NovelToon NovelToon
Kehidupan Yang Tercuri

Kehidupan Yang Tercuri

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Misteri Kasus yang Tak Terpecahkan / Misteri / Identitas Tersembunyi / Menyembunyikan Identitas / Mata Batin
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Tiga Alif

Di kota Lentera Hitam yang dingin, Arlan hidup sebagai kurir spesialis pencari barang hilang. Namun, sebuah distorsi visual di dapur rumahnya menghancurkan segalanya: ibunya yang sedang memasak memiliki tahi lalat di sisi wajah yang salah. Wanita itu tampak sempurna, kecuali satu hal—ia bernapas secara manual, sebuah gerakan dada kaku yang hanya dilakukan untuk meniru manusia.

Arlan menyadari dunianya sedang diinvasi secara halus oleh "Para Peniru", entitas yang mencuri identitas fisik namun gagal menduplikasi emosi. Setiap kali seseorang asli "terhapus", sebuah Koin Perak misterius tertinggal sebagai fragmen memori yang hilang. Misteri memuncak saat Arlan menemukan arsip rahasia: apartemennya seharusnya sudah hangus terbakar sejak 2012. Jika semua orang telah mati belasan tahun lalu, siapa sebenarnya yang selama ini hidup bersamanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29 Operasi Pembersihan S7

Udara di perbatasan Sektor Tujuh tidak lagi berbau debu kota atau asap kendaraan yang biasa Arlan hirup setiap pagi saat berangkat kerja. Kini, atmosfer terasa tajam dan steril, membawa aroma ozon yang menyengat—bau yang muncul ketika realitas dipaksa untuk melipat diri. Di depan mereka, langit yang biasanya berwarna biru kebiruan kini tampak retak, memperlihatkan fragmen-fragmen kelabu yang perlahan menelan cakrawala.

"Mereka sudah memulainya," bisik Mira. Tangan gadis itu mencengkeram lengan jaket Arlan, matanya yang tajam sebagai seorang Echo Seer menangkap getaran frekuensi yang tidak bisa dilihat mata telanjang. "Penghapusan total. Mereka tidak hanya mengambil orang-orangnya sekarang, Arlan. Mereka menghapus panggung tempat kita berpijak."

Arlan menelan ludah yang terasa pahit. Ia menatap blok apartemen kumuh di kejauhan—tempat di mana ia pertama kali menyadari ibunya adalah seorang peniru karena posisi tahi lalat yang salah. Gedung itu sekarang tampak seperti lukisan cat air yang terkena tumpahan air; garis-garisnya memudar, warnanya luntur menjadi abu-abu statis.

"Dante sudah menunggu di titik kumpul bawah tanah," ucap Arlan, berusaha menjaga suaranya tetap stabil meski jantungnya berdegup kencang menabrak rusuk. "Kita harus masuk sebelum gerbang frekuensi menutup akses Sektor Tujuh sepenuhnya."

Mereka berlari melintasi jalanan yang mulai sunyi tuli. Arlan memperhatikan trotoar yang ia injak; ubinnya mulai kehilangan tekstur, terasa halus seperti plastik murah di bawah sol sepatunya. Ini adalah efek Endotermik massal, di mana suhu lingkungan jatuh drastis karena energi kehidupan di area tersebut sedang disedot habis oleh mesin Core.

Pertemuan di Ambang Kehampaan

Di dalam bunker darurat yang tersembunyi di balik gudang logistik tua, Dante sedang berdiri di depan peta digital yang berkedip merah. Wajah sang mentor tampak lebih tua sepuluh tahun di bawah cahaya lampu minyak yang temaram.

"Kau tepat waktu, Arlan. Mira," Dante menyapa tanpa menoleh. Suaranya berat, penuh dengan beban tanggung jawab yang nyaris menghancurkannya. "Sektor Tujuh sedang dieksekusi. Eraser tidak lagi bermain halus. Mereka menggunakan protokol pembersihan skala besar karena mendeteksi adanya kebocoran data manifes yang kau curi kemarin."

