Ririn tidak menyangka, nasibnya akan seperti ini. Setelah kedua orang tuanya meninggal, Seluruh kekayaan Orang tuanya di curi Akuntan keluarganya, dan Akuntan itu kabur keluar negri.
Rumahnya di sita karena harus membayar hutang, dan sekarang Ririn harus tinggal di rumah Sahabat Anggie.
Anggie menawarkan pekerjaan kepada Ririn sebagai Disagner di perusahan IT ternama, tanpa Ririn tau ternyata perusahan IT itu milik mantan pacarnya Baskara, yang punya dendam kesumat sama Ririn.
Apa yang akan terjadi dengan Ririn akan kah dia bertahan dengan pekerjaannya karena kebutuhan, Atau kah dia akan menemukan cinta yang lama yang sempat terputus karena salah paham
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rita Sri Rosita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kebohongan Profesional
Belum sempat Ririn menarik napas lega setelah memasukkan semua belanjaan ke bagasi, Baskara sudah berdiri di samping mobil sambil mengecek ponselnya.
“Oh ya,” katanya santai, seolah baru mengingat sesuatu yang sepele, “habis ini kamu antar semua,”
Ririn menoleh. “Semua… Pak?”
“Iya.” Baskara menutup ponselnya lalu menatap Ririn. “Gaunnya ke apartemen Anna ingat dia gadis ku nomor satu.”
Jantung Ririn mencelos terguncang mendengar perkataan bosnya itu.
“Sepatunya,” lanjut Baskara tanpa ekspresi, “antar ke Rosie gadis nomor dua.”
Ririn menggenggam pegangan tasnya lebih erat.
“Dan perhiasannya ke Rika,” katanya lagi. “Gadis nomor tiga.”
Setiap angka seperti pukulan kecil yang beruntun. Ririn menelan ludah, memaksakan senyum tipis.
“Baik, Pak,” jawabnya, meski kepalanya terasa pening.
Baskara membuka pintu mobil, lalu berhenti. “Oh iya, Jangan lupa karangan bunga.”
Ririn mengangkat wajahnya. “Karangan bunga?”
“Iya masing-masing satu,” jawab Baskara ringan. “Sama kartu ucapan.”
Ririn terdiam. “Kartu… ucapan seperti apa, Pak?”
Baskara menoleh, alisnya terangkat sedikit. “Yang mesra.”
Kata itu membuat Ririn bingung.
“Pak… saya nggak,” Ririn berhenti, dia menarik napas, mencoba memilih kata. “Maksud saya… kata-katanya seperti apa?”
Baskara menatapnya datar. “Kamu kan pintar cari tau sendiri.”
“Tapi ini kan ini untuk,”
“Ririn,” potong Baskara, suaranya tenang tapi mengunci. “Saya nggak mau tahu.”
Ririn terdiam rahangnya mengeras, tapi wajahnya tetap tenang senyum sopan itu kembali terpasang, meski terasa menyebalkan.
“Baik,” ucapnya akhirnya. “Saya urus pak.”
Baskara mengangguk puas. “Bagus.”
Saat mobil mulai melaju, Ririn duduk di kursi samping dengan tangan sedikit gemetar di kepalanya, kata-kata berputar kacau.
Mesra…
Gue harus nulis apa?
Setiap nama perempuan itu terngiang di kepalanya. Anna,Rosie,Rika.
Dia bukan hanya mengantar barang dia sedang mengantar bukti bahwa Baskara adalah laki laki brengsek yang tak punya hati.
Di lampu merah, Baskara berhenti lama, menatap setir fokus, Ririn ingin marah ingin berteriak menangis tapi yang keluar hanya napas panjang dan senyum pahit.
“Ini kerja,” gumamnya pelan pada diri sendiri. “Cuma kerja.”
Setibanya di kantor Ririn mulai sibuk meminta bantuan supir kantor untuk mengurus keperluan bosnya.
Sementara itu, dari balik kaca jendela kantornya, Baskara berdiri sambil menatap ke arah jalan.
Dia tahu persis apa yang dia lakukan dia tahu Ririn kebingungan dia tahu Ririn tersakiti. Dan senyum kecil itu kembali muncul di wajahnya.
Dulu kamu memilih diam saat ibumu menghancurkanku, sekarang rasakan diam yang sama.
Namun jauh di dalam dadanya, ada sesuatu yang mulai terasa asing bukan lega, bukan puas melainkan perih yang tak kunjung sembuh, meski dia terus mencoba melukai Ririn.
