sekali pun mundur. Tatapan yang terkenal membuat satu sekolah memilih diam kalau dia lewat.
Beberapa detik, Vano seperti kehilangan kata. Tapi egonya tidak menyerah. “
"Aku cuma heran. Kau yang biasanya dingin, eh sekarang gandengan tangan sama ..."
Sentakan kecil terasa.
Gauri memeluk lengan Devan dari belakang, wajahnya bersembunyi di punggung pria itu seperti anak kucing yang ketakutan.
"Ka-kakak ... pulang…?" suaranya kecil, gemetar.
Devan menutup mata sejenak.
Hanya itu yang ia butuhkan untuk mengatur napas agar tidak meledak.
Ia memutar tubuh sedikit, menepuk kepala Gauri lembut.
"Tenang. Kakak di sini." Lalu ia menatap Vano lagi, tatapannya lebih dingin dari es.
"Jangan pernah berlagak seolah kau mengenalku lagi, dan jangan menghina gadis ini lagi. Aku bukan sosok yang hanya akan diam saja kalau orang terdekatku di ganggu. Kau pasti tahu kan?"
setelah mengatakan Devan meraih tangan Gauri menggenggamnya dengan erat lalu membawanya keluar dari toko tersebut. Beberapa orang yang melihat tampak kagum, sedangkan Vano sendiri di anggap aneh dan angkuh. Rahang Vano mengeras. Lagi, Lagi-lagi dia kalah telak pada Devan. Tidak, dia tidak akan kalah lagi. Lihat saja, dia pasti akan menang suatu hari nanti. Vano tersenyum sini.
Semangat berkarya Mae, semoga makin banyak lagi kisah² bagus & seru yang diciptakan.
🥰🥰🥰💕💕💕
Gauri mau kasih kejutan romatis untuk Devan - sambil memberitahu kalau dirinya hamil.
Tak tahunya Devan menemukan test hasil tes kehamilan Gauri.
Agam, Gino, dan Sari mendekati mereka berdua. Ikut senang dan bahagia.
Gino kapan melepas masa jomblonya, kalau sebentar lagi giliran Agam dan Sari.
Kebahagiaan untuk Devan dan Gauri bertambah dengan kedatangan Papa Devan dan mama tirinya. Keluarga besar Agam datang bersama Ares.
Gino selalu paling heboh berseru Gauri hamil ketika ada yang bertanya ada apa.
Semua bahagia.
Terima kasih Author ceritanya bagus. Sehat selalu dan Berkat melimpah dariNya.
Sari yang sejak tadi menunduk terkejut sampai tersedak ludah sendiri ketika Agam bertanya - kamu suka yang hangus juga.
Gino yang menjawab seperti menggoda Sari. Sari malu dan kesal dengan Gino.
Agam sepertinya juga ikut menggoda Sari.
Jagung sudah mateng, Devan memberikan jangung untuk istri tercinta.
Sari yang baru melihat keromantisan Devan untuk istrinya, kaget ketika Agam menyodorkan jagung bakar yang sudah matang.
Ternyata Agam ada, sedang duduk di dekat bakaran jagung. Bersama Devan membakar jagung.
Gauri menarik Sari duduk di dekat bakaran. Menunggu suaminya dan Agam selesai membakar jagung.
Gino menikmati kekesalan Sari yang merasa dibohongi. Sambil merekam diam-diam.
Gino punya rencana untuk mendekatkan Sari dan Agam. Sari selalu curhat sama Gino kalau suka Agam.
Gauri pasti senang Sari datang.
Sari menolak diajak Gino - malu kalau ada Agam. Padahal Sari ingin sekali bertemu Gauri.
Gino heran Sari malu sama Agam.
Sari menceritakan kejadian yang memalukan semalam.
Gino tertawa keras sampai Sari kesal. Sudah pernah dibilangin Gino, kalau mabuk jangan sampai mabuk di depan laki-laki yang kau sukai.
Sari akhirnya mau dipaksa ikut Gino yang mengatakan Agam gak ada, lagi sibuk operasi.
Jadi berakhir mabuk, ngoceh fakta dirinya yang menyukai Agam. Lalu konser di depan Agam - menyanyi, lalu ngoceh yang bikin Agam tertawa lebih keras.
Sari benar-benar tak sadar sampai tidur di atas batu.
Cinta Sari terhadap Agam - cinta terpendam.
Sari senang ketika melihat Agam bahagia. Ikut sedih ketika melihat Agam sedih.
Sari diantar Agam pulang ke rumahnya.
Agam merasa terhibur - oleh ulah Sari yang mabuk.
Agam ketawa melihat adegan itu walau tak tahu perempuan itu bicara apa pada kucing.
Agam menepikan mobil - pintu di buka, suara perempuan itu makin jelas. Baru tahu perempuan itu Sari.
Sari berteriak melengking suaranya sebut nama Agam. Sampai kucing kabur.
Melihat Sari berjalan sempoyongan ke arahnya, Agam tahu Sari mabuk.
Dalam kondisi mabuk, Sari jujur bicaranya di depan Agam. Ada kata-kata yang bikin Agam tertawa kecil.
Sari mendengar dari Nino tentang penyebab kecelakaan keluarga Gauri, Sari jadi sedih. Sari merasa malu dan merasa bersalah.
Gauri resmi ambil alih perusahaan. Gauri merasa masih muda, menyerahkan pada Devan untuk ambil alih.
Rena tak mau jatuh miskin, dia kini berada di ruangan Gauri dan Devan. Memohon untuk dikasihani.
Enak saja - Rena minta Ibnu tidak di penjara, jangan ambil sahamnya. Widiiiih nglunjak ini Rena, maunya saham diberikan dirinya dan mamanya.
Rena diingatkan Devan - masih punya hutang maaf pada istrinya.
Bagi Gauri maafnya Rena terlambat.
Saham itu milik ayah Gauri, jadi sekarang milik Gauri.
Rena di tarik keluar dua bodyguard keluar ruangan.
Bukti-bukti kejahatan Ibnu sudah berada di tangan kuasa hukum Gauri - Andra Pradipta. Andra sudah membuat laporan resmi.
Ibnu masih saja menyalahkan Gauri. Menghina Gauri pula.
Setelah semua keluar ruangan, kini tinggal Gauri dan Devan.
Gauri tak kuasa membendung air matanya - menangis.
Betapa sedihnya Gauri ketika melihat video - Ibnu sengaja memotong rem mobil yang akan di kendarai papa, mama, kakak, juga dirinya. Kecelakaan terjadi, Gauri sendiri yang masih hidup.