"Apakah kita akan membiarkan mereka menghapus semuanya, Dante?" Arlan mendekat ke meja peta. "Ada warga asli yang masih terjebak di sana. Tetanggaku, Pak RT yang asli, mereka semua masih ada di dalam blok itu!"

Dante akhirnya menoleh, menatap Arlan dengan mata yang lelah namun tajam. "Itulah alasan kau di sini. Kita punya waktu kurang dari tiga puluh menit sebelum distrik ini menjadi zona kosong. Kita telah menyiapkan jalur evakuasi, tapi tangga utama blok apartemenmu sudah hilang. Terhapus secara molekuler."

"Lalu bagaimana kita membawa mereka keluar?" tanya Mira.

Dante mengeluarkan sebuah gulungan kabel tembaga tua dan beberapa alat pengait analog. "Kita akan menggunakan infrastruktur kuno. Kabel telepon tembaga analog yang tertanam di dinding gedung sejak tahun sembilan puluhan. Eraser hanya bisa meretas frekuensi digital dan nirkabel. Mereka meremehkan kabel fisik. Arlan, kau tahu seluk-beluk gedung itu sebagai kurir. Kau yang akan memimpin tim evakuasi ke lantai atas."

"Tapi bangunan itu sedang runtuh, Dante. Bagaimana jika kabelnya ikut terhapus?" Arlan merasa tangannya mulai gemetar.

"Tembaga murni memiliki resonansi yang berbeda dengan materi salinan," jawab Dante datar. "Itu adalah jangkar fisik kita. Pergi sekarang. Ambil warga asli yang tersisa, bawa mereka ke bunker melalui jalur kabel itu. Ingat, Arlan... setiap detik yang kau buang adalah satu nyawa yang akan berubah menjadi koin perak tak bermakna."

Debu Perak di Rumah Lama

Arlan dan Mira bergerak cepat menembus kabut perak yang mulai menyelimuti koridor apartemen. Bau hangus tanpa api semakin menusuk hidung. Setiap kali Arlan menyentuh dinding, serpihan abu kelabu menempel di tangannya—beton yang berubah menjadi debu statis.

"Blok C, lantai empat," Arlan memberi instruksi lewat isyarat tangan kurir saat mereka sampai di depan tangga yang sudah tidak ada. Ruang di depan mereka hanyalah kekosongan kelabu yang dalam, sebuah jurang tanpa dasar di tengah bangunan.

"Tanggapannya hilang total," Mira berbisik ngeri. "Aku tidak bisa mendengar gema apa pun dari bawah sana. Benar-benar hampa."

Arlan melihat ke atas, ke arah deretan kabel telepon yang menjuntai dari langit-langit koridor. "Dante benar. Kabel-kabel ini masih memiliki warna. Mereka nyata."

Ia melemparkan pengait ke arah pipa besi yang masih kokoh dan mulai memanjat dengan cekatan, keahlian yang ia asah selama bertahun-tahun menjadi kurir di gedung-gedung tua yang liftnya sering mati. Mira mengikuti di belakangnya dengan lincah.

Saat mencapai lantai empat, Arlan melihat pemandangan yang menghancurkan hatinya. Pintu rumahnya sendiri terbuka lebar. Di dalamnya, perabotan yang ia kenali sejak kecil mulai memudar. Foto ayahnya di dinding sudah kehilangan wajahnya, menyisakan kertas putih kosong.

"Tolong! Siapa pun!" sebuah teriakan parau terdengar dari ujung lorong.

Arlan mengenali suara itu. Itu adalah Pak RT, pria tua yang dulu sering memberinya kue saat ia masih kecil, sebelum pria itu digantikan oleh salinan yang kaku di awal masa invasi. Kini, Pak RT yang asli sedang meringkuk di sudut koridor, kakinya tertimbun reruntuhan meja yang sudah menjadi debu perak.