Hari berikutnya, suasana kantor belum sepenuhnya ramai ketika Baskara memanggil Ririn masuk ke ruangannya.
Pintu tertutup.
Baskara berdiri membelakangi jendela, menatap layar ponselnya sebentar sebelum akhirnya mengangkat wajah.
“Hari ini bakal ribet,” katanya tenang, seolah sedang membicarakan jadwal meeting biasa.
“Dan kamu harus siap.”
Ririn berdiri di depan mejanya, punggung tegak, tangan saling menggenggam.
“Baik, Pak.”
“Kalau salah satu dari mereka datang ke kantor,” lanjut Baskara, “kamu yang atur.”
“Atur… bagaimana, Pak?” tanya Ririn pelan, meski firasat buruk sudah muncul sejak awal.
“Pastikan mereka nggak pernah ketemu,” ucap Baskara tanpa ragu.
“Nomor satu, dua, tiga nggak boleh bentrok.”
Ririn mengangguk perlahan walau sebetulnya dia bingung dengan tugas yang di berikan bosnya.
“Saya ingin makan siang dengan nomer dua, siang ini," ungkap Baskara menatap Ririn yang tampak kebingungan.
“Dan Makan malam dengan nomer satu tolong buatkan jadwal,"
“Maksudnya jadwal, dengan no satu, dua, dan tiga pak?” Ririn memberanikan diri bertanya.
"Iya memangnya kamu nggak denger saya ngomong apa,"
"Oh Saya paham pak,"
“Dan no tiga, bilang saya meeting sampai malam,” jawab Baskara cepat. “Hari ini dia nggak dapat jadwal.”
"Saya yang telpon pak?" tanya Ririn ragu nada suaranya terdengar sangat hati-hati.
"Tentu saja kamu kan asisten saya,"
Ririn menelan ludah Baskara melangkah mendekat, suaranya makin rendah.
“Dan satu lagi.”
Ririn mengangkat wajahnya.
“Kalau saya lagi berduaan di ruangan dengan salah satu dari mereka,” kata Baskara dingin, “jangan sampai yang lain tahu.”
Baskara menatap Ririn tajam.
“Alihkan buat alasan dengan cara apa pun.”
Keheningan jatuh berat di antara mereka Ririn ingin berkata ini salah ingin berkata ini bukan pekerjaannya tapi semua kata itu berhenti di tenggorokan.
Dia tau, satu penolakan saja bisa mengakhiri segalanya, Ririn tersenyum kecil senyum pasrah yang nyaris tak terasa.
“Baik, Pak,” katanya pelan.
“Saya usahakan.” kali ini nada suara Ririn terdengar pasrah.
Baskara mengangguk puas. “Bagus.”
-----‐-----------------------‐-----‐-----
Sepanjang hari, Ririn seperti penjaga pintu tak kasat mata.
Saat Rosie datang lebih awal, Ririn segera menyambutnya dengan senyum ramah, mengarahkannya ke ruang rapat kecil sambil berkata Pak Baskara masih menyelesaikan panggilan penting.
Ketika Anna datang ke kantor mendadak, Ririn dengan sigap meminta Rosie menunggu di kafetaria, berdalih jadwal berubah.
Dan ketika Rika menelepon, Ririn kembali mengulang kebohongan yang sama meeting sampai malam, agenda bos padat, mungkin lain hari.
Setiap senyum yang Ririn pasang terasa makin berat setiap kebohongan terasa seperti menambah beban di dadanya.
Dia berjalan mondar-mandir, memastikan tak satu pun dari mereka saling berpapasan. Mengatur waktu seolah sedang menyusun siasat yang salah.
Di balik pintu ruangan Baskara, tawa kecil terkadang terdengar dan setiap kali itu terjadi, Ririn hanya menunduk, berpura-pura sibuk tak mendengar apapun.
Baskara tau Ririn sedang berbohong untuknya dia tau
Ririn menekan dirinya sendiri demi mempertahankan pekerjaan.
Dan saat dia melihat Ririn tersenyum sopan di balik kaca ruangannya, senyum puas itu kembali muncul di wajahnya.
Bukan senyum bahagia melainkan senyum seseorang yang sedang menguji sejauh mana seseorang bisa dipaksa bertahan sebelum akhirnya runtuh. Dan Ririn masih bertahan sampai detik ini.