"Pak, ini aku, Arlan!" Arlan berlari mendekat, berlutut di samping pria tua itu.

Pak RT menatapnya dengan mata yang basah oleh air mata. "Arlan? Kau... kau masih punya warna. Syukurlah. Dunia ini menjadi putih, Nak. Aku tidak bisa merasakan kakiku."

"Jangan bicara dulu, Pak. Kita harus pergi," Arlan berusaha mengangkat reruntuhan itu. Ia merasakan suhu tubuh Pak RT yang sangat hangat—kontras dengan udara lingkungan yang membeku. Kehangatan manusia yang nyata.

"Arlan, kita tidak punya banyak waktu!" teriak Mira dari ambang pintu. "Peniru patroli sedang menuju ke sini. Aku mendengar detak jantung mekanis mereka di dinding!"

Arlan melihat ke sekeliling. Pilihan yang mustahil membentang di depannya. Di dalam kamarnya yang mulai memudar, ada kotak kayu berisi jam tangan peninggalan ayahnya—satu-satunya benda yang membuktikan ayahnya pernah ada. Jika ia menyelamatkan Pak RT sekarang, ia tidak akan punya waktu untuk mengambil kotak itu. Kotak itu akan terhapus selamanya.

"Arlan! Pilih!" suara Mira meninggi, penuh urgensi.

Arlan menatap kamar gelapnya, lalu menatap wajah ketakutan Pak RT yang sedang menggenggam tangannya erat. Genggaman itu nyata. Kehangatan itu adalah martabat yang sedang ia perjuangkan.

"Pegang bahuku, Pak," ucap Arlan dengan nada yang bergetar namun tegas. "Kita akan meluncur lewat kabel itu. Jangan pernah lepaskan peganganmu."

Ia memunggungi kamarnya, membiarkan kenangan fisiknya ditelan oleh kehampaan kelabu, dan memilih untuk menyelamatkan nyawa yang masih berdenyut.

Jalur Tembaga yang Rapuh

Arlan mengikatkan tali pendaki darurat ke pinggang Pak RT, memastikan simpulnya cukup kuat untuk menahan beban mereka berdua. Di luar jendela koridor, dunia seolah sedang dicabik-cabik. Potongan-potongan bangunan beterbangan tanpa suara, hancur menjadi partikel perak sebelum menyentuh tanah. Suasana Hampa Akustik di luar sana membuat pemandangan itu tampak seperti film bisu yang mengerikan.

"Mira, kau duluan!" perintah Arlan sambil menyerahkan ujung kabel telepon yang sudah ia lilitkan pada pengait besi.

"Aku akan menunggu di bawah untuk menangkap warga yang lain!" Mira membalas dengan teriakan yang tertahan. Ia meluncur turun dengan lincah, menghilang di balik kabut debu perak yang menyelimuti lantai bawah.

Arlan menarik napas dalam-bagi, merasakan paru-parunya mulai kaku karena suhu yang terus merosot. Ia menggendong Pak RT di punggungnya. Tubuh pria tua itu terasa ringan, seolah-olah massa tubuhnya pun mulai terkikis oleh proses penghapusan distrik ini.

"Pegang erat, Pak. Jangan melihat ke bawah," bisik Arlan.

Tepat saat Arlan hendak meluncur, pintu di ujung lorong berdentum keras. Tiga sosok muncul dari balik kabut. Mereka tidak berlari; mereka berjalan dengan ritme yang tidak alami, kaki mereka menghantam lantai dengan suara logam yang berat. Wajah-wajah mereka datar, tanpa ekspresi, dengan mata yang bersinar redup seolah-olah mereka adalah layar digital yang sedang memproses data.

"Target anomali terdeteksi," salah satu dari mereka bersuara. Suaranya bukan berasal dari pita suara, melainkan getaran statis yang keluar dari celah bibir yang tidak bergerak. "Arlan. Kurir nomor 09-12. Serahkan manifes dan koin memori."

"Bukan hari ini," desis Arlan. Ia menendang sisa dinding yang mulai rapuh dan meluncur turun mengikuti jalur kabel tembaga.

Gesekan antara pengait besi dan kabel tembaga menimbulkan percikan api kebiruan. Arlan bisa merasakan panas yang menjalar di tangannya, namun ia tidak peduli. Di bawahnya, lubang void yang kelabu tampak menganga, siap menelan siapa pun yang gagal mendarat di zona stabil. Pak RT berteriak ketakutan, namun Arlan mencengkeram lengan pria itu lebih kuat lagi.

Sisa Warna di Tengah Kelabu

Mereka mendarat dengan keras di lantai dasar yang masih memiliki struktur fisik padat. Dante sudah berada di sana bersama beberapa anggota Archivist lainnya, membantu warga asli menyeberang menuju pintu bunker tersembunyi.

"Cepat! Gerbang frekuensi akan menutup dalam tiga menit!" teriak Dante. Ia menembakkan senjata pulsa elektromagnetik ke arah koridor atas untuk memperlambat langkah para Eraser yang sedang menuruni dinding seperti laba-laba logam.

Arlan menurunkan Pak RT dan mendorongnya ke arah Mira. "Bawa dia masuk! Aku akan memastikan tidak ada yang tertinggal!"

"Arlan, jangan bodoh! Bangunan ini akan hilang!" Mira mencoba menarik tangan Arlan, namun Arlan melepaskannya.

Arlan melihat ke arah lobi apartemen yang dulu sering ia lewati. Di sana, seorang wanita muda sedang duduk mematung di dekat air mancur yang sudah kering. Wanita itu tidak bergerak, matanya menatap kosong ke arah langit yang pecah.

"Nona! Bangun! Kita harus pergi!" Arlan berlari mendekatinya.

Saat ia menyentuh bahu wanita itu, Arlan tersentak. Kulitnya terasa seperti karet dingin. Ia melihat ke arah dada wanita itu; gerakannya naik turun secara sadar, terjeda selama dua detik sebelum mengambil napas lagi. Napas Manual.

"Dia sudah disalin," bisik Arlan pada dirinya sendiri. Rasa mual yang hebat menghantam perutnya. Ia menyadari bahwa ia baru saja mencoba menyelamatkan sebuah cermin kosong.

Tiba-tiba, sebuah serangan dari belakang menghantam punggung Arlan. Ia terlempar menabrak pilar marmer yang mulai retak. Salah satu Eraser telah sampai di lobi. Sosok itu berdiri di antara Arlan dan pintu bunker.

"Darah murni adalah kegagalan sistem," ucap Eraser itu. Ia mengangkat tangannya yang berubah menjadi bilah logam tajam yang berkilau perak. "Penghapusan adalah satu-satunya solusi."

Arlan berusaha berdiri, namun kakinya terasa lemas. Ia merogoh saku jaketnya, mencari apa pun yang bisa digunakan. Tangannya menyentuh Koin Perak yang ia temukan di saku baju satpam asli tempo hari. Getaran koin itu seolah menyatu dengan detak jantungnya yang liar.

"Aku bukan kegagalan," Arlan berdiri dengan sisa kekuatannya, matanya menatap tajam ke arah sang peniru. "Aku adalah pengingat bahwa kalian tidak akan pernah bisa menjadi nyata."

Luka yang Membuktikan

Eraser itu menerjang dengan kecepatan yang mustahil. Bilah logamnya menyambar lengan atas Arlan sebelum Arlan sempat menghindar sepenuhnya. Kain jaketnya robek, dan rasa perih yang luar biasa menjalar ke seluruh sarafnya.

Arlan terjatuh berlutut, memegangi lengannya yang terluka. Di bawah cahaya perak yang menyilaukan dari langit yang runtuh, sesuatu yang mustahil terjadi. Cairan kental berwarna merah terang menetes dari sela-sela jarinya, membasahi lantai yang kelabu.

Eraser itu berhenti mendadak. Ia memiringkan kepalanya, sensor matanya berkedip-kedip cepat seolah sedang mengalami error sistem. "Analisis warna... tidak terdaftar. Materi organik terdeteksi. Merah... Merah adalah anomali."

Bagi para peniru yang hanya mengenal cairan perak sebagai inti kehidupan mereka, warna merah darah Arlan adalah racun bagi logika mereka. Arlan melihat kesempatan itu. Ia mengambil sisa kabel tembaga yang menjuntai di dekatnya dan melilitkannya ke leher Eraser tersebut saat mahluk itu sedang terdistraksi oleh "warna" yang tidak ia pahami.

Dengan raungan kemarahan, Arlan menarik kabel itu sekuat tenaga, menggunakan pilar marmer sebagai tumpuan. Listrik statis dari atmosfer yang tidak stabil merambat melalui kabel tembaga, menyetrum sirkuit internal sang peniru hingga meledak dalam percikan api hitam.

"Arlan! Sekarang!" suara Dante menggelegar dari pintu bunker.

Arlan berlari sekencang mungkin, tidak lagi menoleh ke arah apartemennya yang kini telah lenyap menjadi lubang hitam besar di tengah kota. Ia melompat masuk ke dalam bunker tepat saat pintu baja itu menutup dengan dentuman keras, memutus segala suara dari dunia luar.

Di dalam kegelapan bunker yang hanya diterangi lampu darurat, Arlan terduduk lemas. Mira segera menghampirinya, merobek kain untuk membalut lukanya. Saat Mira melihat darah merah di tangannya, ia terdiam sejenak, matanya berkaca-kaca.

"Warnanya sangat indah," bisik Mira lembut. "Ini adalah hal paling nyata yang pernah kulihat di kota ini."

Arlan menyandarkan kepalanya ke dinding besi yang dingin. Sektor Tujuh telah hilang. Rumahnya, kenangan masa kecilnya, dan jam tangan ayahnya telah terhapus dari peta. Namun, di bawah balutan kain itu, darahnya masih mengalir. Ia masih hidup, dan perjuangannya sebagai seorang manusia sejati baru saja dimulai.

1
prameswari azka salsabil
tetap berjuang arlan
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 3 replies
prameswari azka salsabil
semangat arlan
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 3 replies
prameswari azka salsabil
novel.misteri yang unik
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 3 replies
prameswari azka salsabil
wah gimaba nih. di mana yang aman
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 5 replies
prameswari azka salsabil
ayo arlan ungkap misterinya
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 3 replies
prameswari azka salsabil
,wuih maduk ruang mayat
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 3 replies
prameswari azka salsabil
ayo arlan semangat
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 3 replies
prameswari azka salsabil
misteri yang bagus
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 3 replies
prameswari azka salsabil
tetap semabgat ya
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 3 replies
prameswari azka salsabil
gigi susunya dulu😄
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 5 replies
prameswari azka salsabil
kondisi yang sungguh misteriys
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 4 replies
prameswari azka salsabil
ayo tetap semangat arlan
Indriyati: mantap deh
total 3 replies
prameswari azka salsabil
cerianya bagus dan tanpa horor mistis
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 6 replies
prameswari azka salsabil
wah benar benar misteri yang kebtal
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 6 replies
prameswari azka salsabil
oh tokih seorang kurir ya
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 7 replies
Indriyati
novel ini memberikan nuansa misteri yang kuat sejak awal. ddan nuansa misterinya bukan mengarah ke horor sehingga cocok untuk pembaca yang tidak suka novel horor yang seram. cerita di.novel ini sungguh membuat saya penasaran mengenai apa yang terjadi sebemarnya. novel ink cukup menghibur dan tidak membosankan. semoga penulis tetap membuat karya yang bagus dan menarik. semangat ya
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 11 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!